Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 08:23 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

Sumi tidak masuk kerja. Dia menenangkan diri. Kejadian yang dia alami bukan mimpi. Dia terguncang mendapati dirinya sudah tidak perawan.

“Nduk kowe nggak masuk ?”

“Hari ini mau istirahat mbok. Nggak enak badan.” jawab Sumi sekenanya.

“oo yo wis..”

Sumi tiduran di amben bambu sambil membaca-baca buku kiriman Mas Sindhu.  Sembari merenungi nasibnya dia mencari vitamin rohani dari buku yang dia baca.

Semenjak punya bayi, Kartiyem jarang membantu suaminya nyari pasir. Dia masih harus merawat bayinya. Sumi yang justru berpikir untuk meningkatkan pendapatannya. Kejadian semalam memukul hatinya. Beberapa hari pikirannya kacau. Butuh beberapa waktu untuk kembali normal meskipun tetap ada yang mengganjal.

Dia berpikir untuk melawan. Secara fisik dia memang kalah lawan Dipo. Tetapi akalnya tidak boleh kalah. Fisiknya memang berhasil dinodai Dipo tapi tidak dengan jiwanya. Dia menganggap ini bukan akhir dari hidupnya. Dia justru punya rencana besar di balik musibah yang menimpanya ini.

Dia tulis dua surat sekaligus untuk Sarmo dan Sindhu. Mungkin dari situ akan kelihatan siapa yang lebih peduli pada dia, siapa yang sesungguhnya mencintai dia. Atau, keduanya sebenarnya tidak mencintainya. Dia butuh penyemangat. Tetapi bisa juga posisi tawarnya jatuh gegara keperawanannya  terenggut. Sumi ingin tahu siapa diantaranya yang lebih bisa menghargai kemanusiaannya bukan fisiknya saja.

“Mas sungguh tak terbayangkan pada malam itu, anak juraganku memaksaku untuk melayani dia. Lalu dia  mengancam membunuhku jika aku buka mulut. Aku tidak buka mulut. Aku hanya menggerakkan jari-jari tanganku untuk mengabarkan ini.

Mungkin mas Sindhu akan menyalahkan aku dengan kejadian ini. Tapi benar memang saat itu aku tidak cukup kuat untuk melawan kekuaran Dipo.

Tapi aku janji untuk melawannya dengan akalku meski fisikku kalah. Seperti pernah mas Sindhu sampaikan, kekuatan terbesar manusia ada pada akalnya.”

Pada kang Sarmo Sumi menulis hal yang mirip tetapi tentu tidak dengan kalimat soal akal. Sumi hanya cerita diperkosa Dipo , diancam akan dibunuh jika buka mulut dan akan melawan.

*

Setelah itu Sumi bekerja seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi dia menyiapkan tongkat kayu di sebelah pintu masuk toko sepanjang satu meteran. Jika ada yang mau mengganggu, dia siap memukul perut atau kepalanya. Dia seperti memendam luka. Memang bencana bisa datang kapan saja. Bencana yang dialaminya adalah buah keteledorannya.

Meski diancam Dipo untuk tidak buka mulut, akhirnya dia cerita kepada Sisri soal kejadian malam itu. Dia nggak takut ancaman Dipo.

“Jadi mbak Sum dipaksa?”

“Iya Sri. Aku sudah melawan tapi gagal.”

“Ya ampun mbak. Kok tahu malam itu aku nggak di sini.”

” Bajingan punya banyak akal untuk berbuat jahat Sri.”

” Iya ya.Tapi..mbak Sum akan diam saja?”

” Tidak Sri. Aku akan melawan. Boleh Dipo merusak fisikku tapi tidak jiwaku. Toko ini kelak akan menjadi milikku.”

” Sik..sik… Gimana caranya mbak?”

” Nanti akan kau lihat Sri.”

Sumi sepertinya punya cara sendiri untuk membalas anak juragannya. Tapi dia belum mau bercerita.

*

” Sum aku prihatin atas kejadian itu. Aku menyesalkan apa yang kupikir saat kita ke Prambanan, di atas bis, benar terjadi. Cuma pelakunya yang justru tidak terduga Sum.Kamu harus melawan. Suatu saat nanti kamu harus membuka mulut. Katakan pada Bu Jarwo. Untuk itu Pak Jarwo harus dilibatkan. Kamu tahu maksudku kan Sum? Aku akan mendukungmu. Aku tidak meninggalkanmu Sum.”

Itu balasan surat Sindhu, melegakan hati Sumi.  Dia semakin kuat bertahan meski bencana itu seperti mematikan masa depannya. Sepertinya mas Sindhu punya pikiran yang sama soal rencana besarnya.

Sarmo lebih lama membalas. Sarmo justru terguncang mendapat kabar itu. Dia tidak membayangkan Dipo melakukan itu. Selama ini justru dia khawatir Pak Jarwo yang berbahaya. Sarmo tidak kehilangan harapan. Sarmo masih menganggap Sumi seperti yang dulu. Sumi tetap  pantas dihargai, karena ini bukan salah Sumi. Sejak dulu dia memang dia jadi pelindung Sumi.

Sumi merasa lega. Ternyata Sarmo masih setia. Kedua orang itu sama-sama bersimpati. Entah siapa nanti yang serius mau menjadi suami Sumi.

Sarmo semakin bagus usahanya. Bisnisnya berkembang, bahkan dia sudah pisah rumah dengan Pakliknya. Ternyata pakliknya ada keinginan juga agar Sarmo dijodohkan dengan anak ceweknya. Sunarni, anak pakliknya, yang kini kuliah di sebuah kampus swasta di Jogja. Sarmo bukannya tidak mau. Cuma dia mikir kalau ada apa-apa justru bisa merusak hubungan persaudaraannya. Sunarni manis anaknya, sedikit sombong karena merasa sebagai orang kaya dari Curup yang bisa kuliah ke Jogja. Apalagi tahu Sarmo cuma lulusan SMP. Sejauh ini Lik Marto juga lebih sreg Sarmo sama adik sepupunya saja, Hitung-hitung mempererat persaudaraan dan menyelamatkan harta adiknya agar nggak jatuh ke tangan orang lain.

Sarmo serba susah memutuskan. Hatinya ke Sumi tapi pikirannya kadang ke Sunarni. Sarmo yakin dia lebih terhormat di depan Sumi. Sunarni tidak tahu masa lalunya. Mungkin Sunarni hanya tahu sesudah dia sukses.

Sejauh ini Lik Marto belum tahu cerita yang menimpa Sumi. Jika ia tahu, pasti akan memaksa Sarmo meninggalkan Sumi. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.