Faishol Taselan (kanan) dan Trisnadi dengan Piala Prapanca yang diraih. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com)
SURABAYA-KEMPALAN: Harian Media Indonesia akhirnya “pecah telur” setelah untuk pertama kalinya meraih Piala Prapanca kategori karya tulis dari PWI Jawa Timur, sejak kehadirannya di Jatim pada 1989.
Penghargaan tersebut diraih jurnalis Media Indonesia, Faishol Taselan, yang telah bergabung sejak 1990. Selama 36 tahun berkarya, baru kali ini media tersebut berhasil membawa pulang penghargaan tertinggi insan pers di Jawa Timur.
“Jadi boleh dibilang kali ini saya berhasil membawa Media Indonesia pecah telur, karena selama ini belum pernah meraih Piala Prapanca,” ujar Faishol usai menerima penghargaan di Dyandra Convention Center Surabaya, Kamis (16/4) malam.
Piala Prapanca diserahkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa, dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Selain kategori tulis, penghargaan kategori foto diberikan kepada Trisnadi.
Bagi Faishol, penghargaan ini menjadi momen yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bisa meraih penghargaan tertinggi dari PWI Jatim.
“Alhamdulillah, mimpi yang selama ini saya simpan rapat akhirnya terwujud,” ujar pria yang akrab disapa Cak Icol itu.
Ia menegaskan, penghargaan tersebut bukan hanya miliknya pribadi, melainkan juga untuk keluarga besar Media Indonesia, rekan-rekan Pokja Pemprov Jatim, serta PWI Jatim.
Cak Icol mengungkapkan, karya yang mengantarkannya meraih penghargaan telah dipersiapkan cukup lama sebelum akhirnya dipublikasikan pada Agustus 2025. Ia mengangkat tema pembatasan penggunaan gadget pada anak dan remaja.
Inspirasi tulisan tersebut diambil dari keberadaan Kampung Lali Gadget (KLG) di Dusun Bendet, Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Kampung ini dikenal sebagai kawasan edukasi yang mendorong anak-anak menjauhi gawai.
Sejak 2018, KLG menawarkan berbagai aktivitas alternatif seperti permainan tradisional, eksplorasi alam, hingga kerajinan dari bahan alami, sebagai upaya mengurangi ketergantungan gadget.
“Ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya anak-anak terbebas dari gadget,” ujarnya.
Sementara itu, peraih Piala Prapanca kategori foto, Trisnadi, mengaku tidak terlalu terkejut dengan kemenangannya. Pasalnya, ini merupakan kali kedua ia meraih penghargaan tersebut, serta dua kali masuk nominasi sebelumnya.
Namun, ia justru terkejut karena foto yang terpilih bukan karya yang diunggulkannya. “Yang saya andalkan sebenarnya dua foto bertema pondok di Sidoarjo. Tapi yang terpilih justru foto unjuk rasa di Surabaya berjudul ‘WANI’,” ujar mantan fotografer senior Memorandum itu. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi