LGBT yang dianggap lazim sangat membahayakan, apalagi jika itu dilakukan oleh pemimpin dalam suatu negara. Tak boleh hal seperti ini dianggap kecil dan hanya diposisikan sebagai masalah privacy.
Oleh: M Rizal Fadillah
KEMPALAN: Teddy Indra Wijaya bukan hanya kelebihan peran (role overload) dalam pemerintahan Prabowo Subianto tetapi juga menimbulkan kecemburuan atas kedekatannya dengan Prabowo.
Menjadi pintu masuk yang seolah menentukan. Mengalahkan Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin. Di mana ada Prabowo di situ ada Teddy. Pantas saja jika ia dijuluki Ibu Negara – dan mendapat julukan Buted (Ibu Teddy).
Peran sebagai Sekretaris Kabinet (Sekkab) menempatkan posisi dirinya penting dalam berbagai urusan, khususnya mengatur agenda Presiden dan Kabinetnya. Urusan dalam dan luar negeri.
Secara informal menjadi jubir Istana pula. Teddy berpengalaman sebagai asisten pribadi baik semasa Joko Widodo maupun Prabowo, sejak yang bersangkutan menjabat Menteri Pertahanan.
Sindiran bahkan gunjingan Teddy sebagai first lady tentu mengganggu dan tidak membuat nyaman.
Masalahnya Prabowo adalah Presiden seluruh rakyat Indonesia, bukan rakyat kebanyakan yang bebas dari sorotan. Karenanya desakan untuk klarifikasi perlu dipertimbangkan agar kasus ini menjadi clear, hitam dan putih, bukan abu-abu.
Sudah lama suara miring hubungan Prabowo dan Teddy banyak didengar tetapi semua masih bertenggang rasa dan hanya sebatas obrolan di warung kopi.
Berbagai postingan diabaikan. Namun perayaan ulang tahun spesial 14 April 2026 di Four Seasons Hotel George V Paris sebuah hotel mewah yang diminati selebriti kelas dunia, telah menggeser ruang diskursus dari warung kopi ke café, dan dari bisik-bisik menjadi obrolan lebih kencang.
Kebenaran tentu perlu bukti, tapi fitnah telah terjadi. Untuk menepis fitnah, maka Teddy harus dijauhi. Ini solusi dan untuk hal ini harus berani. Prabowo hendaknya memecat Teddy.
Prevention better than cure – mencegah lebih baik daripada mengobati.
Di sisi lain, ini adalah tanggung jawab moral ulama, habaib, asatidz, ruhaniawan, cendekiawan, atau pemuka agama juga tertantang. Mereka harus bergerak ke depan dengan cepat. Jangan menjadi pendiam seperti setan bisu.
Bila tetap diambangkan terus, maka hukum yang terpaksa dipanggil. Kualifikasi perbuatan tercela bisa menjadi pintu bagi pemakzulan. Menjadi sangat tragis jika mundur atau dimundurkan oleh skandal yang berbau seksual.
Hanya saja akan menjadi unik dalam sejarah bangsa ini, bila Presiden dan Wakil Presiden dimundurkan atas dasar mental disorder dan dekadensi moral.
Dalam sejarah, penyimpangan seksual penyuka sejenis mendapat murka Allah. Ada kaum Sodom di area Laut Mati Yordania maupun kaum Pompeii di kaki gunung Vesuvius Italia.
LGBT yang dianggap lazim sangat membahayakan, apalagi jika itu dilakukan oleh pemimpin dalam suatu negara. Tak boleh hal seperti ini dianggap kecil dan hanya diposisikan sebagai masalah privacy.
Rakyat tetap berharap semoga Prabowo dan Teddy normal-normal saja.*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi