Pengakuan Sumiati

waktu baca 4 menit

“Nduk jadi gimana kamu apa sudah mau nikah?” tanya Kartiyem ke anak wedoknya.

Mereka tiduran di amben di rumahnya. Di bawah sorot lampu teplok dari minyak mereka ngobrol. Terdengar suara debur air dari sungai besar yang mengalir di belakang rumahnya. Itulah sumber penghidupan mereka.

“Ah simbok , belum. Aku kan masih 20 tahun.”

“Mau nunggu apalagi? Sudah waktunya bagi perempuan desa seperti kamu.”

“Belum ada yang ngelamar mbok..”

“Katamu ada mas Sindhu, ada Mas Dipo, ada Sarmo..”

“Kang Sarmo kan teman main mbok. Mas Dipo itu anak juragan, anaknya ndoro Jarwo. Takut aku mbok.”

“Kamu harus milih suami yang bener. Yang bisa ngangkat derajatmu.”

“Maksud simbok?”

“Ya kita sudah lama miskin. Jangan nyari suami yang miskin. Cari yang bisa membantu kita mengangkat hidup kita nduk.”

Kartiyem ingat lagi ketika kerja di Shanghai, dia berharap bisa jadi istri keduanya Tuan Shanghai. Ternyata cuma disangoni untuk melahirkan. Dia takut sama ndoronya. Padahal sudah ada Sumiati kecil di perutnya saat itu. Dia nggak mau anaknya tetap miskin seperti dirinya.

“Kamu punya paras yang cantik. Kulitmu putih. Badanmu juga bagus. Itu kelebihan nduk. Kamu juga pinter meskipun sekolahmu hanya sampai SMP. Simbok yakin kamu kalau sekolah, kamu juga bisa jadi sarjana. Kamu kurang beruntung saja, punya orang tua pencari pasir.”

“Ah simbok memuji anaknya sendiri.”

“Lho kan kecantikan itu modal perempuan nduk. Itu anugerah yang Maha Kuasa. Harus dimanfaatkan. Jangan salah jalan. Harus bisa jaga diri. Jangan mudah kena bujuk rayu.” Kartiyem memberi bekal penting untuk anaknya sembari mengingat nasibnya sendiri yang dulu begitu yakin akan dinikahi tuang Shanghai.

“Katanya ada juga mas Sindhu yang katamu anaknya pinter juga mau kuliah ke Bandung?”

“Iya mbok tapi kan mas Sindhu belum ngomong apa-apa. Dia memang pinter. katanya dia diterima sekolah di Itebe mbok. Mbuh aku juga nggak tahu itu sekolah apa.”

“Lah itu kan sekolahnya Bung Karno Presiden pertama kita nduk.”

“Iya Mas Sindhu juga cerita begitu. Tapi aku cuma lulusan SMP mbok. Mana bisa mengimbangi mas Sindhu.”

“Ee..tak kandani.. kecerdasan itu nggak tergantung sekolah. Kalau dasarmu cerdas, kamu bisa baca-baca buku atau koran, nonton tivi atau dengar radio untuk nambah wawasanmu. Kamu bisa pinter.”

“Wah simbok kok koyo wong cerdas ya?”

“Simbokmu ki pinter cuma lebih tidak beruntung lagi. Kalau simbok anak orang kaya, bisa saja jadi sarjana nduk. Kalau kamu kawin sama Sarmo ya nasibmu nggak berubah banyak nduk.”

“Lho simbok nggak boleh gitu. Kang Sarmo orangnya baik. Meskipun dia orang desa dan cuma anak bakul soto tapi dia orang yang rajin mbok.”

“Oo kamu itu dikasih tahu kok ngeyel. Cari suami yang kaya nduk.. syukur-syukur baik hati.”

Sumiati bingung mencerna kata-kata Kartiyem mboknya. Dia masih belum pingin kawin. Dia mau mengumpulkan modal dulu dari kerja sebagai penjaga toko Pak Jarwo.

Kata-kata mboknya ada benarnya.

Bapaknya Sumi, Giyono hanya bapak tiri, tidak banyak mencampuri urusan asmara anaknya. Dia cuma tahu nyari uang dengan mencari pasir di sungai belakang rumahnya. Karena dia sadar Sumi itu bukan darah dagingnya.

Sugiyono pria baik yang bertanggungjawab pada keluarga. Tidak banyak bicara, mengalah sama istri. Beruntung dia punya istri Kartiyem yang cantik meski tidak perawan lagi ketika dinikahinya. Tapi kecantikan Kartiyem terkalahkan oleh guratan kesusahan hidup yang harus dijalani.

*

Sabtu ini apes buat Sindhu. Dia ke toko Ijo tapi Sumi tidak di sana. Dia tidak tahu rumah Sumi. mau bertanya ke Bu Jarwo atau Pak Jarwo tidak berani. Dia bolak -balik lewat depan toko tidak dilihat gadis ayu pujaannya itu. Dia membeli kaos dari Toko Viva di Klaten untuk Sumi serta menulis surat cinta. Minggu depan dia harus berangkat ke Bandung untuk melanjutkan kuliahnya.

Dia tidak ingin Sumi lepas. Tapi dia juga nggak yakin orang tuanya mengijinkan dia nanti kawin sama anak tukang pencari pasir. Dan Sindhu itu juga nggak tahu bahwa Sumi adalah hasil hubungan gelap mboknya dengan juragannya dulu. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *