KEMPALAN: Sumiati berbunga-bunga hatinya. Nggak pernah nyangka diajak jalan sama mahasiswa itebe. Hmmm…Meski dia cuma seorang pelayan toko dan anak tukang pencari pasir dia berkesempatan berteman dengan mahasiswa. Dia bangga. Dia yakin Sindhu bukan tipe lelaki yang hanya menginginkkan tubuhnya. Selama perjalanan dia diperlakukan dengan baik oleh Sindhu. Dia merasa nyaman dan aman di dekat Mas Sindhu. Impiannya membuncah…Seandainya….
Sumi pada titik ini benar-benar bingung. Dia bahagia tapi lalu ingat Sarmo. Bagaimana Sumi harus menempatkan mas Sindhu dalam hatinya.
“Piye nduk mas Sindhu?”
“Ah simbok…tanya mbok soal perjalanannya. Kok nanyanya mas Sindhu.” Sumi tidak jujur dengan dirinya, padahal dia sangat ingin cerita soal Mas Sindhu ke mboknya.
“Ya simbok pernah ke Prambanan nduk. Kata orang kalau ke Prambanan hubungan bakal putus.”
“Aduh mbok jangan nakut-nakuti.”
“Simbok nggak nakut-nakuti nduk. Simbok nggak percaya kok nduk. Walaupun simbok hanya tukang cari pasir , simbok itu waras kok. Orang bilang mitos.”
“Kenapa cerita gitu kalau nggak percaya.”
“Ya daripada kamu dengar dari orang lain, lebih baik mbokmu yang cerita. Simbok nggak percaya yang begitu-begitu nduk. Simbok kan dulu ikut tuan Sanghai, usahanya maju memang karena kerja keras. Kalau jam 4 pagi sudah siap-siap buka toko. Pembeli diilayani dengan baik, harga tidak mahal. Dilarang kita ambil untung terlalu banyak. Jadi tokonya tuan Sanghai ramai. Jadi simbok percaya yang nyata-nyata saja nduk. Nggak perlu ke Gunung kawi segala. Kalau pingin sugih ya usaha yang keras.”
“Mbok kok ada Gunung kawi. Sumi cocok dengan simbok.” Sumi merasa lega mboknya ternyata orang yang pinter.
“Iya Gunung Kawi itu tempat mencari pesugihan. Ada kok beberapa orang yang melakukan itu. Tapi pasti pakai tumbal. Entah anaknya mati, istrinya atau anak menantunya..”
“Wow serem banget mbok. Amit-amit mbok. Sumi mau yang jelas-jelas saja mbok. Eh mbok, mas Sindhu itu baik lho. Meski dia mahasiswa dan anak orang yang cukup kaya tapi nggak sombong. Dia banyak ngajari Sumi.”
“Nduk..tapi apa orang tuanya nggak malu anaknya bergaul sama kamu, anak tukang pasir?”
“Emmm…itu yang Sumi pikirkan mbok. Jangan-jangan hanya Mas Sindhu yang baik, keluarganya belum tentu bisa menerima. Pati harapannya dapat istri sesama sarjana yang sederajat. ”
“Makanya jangan berikan cintamu semuanya. Sisakan separuh untuk jaga-jaga.”
“Ah seperti lagu saja mbok.”
Di Bengkulu Sarmo tinggal di Curup . Rumah pkliknya dekat Pasar Bawah atau Pasar Los. Memang tinggalnya dekat pasar tapi pekerjaan Sarmo berbeda dengan di Cokro. Dia sudah banyak belajar pada pakliknya. Dia ikut ke sawah melakukan transaksi dengan pemilik sawah untuk membeli hasil panennya. Hasil panen lalu dibawa pulang dan diolah di rumahnya. Setelah itu dibawa ke tukang giling gabah. Sarmo mendapat upah dari pakliknya, lebih besar dari uang yang dia terima dari bapaknya.
Dia beberapa hari awal langsung diajari cara nyetir mobil. Mobil colt back terbuka. Sarmo mulai melihat peluang usaha yang lain. Pikiran tentang Sumi bisa tergantikan dengan kesibukannya. Meski dia merasa kehilangan tapi semua secara perlahan bisa diatasi.
Ingin dia menulis surat untuk Sumi. Sekali-sekali dia lihat foto Sumi.
Tapi dia ragu-ragu. Dia beum berani bercerita . Terlalu cepat untuk menceritakan semuanya. Sarmo giat bekerja melebihi orang lain. Pagi subuh dia sudah bangun. Dia mulai bekerja hingga sore menjelang maghrib, hampir setiap hari. Pakliknya justru kalah giat.
“Sarmo ngga usah ngoyo-ngoyo. Sakmadya saja..” suatu hari pakliknya mengingatkan.
Sarmo yang punya ambisi membangun rumah besar untuk Sumi pantang menyerah. Dia lakukan apa saja yang bisa mendatangkan duit. Keberaniannya justru muncul ketika jauh dari orang tuanya.Dia mulai membeli kacang dari petani dan juga sayur. Dia kirim ke kota Bengkulu. Tentu ini nggak mulus. Pernah sayurnya ditolak masuk di pasar Panorama Bengkulu hingga layu semua. Rugi besar.
“Nggak mudah mau. Kalau mudah paklikmu sudah melakukan dulu-dulu.”
Tapi dia terus mencoba. Dia cari orang-orang penting yang menguasai perputaran barang di pasar itu. Ketemu kepala preman. Akhirnya deal. Memang tidak gratis, ada ongkos agar barang bisa masuk di situ.
Semenjak bisa memasukkan sayur dia mulai berpikir memasukkan buah pisang. Dia beli pisang dari petani di daerah Rejang Lebong dibawa ke Bengkulu kota. Ya Sarmo sudah lumayan meningkat kehidupannya meski bukan pedagang besar.
Dia terpikir untuk kirim wesel untuk orang tuanya. Orang tuanya tidak kekurangan tapi juga tidak berlebihan. Wesel ini hanya sebagai bukti bakti anak untuk orang tuanya. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Orangtuanya pasti akan bangga mengambil wesel di kantor pos. Tetangga akan tahu bahwa Sarmo berhasil di perantauan. Maka dia menulis wesel dan setor uang ke kantor pos. Bersamaan dengan itu dia menulis surat buat Sumi.
“Sum, aku di sini baik-baik saja. Aku kerja keras untuk mencapai impianku. Mulai berjualan beras, sayur, pisang, semua kujalani Sum. Banyak lika -likunya Sum. Mudah-mudahan di situ kamu baik-baik saja. Aku malah pingin ngajak kamu ke sini. Kita nikah biar lebih jelas hubungan kita Sum. Di sini nanti aku bisa bikin rumah . Aku selalu merindukanmu Sum.”
Surat itu dia kirim dengan alamat Toko Ijo.
Dua minggu kemudian wesel dan surat sampai ke Pak Marto dan Sumi. Pak Marto bercerita ke tetangga dan pelanggan warungnya di pasar.
“Ini dapat wesel dari anak lanang..” ucap Lik Marto sambil melayani pelanggan warung sotonya.
“Wah elok Lik. Ikut seneng anakmu berhasil..”
“Ya lumayan. Sarmo bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”
“Cepet-cepet lamar Sumi Lik..” sahut lainnya.
“wah kalau itu sebentar dulu. Sarmo biar yang bilang sendiri.”
“Harus cepet-cepet sebelum Sumi diambil sama juragannya,” bisik-bisik yang lain.
“Ssttt..hati-hati kalau ngomong…”, sahut Lik Marto.
“iya hati-hati. Tapi kabarnya Pak Jarwo mulai ribut sama istrinya gara-gara Sumi.”
“waduh…jangan nyebar cerita palsu lho..”
“Nggak Lik ini nggak palsu.”
“Eh tapi katanya Sumi juga didekati anak juragan padi dari kampung sana”, salah satu pelanggan memulai gosip lain.
“Iya kapan itu boncengan pergi kemana gitu..” imbuh yang lain lagi sambil melahap sotonya.
“Tapi kan Sumi memang belum ada ikatan apa-apa sama Sarmo to Lik?” tanya salah satu sambil nyrutup teh angetnya.
“Iya. Tapi kelihatannya mereka saling suka.”
“Tapi sejauh belum ada ikatan resmi, memang Sumi berhak membuka hubungan dengan yang lain.”
“Ah kalau menurutku nggak ilok lah kalau sudah runtang-runtung sama Sarmo kok masih nerima laki-laki lain.”
*
Sumi membaca kalimat-kalimat surat dari Sarmo. Sumi senang membaca kabar bahwa kang Sarmo sudah berhasil meskipun dalam taraf awal. Sumi kaget membaca ajakan Sarmo untuk menikah dan pergi ke Bengkulu. Tidak terpikirkan dia akan jauh dari orang tuanya. Dia sangat menikmati hidup di daerahnya sendiri. Harga-harga murah, makanan enak, kemana-mana mudah, dekat orang tuanya. Salah satu hal yang mengganjal adalah menjaga diri dari gangguan Pak Jarwo. Tapi nampaknya Pak Jarwo agak berubah semenjak istrinya ketat mengawasi.
Mas Sindhu sudah balik lagi ke Bandung. Sumi mulai terbiasa hidup tidak ada kang Sarmo. Kini dia kalau malam harus tidur di Toko Ijo semenjak adiknya lahir. Rumahnya terlalu sempit. Untuk kelahiran adiknya dia sudah habiskan tabungannya untuk membantu simboknya. Untung dia tidak harus berhutang ke ndoronya. Tidak ada hutang budi.
Belum sampai surat balasan Sumi di tangan Sarmo, Sarmo mendengar desas-desus bahwa Sumi punya pacar baru , mahasiswa. Ini menghancurkan impian Sarmo. Sarmo mencap Sumi sebagai telah mengkhianati janji sucinya. Maka ketika Sarmo menerima balasan surat Sumi, perasaannya campur aduk. Dia tidak berminat membaca. Hatinya hancur. Baru beberapa hari surat itu dibukanya.
“Kang aku baik-baik saja. Aku takut kalau juraganku menggangguku. Aku tetap menunggu pulangmu kang. Tapi berat bagiku kalau harus menyusulmu ke Bengkulu. Semoga kang Sarmo berhasil.”
Sarmo galau. Bagaimana sebenarnya hatinya Sumi ini. Dia sudah merasa diduakan. Apa benar desas-desus itu. Tapi Sarmo tidak kehilangan semangat terus mengumpulkan duit sesuai tujuan awalnya.
Sumi malam tidur di toko sejak dia punya adik bayi . Dia selalu was-was jika ada suara-suara yang mendekati toko. Kadang malam ada yang mengetok pintu.
‘Tok-tok tok!’
“Siapa ?” Sumi memberanikan diri.
“Aku, Ibu Sum…”
Sumi langsung membukakan pintu. Ternyata Bu Jarwo mengambil kacamata yang tertinggal di toko. Lain kali Pak Jarwo mengambil barang keperluan rumah. Jadi sudah biasa malam Sumi harus membukakan pintu toko karena ada barang-barang yang dibutuhkan keluarga juragannya itu. Tentu Sumi agak khawatir kalau yang datang pak Jarwo. Dia pasti memikir yang tidak-tidak sebagai kehati-hatian. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi