KEMPALAN: Sumi merasa ada yang hilang. Hari-harinya jadi sepi dan hampa. Meski dia hidup di sekeliling pasar dan toko tapi keramaian orang itu belum mampu menghilangkan sepi hatinya ditinggal Sarmo. Pagi harus buka toko sendiri. Sore pun begitu. Tapi ada yang berubah. Bu Jarwo nampaknya semakin paham apa yang sedang berlangsung di toko. Pengawasannya makin ketat.
Ada terbersit pikiran untuk memecat Sumi. Berhari-hari itu dipikirkan. Tapi dia sadar Sumi adalah aset penting bagi toko. Semenjak Sumi di toko ini penjualan toko ijo naik pesat. Walaupun belum tentu karena Sumi tapi Bu Jarwo berpendapat begitu. Pak Jarwo pun berpikiran yang sama. Tapi sifat lelakinya memang tidak bisa hilang. Meski usia sudah mendekati 65 selera terhadap wanita cantik belum padam. Untuk sementara Sumi aman .
Sindhu menepati janjinya. Dia pulang saat liburan semester. Dia tidak tahu apa yang berlangsung di sekitar Sumi. Dia hanya tahu Sumi gadis cantik bekerja sebagai pelayan toko dan Sindhu ingin membuat Sumi jadi pintar. Kalau suatu saat nanti jadi pendampingnya, Sindhu merasa Sumi pendamping yang cukup sejajar. Sumi sendiri tidak terlalu menunggu-nunggu kedatangan Sindhu. Sumi sedang memikirkan Sarmo dan juga keamanan dirinya.
Minggu pagi Sindhu mendatangi rumah Sumi. Karena tidak tahu letaknya, Sindhu bertanya ke toko
“Bu, numpang tanya. Rumah mbak Sumi dimana?”
“oh di sana , dekat sungai selatan sana.” bu Jarwo sambil menunjuk arah.
Sindhu pun mengangguk dan berucap maturnuwun untuk Bu Jarwo.
Dia lanjutkan menuju arah yang diberikan Bu Jarwo. Tapi belum jelas benar dimana. Dia turun dari motor Super Cupnya.
“Dik rumahnya mbak Sumi mana ya?”
“Sumi toko ijo?”
“Iya bener…”
“Sini maju bablas…nanti ada belokan pertama belok kanan ke barat..lurus saja. Nanti ada kolam air..di eberang kolam itu rumah mbak Sumi”.
“oo ya terima kasih dik..” kata Sindhu yakin.
Sindhu menaiki motornya dan mengikuti apa yang dikatakan anak kecil di pinggir jalan tadi.
Dia memasuki jalan tanah berpasir yang belum di aspal namun halus dan padat.
Sampai dia di kolam air yang menampung aliran air bersih dari mata air di sekitar Umbul Manten.
Dia lihat rumah berdinding bata separuh atasnya berdinding gedheg. Di depan rumah ada lincak bambu. Sindhu sejenak kaget. Rumah yang menurut Sindhu terlalu sederhana untuk orang secantik Sumi. Tapi itulah faktanya. Sindhu turun dari motornya.
“Kulonuwun..”
“Ya…nyari siapa mas?” tanya bapak Sumi, dengan masih sarungan dan pakai kaos seadanya.
“Cari mbak Sumi…”
“oh…Sum…Sum…” ini ada tamu. Sindhu membatin dalam hati : hhmmm bapaknya seperti itu kok bisa Sumi cantik ya.
Sumi sejenak membereskan rambutnya. Dia hanya pakai daster, lalu keluar dari rumahnya yang sempit.
“Oh siapa ya? Mas Sindhu?” tanya Sumi agak ragu.
“Iya Sum.” Jawab Sindhu singkat sambil mengulurkan tangannya. Mereka pun berjabat tangan. Sumi ragu, tapi Sindhu sangat erat menjabatnya.
“Ehh..mas Sindhu… Ya ampun. Kok pagi-pagi sudah ke sini mas. Kapan pulang?”
“ Iya mau ngajak kamu keluar. Sudah dua hari lalu kok. Ini untukmu”, ya bungkusan kaos oleh-oleh andalan Sindhu untuk Sumi.
“Waduh mas..kok repot-repot. Terima kasih ya.”
Sumi masuk rumah lagi dengan hati riang untuk berpakaian lebih pantas. Dia bingung harus pakai baju apa. Akhirnya kaos dulu yang diberikan Sindhu dari Toko Viva dipakainya. Bawahan pakai rok. Lalu dia panggil simboknya untuk kenalan. Dia segera keluar lagi. Tanpa bedak.
“Mas ini mbokku.” ucap Sumi percaya diri walaupun mboknya sedang hamil tua dan berpenampilan awut-awutan.
“Ooo mas Sindhu..kulo mboke Sumi, monggo duduk.” Ucap mbok Kartiyem sambil menunjuk ke lincak bambu di teras sempitnya.
“Oh Sumi kamu cantik sekali pakai kaos itu. Ayu tenan…” puji Sindhu tulus sambil mengamati penampilan Sumi yang sederhana namun memikat itu.
“Ah gini saja kok mas. Mau minum apa?”
“Eee nggak usah. Aku mau ngajak kamu ke Prambanan. Bagaimana?”
“Hmm…aku takut mas. “
“Takut kenapa?”
“Hmm..Mas sindhu nggak malu jalan sama aku?”
“Enggak Sumi. Enggak. Kamu bukan pencuri. Kamu bukan wanita nakal. Kenapa aku harus malu?”
“Tapi mas aku cuma pelayan toko. Aku nggak punya apa-apa mas. Aku cuma lulusan esempe.”
“ Tenang Sumi, aku tidak melihat itu. Aku tahu selain kamu cantik, kamu wanita yang cerdas.”
Sumi tersipu. Mukanya merah. Sumi belum pernah dapat pujian begitu dari Sarmo. Sumi merasakan pujian yang tulus. Beda memang Sarmo dan Sindhu. Kedua lelaki baik itu menghargai Sumi dari sisi yang berbeda. Sumi tentu senang punya dua orang dekat yang semuanya baik. Tapi sungguh dia bingung jika harus memilih. Meskipun setengah hatinya sudah diserahkan pada Sarmo ketika mengantar Sarmo ke stanplat bis.
Mereka duduk berdekatan di lincak depan rumah itu. Sindhu melihat jelas muka Sumi berubah. Ada rasa kasihan, ada rasa sayang di dalam hati Sindhu melihat kejujuran dan kepolosan Sumi. Sindhu ingin sekali mengentaskan Sumi dari kubangan kemiskinan. Namun dia belum lulus kuliah. Masa depannya sendiri belum jelas. Sumi merasa takut jika dia pergi dengan Sindhu.
Pasti tetangga akan mencibirnya. Apalagi mereka tahu Sumi begitu akrab dengan Sarmo. Meskipun dengan Sarmo juga belum ada ikatan apa-apa. Hanya hati mereka yang terikat. Tapi keterikatan itu apakah karena kebiasaan? Sumi juga bertanya-tanya.
“Mbok aku boleh pergi dengan mas Sindhu?” Sumi mencari pemberi keputusan akhir. Dia sangat percaya pada mboknya meski cuma tukang pasir.
“Hmm…yo Nduk nggak apa-apa. Asal hati-hati.” Jawab Kartiyem pendek. Dia menyadari mungkin akan ada gosip tetangga. Tapi dia tahu Sumi masih manusia bebas, belum terikat. Tidak ada salahnya Sumi membuka diri untuk tahu dunia lain selain pasar dan toko. Siapa tahu dengan mengnal banyak orang Sumi justru makin memilih Sarmo.
Sumi pun bersiap-siap. Ganti baju pakai jaket. Sindhu merasa sangat lega. Terpikir di benak Sumi ‘Jangan-jangan mas Sindhu menganggap aku gadis murahan, kok gampang banget diajak keluar’. Dia ragu-ragu.
Sekali lagi dia berbisik ke simboknya
“Mbok boleh beneran?”
“Iya nduk rapopo…”
Mereka pun meluncur dengan sepeda motor berboncengan setelah pamitan kepada kedua orang tua Sumi.
Mereka berharap tidak banyak tetangga yang melihat. Motor menuju Delanggu dengan kecepatan tinggi. Sumi ketakutan.
“Mas mbok jangan ngebut-ngebut. Kok seperti kesusu.”
“oh maaf Sum. Takut banyak tetangga melihat kita.”
Sumi belum tahu persis keluarga Sindhu seperti apa. Tapi pernah dia ketemu mbah Karto seseorang yang sering ke Pasar Cokro dan mampir ke Toko Ijo. Mbah Karto ini tetangga Sindhu. Sumi pernah ngobrol dengan mbah Karto dan bertanya soal Sindhu.
“Mbah njenengan kenal mas Sindhu?”
“oo ya kenal banget mbak. Sering beli pecel di warung saya. putranya pak Padmo. Ada apa?”
“Nggak kok mbah. Nanya saja.”
“Mas Sindhu orangnya baik mbak. Tidak neko-neko.”
“Oo gitu ya mbah.”
“Kuliah di Bandung kalau nggak salah mbak. Pinter orangnya, nggak angkuh dan sama tetangga juga baik. Saya akrab dengan ibunya mas Sindhu.”
Ingat cerita mbah Karto itu Sumi sudah punya petunjuk awal siapa Sindhu. Jadi tidak salah simboknya mengijinkan dia pergi dengan Mas Sindhu.
“Sum kamu mabukan nggak?” tanya Sindhu.
“Sejauh ini nggak mas. Aku kan juga jarang pergi.”
Sampailah mereka di Delanggu. Motor dititip di seberang stanplat bis Delanggu. Ada penitipan sepeda motor di situ. Lalu mereka menunggu di pinggir jalan untuk mencegat bis jurusan Jogja.
“Karang Wuni…Klaten..Prambanan..Jogja..!!.”teriak kernet bis Putra Jaya di ujung pintu bis yang terbuka. Asap hitam mengepul dari knalpot di belakang bis.
Sindhu pun mengulurkan tangan sambil digerak- gerakan untuk menyetop bis itu. Bis berhenti sebentar. Mereka segera naik ke bis dan mencari tempat duduk. Bis segera melaju. Sindhu akrab dengan bis jurusan Jogja Solo itu. Ketika SMA dia termasuk pelanggan tetap di minggu sore ketika kembali ke kos-kosannya di Klaten.
Duduk mereka berdua di deretan tengah. Sumi di pinggir jendela, Sindhu di lorong.
“ Mas Sindhu kok bisa ngajak aku jalan?”
“Ya kan biar kita bisa saling kenal.”
“Nanti menyesal lho mengenal saya.”
“Kenapa harus menyesal? Apa yang kurang dari aku dengan mengenalmu?”
“Mas Sindhu bisa cari teman Mas Sindhu yang sederajat. Teman SMA atau teman kuliah.”
“ Tidak mudah mencari teman yang cocok Sum.”
“Kalau di Bandung, bukannya ceweknya cantik-cantik Mas?”
“Iya putih-putih , cantik-cantik. Tapi kabarnya mereka susah diajak hidup sengsara.”
“Lho memang mas Sindhu mau mengajakku sengsara? “ tanya Sumi sambil setengah tertawa.
“Haha ya nggak. Tapi nasib orang kan tidak tahu. Senang susah ya harus siap.”
“Oo begitu ya. Mereka mau enaknya saja?”
“Ya sejauh ini ceritanya begitu. Aku sih nggak tahu. Tapi juga nggak mau ambil risiko.”
Kernet bis mulai meminta bayaran untuk tiap penumpang. Berjalan dari depan ke belakang sambil satu tangan memegangi lembaran uang kertas, tangannya yang lain diulurkan ke arah penumpang. Bis Trayek Jogja Solo nggak pernah pakai karcis. Hanya bermodal kepercayaan Sopir kernet dan pemilik.
“Mana mas?”
“Prambanan, dua.”
“Seratus “.
Sindhu segera membayar ongkos itu.
Bis terus melaju. Beberapa kali berhenti ketika ada penumpang mencegat di pinggir jalan. Ada pengamen naik. Bikin riuh. Asap rokok mengepul dari salah satu penumpang. Itulah pemandangan jika naik angkutan umum.
“Para penumpang yang budiman. Ijinkan kami membawakan lagu-lagu penghibur hati.”
Satu pengamen memainkan ukelele, satu lagi nyanyi sambil menepukkan tangannya.
‘Putraku si ande ande lumuten….
Tumuruno ono putri sing ngunggah unggahi..
Putrine sing ayu rupane…klenting kuning kuwi
Sing dadi arane’
Sindhu tersenyum sambil kakinya mengetuk-ngetuk ke lantai bis. Dia sangat menikmati tembang yang dibikin lucu itu.
Dua orang saling sahut menyahut bernyanyi.
‘bu sibu kulo mboten purun’ satu pengamen melantunkan syairnya.
‘ee lha kok goblokmen to le..bocah ayu-ayu kok ora gelem…’ Pengamen yang lain menyahut.
Sumi dan Sindhu tertawa bersama. Keduanya sangat menikmati hiburan dari pengamen itu. Sindhu seneng melihat Sumi ternyata juga penikmat seni. Sindhu menyiapkan uang untuk memberi si pengamen.
Bis sudah mencapai Benda Gantungan. Keduanya terus mengobrol.
“Sum aslinya kamu sudah punya pacar?”
“hmm..belum Mas…tapi…”
“Tapi apa?”
“Ada teman akrab. Teman main sejak kecil. “
“Terus?” tanya Sindhu penuh harap sambil deg-degan.
“Anu mas. Hmmm…aku belum memutuskan.”
“Kau suka dia?”
“Iya. Mas. Dia banyak membantuku di toko. Tiap hari dia membantu buka dan tutup toko.”
Sindhu mulai menyadari betapa jauh apa yang dia pikirkan dan dia temui. Sumi butuh bantuan fisik sehari-hari. Bukan impian masa depan yang tinggi-tinggi. Sindhu berusaha tegar. Sumi juga bertanya dalam hati dia dengan Sarmo bener cinta atau akrab karena biasa.
“hmmm..terus sekarang dia dimana?”
“Dia ke Bengkulu merantau. Dia janji nanti mau pulang kalau sudah berhasil.”
“Aku juga janji Sum ,kalau berhasil akan melamarmu..”
“Bener itu mas?”
“Iya bener.”
“Ah tapi aku belum yakin mas. Kita belum saling mengenal. Jangan janji-janji dulu mas.”
“Apa pacarmu nggak janji?”
“Iya dia janji mau bikin rumah besar untukku”.
“Nah itu dia janji. Kenapa aku nggak boleh?”
“Karena Sarmo mengenalku dari kecil. Dia tahu persis siapa aku mas. Mas Sindhu cuma lihat fisikku saja”.
“Nggak begitu Sumi. Aku tahu kau punya potensi besar. Cuma kau tidak beruntung. Aku mau mengajakmu keluar dari kubangan kemiskinan!”
“Tapi tadi katanya mau ngajak hidup sengsara?” sindir Sumi sambil tersenyum manis.
Sindhu agak kaget mendengar respon cerdas dari Sumi.
“Mana ada orang ngajak sengsara Sum. Itu kan jaga-jaga saja, nasib orang siapa tahu.”
Sindhu diam-diam mulai menemukan kecocokan. Sumi pun merasa nyaman di dekat Sindhu. Tapi Sindhu suatu saat perlu partner untuk bicara yang lebih tinggi.
Tidak terasa bis sudah sampai Prambanan.
“Prambanan..Prambanan…!!” suara kernet memberitahu .
Mereka turun bersama beberapa penumpang.
“Sum kita akan dulu ya.”
“Makan apa mas?”
“ Di sini khasnya soto bebek. Ayo jalan sebentar ke arah timur, di situ ada soto bebek.”
Sumi nurut saja. Mereka berjalan menuju warung itu.
Sumi agak malu kalau ketahuan ia nggak pernah keluar-keluar. Mereka pun melahap soto panas sambil menikmati tahu dan tempe goreng. Soto bebek memang beda gurihnya. Bebek terasa lebih gurih.
“Mas sebenarnya ada yang aku takutkan.”
“Takut sama aku?”
“ah mana mungkin aku takut sama mas. “
“Lalu?”
“Anu..itu juraganku. Sering minta aneh-aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Itu minta kerok . Minta pijet.”
“Ha? Itu sih sudah keterlaluan Sumi. Harus dilawan” seketika Sindhu meluap emosinya.
“Kamu harus berani melawan!”
“Tapi aku takut mas.”
“Sumi kamu punya modal, kamu bisa kerja di tempat lain. Kalau ada apa-apa kamu harus menuntut.”
“Maksudnya apa-apa apa mas?’
“Ya kalau ada tindakan yang sampai bikin kamu apa-apa kamu harus bilang. Kasih tahu aku.”
Sumi seperti mendapat energi baru. Dia meskipun sudah dikasih tahu ibunya soal ini tapi sejujurnya rasa takut itu tetap ada.
Semenjak kejadian minta kerokan itu sepertinya bu Jarwo mencium gelagat tidak baik. Bu Jarwo semakin menempel suaminya.Sumi bisa merasakan itu. Sementara Sumi aman.
*
Mereka lalu ke Candi Prambanan alias Roro Jonggrang.
“Kamu tahu ceritanya Sum?”
“Tahu mas. Candi ini dibangun Badung Bondowoso karena cinta Mas. Cinta pada Roro Jonggrang“
“Nah itulah energi cinta. Bisa luar biasa.”
“Tapi masak satu malam Mas?”
“Kamu percaya?”
“ya jelas nggak Mas. Mana mungkin keberhasilan dibangun dalam waktu cepat.
“Nah kamu cerdas Sum. Itu hanya perumpamaan, hanya gambaran. Orang sering salah memaknai sejarah atau teks. Kadang perumpamaan dianggap sebagai hal yang apa adanya. Letterleg.”
Sumi seperti mendengar guru sejarahnya bercerita. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi