Sabtu, 4 Juli 2026, pukul : 23:36 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Dipo terus bergerak. Dia siapkan gugatan hukum untuk Sumi. Tuduhannya : Sumi berbohong, mengaku hamil. Dengan pengakuan yang bohong itu maka hak kepemilikan toko dan rumahnya gugur. Dipo mencari pengacara dari Jogjakarta untuk menyusun tuntutan hukumnya. Dia sangat berambisi bisa merebut kedua properti itu dari Sumi.

Sumi mendapat info dari si pegawai negeri yang mendekatinya yang bekerja di pengadilan negeri Klaten. Namanya Bimo.

Sumi stress tentu saja. Dikiranya gangguan dari Dipo sudah selesai. Tidak disangka ternyata justru dibawa ke ranah hukum. Bingung Sumi mencari bantuan. Dia jelas buta soal hukum apalagi dia cuma ibu rumah tangga lulusan SMP.Pegawai pengadilan negeri itu sempat memberi sebuah nama. Andi Wijaya. Sumi nggak terbayang bagaimana urusan dengan pengacara. Jelas dunianya jauh dari urusan hukum.

” Mbok toko kukasih aja ke Dipo daripada urusan dengan pengadilan “.

” Jangan kesusu nduk. Coba tanya-tanya dulu.”

” Tanya ke siapa mbok. Kita ini wong cilik. Mau urusan hukum ya nggak tahu apa-apa”.

” Lho jaremu ada pegawai pengadilan Klaten itu bisa membantu.”

” Ya hanya memberi nama.”

” Siapa namanya?”

” Andi. ..Andi Wijaya mbok. Punya kantor di Solo.”

” Sik..sik…sepertinya simbok kok kenal nama itu. ”

” Walah mbok. Mbok ojo ngarang. Kapan simbok kenal pengacara? Wong tukang pasir aja kok.”

” Sstt…diam dulu. Anaknya juragan Shanghai itu dulu namanya juga Andi. Tapi belakangnya apa ya.”

” Apa besok kita coba ke Solo mbok? Di jalan Slamet Riyadi kok kantornya.”

” Ayo kita coba nduk.”

Dua orang yang takut itu ternyata jadi berani ketika bergabung.

Besoknya pagi-pagi mereka di antar sopir bawa carry ke Solo. Sumi dheg-dhegan dengan urusan pengadilan. Dia takut toko yang sudah dikembangkan itu akan lepas. Dia sendiri saat itu tidak yakin hamil. Tapi dia nggak pernah bohong karena memang tidak pernah ditanyai.

” Mbok nanti nanya gimana kalau ketemu Pak Andi.?”

” Nanti biar simbok yang ngomong nduk.”

Mereka berdua saling menguatkan.

Setelah 1 jam perjalanan sampailah mereka di alamat yang dicari di kawasan Slamet Riyadi Solo.

Tidak besar kantornya. Tapi kedua-duanya ragu-ragu untuk masuk.

” Mbok ini lho kantornya.”

“Iya tapi simbok malu mau ngomong apa nanti.”

” Loh jare simbok yang ngomong?”

” Kamu aja. Aku bantu doa nduk.”

Mereka ragu-ragu. Tapi Sumi memberanikan diri mengetuk pintu.

Seorang sekretaris membukakan pintu.

” Nyari siapa mbak?”

” Mau ketemu Pak Andi.”

” Ada perlu apa?”

” Akan nanya-nanya masalah hukum.”

” Nanya-nanya? Maksudnya konsultasi?”

“Iya ” , jawab Sumi singkat, agak kesal.

“Tunggu.”

Keduanya duduk. Sekretaris masuk ke ruang sebelahnya.

” Ada yang bisa saya bantu?”

Andi keluar. Sejenak dia amati wajah Sumi. Dia merasa ada kemiripan.

Tapi biasa wajah mirip.

” Anu Pak. Mau bertanya soal kasus saya.”

” Silakan masuk.”

Sumi dan mboknya masuk.

” Silakan.” Andi meminta dengan sopan.

Sumi bercerita soal kasusnya.

Sambil mengingat-ingat kejadiannya. Simboknya mengamati dari kursi yang agak jauh. Dia yakin Andi ini memang anak tuannya. Tapi gimana cara bertanya.

Sementara dia membatin saja.

” Ya nanti saya siap membantu jika kasusnya disidangkan. Nanti kalau sudah ada panggilan pengadilan, beritahu saya. Ibu bisa menghubungi lewat telpon.”, kata Andi sambil mengulurkan kartu namanya. Sumi baru baru itu pula memegang kartu nama.itu menerima kartu nama.

Sumi untuk sementara merasa lega dengan jawaban Andi.

Mereka segera pulang.

Tapi Sumi lupa, dia balik lagi.

” Maaf Pak Andi, untuk anu…anu tarifnya berapa ya?”

“Emm..nanti saja kalau kita bisa menang. ”

Andi merasa perlu membantu Sumi karena rasa kemanusiaan. Dia melihat Sumi pada posisi lemah jika tidak ada bantuan hukum. Dia melihat imbalan toko dan rumah pantas untuk korban perkosaan meskipun nggak hamil. Secara spiritual Sumi sangat menderita. Orang lupa bagian itu. Ganti rugi material tidak bisa mengobati trauma akibat perkosaan.

Mereka lalu meninggalkan kantor pengacara itu. Di dalam mobil mereka masih berbincang.

” Mbok apa bener itu Pak Andi anak juragan itu?”

” Wah simbok kok juga pangling. Dulu masih SD. Kini sudah besar sudah dewasa. Takut salah.”

“wis ora penting mbok, sing penting dia mau membantu kita”.

“Iya ngono wae mikire nduk.”

Sumi merasa lega ada pengacara yang mau membantunya. Dia kepikiran jangan-jangan nanti bayarnya mahal. Tapi itu lebih baik daripada nggak ada pendamping kasusnya sama sekali.

**

Sarmo telah berhasil mendapatkan ijazah kesetaraan lulus SMA. Dia makin mantap menancapkan kukunya di Curup. Dia menuruti nasehat Pakliknya. Dia mengikuti organisasikepemudaan. Pengaruhnya cukup besar. Dengan bisnisnya yang makin berhasil, banyak teman dan kolega.

Jalannya untuk menuju ke kursi DPRD tingakt kabupaten makin terbuka.

Dia membayangkan betapa bangganya Sumi jika tahu kabar itu.

Di tengah pasar Cokro kabar itu sudah merebak.

“Wah Sarmo sudah dapat ijazah SMA” kata Lik Marto bangga pad para pelanggan warungnya.

“kok iso lik?”

“itu lho ikut kejar paket. Itu kejar paket C.”

“Wah model begitu ya sekarang.”

“Itu upaya pemerintah biar orang-orang yang putus sekolah bisa menyambung sekolahnya lagi.”

“Wow…jaman makin maju, sekolah makin mudah ya.”

“Ini Sarmo rencana mau maju di Pemilu 1992 . dari Partai Golkar.”

“Maksudnya jadi apa?”

“Ikut maju pilihan anggota Dewan.”

“Kok iso mlebu Golkar to Lik?”

“ya dibantu Slamet. Slamet kan temannya banyak. Sarmo jadi anggota organisasi kepemudaan di bawah Golkar.”Lik Marto berusaha menjelaskan.

“Wah mugo-mugo kepilih Lik”, sahut yang lain.

“ Lik lha terus bagaimana hubungan Sarmo sama Sumi?”

“wah aku juga nggak ngerti. Kabarnya Sumi lagi pusing.”

“Kenapa Lik?”

“Itu mas Dipo nggak terima. Dipo pingin ngrebut tokonya.”

“Walah..kok kasihan Sumi.”

“Ya Dipo juga nggak salah. Katanya meteng, tapi ternyata bohong.”

“Lho tapi kan dia sudah jadi istri Pak Jarwo. Ya sudah sah dapat bagian toko sama rumah.”

“iya, masalahnya Dipo merasa dapatnya lebih sedikit.”

“Pokoknya kalau soal warisan, itu bikin ribet. Bisa bikin persaudaraan pecah.”

“Mbok Sumi itu mau sama si pegawai negeri itu ya.”

“Iya ya jelas sudah enak. Sumi itu kan butuh pelindung.”, sahut yang lain.

“ya belum tentu begitu. Sumi kan juga punya selera Lik. Beleum tentu itu yang disukai.

**

Sindhu makin fokus belajar. Meski dia sudah ketinggalan 3 semester. Tapi semangatnya mulai tumbuh lagi. Dia merasa sangat bersalah pada kedua orang tuanya. Kesempatan yang dia punyai sudah dia sia-siakan. Mengingat pada tahun itu belum banyak orang daerah mampu kuliah hingga ke Itebe. Jadi Sindhu menyesali perbuatannya sendiri. Sumi menjadi salah satu faktor. Sindhu bersemangat jika ingat Sumi. Iya Sumi saja pingin belajar lagi, apalagi dia.

Sindhu tidak tahu Sumi sedang menghadapi masalah berat. Tetapi Sindhu merasakan ada sesuatu yang dia pikirkan soal Sumi. Tidak biasanya begitu. Dia beberapa hari terakhir sempat mimpi ketemu Sumi, tapi Sumi tidak ceria seperti halnya saat pertemuan beberapa bulan lalu. Dia melihat Sumi diganggui orang di tengah jalan. Tapi Sumi melawan dengan sekuat tenaga. Dia jarang bermimpi soal Sumi. Sekali mimpi kok aneh.

Sindhu mencoba mengingat-ingat lagi mimpinya itu. Sindhu menulis surat, dikirimnya lewat kilat khusus. Hal yang tidak biasa. Tapi perasaan dia nggak enak.

“Sum, aku mimpi kok aneh ya. Kamu diganggui orang di tengah jalan. Tapi hebatnya kamu melawan. Ada orang lain yang membantu kamu.  Apa mimpiku ada hubungan dengan yang kamu alami?”

Tiga hari surat sudah sampai. Sumi kaget membaca surat pendeknya mas Sindhu. Dia nggak menyangka bahwa Mas Sindhu sampai punya firasat lewat mimpinya. Sumi makin yakin ada ikatan batin dia dengan Sindhu.

“Mas kabar Sumi baik-baik. Semoga Mas Sindhu begitu juga. Cuma ada masalah mas. Dipo menggugatku. Dia ingin mendapatkan toko dan rumah dari saya karena dianggap saya telah berbohong. Kebetulan saya sudah menghubungi pengacara di Solo dan dia siap membantu.

Semoga Mas Sindhu lancar kuliahnya.”

Sindhu membaca balasan suratnya dengan perasaan sedih. Tak henti-hentinya Sumi mendapat cobaan. Dia jadi makin menyesali dirinya. Tidak seberapa beban yang dia tanggung dibandingkan Sumi. Ya Sumi jadi cermin bagi dia. Dia hanya berdoa agar Sumi tetap kuat menghadapi kasusnya ini. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.