Pengakuan Sumiati

waktu baca 7 menit
Foto ilustrasi.

KEMPALAN: Sumi dan Sindhu duduk di kursi teras memandangi halaman depan rumah mereka yang asri hijau sambil menikmati teh dan buah. Bunga nusa indah menghiasi kebun kecil di depan teras.

Obrolan antar mereka berlangsung seru dan kadang diselingi tertawa renyah.

“Kenapa dulu sempat mogok kuliah mas?”

“Hmm..Gimana ya…yah karena stress, tugas perencanaan ditolak, nggak lulus,” jawab Sindhu sambil menggigit mangga yang dihidangkan Sumi.

“Kan banyak yang begitu, kenapa yang lain nggak stress ya?”

“Ya mungkin ada beberapa yang stress, tapi tingkat kekuatan orang menghadapi tekanan kan beda-beda. Aku termasuk lemah”, masih sambil mengunyah mangganya.

“Kenapa larinya ke agama ya?” Sumi pingin tahu juga meski sudah berlalu.

“Itu sih bagus. Bukan ke narkoba atau mabuk-mabuk. Iya kan? Ingin mendekatkan diri pada Tuhan.”

“Lalu bagaimana cara mendekatkan diri?”

“Itu belajar tasawuf. Di sana diajari bagaimana berkomunikasi dengan Tuhan lewat dzikir. Kita membayangkan guru kita. Guru kita itu yang akan menyambungkan dzikir kita lewat nur(cahaya) Muhammad.”

“Lalu?”

“Lalu cahaya itu akan sampai ke Tuhan.”

“wah baru tahu ada ajaran seperti itu,” sahut Sumi kaget. Setahu dia manusia berkomunikasi langsung ke Tuhannya secara personal, tanpa perantara. Tetapi ternyata ada pemikiran lain.

“Lalu setelah bsa komunikasi dengan Tuhan terus mau apa?”

“Ya mau mengadu, mau meminta.”

“Lho bukannya kalau kita berusaha sungguh-sungguh pasti Tuhan akan mengabulkan permintaan kita?”

“Sekarang aku percaya begitu. Tapi orang yang sedang stress bisa berpikir beda. Dan orang lain percaya begitu.”

“Tapi kenapa mas Sindhu harus menjauh dari pergaulan dengan sesama teman, keluarga?”

“Ya di kelompok itu aku merasa nyaman. Melupakan hiruk pikuk kehidupan dunia yang ruwet. Di sana damai,” Sindhu menjelaskan dengan menyruput tehnya.

“Damai karena nggak mikir macem-macem. Itu sih bagus. Tapi kita kan bukan makhluk individu. Kita ini anak dari orang tua kita, kita punya adik atau kakak. Kita punya tanggungjawab. Kita butuh makan,” Sumi bisa mengimbangi obrolan Sindhu.

“Iya salahnya di situ. Orang belajar tasawuf mestinya memang tidak lalu ekstrim menjauh dari manusia, menjauh dari urusan dunia. Itu kesalahanku sendiri, bukan ajaran dari tasawuf itu.”

“ohh…kukira ajarannya begitu.”

“Nggak. Itu yang sering terjadi. Sikap kita menghadapi ajaran yang sama bisa beda dengan orang lain. Memang sebaiknya kita belajar ilmu bukan karena pelarian. Kita ikut aliran tertentu bukan karena pelarian. Kalau gara-gara pelarian yang jadi ekstrim. Perubahan yang ekstrim jelas nggak baik. Perubahan mestinya memang perlahan.”

“oo iya ya. Mestinya karena kesadaran bukan pelarian. Jadi belajarnya bener.”

“Banyak memang mahasiswa yang ikut kelompok tertentu, lalu ngomong di sana tentang surga. Dia ikut kelompok itu karena kalah bersaing di kuliah, lalu mencari pelarian. Karena di kelompok baru nggak pernah membicarakan dunia, dia merasa nyaman. Padahal mereka tidak berani menghadapi tantangan, mereka lari. Mereka bermimpi menggapai surga lalu menganggap orang lain salah, orang lain tersesat.”

“Walah medeni ya. Memang paling bagus yang wajar-wajar saja.”

Lalu Sindhu menyeruput tehnya lagi sambil mendengarkan respon Sumi. Sejauh ini Sumi pasangan yang cocok, mampu mengimbangi omongannya.

“Tapi kalau aku nggak stres dulu, belum tentu aku jadi suamimu lho..”, ucap Sindhu sambil tersenyum.

“Iya ya..mungkin begitu jalannya. Bisa jadi sama Silvy ya?”

“Haha Silvy, cepat datang dan cepat pergi. Lalu kenapa waktu itu kamu nekat datang ke Bandung?”

“Kangen. Haha…mau menguji kamu laki-laki yang baik bukan.”

“Walah kenapa harus begitu ngujinya.”

“Aku kan belum pernah ke Bandung. Pingin tahu kota Bandung.”

“Pingin tahu kota Bandung atau pingin ketemu aku?” goda Sindhu.

“ Sudah dibilang kangen kok. Pingin jalan sama Mas Sindhu.”

“Nggak takut dibilang cewek murahan??”

“Aku sudah siap kalau mas Sindhu macem-macem, aku nggak mau lagi berhubungan dengan kamu mas kalau sampai nakal.”

“wow masak sih? Nakal bisa juga dianggap asyik lho bagi orang lain”

“Iya. Betul. Aku punya ukuran sendiri untuk kenakalan.  Aku kangen tapi juga nggak mau dianggap murahan.”

“hmmm..pinter ya…”

“Istrine sapa dhisik …”kata Sumi sambil mendekap Sindhu dari belakang, dua tangannya melingkar di leher Sindhu. Bau harum menyeruak dari tubuh Sumi.

“Eh…dilihat tetangga..”

“Lha kan aku bojomu mas…’

“Tapi ya lihat-lihat, kita kan di teras…”

*

Kemudian mereka pergi ke kolam. Hobi renang Sumi tidak berhenti meski sudah nikah.

“Yo kita renang mas. Biar tetap bugar.”

“wow boleh.”

Mereka lalu berjalan berdua bergandengan tangan sambil membawa tas berisi baju. Kira-kira 10 menit jalan dari rumah ke kolam Bale Kambang. Kolam peninggalan Belanda yang dibangun sekitar 1900an awal bersamaan dengan dibangunnya pabrik gula Tjokro Toeloeng pada 1897. Waktu itu banyak tuan dan noni Belanda berenang di kolam itu. Bagi mereka Java adalah surga. Sulit menemukan sumber air bersih mengalir setiap hari seperti di Cokro ini dengan udara yang tidak terlalu dingin, banyak pepohonan hijau dan tanah yang subur.

Mereka tinggal di rumah loji yang dibangun sekitar pabrik gula. Berenang adalah salah satu hiburan saat waktu luang.

“Sum kamu seksi banget lho pakai baju renang itu.” Sumi hanya pakai kaos dan celana short. Bukan baju renang beneran.

“Ah masak mas. Kok malah ngelihat aku. Ayok renang, jangan lihat aku terus. Kalau mau renang jangan mikir yang macam-macam,” Sahut Sumi bangga campur malu dilihati suaminya.

“Aku nggak mikir macam-macam, cuma mikir kamu saja.”

“Nanti kita tuntaskan di rumah saja mas,” suara Sumi setengah berbisik manja.

Sindhu sangat paham.

Mereka pun nyemplung ke kolam yang airnya mulai dingin menjelang sore. Tidak banyak yang berenang. Kolam itu terlalu dalam untuk anak-anak yang hanya main ciblon. Mereka lebih suka ke Umbul Ingas yang lebih dangkal.

“Ayok kejar aku mas…” tantang Sumi yang memulai berenang.

“Kalau ngejar bisa apa upahnya?”

“Upahnya nanti malam kupijiti.”

“Cuma pijit?”

“Mau dikerok?”

Mereka pun tertawa.

Sindhu kagum dengan gaya renang Sumi yang fasih seperti perenang profesional. Wajar Sumi dari kecil mainnya di kolam renang.

Sindhu pun mengejar Sumi dengan renang gaya dadanya.

“Wow..bisa…” Sindhu berteriak bangga bisa mengejar kecepatan Sumi. Lalu Sindhu pun mendekap Sumi dalam air.

“iihh jangan… dilihat orang, malu mas.”

“Cuma kita yang berenang…”

“Itu penjaga kolam ada di warungnya.”

Mereka asyik berenang sambil bermain-main di air.

Kira-kira 30 menit mereka bergerak bolak-balik ke arah memanjang mengikuti kolam.

“Capai ya?” tanya Sumi.

“Iya pesen bakso yuk…”

Di pinggir kolam tertutup itu pengelola berjualan gorengan, bakso dan minuman.

“Wah cocok dingin-dingin, laper makan bakso sambil ngigit gorengan”, sahut Sumi bersemangat.

Mereka segera mentas dan berbilas. Tidak lama mereka duduk di tikar pinggir kolam sambil menikmati bakso panas yang baru dipesan. Mereka makan lahap.

“Mantep ya baksonya.”

“Gorengannya juga mantap.”

“Nanti malam bener mau pijat?”

“Mau, tapi yang penting bonusnya.”

“Ah…ngeres…”.

“Tapi kamu suka kan?”

Sumi tersenyum menahan malu. Sore itu Sindhu dan Sumi benar-benar menikmati kegiatan rekreasinya. Mereka lalu pulang berdua bergandengan tangan dengan hati bahagia.

“Kutidur di dalam pelukmu di antara rambut yang terurai…” Sindhu berjalan sambil membawakan lagu Chrisye. Sumi menikmati lantunan suara suaminya yang merdu dengan sekali2 menyandarkan kepalanya di pundak Sindhu..

Malam itu bener Sumi memijat Sindhu. Ini sebagai simbol rasa cintanya. Sindhu tengkurap dan Sumi memijat dari arah bawah. Baru ini Sindhu merasakan pijatan Sumi. Sentuhan tangan Sumi, sapuan gerai rambut yang mengenai punggung Sindhu dan aroma harum tubuh Sumi membangkitkan gairah Sindhu.

Ketika sudah beberapa lama, tangan Sindhu meraih tangan Sumi untuk tidak melanjutkan pijatannya. Ganti Sindhu berbalik badan, posisi telentang. Sumi posisi di atas Sindhu menghadap ke Sindhu bertumpu pada dua kakinya yang ditekuk pada lutut. Tangan Sindhu bergerak nakal memijat bagian dada Sumi. Segera Sumi melanjutkan aksinya mengimbangi Sindhu. Dia ciumi bibir Sindhu. Tangan Sindhu melingkar ke punggung Sumi. Lalu mereka berciuman bibir. Nafas Sumi makin mendesah keras. Keduanya lalu mengambil posisi, Sumi telentang dan Sindhu siap memberikan kenikmatan. Kemudian mereka  menuntaskan lanjutan cerita malam pertamanya. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

BACA LAINNYA

Sebuah Pertaruhan

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
1

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Ambane Jangkah

News Kempalan
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *