Jumat, 17 April 2026, pukul : 20:05 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Penyakit Pak Jarwo semakin parah

Dipo tidak terima dengan kondisi ini

“Pasti kerjaan Sumi. Asyik ngurusi tokonya.”

“Jangan begitu Po. Harusnya kamu berterima kasih ke Sumi. Ada yang mau merawat bapak”, Sahut Anwar kakaknya.

“Lha kok bisa sampai pingsan  apa nggak dicek makanannya, minum obat..” Dipo tetap melanjutkan ocehannya.

Sumi serba salah. Dia ingin membela diri tapi rasanya tidak berguna karena Dipo memang menyimpan kebencian pada Sumi. Sumi hanya menangis. Kerja kerasnya tidak dilihat oleh Dipo. Dia memang tidak sempurna sebagai istri, tapi dia sudah berusaha sebaik mungkin. Anwar memang lebih bijak melihat persoalan.

Dipo mulai berpikir bagaimana merebut Toko Ijo. Ketika sedang pada sibuk mengurus Pak Jarwo di rumah sakit, dia pulang ke Cokro.

“Tolong bukakan pintu!”

ada apa mas Dipo?”

“Mau masuk.”

Pembantu Pak Jarwo membukakan pitu untuk ndoronya.

Dipo langsung menyelonong ke kamar bapaknya. Dicari-cari sertifikat tokonya, juga sertifikat rumahnya.

“Mas Dipo nyari apa?”

“Wis kamu meneng wae , nggak usah ikut-ikutan.”

Dipo membuka beberapa laci lemari dan meja.Apa yang dicarinya tidak ketemu. Selama ini dia belum pernah lihat sertifikat itu. jadi tidak tahu juga wujud sertifikat seperti apa.

Niatnya merebut toko makin besar setelah istrinya ngompor-ngompori.

“Enak amat ibu tirimu itu mas.” kata Retno istri Dipo suatu saat.

Sumi seakan mencium gelagat Dipo. Sertifikat itu sudah dsimpannya di tempat rahasia. Sertifikat itu sudah atas namanya  Tidak ada yang tahu dimana tempatnya. Dia siap-siap jika suatu saat Dipo mempermasalahkan. Dipo sebenarnya sudah mendapayt bagian uang dan tanah di tempat lain di sekitar Cokro. Tapi dasar orang iri akan selalu kekurangan.

Kondisi Pak Jarwo makin memburuk.

Sumi menunggui ketika pak Jarwo menghembuskan nafas terakhirnya di saat dini hari. Saat semua tidur, Sumi menyaksikan suaminya itu lelaku dan menghadap Pencipta. Sumi meski tidak sepenuhnya mencintai Pak Jarwo tapi dia menghormatinya sebagai mantan juragan dan juga menyayangi sebagai suami.

Sebenarnya dia sudah tahu ketika kondisi Pak Jarwo pingsan. Dia sudah menduga akan sulit ditolong. Tapi demi menghindari suara-suara sumbang di sekelilingnya , dia bawa pak Jarwo ke RS untuk mendapatkan perawatan terbaik.

Sumi memperlakukan jenazah sebagaimana adat Jawa. Ada tahlil 3 harian, 7 harian hingga 40 hari. Dia tetap memperhatikan suaminya mesti sudah almarhum.

Selepas kepergian Pak Jarwo Sumi seperti tidak punya pelindung. Di toko juga tidak punya partner untuk berpikir.

” Enak ya modal hamil, dapat toko sama rumah.”, kata Dipo suatu hari.

” Tutup mulutmu. Kalau kamu bisa njaga nafsumu, manukmu nggak kemana-mana,nggak memperkosaku, nggak akan begini jadinya.”

” Halah..itu aja yang kau ungkit”.

” Kamu tidak tahu rasanya jadi perempuan. Jaga itu barangmu”.

Dipo makin frustrasi skripsinya tidak kunjung beres. Sepertinya dia selalu mendapat kesulitan dari pembimbing utamanya .

Sementara teman-teman seangkatannya sudah pada lulus. Dia mendapat beban ganda: kuliah dab harus menghidupi anak istrinya.

Sumi berpikir bahwa dia harus punya pelindung. Tidak bisa dia sendiri mengurus toko dan juga mencegah gangguan Dipo. Pernah ada laki-laki yang mendekatinya. Seorang pegawai negeri di kabupaten. Orangnya sopan, dan tidak jelek juga fisiknya. Sumi cukup lama menimbang-nimbang. Tidak berani dia menolak tapi juga tidak sreg untuk menerima. Pikirannya masih ke mas Sindhu. Sumi takut orang yang mendekatinya hanya pingin hartanya.

*

Sarmo semakin mantap dengan kejar paketnya. Dia akan segera mengikuti ujian.Keinginannya mendapatkan ijazah bukan impian lagi. Sebentar lagi dia akan.mengikuti ujian Kejar Paket C.

” Le kalau kamu lulus SMA nanti bisa njago anggota DPRD Curup”, kata pakliknya.

Sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh Sarmo. Tapi cukup menarik juga bagi Sarmo. Dia makin bersemangat untuk segera ikut ujian. Impiannya mempersunting Sumi belum hilang. Meski janda, tidak masalah baginya. Sumi tidak sekedar fisiknya, tapi pesonanya.

Sindhu lagi-lagi mendapat wangsit untuk segera pulang menemui ibunya. Suara dari almarhum mbah buyutnya datang lagi. Tapi dia ragu-ragu. Yang paling mengganggu justru surat dari kampus yang berisi ancaman DO.

Sindhu baru sadar kuliahnya sudah 1,5 tahun ditinggalkan. Waktunya habis untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Suatu hari dia berpikur. Dia merasa hatinya tidak tentram seperti harapannya. Justru dia jauh dari saudara dan teman-temannya. Justru kebahagiaannya ketika berkumpul teman dan saudara, menonton film, nonton lawak, main kartu dan bermain badminton. Itulah hidup yang wajar yang memberinya kebahagiaan.

Dia bertekad pulang menemui ibunya. Tapi untuk ketemu Sumi, dia malu. Dia merasa seperti manusia kalah. Gagal di kuliah dan jauh dari masyarakat. Dia butuh energi baru.

Bu Padmo sangat bahagia saat suatu pagi Sindhu tiba-tiba muncul di latar depan rumahnya. Kerinduan seorang ibu yang sudah sekian lama terobati. Meski agak kaku bu Padmo menyambut seakan tidak terjadi apa-apa.

Sindhu langsung sungkem. Tangis pun tumpah. Tidak ada kata-kata terucap. Terlalu banyak hal hal yang ingin diketahui bu Padmo. Terlalu berat beban yang ditanggung Sindhu.

“Kamu pingin makan apa le?”

Oh Sindhu merasakan kembali hangatnya kasih sayang seorang ibu. Ini kasih sayang Tuhan lewat makhluk ciptaanNya.

Rasanya sudah lama sekali perhatian itu tidak dia dapatkan.

” Sayur terong, dikasih belut”.

Bu Padmo paham. Yang dimaksud anaknya. Itu kesukaan Sindhu, lodeh terong diberi belut goreng yang dipotong-potong, sebuah kreasi lokal yang menyelerakan.

Sesudah suasana enak maka obrolan bu Padmo dengan Sindhu mulai mengalir, sekali-sekali Pak Padmo ikut menimpali.

” Kuliahmu piye le?”

” Ya ini akan kuteruskan. Beberapa mata kuliah harus ngulang. ”

” Ya rapopo. Jalan tiap orang tidak selalu sama, ada yang mulus ada yang berliku. Bersama dengan cobaan biasanya ada karunia besar.” lanjut ibunya.

Sindhu kembali mendapatkan semangat dan energinya.

” Yen wis longgar cepet ke Bandung,” sahut pak Padmo.

” Nggih.”

” Ayo antar ibu ke pasar nyari terong”.

Sindhu sudah akan berangkat tapi mikir jangan-jangan ibunya ingin mengajaknya ke toko ijo. Dia pernah dapat cerita dari adiknya kalau Bu Padmo pernah ngobrol dengan pemilik toko ijo dan menyinggung soal dirinya.

Iya dia butuh waktu jika harus ketenu Sumi.

” Jangan ke toko ijo nggih.”

Sindhu memohon. Dia akan ketemu Sumi sendiri. Tapi tidak sekarang.

Beberapa hari di rumah Sindhu merasakan kedamaian, sesuatu yang lama dia cari. Kuliah di.kampus top memang penuh cobaan. Menempatkan diri terlalu tinggi akan stress, banyak orang pinter di sana. Banyak orang kaya, banyak orang hebat. Kehebatan di masa SMA tidak jadi jaminan. Itu yang harus disikapi secara lebih rendah hati.Ketidaklulusan satu dua mata kuliah hal yang wajar. Tidak harus merasa stress atau merasa paling apes.

Sindhu perlahan menata hatinya.

Pada hari Sabtu, seperti dulu, dia beranikan diri datang je Toko ijo. Dia tahu Sumi sudah jadi janda dari ibunya.

Dia kaget toko itu demikian berkembang.

” Ee mas Sindhu….kapan kondur?” Sumi menyambut dengan jabat tangan erat. Sindhun pun seperti mendapat anugerah kehangatan.

Sindhu sejenak kaget. Sumi kelihatan lebih bersih, lebih cantik. Dia nggak percaya memandangi Sumi.

” Kenapa mas, ada yang aneh?”

” Nggak. Sudah seminggu…”

” Wah kok kelihatan kurus mas..?”

Ya Sindhu memang kurus, tidak bisa bohong, fisiknya mewakili pikirannya. Keruwetan pikirannya membust wajahnya kusut dan kurus.

” Biasa banyak pikiran…”

” Tapi nggak mikir aku kan mas? ” Sumi mulai bisa bercanda..

” Hmm kadang…”

” Jadi cuma kadang ya? Wah….Wis gakpapa mas. Gimana kuliahmu mas?”

” Yah agak seret…”.

” Aku aja pingin sekolah lagi, biar lebih berwawasan mas. Mosok njenengan yang pinter malah mogok. Ayo bangkit mas “, Sumi nampak renyah.

Sindhu yang biasa sensitif itu justru merasa mendapat energi untuk segera membereskan kuliahnya.

Pertemuan itu berlangsung agak lama. Suasana beda dengan dulu ketika Sumi jadi pelayan. Kini dia lebih percaya diri, lebih berani bicara.

” Gimana sudah dapat mojang priangan yang geulis belum?” pancing Sumi.

” Hmm….ada sih. Tapi…”

” Tapi apa hayoo?” Sumi makin riang dan bersemangat.

” Ah nanti ajalah ceritanya.”

” Halah mas tinggal ngomong aja kok ya pakai nanti”.

Sindhu entah gimana merasa sangat terhibur. Mungkin 1,5 tahun bergaul dengan Tuhan telah menghilangkan ‘rasa’ yang dia miliki. Jadi pertemuan dengan Sumi seperti angin segar.

” Tapi kamu lebih geulis…”

Sumi tersipu. Selama jadi istri pak Jarwo pujian seperti itu jelas jarang didengar.

” Ah paling juga bilang gitu ke teman cewekmu mas.”

Sindhu diam saja. Sindhu termasuk selektif memilih teman. Jadi memang hsnya Silvy yang pernah dekat. Tapi perlahan Silvy mundur apalagi sejak tugas kuliahnya nggak.lulus, lalu dia mendalami tasawuf.

” Ayo mas diunjuk,” pinta Sumi sumringah.

Sumi memesankan bakso dan es dhawet dari warung Arjo di sebelah utara pasar. Sindhu sangat menikmatinya. Sambil makan obrolan dilanjutkan.

” Mas kapan-kapan tolong aku dibuatksn gambar rancangan rumah ya.”

” Wani pira?” Sindhu mulai bercanda.

” Ah yo gratislah…”.

Sejenak Sumi diam. Lalu Sumi melanjutkan

‘” Apa aku upahnya?”

Sindhu gelagepan. Tawaran yang membuat Sindhu mulai percaya diri lagi.

Tidak lama Sindhu pamit.

” Lancar ya mas kuliahnya.”

Sindhu kembali ke Bandung. Dia jadi orang biasa, tidak menggebu-gebu belajar agama. Dia mulai belajar keikhlasan dan kesabaran dari ibunya dan dari Sumi. Dari kehidupan sehari-harilah keikhlasan dan kesabaran akan terlatih. Ibunya cuma ibu rumah tangga yang tanpa pamrih merawat dan membesarkan anak-anaknya, tanpa ambisi pribadi. Cukuplah ibunya bahagia melihat anak-anaknya berhasil. Sumi adalah contoh pejuang yang harus menderita dan dihinakan sebelum bisa seperti sekarang. Meakipun orang mulai lupa bagaimana penderitaannya dulu. Sindhu jadi malu pada dirinya sendiri. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.