Pengakuan Sumiati

waktu baca 4 menit
Creditline Nationaal Archief/Collectie Spaarnestad/Het Leven/Fotograaf onbekend Photographer display Onbekend Codec location 016 Caption NL De hoofden van de plaats Lebak, waar Multatuli (alias van Eduard Douwes Dekker, 1820-1887), beroemd Nederlands schrijver, assistent-resident was. Indonesië, datum onbekend. Caption EN The chiefs of Lebak where Multatuli (Dutch writer), the pen name of Eduard Douwes Dekker (1820-1887) was assistent resident. Indonesia (former Dutch Indies). Persons Multatuli Douwes Dekker, Eduard Country Nederlands-Indië Collection Het Leven (LEVEN 022) Publicatie 1 - naam - jrgng - nr - pag. Het Leven;1920;10;311 Color Zwart-Wit

KEMPALAN: Drama kerokan berakhir ketika Bu Jarwo datang di toko. Semua kembali ke kondisi normal sekan tidak ada apa-apa sebelumnya. Sumi masih menyimpan ketakutan setelah itu.

Sumi menghindari situasi kalau di toko tidak ada orang lain. Dia harus menjaga diri agar tetap bisa bekerja nyaman. Kalau sore menjelang tutup toko Sarmo sering datang membantu sambil menjaga Sumi.

Tapi sore ini Sarmo tampak murung. Dia masih memikirkan harapan Sumi. Nggak tahu Sumi bercanda atau serius, tapi Sarmo serius. Dia memutuskan untuk merantau ke Bengkulu menyusul pakliknya. Dia tahu pakliknya hidup makmur di sana. Kerja sebagai petani dan pedagang hasil pertanian. Ia akan memberi tahu Sumi. Tapi harus mencari waktu yang tepat. Meskipun dia tidak pernah bilang cinta ke Sumi tapi dia merasakan bahwa Sumi selalu membutuhkannya.

Sore menjelang tutup toko, Sarmo mendatangi Sumi. Bagus, tidak ada Pak Jarwo di toko.

” Laris Sum hari ini?”

” Yah seperti biasa kang. Aku bisa dapat bonus minggu ini. ”

” Pasti laris wong yang jaga cantik..”

” Ah merayu…” kata Sumi sambil senyum manis.

” Serius lho Sum. Di dunia yang kukenal, kaulah paling cantik.”

” Iya kang Sarmo cuma di.pasar. lihatnya mbok-mbok bakul.”

” Eh ngenyek..aku kan pernah ke Solo,  ke Prambanan, ke Tawangmangu.”

” Yah kan itu-itu saja.”

” Eh Sum…anu..”

” Apa sih kang..? ” sahut Sumi bermanja-manja.

” Anu Sum..aku akan pergi jauh..lama..”

” Bener kang? Tega ya ninggal aku?” Sumi serius dan tampak sedih.

” Iya. Aku mau nyusul Paklik. Biar bisa bikin rumah besar”

“Ha? Aduh siapa temenku nanti kang…?”

Sumi kaget dengar rencana Sarmo, apalagi simboknya mau melahirkan dan sepertinya Pak Jarwo mulai giat mengintainya.Sumi tidak berburuk sangka tapi bersikap hati-hati.

” Ya teman kan banyak. Di pasar kan tiap hari ramai.”

” Bukan gitu kang. Temen ngobrolku dan yang menjaga aku kang..”.

“Ya aku nanti akan pulang Sum. Kalau aku sukses aku akan pulang ke desa ini. Akan kubuat rumah besar untukmu.”

“Sungguhkah itu kang?” Sumi seperti kegirangan mendengar janji Sarmo yang polos itu.

Sore itu mereka lalu pulang ke rumah masing-masing.

*

“mbok aku takut kerja di Pak Jarwo”

“Ha..kenapa?”

“Anu mbok…pak Jarwo mintanya aneh-aneh. Kemarin pas siang nggak ada Bu Jarwo, ndoro minta dikerok.”

“Wah nduk..kamu harus hati-hati. harus berani melawan. Harga dirimu harus dijaga. Jangan takut. Kalau kamu takut akan semakin berani para lelaki.”

“Kalau aku dipecat?”

“Jangan takut. Kamu cantik, pinter. Nggak akan kesulitan cari pekerjaan. Jangan mengulang kejadian simbok.”

“Apa mbok, kejadian apa?” Sumi terbelalak matanya.

“Oh nggak…simbok pernah digoda lelaki, simbok takut melawan. Dia makin berani.” Kartiyem menyimpan rapat cerita kelamnya.

“Bapakkah?”

“Bukan. Bapakmu lelaki yang baik. Meski cuma pencari pasir, tapi bapakmu tahu menghargai perempuan.”

Sumi lalu ingat bacaan yang dikirim Mas Sindhu. tentang  jaman penjajahan dulu, harga diri bangsa sering digaungkan. Pribumi jangan mau ditindas penjajah. Bung Karno selalu mengajarkan itu. Tapi kata Bung Karno paling berbahaya adalah penindasan oleh sesama bangsa sendiri.

Sumi sedikit merasakan kata-kata itu. Mulai paham. Bahkan mas Sindhu pernah menceritakan pada tahun 1850an Bupati Lebak Banten Adi Pati Karta, yang menindas bangsanya sendiri dengan pajak yang memberatkan. Justru yang membongkar adalah Multatuli alias Douwes Dekker. Pembangunan jalan Anyer Panarukan yang diceritakan sebagai kerja paksa menurut Mas Sindhu adalah kerja profesional. Daendels membayar pekerja. Tapi bayaran untuk para pekerja dikorup oleh pejabat pribumi yang jadi mandor.

Ternyata bacaan yang rasanya diawang-awang buat Sumi kini bermanfaat. Sudah diniatkan dalam hatinya untuk melawan setiap usaha nakal yang akan melecehkan tubuhnya. Meski miskin Sumi harus tetap terhormat.

“Mbok..tapi Kang Sarmo mau pergi jauh..”

“Kemana?”

“Mau nyusul pakliknya ke Bengkulu.”

“Wow bagus itu nduk. kalau ingin maju, harus merantau, tinggalkan kampung.Jangan seperti simbok dan bapakmu.”

“Iya katanya nanti kalau sudah berhasil akan pulang…dan membangunkan rumah untuk aku mbok.” kata Sumi sambil matanya berkaca-kaca.

“Iya bagus.. mudah-mudahan kang Sarmo berhasil nduk. Tapi jangan terlalu berharap. kamu juga harus bisa mandiri.”

Kartiyem memang aslinya cerdas. Kata-kata yang keluar dari mulutnya dia sadari sepenuhnya. Bukan asal ngomong.

Sumi sangat senang mendengar pitutur mboknya yang mencerahkan dan menguatkan hatinya. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

BACA LAINNYA

Perempuan Terakhir

News Kempalan
0
0

No Snow in Jakarta

News Kempalan
0

Pengakuan Sumiati

News Kempalan
0

Pengakuan Sumiati

News Kempalan
0

Pengakuan Sumiati

News Kempalan
0

Pengakuan Sumiati

News Kempalan
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *