Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 04:55 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

KEMPALAN: Sejak kejadian itu Dipo belum sekalipun muncul di rumahnya atau di Toko Ijo. Sumi tetap berusaha tenang. Dipo yang mestinya merasa malu untuk muncul, kalau punya malu. Namun Sumi akan lebih sigap jika terjadi apa-apa lagi. Dia justru bersikap lebih percaya diri dibanding Dipo yang pengecut di toko. Sumi bekerja seperti biasa. Toko tetap ramai. Sumi melayani pembeli dengan penuh senyum seperti biasa. Para pembeli tidak tahu kecamuk hati Sumi. Pak Jarwo juga tidak tahu apa yang dialami buruh andalannya itu. Mungkin dia akan sangat marah sama anaknya. Atau ikut malu dengan kelakuan anaknya. Atau justru dapat contoh bagus untuk berbuat serupa.

Meski bersikap tenang, simboknya Sumi tetap merasa ada yang aneh dengan Sumi. Sebagai orang yang mengandungnya dan membesarkannya, Kartiyem punya naluri yang tajam mengenai sikap anaknya itu.

Suatu hari ketika Sumi berada di rumah disempatkannya bertanya pelan.

“Nduk simbok amati kamu kok seperti murung, gampang marah. Ada apa sebenarnya?”

“Hmm…murung gimana mbok?”

“yah mbokmu bisa merasakan kok nduk.Kamu nggak seperti anak simbok yang dulu. Ada yang berubah.”

“Ah mngkin gara-gara simbok punya adik bayi, jadi simbok yang peka.”

“Oalah ya nggak nduk. Beda kok nduk. Coba ceritakan ke simbok.”

Tidak bisa menahan emosi, Sumi menangis di dada mbok Kartiyem. Tangisnya pecah. Beberapa lama air matanya tumpah. Meski kadang tangisnya tertahan.

“Mbok maafkan anakmu ya mbok..”

“Lho ada apa. Simbok selalu memaafkan kamu nduk…simbok selalu sayang kamu nduk…Ada apa?”

” Anu mbok…Sumi sudah..Sumi sudah…”

“Sudah apa , mbok bilang to nduk..” kata mbok Kartiyem sambil mengusap-usap muka Sumi dan mengelus rambut panjang Sumi.

“Sumi ngga gadis lagi…!”

“Ha Jabang bayi!! Siapa yang melakukan nduk? Siapa?” Kartiyem meledak. Nggak mau dia nasib dirinya terjadi pada Sumi anak kesayangannya.

“Siapa lagi mbok.”

“Lho siapa? Ndoromu?”

“Bukan mbok. Anaknya!”

“ Dipo? Kurang ajar! Jangan diam nduk.”

“Iya mbok Sumi nggak akan diam. Sumi akan melawan mbok. Simbok sabar saja.”

Kartiyem tahu betul nasib perempuan teraniaya. Apalagi jika itu dipaksa.

“Simbok akan mendukungmu nduk. Jangan takut.”

“iya mbok jika waktunya tiba. “

Kartiyem justru yang sekarang menangis sejadi-jadinya. Teringat kembali ketika dia diusir dari rumah tuannya oleh Nyonya Sanghai.

“Mbok..sudah jangan menangis.” Sumi heran kenapa simboknya yang justru menangis seseunggukan.

“Aku akan mendapatkan toko itu mbok.Tunggu mbok.”

“nduk apa yang kamu lakukan? Jngan lapor polisi. Nanti jadi rumit.”

“Nggak mbok. Nggak…Sudah simbok tenang.”

Dua wanita itu saling menguatkan juga saling memendam rasa pedih. Kartiyem tidak sampai hati menceritakan kepada anaknya. Tapi Kartiyem takut Sumi nanti justru mendengar selentingan dari tetangga.

Tapi Kartiyem akan menceritakannya nanti jika suasana sudah agak membaik.Dia tidak ingin Sumi menerima kabar yang akan memberatkan pikirannya sekarang.

Sarmo semakin memikirkan Sumi. Dia sangat ingin melindungi Sumi. Dia sangat takut ada apa-apa dengan Sumi lagi. Dia ingin pulang kampung. Tapi dia berpikir usah ayang sudah dibangunnya akan terhenti. Dia belum punya orang yang bisa dipercaya.  Pakliknya pasti juga keberatan jika dia pulang hanya gara-gara Sumi. Pakliknya semakin ingin menjodohkan Sarmo dengan Sunarni.

Pakliknya juga berkepentingan agar bisnisnya juga dipegang oleh orang yang tepat daripada di tangan orang lain. Sunarni sebenarnya di sekolahkan di jurusan manajemen dalam rangka meneruskan bisnisnya. Tapi melihat gelagat hingga kini sepertinya anaknya tidak cocok untu memegang bisnisnya..

“Pikirkan baik-baik Sarmo. Kepulanganmu tidak membantu banyak. Kecuali kau kawini Sumi dan kau ajak ke sini.”

Sarmo tahu sangat sulit mengajak Sumi ke Bengkulu.

“Mas Sarmo pulang mau ada urusan apa?” tanya Sunarni.

“Urusan perjodohan..” jawab Sarmo singkat. Dia belum kenal baik Sunarni yang lebih banyak waktunya dihabiskan di Jogja tempat kuliahnya.

“Ooo sudah ada calon Mas?”

“Ada. Tapi tidak mudah sepertinya.”

Sunarni hitam manis dengan penampilan yang cukup modis. Pakliknya kaya  jadi cukup untuk memoles anaknya untuk tampil modis. Tapi sepertinya terlalu dimanja sehingga justru tidak paham kehidupan. Tahunya hanya kuliah, minta duit, seneng-seneng. Jauh dari pengalaman hidup yang dijalani Sarmo.

**

Sindhu tidak lepas dari Sumi. Meski dia punya teman-teman yang menyenangkan dan lebih sejajar, dia juga punya ambisi untuk menyelamatkan Sumi.

“Oalah Mas.. Sumi yang gadis itu bukannya terlalu jauh gapnya dengan kamu. Sekarang malah sudah nggak perawan lagi. Kamu masih juga memikirkannya”, kata Silvy lagi ketika mereka sedang makan di kantin kampus.

“Hmm..aku semakin tertantang. Harus ada jalan keluar yang baik untuk Sumi. Lelaki itu harus diberi pelajaran.”

“Aku setuju sih . Tapi apakah harus kamu yang memberi pelajaran mas?”

“Aku akan membantu.”

“Imbalannya Sumi?”

“Ya tidak tahu. Aku sekarang cuma berpikir bagaimana membantu dan membuat Sumi bahagia, dengan atau tanpa aku.”

“Wow memang hero kamu mas…!” ucap Silvy agak sinis.  (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.