Senin, 9 Februari 2026, pukul : 10:25 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

Siang hari Sarmo ngobrol dengan Sumi di toko Ijo ketika pembeli sedang sepi.

“Kang aku mau diajak mas Dipo nonton pelem lho,” tukas Sumi bangga ke Sarmo.

“Pelem opo Sum? Apa di lapangan Karanglo?”

“Walah ya bukan to kang. Di gedung bioskop. Di Delanggu. Kalau di lapangan kan sudah biasa.”

“Lho mas Dipo kan kuliah di Jogja?”

“Iya lagi liburan. Katanya kampusnya diduduki tentara. Gara-gara mahasiswa menolak Pak Harto jadi presiden lagi.”

“Wow…gitu ya. Lha kamu mau nggak?”

“Aku takut. Tapi aku pingin tahu juga nonton pelem di Gedung, kang.”

“Yo wis mau saja. Daripada ndoromu marah. Tapi hati-hati ya Sum,” pesan Sarmo khawatir.

“Hati-hati piye?”

“Ya jangan mau kalau diuyel-uyel”.

“Kok diuyel-uyel?”

“Wee…dikasih tahu kok. Di gedung itu gelap nanti pas pelemnya diputer.”

“Kang Sarmo pernah nonton to?”

“Aku cuma diceritai orang.”

Sumi bingung menuruti ajakan Dipo anak Pak Jarwo. Dia cuma pelayan toko, Dipo mahasiswa Gajah Mada. Dia malu kalau diajak ngobrol nggak nyambung. Tapi dia takut nolak juga. Tibalah malam itu, selepas maghrib Sumi dibonceng motor menuju ke Delanggu. Naik RX King Hitam. Beberapa menit sampai di Delanggu. Dia pakai baju terbagus yang dia punya.

“Gimana Sum siap nonton ya?”

“Iya mas…,” jawab Sumi singkat.

“Kita makan dulu ya.”

“Makan apa mas?”

“Soto aja biar cepat.”

Sumi nurut saja.

Sempat makan Soto Pak Bagong sebelah barat lampu merah perempatan pasar. Meskipun enak tapi Sumi malu untuk nambah. Dia serba salah. Sumi merasa kikuk pergi dengan anak juragan. Selesai makan, mereka menyeberang jalan menuju ke Gedung Bioskop satu-satunya di Delanggu. Setelah beli karcis mereka masuk gedung.

Sumi kaget. Gedungnya besar, lampu remang dan lantainya menurun semakin mendekati layar. Beda dengan gambar sorot di lapangan Karanglo. Film yang ditonton Binalnya Anak Muda. Beberapa lagu diputar menunggu jam tayang. Lalu disusul iklan. Sumi takjub karena pertama kalinya nonton di gedung. Film mulai diputar. Sum merasa risih nonton film itu.

“Gimana Sum bagus?” tanya Dipo.

“Hmmm…bagus Mas,” jawabnya asal saja.

Tangan Dipo memegang tangan Sumi. Sumi deg-degan, ingin dia lepaskan tapi nggak berani. Malah Dipo berusaha merangkul. Tapi dengan halus menepis tangan Dipo. Dia ingat Sarmo, anak tukang soto. Meski hanya lulusan SMP, Sarmo lebih tahu sopan santun, lebih melindungi. Sumi jadi tidak bisa menikmati film yang ditontonnya. Dia paham yang dibilang Sarmo dengan hati-hati. Hingga film selesai Sumi justru keluar keringat dingin. Dia rasanya lebih suka nonton misbar di lapangan sambil duduk di tikar.

Sejak kejadian itu, Sumi merasa tidak nyaman kerja di tempat Pak Jarwo jika ada Dipo di rumah. Dia tidak lagi bersikap manis ke Mas Dipo.

*

“Gimana Sum tadi malam?”

“Ah nggak enak kang. Enak nonton bioskop di lapangan. Di gedung nggak bisa teriak-teriak sambil tepuk tangan.”

“Lho pelemnya tembak-tembakan?”

“Film cinta-cintaan saru kang..”

“Tapi kamu nggak diapa-apakan to?”

“Nggak..nganu…kang.. nganu..”

“Nganu apa to?”

“Tanganku cuma dipegang2..”

“Ha..jadi..?”

“Ya gitu aja kang… Aku risih.”

“Lain kali jangan maulah.”

“Iya kang..”

*

Hari ini pasaran Pon, ramai pengunjung pasar. Dari daerah timur hingga ke Ngaran banyak orang datang ke pasar untuk jualan maupun untuk kulakan. Dari daerah barat hingga Tulung banyak orang membawa hasil bumi untuk dijual. Pasar penuh orang. Begitu juga toko-toko sekitar pasar juga laris. Sumi sibuk melayani para pembeli di Toko Ijo.

“Mbak namanya siapa?”

“Aku Sumi mas.”

Begitu tanya seorang pembeli yang mungkin menikmati ayunya Sumi. Hingga pembeli itu memberanikan diri bertanya.

“Mbak anaknya berapa?”

“Lho aku masih gadis mas,” jawab Sumi polos disela-sela melayani pembeli.

“Oh saya kira sudah punya suami,” pembeli itu ingin berkenalan tapi ragu.

“He…Sum! Kerja sing apik…Jangan disambi ngobrol”, bu Jarwo menegur Sumi. Padahal dia sendiri sebenarnya juga sungkan menjawab pertanyaan pembeli tadi. Tiap akhir pekan, Sabtu tepatnya si pembeli itu rajin datang ke toko Ijo.

“Mbak ingat aku nggak?”

“Siapa to mas?”

“Yang datang minggu lalu. ”

“Ah lupa, kan tiap hari yang belanja banyak.”

Sindhu si pemuda itu mencari akal gimana menyampaikan rasa tertariknya. Dia bawakan saputangan yang disemprot parfum wangi. Dibawanya pada kunjungan berikutnya.

“Sum ini tak kasih sapu tangan.”

“Buat apa mas?”

“Aduh Sum ya buat disimpan atau ngelap keringat di hidungmu itu.”

“Ya mas maturnuwun.”

Sindhu pun pulang. Dia akan datang lagi minggu depan.

“Sum, siapa itu anak yang sering-sering datang ke sini? ” tanya bu Jarwo.

“Nggak sering kok bu. Cuma seminggu sekali.”

“Siapa dia?”

“Anu bu.. Sindhu namanya”.

“Sekolah dimana?”

“Katanya SMA di Klaten”.

“Wah hati-hati kamu”.

“Nggih bu..”

Sumi bingung. Ada Sarmo, ada ndoro Dipo dan Sindhu. Dia seneng ngobrol dengan kang Sarmo, yang memang teman main sejak kecil. Juga obrolannya nyambung. Pada mas Dipo dia justru takut. Ia mau diajak nonton karena anaknya juragan. Tidak ada rasa tertarik. Kepada Sindhu diam-diam Sumi mulai tersanjung karena merasa diperhatikan dan nampaknya Sindhu anak pinter. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.