KEMPALAN: Malam itu keluarga besar Sindhu datang ke rumah Sumiati. Keluarga Sumiati juga berkumpul. Ada juga di sana Pak Shanghai dan anaknya Andi. Kehadiran keluarga Sindhu ini dalam adat Jawa disebut jonggolan.Kehadiran ini menunjukkan bahwa Sindhu memang serius ingin menikahi Sumi. Mereka memakai pakaian adat Jawa dengan beskap dengan membawa seserahan. Seserahan sebagai bukti ikatan persaudaraan keluarga pengantin laki dan perempuan. Seserahan yang dibawa berupa pakaian, alas kaki, kosmetik, buah-buahan dan beberapa makanan. Acara malam ini disebut dengan midodareni.
Proses pertama adalah jonggolan tadi. Acara khas adat Jawa dimana malam itu widodari atau bidadari turun dari kayangan menaburi rumah calon pengantin dengan berkah, kasih sayang dan kecantikan. Sehingga pengantin akan tampak cantik, kehidupan pengantin kelak bakal rukun, penuh berkah dan kebahagiaan. Sumiati, berada di kamar pengantin tanpa boleh keluar. Dipingit selama satu malam itu. Sumiati ditemani Sisri sebagai teman sejak dulu.
“Gimana mbak dheg-dhegan nggak besok mau nikah?”
“Ya biasa. Tapi dheg-dhegan sithik Sri..”
“Dheg-dhegan arep nikah atau yang lain?” Sisri menggoda.
“Dheg-dhegan nunggu malamnya …haha…”
Rombongan keluarga Sindhu diwakili pakliknya menyampaikan maksud kedatangannya malam itu. Sambutan disampaikan dengan bahasa Jawa halus yang anak-anak mudah sendiri tidak semuanya paham. Lalu sambutan dari keluarga pengantin putri diwakili oleh pak lurah. Disusul tantingan dimana orang tua Sumi menanyai kesediaan Sumi untuk besok dinikahi Sindhu.
“Apakah kamu benar mau diperistri Sindhu nduk?” itu pertanyaan Kartiyem, istilah Jawanya ditanting.
Tentu saja Sumi dengan mantap menjawab
“Iya mbok. mau”.
Lalu diteruskan nasehat atau wejangan dari orang tua Sumi untuk Sindhu. Orang tua Sumi diwakili oleh pak lurah yang lebih fasih berbicara. Sugiyono sendiri hanya menyaksikan. Tuan Shanghai juga duduk di dekat pengantin pria menyaksikan acara itu dengan khidmat. Dia tidak terlalu paham dengan adat Jawa. Tapi dia suka dengan adat yang penuh makna itu. Pak lurah memberikan nasehat kepada Sindhu dalam bahasa Jawa halus. Nasehat diberikan agar Sindhu punya bekal sebagai calon kepala rumah tangga nanti. Apa-apa saja yang harus dilakukan sebagai kepala rumah tangga atau suami. Lalu diikuti dengan tembang Jawa tanpa musik yang berisi nasehat perkawinan. Tembang dilantunkan oleh lik Harto tetangga Sumi yang memang ahli membawakan tembang Jawa.
Kemudian para tamu dari kedua calon pengantin menikmati hidangan yang disajikan oleh para sinoman. Para tamu cukup duduk manis, makanan akan disajikan oleh para sinoman. Setiap tamu dapat bagian satu-satu baik minuman, makanan ringan maupun makan berat. Tidak boleh tambah. Mulai dari teh manis, snack berupa resoles dan bolu selai, sop manten, nasi sambel goreng lalu es puter. Ini tradisi Jawa yang tidak mengenal istilah prasmanan. Jadi manusia dipaksa makan secukupnya meski enak tidak boleh tambah dan disajikan sesuai takaran, tidak berlebihan.
Acara berlangsung hingga malam jam 10an. Keluarga Sindhu pulang meninggalkan rumah Sumiati. Pernikahan akan dilakukan besok paginya di gedung olahraga seberang toko ijo .
Di gedung sudah pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhuan. Gedung itu nampak asri dengan hiasan dedadunan dan buah. Kelihatan oleh siapapun yang lewat bahwa di gedung itu akan berlangsung pernikahan.
Tarub yang dipasang di pintu masuk gedung memiliki arti sebagai atap sementara atau peneduh rumah. Bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa ini dipasangkan dengan tuwuhan. Tuwuhan dipasang di kiri dan kanan gerbang yang isinya pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur. Bleketepe, tarub, dan tuwuhan ini juga jadi simbol tolak bala. Pemasangan bleketepe, tarub, dan tuwuhan ini berisi harapan pasangan yang akan segera menikah memperoleh keturuan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan dan selalu bahagia.
Sementara keluarga Sindhu datang dengan seragam. Untuk yang perempuan pakai baju seragam brokat kebaya warna hijau dan pakai jarik. Sementara keluarga Sumi berseragam orange. Pagi berlangsung akad nikah di bawah bimbingan penghulu dari KUA kecamatan Cokrotulung di depan dalam gedung. Sindhu duduk di samping Tuan Shanghai dan di sebelahnya ada Sumi. Sindhu menggunakan jas warna hitam dan peci warna hitam. Nampak serius tampang Sindhu. Sementara Sumi menggunakan kebaya warna putih dengan make up yang pas. Kecantikan Sumi makin semerbak. Para pengunjung acara pernikahan tidak henti-hentinya berbisik
“Ayu banget mbak Sumi..”
“Iya ayu banget..”
“Beruntung ya mas Sindhu..”
“Iya walau janda mbak sumi masih seperti gadis..”
“Ya itu namanya janda kembang..”
Setelah beberapa patah kata maka pak penghulu mulai memimpin upacara pernikahan.
Tuan Shanghai mewakilkan ke penghulu. Dia sendiri yang jadi wali untuk Sumi. Pak penghulu atas nama wali pengantin perempuan mengucapkan : Saudara Sindhu Pramono bin Padmo Sukarto. Saya nikahkan saudara dengan anak perempuan saya Sumiati binti Gunawan Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tiga setengah juta dibayar tunai.
Lalu Sindhu menjawab dengan mantap saya terima nikahnya Sumiati binti Gunawan Wijaya putri bapak untuk saya sendiri dengan mas kawin seperangakat alat sholat dan uang tiga setengah juta tunai.
Tuan Shanghai terharu menikahkan anaknya. Dia tidak sempat membesarkan. Tapi sudah menemukan anaknya dewasa, cantik. Doanya terkabul sejak Kartiyem disuruh pergi dari rumah. Doanya agar bayi dan ibunya nanti sehat.
Acara dilanjutkan upacara perkawinan yang cukup melelahkan di gedung seberang toko ijo. Beberapa kali Sindhu dan Sumi harus berganti baju. Ada siraman, sungkeman, sindur, ngidak endog, dsb. Selanjutnya Sindhu dan Sumi duduk di pelaminan dengan baju adat Jawa. Mereka tampak bahagia meski lelah fisiknya. Para tamu sudah datang . Ada teman-teman Sindhu saat SMP, SMA, maupun beberapa teman kuliah. Teman-teman Sumi tidak banyak. Hanya teman SD dan SMPnya. Pengisi acara sudah siap. Siang itu para tamu dihibur dengan kesenian campursari.
Giliran kirun harus memberi ular-ular temanten atau semacam petuah buat kedua mempelai. Para tamu siap-siap mendengarkan.
“Mas Sindhu sama mbak Sumiati nanti kalau sudah nikah subnya dua kali lho. Pas adzan siap-siap sholat subuh. Harus bisa jadi imam ya.
Nah selesai subuh , ada subuh yang lain. Disusubi barang abuh.”
Kedua pengantin ikut ngakak mendengar guyonan saru gaya jawa. Penonton pun nggak diam, sorak sorak.
“Wah jur subuh hae…” teriak salah satu tamu.
“Kalau sudah nikah kesabaran harus berlipat ya mas. Nggak boleh emosian,” lanjut Kirun
Nah di bagian ini Sindhu merasa pas nasihat Kirun.
“Mbak Sumi juga harus meladeni suaminya dengan baik. Kalau pagi bikinkan teh. Makan ditemani. Harus guyub. Kalau dapat rejeki itu rejeki berdua. Walaupun jalannya bisa lewat suami atau lewat istri. Jangan mentang-mentang tokone laris terus sama suami sok atau sebaliknya. ”
Sumi mendengar dengan mengngguk-angguk.
“Itu nanti kalau makin laris tokonya, ada peranku di situ lho.”
“Iya mas..siip” sahut Sumi.
“Moga-moga rukun sampai kaken-kaken ninen-ninen , kaya mimi lan mintuno.
Semoga rukun sampai kakek nenek dan seperti mimi dan mintuno.
Yang terakhir adalah nama binatang yang biasa hidup di pantai. Mimi jantan, mintuno betina. Binatang ini lahir selalu dalam pasangan. Mimi menggendong mintuno. Kemana-mana pergi berdua. Mimi punya kaki kuat tapi matanya buta, mintuno nggak punya kaki tapi matanya awas.
Keduanya saling bekerjasama karena masing-masing mempunyai keterbatasan dan kelebihan. Mimi selalu menggendong mintuno. Kalau kedua binatang ini digoreng dalam kondisi bersatu akan jadi makanan enak. Tapi jika terpisah, makanan jadi beracun. Luar biasa kan?
Jadi penganten berdua diharapkan rukun, kompak sampai tua, saling berkerjasama, menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing. “
Para tamu tertegun dengan wejangan Kirun yang begitu mendalam.
Usai kotbah para tamu dipersilahkan menyalami penganten dan menikmati hidangan.
“Selamat Sin…kelihatan ganteng “, kata teman SMAnya.
“wah sudah siap tempur ini nanti malam?” ucap teman yang lain.
Orkes campusari pun mulai memainkan lagu-lagunya.
Tidak lupa Sindhu meminta dimainkan lagu Terajana…
Keluarga Sindhu menari bersama-sama menikmati alunan lagu yang bersemangat itu. Gedung itu nampak ramai meriah.
Beberapa saudara dari keluarga Sumi juga ikut meramaikan perhelatan siang itu.
Pesta berlangsung hingga siang menjelang sore. Para tamu meninggalkan gedung.
Kedua pengantin berganti baju, hiasan dilepas. Keduanya lalu istirahat.
Sindhu tinggal di rumah Sumi yang tidak jauh dari gedung. Ya malam itu untuk pertama kali Sindhu menginap di rumah Sumi. Rumah sepi. Sisa pesta tadi siang sudah tidak kelihatan. Hanya keluarga Sumi saja yang masih tinggal di rumah. Mereka rebahan di ranjang kamar utama.
Sindhu ingat ketika Sumi menginap di kos-kosannya. Dia harus tidur di luar. Meski sangat ingin dia mendekap Sumi saat itu tapi belum halal. Tapi malam ini Sindhu tidur satu ranjang dengan Sumi.
Agak canggung awalnya. Tapi Sumi merayu dengan kata-kata yang menggoda.
“Mas nanti mau punya anak berapa?”
“Sebanyak mungkin.”
“Ha? Aku hamil terus no kalau begitu..”
“Ya kadang hamil, kadang melahirkan..”
“Waduh abote dadi wong wedok..”ucap Sumi sambil ketawa kecil.
“Ya nanti tak bantu nggendong..” ucap Sindhu sambil memeluk Sumi.
“Halah mosok sih. Paling rajin buat nggak mau ngurus.”
“Sttt aku bukan lelaki seperti itu..”
Tangan Sindhu mulai membelai wajah Sumi. Lalu diciumi pipi Sumi, bibirnya. Tangannya bergeirlya ke bagian lain. Dua gunung Sumi diremas Sindhu dari balik BH-nya. Sumi mulai terpancing birahinya. Pakaiannya ditanggalkan. Sindhu melihat pemandangan yang menggairahkan. Darah lelakinya meledak. Sumi memang mempesona. Sindhu makin tergiur melakukan apa saja. Diciumi gunung kembar Sumi, dinikmati puncak gunung itu dengan tarian lidah yang meliuk. Sumi menggeliat , menikmati sensasi itu. Sumi tidak kalah agresif menciumi Sindhu. Desahan nafas Sumi makin kencang.Tidak lama melakukan pemanasan Sindhu cepat-cepat ingin merasakan surga dunia yang lama diimpikan.
Dibantu Sumi, Sindhu mengarahkan senjatanya yang paling berharga pada sasaran yang tepat.
Malam itu pertama kali Sindhu menembus barang paling personalnya Sumi.
Kehangatan dan kenikmatan tiada tara.
“oh mas..cepet Mas,” rintihan kenikmatan Sumi sembari mengikuti irama Sindhu, bergoyang dan naik turun gerakannya. Perpaduan apik antara keduanya mirip permainan bass dan pukulan drum dalam musik.
Sindhu bergerak makin cepat naik turun memompa.
“ahg….” Sumi mengerang.
Mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Darah perawan Sumi menetes.
Sindhu lalu lemas, capai . Sindhu tidak tahu apakah Sumi masih perawan. Tetesan darah Sumi membuktikan bahwa perkosaan Dipo dulu tidak sempurna. Mungkin Dipo sudah terlalu cepat mencapai orgasme padahal masih di luar. Beruntung barang milik Sumi belum tertembus.
“Kamu joss tenan mas..”
“itu baru awal Sum..”
“Besok subuh dua kali ya?” pancing Sumi sambil tersenyum penuh harap.
Sidhu segera tidur pulas. Sumi baru kali ini merasa jadi istri. Sungguh kenikmatan luar biasa yang dia belum pernah rasakan. Sumi segera menyusul tidur, mereka berpelukan dalam kebahagiaan (maaf ya terpaksa mengikuti keinginan pembaca, aslinya sungkan). (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi