Sindhu meski sibuk kuliah tetap rutin mengirim surat dan juga buku buat Sumi. Dia ingin ikut mendidik Sumi lewat buku-buku yang dia kirim. Buku apa saja yang dia habis baca dia kirim ke Sumi. Kini dia baru baca majalah Prisma edisi khusus : Manusia Dalam Kemelut Sejarah, dia kirim. Buku yang berisi kisah para tokoh kemerdekaan itu dia anggap bagus. Ada cerita soal Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dsb. Dia yakin Sumi akan bisa mencerna meski cuma lulusan SMP.
“Sumi, aku serius lho. Nggak masalah aku belum mengenal dirimu tapi aku yakin kau orang baik.”
Begitu Sindhu menulis di kertas kuarto putih dengan pena hitamnya. Tidak lupa dia selalu mengirimnya dengan amplop bergambar patung Ganesha sebagai kebanggaan sekaligus memamerkan ke Sumi. Sumi Sebenarnya tidak butuh dipameri. Justru dia takut nggak bisa mengimbangi kemampuan mas Sindhu dalam hal apapun. Kelebihan dia hanya di kecantikannya. Sindhu fisiknya biasa saja. Mungkin selevel dengan Sarmo cuma ada sisi inteleknya. Mungkin juga Sindhu anak orang yang cukup berada. Tapi Sumi sesungguhnya belum tahu banyak soal Sindhu.
“Sum baca buku yang kukirim, biar kamu tambah pinter. Miskin harta boleh, tapi bodoh jangan.”
Kata-kata yang pasti akan menghentak pikiran Sumi.
*
Di Cokro, Pak Jarwo diam-diam iri kenapa Sumi sering didatangi pak pos. Ada surat ada paket yang ditujukan ke toko ijo. Pak Jarwo hanya memendam rasa ingin tahu. Dia sendiri mulai suka mengamati gerak-gerik Sumi yang cantik dan lincah. Sementara istrinya makin udzur. Ya mereka sudah di atas 60 tahun. Tapi Pak Jarwo berpikir panjang. Sudah lama dia berumahtangga dengan segala suka dukanya, sudah punya anak bahkan cucu. Jangan sampai reputasi hidupnya rusak gegara perempuan.
*
Minggu siang Sumi menikmati surat dan buku kiriman Sindhu. Suara Eddy Silitonga yang mengalun lewat radio stasiun RSPD Klaten ikut menemaninya.
“Jatuh cinta berjuta rasanya. Biar malam biar siang terbayang wajahnya…”
Sumi padahal agak sumir mengingat wajah Mas Sindhu yang hanya 3 kali ketemu sebelum ke Bandung. Dia kadang membaca majalah Prisma itu berulang-ulang untuk memahami tulisan Onghokam tentang Sukarno. Proklamator yang kesepian di masa tuanya. Ya ikut sedih Sumi membaca itu. Meski beberapa kata dia nggak paham tapi secara garis besar dia tahu. Dia juga jadi tahu Syahrir intelektual pendiri Partai Sosialis yang sulit berkomunikasi dengan rakyat bawah. Berkomunikasi dengan Sindhu seakan dia bermimpi, sebuah masa depan yang indah, maju dan mencerahkan. Jauh dari dunianya.
Sementara bermain dengan Sarmo adalah realitasnya sehari-hari, dunianya. Kemarin mereka main ke Umbul Ingas. Mandi di sungai bening. Naik lalu lompat ke air. Renang kejar-kejaran di air. Dengan baju basah kuyup lalu beli kacang rebus di pinggir sungai di bawah rerimbunan pohon. Itulah dunianya. Sarmo selalu membuat dia bahagia.
“Sum, kamu nanti pingin punya anak berapa?”
“Anak yang banyak kang, biar rumah nggak sepi…”.
“Tapi kalau rumah kecil mana cukup.”
“Ya aku pingin punya rumah besar. Aku nggak mau miskin terus,” kata Sumi serius
sambil duduk di akar pohon Trembesi pinggir sungai.
“Hmm…apa aku bisa bikin rumah besar buat kamu Sum,” Sarmo seperti harus bertanggungjawab.
“Kang Sarmo harus kerja keras, rajin, biar bisa bikin rumah besar. Hahaa,” Sumi malah bercanda setelah lihat Sarmo serius.
“Iya Sum..untuk kamu semua akan kulakukan.”
“Bener kang?”
“Iya….Sumpah…”
“Ayo kang nyebur lagi.”
Mereka pun berenang lagi di antara pengunjung lain. Sarmo berpikir keras bagaimana harus mewujudkan keinginannya. Kalau cuma membantu bapaknya jualan soto di pasar pasti sulit mewujudkan mimpinya. Dia ingat pernah diajak pakliknya yang pulang dari Curup, Bengkulu beberapa bulan silam.
“Ayo ikut aku ke Bengkulu. Di sana masih banyak kesempatan Mo.”
Sarmo mikir itu kesempatan bagus. Tapi dia belum pernah pergi jauh. Dia juga takut kehilangan Sumi. Maka ajakan pakliknya itu dilupakan. Tapi omongan Sumi di Umbul Ingas tadi membuat dia mulai berpikir lagi. Jangan-jangan ini jalannya untuk meraih masa depan yang lebih baik.
*
“Mas Sindhu terima kasih bukunya. Sudah kubaca. Beberapa bab aku nggak mudeng. Hanya cerita soal Sukarno dan Hatta yang kubaca. Tan Malaka atau Sudirman kulewati. Kasihan ya Sukarno yang kesepian. Tapi hebat Bung Hatta ya, tokoh bersih yang sederhana.”
Ya Sumi kadang harus hidup di dunia lain dengan diskusi yang serasa di awang-awang. Sementara urusannya sehari-hari hanya melayani pembeli di toko dan melihat bapak simboknya nyari pasir. Tapi berkat komunikasinya dengan Sindhu hidupnya jadi lebih kaya. Ketika ada pembeli yang agak pintar dia bisa ngobrol dengan lebih berisi.
*
Siang hari ketika sepi pembeli, Bu Jarwo sedang rewang di tempat saudaranya, Sumi dikejutkan permintaan Pak Jarwo.
“Sum tolong aku dikeroki ya”.
Sumi kaget setengah mati. Ini tidak biasa. Ngeroki bu Jarwo sudah biasa, kalau Pak Jarwo… oh ini aneh.
“Jangan, pak.. takut.”
“Takut siapa?”
“Takut..ini nggak baik, Pak.”
“Nggak apa-apa. Aku kan seperti orang tuamu.”
“Tapi….”
“Ingat lho.. aku sudah sering membantu kamu.”
Akhirnya Sumi nurut. Diambilnya uang koin Rp100 dan rheumason. Di pojok toko di belakang, Pak Jarwo membuka kaosnya lalu duduk di tikar. Dikerokinya punggung pak Jarwo. Agak kaku dan takut ia.
“Di bagian leher Sumi… itu yang pusing,” pak Jarwo memegang tangan Sumi.
“Nggih Pak..” jawab Sumi sambal menepis tangan Pak Jarwo.
Tiba-tiba mereka dikejutkan suara pembeli.
“Kulo nuwun… beli obat nyamuk..”
Sumi pun segera bangkit meninggalkan pak Jarwo dan keluar melayani pembeli.
Agak lama, pembeli ternyata juga membeli barang kebutuhan lain. Sumi merasa beruntung di selamatkan keadaan. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi