Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 02:22 WIB
Surabaya
--°C

“The Social Dilemma,” Dilema Kemanusiaan Kita

The Social Dilemma adalah sebuah Film dokumenter yang diterbitkan Netflix September tahun lalu. Film ini cukup menarik perhatian. Bahkan ia tetap berada dalam daftar “Top 10” platform streaming.

Film ini menyajikan wawancara dengan para insinyur Silicon Valley yang merancang teknologi yang sekarang mereka takuti. Mereka berbagi pengalaman dan disertai diskusi oleh para pakar teknologi dan psikologi. Film The Social Dilemma menawarkan pandangan yang membuka mata ke dunia tentang realitas yang sangat sedikit dipahami.

Semua narasumber memiliki kesamaan dalam melihat realitas baru tersebut: awalnya media sosial online adalah baik. Ia mempertemukan yang lama terpisah, menemukan donor organ yang dibutuhkan, dsb. Mereka melihat sisi positif dari media sosial. Mereka melihat media ini bisa melakukan sesuatu yang indah bagi dunia, perubahan yang penuh makna. Tidak ada orang jahat.

Namun, pembuatan film tersebut bukan untuk memuji kebaikan media sosial. Mereka bersama dalam film tersebut karena juga mengalami kesamaan pengalaman akhir: ada problem etika bergelayut di meda sosial. Mereka perlahan menyadari sisi lain yang tak terfikirikan bahwa mereka tidak menyadari dari apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan.

So what’s the problem?” Satu pertanyaan mengintroduksi film itu oleh narrator.

Para narasumber pun “klagepan” menjawabnya. Ini mengingat kompleksitas permasalahan yang berlapis-lapis yang tidak bisa diceritakan dalam satu ungkapan. Perlu diurai satu persatu. Namun boleh jadi Satu hal yang menjadi kesadaran kemudian adalah orang menjadi “naïve about the other flip of the coin.” Bahwa ada sisi lain dari media sosial yang mengancam dan ini menjadi kenyataan.

The Problem

Film the Social Dilemma memberikan gambaran kepada kita sebuah fenomena kompleks yang baru: bagaimana sebuah keputusan itu dibentuk oleh media sosial.

Sebuah kondisi dimana seseorang kemudian secara psikologis pertama dipaksa untuk selalu intens berinteraksi via media sosial. Ini memanfaatkan kondisi psikologi dimana seseorang ingin selalu terkoneksi (desire to connect). Hasrat kejiwaan ini merupakan sesuatu yang alamiah ada dalam diri manusia, yang karenanya manusia kemudian disebut sebagai makhluk sosial. Ini yang membuat manusia merasa “belongs to something.”

Sosialitas itu diukur dari interaksi yang dibangun antar manusia. Dan media sosial baru berbasis internet yang interaktif kemudian menjadi platform baru menggantikan berbagai media sosial lama berbasis perangkat keras non-ineraktif. Dalam hal ini media sosial memang mengalami evolusi yang cukup signfikan dari bentuk teradisioinal hingga yang kontemporer di era post-modern ini.

Media sosial tersebut membentuk platform interaksi secara keseluruhan aspek manusia. Tidak hanya kemudian sosialitas namun juga ekonomi bahkan mampu menggantikan media spiritual manusia. Ya, media spiritual itu mewujud pada bagaimana kemudian media sosial mampu menjadi objek yang menggantikan referensi utama dalam spiritualitas.

Namun, siapa sangka bahwa berawal dari kondisi yang memungkin itu terjadi adalah dari sisi tak terfikirkan (the unthinkable) yang itu adalah sisi lain atau other flip side of the coin, seperti diungkap oleh para narasumber dalam film the Sosical Dilemma.

Antara sisi positif yakni mempertemukan yang terpisah, mencari donor organ, menemukan kerinduan lama, dsb. namun juga ada berita palsu, perangkap pemikiran yang mengacu pada tindakan, menciptakan eksklusivitas daripada inklusivitas pemikiran,Disinilah letak the other filp.

Conditions of Possibility

Telah banyak teori maupun pemikiran filosofis tentang bagiamana kemudian pemikiran seseoang itu terbentuk. Michel Foucault mengungkap tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk terbentuknya keputusan seseorang hingga kepribadiannya. Foucault menganislis bahwa dalam sejarah manusia, dari zaman ke zaman bagaimana orang kemudian mengikuti pola laku masyarakat yang dikendalikan oleh epistema tertentu dalam suatu zaman.

Epistema ini kemudian dikendalikan jaringan dispositif yakni strategi kekuasaan yang mengendalikan lembaga, tubuh, adminsitrasi, sistem pengetahuan. Administrasi menjaring data pribadi manusia; lembaga/institusi sosial mendisiplinkan dan mengawasi tubuh manusia; sistem pengetahuan dalam kepala manusia membenarkan praktik yang ada sebagai sesuatu yang dinilai alamiah.

Jadi baik pada skala makro maupun mikro kepribadian atau keputusan sesorang ditentukan oleh epistema via diskursus yang melingkupinya. Kata-kata yang kemudian membentuk benak. Benak ini membentuk sistem pengetahuan. Sehingga dalam membuat keputusan bisa dikendalikan oleh epistema ini. Yang mana penggunaanya dikerangkai oleh oleh ilmu ekonomi, bahasa, dan ilmu alam.

Misalnya pada aspek kesehatan, bagaimana era dulu orang sangat sangat memuja dukun. Namun kemudian dukun berubah menjadi dokter. Orang awalnya menganggap bahw dukun adalah orang pinter yang bisa menyembuhkan orang. Namun seiring perubahan epistema melalui wacana yang intens dari sains, dan berbagai pendisiplinan dan pengawasan kemudian ia berubah pada dokter dan meninggalkan dukun. Bagaimana kemduain perubahan dari masyarakat tradisional, modern, hingga post modern. Pergeserang ini atau diskoniuitas/keterputsan ini disebabkan oleh perubahan episteme.

Demikian juga terbentuknya kepribadian seseorang sebagai seorang radikalis maupun liberalis tergantung bagaiamana sistem dispositif yang melingkupinya.

Peran Media dalam Mengendalikan Opini

Di era yang sama dengan Foucault, Noam Chomsky pun membuat analisis tentang media massa yang mengendalikan keputusan masyarakat. Noam Chomsky dalam buku Manufacturig Consent berteori tentang bagaimana orang dipaksa harus bisa setuju atau pemikirannya diarahkan, disetting, deprogram untuk bisa mempercayai atau memiliih sesuatu. Media massa pada waktu mungkin seperti media sosial saat ini. Orang banyak merujuk pada media massa.

Siapa sangka bahwa media massa baik media cetak, radio dan televisi kemudian mampu mengenalikan apa yang menajdi keputusan masyarakat. Awalnya perusahaan media tersebut memiliki idealisme tentang pemberitaan yang ingin dipublikasikan. Namun, ternyata seiring tumbuh kembang perusahaan kapitalistik yang ingin terus meraup keuntungan, masyarakat pun menjadi komoditas dengan mengendalikan pikiran mereka.

Berbagai informasi yang dimasyarakat untuk dikonsumsi kemudian disaring dan juga ditambahi. Disaring untuk kepentingan kapitalistik mereka, dan ditambahi oleh para pakar yang membagi pengetahuan yang telah terbengkokkan. Pemilik modal dan pemilik media pun telah berselingkuh dengan kepentingan kapitaliistik.

Peran Teknologi Informasi dan Psikologi

Di era post modern ini, media sosial telah menjadi salah satu bentuk terbaru bagaimana kemudian seserang terbentuk baik pemikiran maupun kepribadiannya. Dalam konteks ini film the Social Dilemma menambah satu model lagi model bagaimana terbentukanya keputusan atau pun kepribadian seseorang.

Media sosial seperti facebook, Instagram, dan sebagainya, awalnya adalah sebuah blessing in disguise. Ya, bagaimana kemudian ia telah mempertemukan yang telah lama terpisah dan memberi dampak positif lainnya seperti orang bisa menemukan donor organ melalui posting yang dishare, broadcast, dan sebagainya. Ini merupakan level pertama dari pertumbuhan media sosial kontemporer.

Pada level kedua, siapa sangka bahwa media sosial kemudian ternyata membentuk sosialitas kita. Media sosial kemudian menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Sekelompok orang di kafe kemudain berkumpul namun yang dihadapi adalah media sosial masing-masing tanpa menghiraukan rekan-rekan disekitarnya. Berbagai fitur baru seperti tombol like, tag, follow, dsb, menyentuh aspek keterhubungan sosial. Orang suka mendapat like dan berlomba meraih like sebanyak mungkin. Orang suka untuk di tag sebagai wujud penghirauan di media sosial. Demikian juga dengan follow yang mewujudkan eksistensi di media sosial.

Pada level ketiga, berbagai fitur ini kemudian dikapitaliasasi menjadi profit bagi para penggunanya. Orang berlomba untuk memperbanyak follower, memperbanyak like, memperbanyak content agar orang terus memperhatikan media sosial. Perhatian inilah yang menjadi strategi pemilik media sosial untuk terus menarik mereka ke dalam.

Dan, perselingkuhannya dengan perusahaan kepitalistik kemudian menjadikan pemilik media sosial semakin memutar otak untuk menemukan formulasi agar orang terus tertarik perhatiannya ke dalam media sosial. Terbentuklah berbagai algoritma yang mendukung. Algoritma ini membaca perilaku orang di media sosial dan kemudian mengirimi mereka dengan berabgai content yang merka sukai. Pemilik media sosial terus bereksperimen dengan “tikus lab” mereka.

Ini menjadi sasaran empuk pengiklan atau investor. Terjadilah kemudian jual beli data pengguna yang didapatkan saat registrasi di media sosial. Pengguna menjadi komoditas dan pengiklan atau investor menjadi konsumen. Pemilik media adalah pedagang. Data tersebut kemudian menjadi info penting untuk bisa mengetahui trend. Dan Terjadilah kemudian masa depan yang telah terbeli. Masa depan yang kemudian dikendalikan. Orang kemudian dibentuk seleranya. Dan bahkan bagaimana meramal harga minyak di masa depan.

Inilah yang menjadi dilemma media sosial, menjadi problem etika bersama.

Dilema Kemanusiaan Kita

Film The Social Dilemma yang kemudian di akhir film diubah menjadi Our Social Dilemma menjelaskan tentang temuan teoretik baru mengenai bagaimana individu/masyarakat bisa tepengaruh oleh berbagai content yang ada pada media sosial. Bahwa kepentingan bisnis senantiasa mengalahkan kepentingan sosial dan bahkan mengabaikan etika.

Berbagai teori menjelaskan tentang bagaiamana sejatinya manusia itu adalah makhluk misterius yang terus berkembang dan menemukan masalahnya sendiri. Sejak zaman baheula hingga kontemporer setiap zaman menemukan pola-pola kendali yang menyasar manusia sebagai objek komoditasnya. Dan ini senantiasa dibarengi oleh kepentingan ekonomi.

Secara ekonomi, paradigma pertumbuhan itu mengakibatkan orang untuk terus melakukan eksploitasi. Bahwa sebuah perusahaan yang ingin terus bertumbuh dan bertumbuh akan terus mencari jalan untuk menopang pertumbuhan tersebut. Karenaya perlu pemahaman tentang makna cukup. Bahwa, profit yang diraih itu sepatutnya cukup untuk kepentingan hidup. Dan bahwa kepentingan pengetahuan pun juga harus mencermati bagaimana etika itu seharusnya diembangkan. Bahwa keingingan untuk terus bertumbuh, bertambah, berkembang adalah pemicu diciptakan berbagai model untuk kepentingan ini. Kapitalisme kemudian menjadi “juggernaut,” seperti diungkap oleh Anthony Giddens bahwa ia seperti gerobak raksasa yang menabrak sana-sini tanpa etika.

Jika merefleksi pada aspek kemanusiaanya, tidak ada salahnya dengan media sosial, hanya saja penggunanaya yang seringkali melampaui batas. Dan manusia terus mengeksploitasi diri hingga menyiksa diri. Seperti diungkap oleh michal Foucault, “People Know what they do, and may even know why they do what they do. But, what they don’t know is what what they do does.” Bahwa manusia itu tahu apa yang dikerjakan, bahkan tahu mengapa ia mengerjakan apa yang ia kerjakan. Namun apa yang dia tidak ketahui adalah apa yang dia kerjakan itu ternyata menjadi sesuatu yang hidup dan memiliki kehendak sendiri yang terkadang bertentangan dengan kemanusiaan kita.

*Penulis adalah Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.