Muharom: Budi Johanis Playmaker Komplit, Skill-nya Tinggi
SURABAYA, KEMPALAN : Mantan playmaker Persebaya, Budi Johanis, dimakamkan satu kompleks dengan Subodro, mantan legenda Persebaya lainnya di Makam Islam dekat Perumahan Rungkut Barata, kawasan Rungkut, Surabaya, Rabu (3/3) siang.
Sebelum dimakamkan, jenazah Budi Johanis disalatkan terlebih dahulu di Masjid Al-Wahyu, kompleks Perumahan Rungkut Barata, yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya, Jl. Rungkut Barata 7/32 Surabaya.
Dalam prosesi pemakaman tampak hadir beberapa eks pemain Persebaya seangkatan Budi Johanis, antara lain Syamsul Arifin, Muharrom Rusdiana, Subangkit, Maura Hally dan Usnadi. Tampak pula juniornya di Persebaya dan klub IM Surabaya, Seger Sutrino bersama Yusuf Ekodono.
Menurut keterangan istrinya, Lusiana, Budi Johanis meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB di rumah. “Bapak meninggal karena serangan stroke kedua, setelah makan sate daging kambing kesukaannya,” kata Lusiana ketika ditemui usai pemakaman.

Menurut Lusiana, sate daging kambing diperoleh setelah Budi Johanes mendapat berkat dari tetangganya yang menggelar acara pengajian.
“Makannya ya sembunyi-sembunyi gitu. Karena kalau ketahuan saya, pasti saya larang. Karena bapak kan sudah lama menderita stroke, sehingga makannya harus dijaga,” ungkap nenek tiga cucu ini dengan wajah sedih.
Selain seorang istri dan tiga cucu, Budi Johanis yang berusia 64 tahun juga meninggalkan tiga orang anak. Semuanya perempuan.
Beberapa eks pemain Persebaya seangkatan Budi Johanes mengaku merasa kehilangan dengan meninggalnya sang legenda.
“Sulit mencari seorang playmaker seperti Mas Budi,” kata Muharom Rusdiana di sela-sela pemakaman.
Eks bek kanan Persebaya ini mengatakan, ia bermain bersama Budi Johanis cukup lama, yaitu sejak 1983-an hingga 1990. “Tidak hanya di Persebaya, tapi juga di Timnas Indonesia” aku Muharom.
Di matanya, Budi Johanis adalah playmaker yang komplit. Dengan skill-nya yang tinggi, ia mampu memberikan umpan-umpan yang akurat dan sulit diterka lawan kepada rekannya.
Bahkan, tanpa ancang-ancang Budi Johanis bisa menendang bola dengan tepat ke arah pemain yang dituju. “Itu tidak semua pemain bisa melakukan. Perlu latihan khusus,” ujar Muharom.
Berkat umpan-umpannya yang akurat itu, pemain depan Persebaya yang kala itu diisi Mustaqim dan Syamsul Arifin menjadi duet striker yang haus gol dan ditakuti lawan. Syamsul dengan kepala emasnya dan Mustaqim dengan tendangan geledeknya.
“Pokoknya, kalau bola sudah di kaki Mas Budi dan di depan ada Cak Sul-Mustaqim, lawan pasti ketar-ketir. Pasti banyak golnya,” kata Muharom mengenang masa lalunya saat membela Persebaya bersama Budi Johanis.
Ibaratnya, lanjut Muharom, Budi Johanis merupakan pemain panutan dan dianggap sebagai otak seranganl Persebaya. “Kalau di luar lapangan ada pelatih yang menyusun strategi, maka di dalam lapangan Mas Budi yang mengatur, teman-teman,” katanya.
Hasilnya, Persebaya kala itu berhasil tiga kali melangkah ke final era Kompetisi Divisi Utama PSSI Perserikatan, yakni tahun 1986/1987, 1987/1988 dan 1989/1990. Dari tiga final itu, Persebaya meraih juara pada tahun 1987/1988 setelah mengalahkan Persija 3-2.
Pujian terhadap Budi Johanis datang dari Seger Sutrisno dan Yusuf Ekodono. Dua legenda Persebaya ini adalah juniornya Budi Johanis di klub IM Surabaya, anggota internal Persebaya.
“Mas Budi Johanis sulit dicari gantinya. Sampai sekarang, saya lihat belum ada playmaker yang sekelas Mas Budi, meskipun bayarannya mahal,” kata Seger yang dibenarkan Yusuf Ekodono.
“Selain pemain gelandang yang komplit, Mas Budi itu suka membimbing. Banyak ilmu yang ditularkan kepada juniornya di IM. Termasuk saya,” tambah Yusuf yang sempat satu tim dengan Budi Johanis di Persebaya tahun 1987/1988 hingga terakhir 1989/1990.
Bahkan, menurut Yusuf, ia bersama Budi Johanis ikut mengantarkan IM Surabaya menjadi juara kompetisi kelas utama Persebaya pada tahun 1989, setelah 25 tahun menunggu.
“Saya rasa kita semua merasa kehilangan dengan meninggalnya Mas Budi. Tidak hanya publik Surabaya, tapi semua insan sepakbola di tanah air,” pungkas Yusuf. (*)
Peliput: Dwi Arifin

