Senin, 22 Juni 2026, pukul : 06:32 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Lik Marto dan istrinya siap-siap menengok anaknya, Sarmo, di Bengkulu. Mereka ingin melihat kehidupan Sarmo di rantau. Tidak pernah terpikirkan bahwa mereka akan pergi jauh sampai ke Bengkulu.

Sarmolah penyebabnya.

“Jadi kapan Lik mau nengok Sarmo?” tanya salah seorang pembeli soto di warungnya.

“Minggu depan ini.”

“wah tutup ya warungnya nanti?”

“Iya kira-kira dua minggu.”

“Wah puas, dua minggu warungnya tutup.”

“Sekali-sekali liburan. Itu kalau kerasan”.

Menaiki bis dari Delanggu Lik Marto bersama berangkat menuju Bengkulu. Stanplat dimana dulu mereka mengantar Sarmo. Untuk pertama kali mereka pergi jauh. Mbok Marto membawa termos untuk air panas. Membawa beberapa bungkus arem-arem untuk sangu di jalan. Mbok Marto juga tidak lupa membawa telor asin dan jadah untuk oleh-oleh anak dan adiknya di Bengkulu.

Tidak lupa minyak angin warna hijau PPO yang jadi andalannya jika bepergian. Jaga-jaga kalau mabuk atau masuk angin.

Semalaman bis berjalan. Lik Marto susah tidur. Tidak biasa perjalanan malam di kendaraan umum. Sempat berhenti di daerah Weleri untuk makan malam dan sholat. Meski sudah bawa arem-arem Lik Marto berdua tetap ikut menikmati makanan di restoran Weleri yang biasa untuk pemberhentian bis menuju Jakarta atau Sumatera itu.

“Mbok kowe pesan apa?”

“Soto saja yang anget…” jawab mbok Marto sedikit ragu setelah melihat begitu banyak pilihan tertulis di tembok resto.

” Wah aku ikut kamu saja mbok.”

Keduanya lalu memesan menu itu.  Tidak lupa pesan teh anget manis. Sudah bakul soto, makan di luar tetap soto.

” Enak soto kita ya mbok?”

” Iya soto kok asin thok ya “, komentar mbok Marto.

Lalu perjalanan dilanjutkan. Melewati alas Roban..Lik Marto berdua deg-degan melihat kelak kelok jalan. Perasaan bercampuraduk antara takut dan ingin tahu. Satu sisi jalan adalah tebing yang dalam meski tidak terlalu tampak di malam hari.

Melewati Jakarta di pagi hari lanjut ke barat ke arah Merak. Sampai di Merak  pagi menjelang siang hari. Di Merak mereka harus menyeberang selat Sunda dengan naik kapal. Ini juga pengalaman baru bagi Lik Marto berdua. Mbok Marto sempat muntah-muntah karena goncangan ombak yang membuat kapal seperti naik turun bergoyang-goyang. Ya mbok Marto mabok laut. Mereka menyeberangi laut kira-kira 2 jam dengan kapal. Sampai Bakaheuni perjalanan dilanjutkan lagi dengan bis menuju Bandar Lampung. Perjalanan dilanjutkan ke Kota Bumi terus ke Pagar Alam, Pendopo lanjut ke Curup. Lik Marto berkali-kali melihat bagaimana para begal menyetop bis dan truk yang lewat di jalur itu. Mereka memalak. Tidak ada pilihan lain bagi para sopir itu selain memberi beberapa lembar ratusan.Pemandangan serupa tidak mereka lihat di pulau Jawa. Perjalanan yang berat bagi keduanya karena lamanya. Lik Marto harus merawat istrinya yang lemas sepanjang perjalanan.

Sarmo dan pakliknya menunggu-nunggu dengan senang hati kedatangan Lik Marto. Setelah dua malam sehari sampailah mereka di Curup.

Sarmo dan pakliknya menjemput Lik Marto dan istri di pool bis.

“Gimana perjalanan pak?”

“wah berat Mo. Mbokmu mabuk.”

“lha wong kapal jalannya goyang- goyang , mules di perut.”

“Yang penting sekarang sudah sampai rumah.”

Mereka menginap di rumah Slamet adik Lik Marto.

Lik Marto mengagumi rumah adiknya yang besar dan beberapa mobil untuk usaha.

“Wah makmur kamu Met..”

” Ya ginilah mas. Hasil kerja keras bertahun-tahun. Makanya kuajak Sarmo ke sini. Masih banyak peluang usaha. Asal mau repot.”

“Memang harus begitu.”

Mbok Marto ngobrol sama istri Slamet di kamar belakang.

*

Pada saat makan malam di rumah Lik Slamet, berlangsunglah perbincangan .

“Jadi gimana le kamu sama Sumi itu?”

“Masih berhubungan. Baik-baik “.

“Kamu tahu le kalau Sumi itu habis diperkosa Dipo anak Pak Jarwo?”

“Bapak dengar dari siapa?”

“wah beritanya sudah menyebar.”

“Cerita gitu harusnya jangan disebar. Kasihan Sumi.”

“lha memang begitu kok le nyatanya.”

Perbincangan terhenti. Sarmo sangat tertekan dengan kabar yang menyebar itu. Mungkin dari Sisri yang pernah secara nggak sengaja diberitahu Sumi menjelang tidur.

Mereka menikmati makan malamnya kembali.

“wah paklikmu ini sudah ketularan masakan Sumatera.”

“lha gimana mas?”

“Rasanya pedes dan asin.”

“haha…sudah bertahun-tahun hidup di sini.”

Pertemuan kakak adik itu berarti sekali.

“Ssstt..kamu tahu nggak mo kalau Sumi itu anak haram?”

“Ha? Gimana Pak maksudnya? Anak kok haram…?”

“Lha kan bapaknya tidak jelas.”

“Lho kan ada lik Sugiyono bapaknya..”

“Bukan. Kartiyem itu nikah sama Sugiyono sesudah ada Sumi. Jadi Sugiyono itu bapak tiri.”

Sarmo terdiam. Selama ini dia sering mikir memang, mengapa Sumi tidak seperti bapaknya yang kulitnya gelap. Dia juga dengar desas-desus itu. Cuma dia tidak ingin mendengar lebih jauh.

“Sumi perlu dikasihani Pak.”

“Ya betul.Tapi jangan nikah karena kasihan. Nanti kasihanmu hilang nggak ada lagi cintamu.” Lik Marto berteori.

Lagi-lagi Sarmo diam meresapi ucapan bapaknya. Selama ini bapaknya seperti merestui hubungannya dengan Sumi. Tapi kini semua terbuka.

“Bener le bapakmu itu…”, sahut pakliknya.

Mbok Marto dan Yu Slamet dari tadi diam saja mendengarkan pembicaraan itu. Dia kasihan sama Sarmo tapi dia juga nggak berani bersuara.

“Kenapa kamu nggak sama adik sepupumu Narni itu lho.” sambung pakliknya.

“Iya sebenarnya sudah jelas lho Mo. bibit bobot bebet.”

Sarmo serba salah. Dia tidak ingin menyakiti hati bapak dan pakliknya. Dia sadar keberhasilannya sekarang adalah berkat bantuan pakliknya yang memaksa dia untuk keluar dari desanya untuk merantau. Tapi dia tidak mau dipaksa-paksa dalam hal jodoh.

*

Sindhu meski hatinya terikat ke Sumi, tapi justru dia sering curhat ke Silvy. Ya memang hanya Silvy yang peduli dengan apa yang dipikirkan Sindhu. Menurut Silvy jika saja Sindhu tidak ikut melibatkan diri dengan urusan Sumi akan lebih enak.

“Ngapain kamu sibuk memikirkan urusan Sumi. Coba kamu putus campur tanganmu, hidupmu lebih enak.”

Ucapan Silvy memang beralasan . Sindhu kadang tersadarkan oleh sindiran-sindiran Silvy.

“Benar juga ya ucapanmu.”

Tugas-tugas kuliah telah menyedot pikiran dan tenaganya. Dia sering menghabiskan waktu di depan meja gambar mengerjakan tugas dari dosennya. Kurang tidur sudah biasa bagi mahasiswa Arsitektur. Sindhu mulai ragu dengan tekadnya untuk membantu Sumi. Sedangkan Silvy justru selalu siap menghiburnya dengan obrolan dan menemani mengerjakan tugas di studio.

Mestinya Sindhu memilih saja jalan mudah di depan mata kenapa harus memilih jalan yang sulit dan berliku. Seberapa besar arti Sumi bagi Sindhu sejauh ini belum dia rasakan.

*

“Nduk piye kerjamu di toko?”

“Nggak papa mbok. ”

” jadi rencanamu mau dapat toko itu gimana nduk? Simbok kok nggak sampai mikirnya.”

” Wah simbok nggak usah ikut mikir. Nanti akan tahu.”

” Simbok cuma pesen jangan pakai cara-cara yang nggak bener nduk”.

“Iya mbok.”

“Cita-cita yang baik harus dicapai dengan cara yang baik nduk. Itu perlu  diingat.”

“Iya mbok. Tapi mereka memperlakukan aku dengan cara yang tidak baik mbok.”

“Tunjukkan meskipun kita miskin, kita lebih mulia.”

Sumi ternganga mendengar ucapan mboknya.

Sumi sendiri aslinya juga bingung bagaimana. Tapi dia bertekad memberi pelajaran untuk Dipo. Dia tidak ingin menyerah. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.