Pemimpin saat ini tetap limbung bahwa pada akhirnya, kemerdekaan yang sejati bukan diukur dari bendera yang berkibar, melainkan dari seberapa jauh rakyatnya merasa dimanusiakan.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Pada Selasa malam, 21 April 2026, teman-teman Kajian Politik Merah Putih, menelisik kembali dampak dari lahirnya istilah Negara Konoha dan makin maraknya Ternak Mulyono, telah membawa sinyal negara makin gelap
Mengawali diskusi ringan bahwa nama “Konoha” berasal dari kata bahasa Jepang “Konohagakure” (Desa Tersembunyi di Daun) dalam anime Naruto.
Istilah ini viral di Indonesia sebagai metafora politik dan sosial, sering diplesetkan jadi singkatan Kingdom of Nepotism, Oligarchy, and Hidden Ambition (Konoha) karena kemiripan dinamika kepemimpinan dan situasi politik dan sosial yang sedang terjadi
Istilah ini mulai ramai sejak tahun 2017, berawal dari pertanyaan santri mengenai Hokage ke-8 kepada Presiden Joko Widodo di media sosial.
Dalam perjalanan waktu muncullah istilah Termul adalah singkatan dari Ternak Mulyono, sebuah istilah gaul dalam politik yang digunakan untuk merujuk pada pendukung setia atau loyalis Presiden Jokowi.
Istilah ini mengaitkan dari pengakuan Jokowi sendiri dari nama kecil Jokowi (Mulyono) dalam konteks polarisasi politik, menggantikan julukan-julukan sebelumnya.
Dari telusur di masyarakat sekitar kediaman Jokowi bahwa tidak dikenal nama Mulyono untuk Jokowi waktu kecil. Nama ini justru yang dikenal karena Jokowi menggunggakan Ijazah sarjananya yang mencatut dari milik “Hari Mulyono ipar Jokowi”.
Sedangkan istilah Termul (ternak Mulyono) lebih lekat merupakan akronim yang diciptakan untuk menggambarkan pendukung loyal Jokowi yang membabi-buta sebagai pelabelan dalam politik Indonesia, mirip dengan cebong-kampret masa lalu.
Di negeri dengam sebutan “Konoha”, sebuah metafora yang menyimpan getir sekaligus tawa pahit, welfare state terus dipajang di media sosial sebagai kesan yang sangat buruk dari gambaran rekam jejak pemerintahan dari era Jokowi.
Kedua istilah di atas sampai saat ini tetap hidup, diperparah Jokowi yang tetap mengaku bahwa ijazah sarjananya dari UGM asli.
Telah pula ikut menyeret mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan mantan Wapres Yusuf Kala ikut komentar, Jokowi jangan membuat gaduh tunjukkan saja ijazah aslinya karena yang bersangkutan tidak pernah bisa menunjukkan ijazah aslinya.
Rasa getir, pahit, nista dan hina semakin parah ketika istilah negara Konoha dan Termul terkesan mendapatkan back up Presiden Prabowo Subianto, tidak hanya terkait dengan Ijazah palsu Jokowi, tetapi nempel kedua tokoh tersebut (Jokowi dan Prabowo) setali tiga uang sama konyolnya penjual kedaulatan negara.
Lorong-lorong kehidupan rakyat Indonesia semakin jauh dari kiblat bangsa. Dan, Prabowo hanya dikenal pandai memutar lidah dengan pidato omon-omon hanya hobi menebar bayangan Indonesia emas, ketika bersamaan terasa negara akan menjadi rongsokan besi tua menuju kehancurannya.
Ironinya, situasi ini mengingatkan kita pada masa lalu yang pernah kita kutuk bersama di masa penjajahan. Dulu, penjajah datang dengan wajah asing, dan memaksa rakyat menyerahkan hasil bumi sebagai upeti.
Tanah dikeruk, tenaga diperas, dan hasilnya mengalir ke pusat kekuasaan yang jauh dari penderitaan rakyat.
Hari ini, wajah itu makin mengerikan. Ia tak lagi datang dari luar, melainkan lahir dari dalam sistem yang kita bangun sendiri. Rakyat masih harus berjuang sendiri untuk hal-hal mendasar, maka pertanyaan pun muncul, akan dibawa ke mana sebenarnya negara ini.
Padahal, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajah. Ia adalah janji besar “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan rakyat, membangun ketertiban, dan menghadirkan keadilan”.
Lebih dari itu, kemerdekaan juga mengandung mandat moral bahwa sumber daya alam – yang melimpah di negeri ini – harus bisa dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan segelintir kepentingan.
Pemimpin saat ini tetap limbung bahwa pada akhirnya, kemerdekaan yang sejati bukan diukur dari bendera yang berkibar, melainkan dari seberapa jauh rakyatnya merasa dimanusiakan.
Di negeri Konoha dan makin besarnya Ternak Mulyono hari ini, pertanda negara justru makin gelap menggantung diam, tetapi tiba saatnya pasti akan meledakkan ketika menggugat dan habis kesabarannya.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi