Beli Satu Dapat Dua, Politik Obral ala PAN
KEMPALAN: Buy one get one free, beli satu dapat dua. Itu cara pedagang mempromosikan dagangannya melalui obral atau sale. Konsumen dirayu dengan berbagai teknik promo. Semisal diskon besar-besaran atau beli satu dapat dua.
Musim pandemi seperti sekarang toko dan plaza jadi sepi dan teknik promo model obralan dan sale sudah lama tidak terdengar. Tapi, bagi parpol tidak ada yang namanya pandemi, promosi jalan terus, dan obralan atau sale juga jalan terus.
Partai Amanat Nasional Jatim beberapa waktu belakangan ini getol berpromosi. Ekonomi boleh resesi tapi parpol jalan terus. Itu juga yang membedakan rakyat dengan wakil rakyat yang duduk di DPR. Saat resesi pendapatan rakyat turun, tapi saat reses pendapatan wakil rakyat malah naik.
Model promosi politik ala obral di plasa diterapkan PAN Jatim. Pengurus Jatim ditetapkan melalui musyawarah wilayah dengan sistem PL alias penunjukan langsung ala tender proyek. Dari proses tunjuk hidung itu terpilih HRS sebagai ketua. Bukan Habib Riziq Shihab, tapi H. Rizki Sadig, anggota DPR RI dari dapil Jatim VI Kediri dan sekitarnya.
Semula ada beberapa nama yang berambisi untuk menjadi ketua. Salah satu yang paling menonjol adalah Robert Rubai mantan anggota DPR RI yang pada munas PAN di Kendari 2020 menjadi ujung tombak Zulkifli Hasan yang sukses menggusur Amien Rais dari kepengurusan partai.

Robert Rubai berhasil menggondol 40 persen suara daerah Jatim yang semula mendukung Amien Rais–yang menjagokan Mulfachri Harahap sebagai calon ketua umum–dan membelokkannya untuk mendukung Zulkifli Hasan. Ketika itu Robert Rubai berhadapan langsung dengan ketua PAN Jatim Masfuk yang menjadi ujung tombak Amien Rais bersama skretaris umum Basuki Babussalam. Masfuk menjanjikan kepada Amien Rais bahwa suara Jatim solid, tapi kenyataannya suara Jatim untuk Amien Rais bukan solid tapi sulit.
Kongres Kendari ricuh dan diwarnai saling lempar kursi di arena sidang. Kader partai lain pada berebut kursi tapi kader PAN saling lempar kursi. Dari aksi lempar-melempar itu akhirnya Amien Rais dan pengikutnya terlempar dari partai yang didirikannya. Amien Rais yang kecewa lalu mendirikan Partai Ummat sebagai tandingan.
Seperti biasanya, tarung di munas berlanjut tarung di muswil. Pada muswil di Kediri 2016 aksi lempar melempar kursi juga terjadi. Kali ini di muswil Jatim aksi lempar melempar itu bisa terjadi lagi karena para kader PAN sudah sangat terlatih. Tapi untungnya muswil dilakukan secara daring sehingga tidak terjadi kontak fisik.
Dalam muswil itu Robert Rubai bersaing ketat dengan HRS yang juga menjadi ujung tombak tim sukses Amien Rais dalam munas Kendari. Karena persaingan ketat maka keputusan diserahkan ke DPP yang langsung melakukan PL dengan menunjuk HRS. Ini adalah politik sale “beli satu dapat dua”, yang dijalankan oleh Zulkifli Hasan. Dengan merangkul Rizki Sadiq berarti Zulhas bisa menghindari perpecahan di Jatim dan sekaligus menutup kemungkinan Rizki Sadig dan rombongnya untuk lari ke Partai Ummat.
Untuk mengakomodasi Robert Rubai, Zulhas membuat struktur ketua harian. Zulhas rupanya sudah pintar meniru langkah Jokowi yang pandai menciptakan jabatan untuk mengakomodasi pendukungnya, misalnya jabatan wakil menteri. Dengan demikian Rubai yang sehari-hari ada Jatim menjadi ketua harian, dan Rizki yang menetap di Jakarta akan menjadi ketua mingguan atau ketua bulanan meskipun formalnya adalah ketua umum.
Dari segi senioritas Rubai lebih berpengalaman dari Rizki. Tapi dari segi peluru Rizki lebih banyak amunisi. Dia dikenal jago dalam mencari dana dengan cara yang ngeri-ngeri sedap sehingga namanya sempat dikait-kaitkan dengan sebuah kasus.
Dengan merangkul Rizki berarti Zulhas “beli satu dapat dua”, karena gerbong Rizki juga ikut terbawa seperti Basuki Babussalam yang selama ini dikenal sebagai tandem Rizki dalam kontestasi pileg 2019 dan disebut sebagai pasangan ganda pria. Basuki yang pada munas Kendari menyerang pendukung Zulhas dan menyebut binatang, diperkirakan bakal terlempar dari kepengurusan. Tapi karena ada paket two in one, beli satu dapat dua, maka Basuki jadi nomor ikut yang tetap masuk di kepengurusan. Basuki selama ini dikenal cukup lincah dan selalu bisa selamat, hal itu sesuai dengan namanya “Babussalam” yang artinya pintu selamat.
Hal yang sama juga berlaku kepada Masfuk yang selama ini dikenal sebagai orang dekat Amien Rais. Masfuk rupanya tetap kerasan di PAN dan belum berniat transfer ke Partai Ummat. Karena itu Masfuk dihadiahi jabatan MPP, Majelis Pertimbangan Partai. Selama ini jabatan MPP diplesetkan sebagai “mati pelan-pelan” karena fungsinya yang tidak terlalu jelas.
Rizki Sadiq langsung gaspol dan tancap gas dengan memproklamasikan jargon “Jatim Basis PAN” dengan target 11 kursi DPR RI dan 14 kursi DPRD Jatim yang berarti kenaikan lebih dari 100 persen karena sekarang PAN punya tujuh kursi DPR RI dan enam DPRD Jatim.
Para caleg sudah diiming-iming dana sampai 1,5 miliar perorang sebagai ongkos politik. Namanya juga janji politik boleh-boleh saja. Anggap saja sebagai madu di ujung hidung, ada baunya tapi tidak bisa dijilat untuk dirasakan.
Dana 1,5 miliar yang dijanjikan itu mungkin bukan dalam bentuk mata uang rupiah, tapi mata uang yen. Bukan yen Jepang, tapi “yen eling”, “yen ono duwite”, “yen ora lali”. (bersambung)









