Bill Gates, Konspirasi Corona, Bioterorisme, dan Bencana Ekosida

waktu baca 8 menit

KEMPALAN: Sejak pandemi Covid 19 muncul tahun lalu berbagai teori konspirasi berseliweran. Yang paling banyak dibicarakan adalah bahwa virus itu dibuat di sebuah laboratorium di China untuk dikembangkan menjadi senjaat kimia, tapi kemudian bocor dan virus itu menyebar di Wuhan dan dengan cepat merantak ke seluruh dunia.

Amerika di era Donald Trump paling gigih menuduh China sebagai penyebar virus itu ke seluruh dunia. Dalam berbagai kesempatan formal maupun informal Trump tidak pernah mau menyebut virus ini sebagai Covid 19 sebagaimana ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO. Trump selalu menyebut pandemi sebagai “Virus China” dan memelesetkannya menjadi “kung flu” untuk meledek “kung fu”, sebuah seni beladiri dari China.

Alih-alih mengikuti saran dan nasihat WHO, Amerika malah menarik diri dari keanggotaan WHO, karena menuduh Sekjen Tedros Adhanom Gebreyesus sebagai antek China dan bekerja untuk kepentingan China. Sebaliknya, sebagian media China malah menuduh balik Amerika dengan tuduhan konspiratif bahwa justru tentara Amerika yang sengaja membawa virus itu ke China dan menyebarkannya secara sengaja. Baik tuduhan Amerika maupun tuduhan balik dari China terhadap Amerika sama-sama tidak terbukti sampai sekarang.

Tuduhan-tuduhan itu ada yang rada masuk akal dan ada yang benar-benar ngawur. Ada yang mengatakan virus ini bagian dari proyek senjata biologi rahasia sebagaimana Manhattan Project membuat bom atom yang akhirnya menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima pada 1945. Cerita konspirasi itu ada yang sulit diterima nalar tetapi masih banyak yang percaya, misalnya virus ini menyebar akibat dari gelombang elektromagnetik dari teknologi komunikasi 5G yang dihasilkan oleh China. Teknologi canggih ini memang ditemukan di China dan akan merevolusi industri teknologi informasi dengan kemampuan jaringan yang bisa menembus seluruh titik di dunia dengan biaya sangat murah dan kualitas gambar yang super cling. Eropa dan Amerika ketakutan oleh kehebatan 5G ini dan berusaha dengan segala cara untuk menghentikan penyebarannya di Amerika dan Eropa. Tetapi bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan 5G menjadi penyebab penyebaran Covid 19 amatlah aneh dan susah dijelaskan oleh nalar yang paling canggih pun. Toh banyak yang percaya dan melakukan demo protes dimana-mana.

Korban konspirasi tingkat tinggi, high profile, adalah Bill Gates pendiri Microsoft. Jauh-jauh hari sebelum pagebluk ini terjadi Gates mengingatkan akan bahaya pandemi yang bisa menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Gates menyarankan kepada para pemimpin dunia untuk mengantisipasi krisis ini dengan melakukan investasi untuk meriset vaksin sebagai antisipasi terhadap virus ini.

Ketika pandemi ini benar-benar terjadi, orang-orang yang percaya kepada teori konspirasi langsung berseru, “Apa saya bilang? Bill Gates tahu virus ini sedang dibuat dan dia sudah bersiap untuk membikin vaksin dan menangguk untung besar dari bencana ini”. Para penuduh mengatakan bahwa dengan vaksinasi itu Bill Gates akan memasukkan sejenis nano-chip super mini yang bisa memonitor pergerakan manusia dan mendapatkan data-data pribadi seperti kualits kesehatan, kecerdasan, dan potensi penyakit menular.

Dengan chip rahasia itu Bill Gates bisa memonitor manusia di seluruh dunia dan mengatur nasib mereka, siapa yang diperbolehkan tetap hidup dan siapa yang harus dimusnahkan. Pada akhirnya hanya manusia sejenis superman yang super kuat, supersehat, dan supercerdas saja yang akan dibolehkan bertahan hidup.

Proyek seleksi alam dengan prinsip survival of the fittest ala Darwin ini mirip dengan proyek yang pernah dirancang oleh Nazi Jerman untuk mendapatkan ras Arya yang unggul dan murni serta menghancurkan ras lain yang berkualitas rendah. Proyek ini juga ditiru di Uni Soviet yang terobsesi untuk menciptakan manusia yang egaltiter sama rata sama rasa. Dua eksperimen rekayasa sosial itu berakhir mengerikan, jutaan jiwa mati dari eksperimen ilmiah yang salah arah dan perang di seluruh dunia yang disulut Nazi di seluruh Eropa pada 1940-an.

Rekayasa sosial dan rekayasa genetika ini mengabaikan sama sekali pertimbangan-pertimbangan etika dan moral yang, rasanya, tidak mungkin akan ditiru atau diulangi lagi oleh rezim mana pun, apalagi oleh perorangan seperti Bill Gates. Bahwa sebagai kapitalis Bill Gates akan mementingkan laba di atas segalanya, profit above all, dan akan terus mengakumulasikan modal dan kekayaan. Tetapi, jika itu harus ditempuh dengan mengorbankan miliaran manusia, dan hanya menyisakan manusia bibit unggul saja, rasanya tidak mungkin masuk di akal. Dan terpenting, sampai sekarang teori konspirasi itu tidak bisa dibuktikan.

Kendati demikian teori itu tidak lenyap sama sekali. Ketika sekarang vaksin sudah ditemukan dan proyek vaksinasi dimulai di seluruh dunia, teori konspirasi itu muncul lagi. Dihembuskan bahwa proyek vaksinasi sekarang ini adalah realisasi proyek Bill Gates untuk memantau manusia seluruh dunia seperti Big Brother dalam novel George Orwell “Nineteen Eighty Four” atau dalam novel “A Brave New World” Aldous Huxley. Dua novel itu menggambarkan kehidupan manusia yang dipantau dan dikendalikan oleh chip yang disambungkan ke komputer yang memantau otak manusia selama 24 jam nonstop. Entah nalar apa yang bisa membenarkan teori konspirasi itu.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan prediksi Bill Gates yang seolah-olah bisa menembus masa depan. Ia seperti “weruh sak durunge winarah”, tahu sebelum kejadian, sehingga bisa memprediksi terjadinya pandemi ini. Sebagai seorang inventor Bill Gates tentu sangat paham dengan perkembangan teknologi dan punya visi jauh ke depan. Ia bisa membaca tren dan bisa melakukan ekstrapolasi untuk melihat masa depan. Karena itu tidak ada yang aneh ketika dia bisa memprediksi terjadinya pandemi dan mengusulkan investasi pembuatan vaksin sebagai antisipasi.

Pandemi Covid 19 ini sampai sekarang belum ketahuan kapan akan berakhir. Hanya para politisi dan pemimpin demagog dan pengikutnya yang zealot saja yang mengatakan bahwa pandemi akan segera berakhir dalam waktu dekat. Seolah-olah vaksin adalah senjata sapu jagat yang sekali sapu semua bakal beres. Para ahli epidemologi mengatakan bahwa kemungkinan pandemi masih akan terjadi sampai akhir tahun, dan malah mungkin sampai tahun depan.

Bill Gates sudah mengantisipasi hal ini, dan bahkan ia melangkah jauh ke depan lagi. Beberapa hari ini pernyataannya menjadi viral ketika dia mengingatkan bahwa setelah pandemi berakhir akan muncul ancaman bencana yang lebih dahsyat, yaitu ancaman bencana bioterorisme dan kehancuran lingkungan.

Gates, sebagaimana biasa, tidak memberikan detail. Ia seperti melempar teka-teki sekaligus melempar bom waktu yang setiap saat bisa meledak dahsyat. Bencana bioterorisme setiap saat bisa terjadi. Bencana ekologi akibat kerusakan lingkungan bisa setiap saat meledak, karena manusia secara sistematis menghancurkan lingkungannya seperti menggali kubur sendiri. Inilah dua hal yang disebut Bill Gates bakal menjadi bencana baru bagi umat manusia yang lebih menghancurkan ketimbang Covid 19.

Bencana bioterorisme bisa terjadi dalam bentuk teroris yang mencuri atau mengembangkan senjata biologi di laboratorium, yang memang sengaja dipersiapkan untuk menjadi senjata pembunuh masal. Ini pasti bukan khayalan. Ini bukan cerita fiksi dalam novel atau film thriller. Ini adalah skenario nyata yang sudah pernah terjadi ratusan tahun yang lampau.

Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa senjata biologis dalam bentuk kuman yang menular dengan sangat cepat sudah dipakai oleh penjajah Eropa ketika menundukkan penduduk pribumi di Amerika Utara dan Selatan atau di wilayah Australia dan beberapa wilayah Asia. Para kolonis Eropa itu mungkin tidak sengaja membawa senjata bilogis itu karena kuman itu melekat lama di tubuh mereka yang sudah kebal. Setidaknya para penulis sejarah dari Barat belum ada yang mengungkap teori konspirasi itu, bahwa para kolonis Eropa sengaja membawa kuman dalam tubuh mereka dan menularkannya kepada penduduk pribumi dan dalam waktu singkat membunuh jutaan manusia pribumi.

Prof. Jared Diamond yang menulis “Guns, Germs, and Steels: The Fate of Human Societies” (1997), mengupas sejarah perkembangan peradaban manusia selama 13.000 tahun terakhir dan mengungkapkan bahwa Bangsa Eropa menjadi manusia unggul yang menguasai jagat raya melalui tiga senjata utama yang mematikan yaitu “Guns, Germs, and Steels”, bedil, kuman, dan besi. Tiga senjata utama itulah yang menjadikan Eropa penguasa dunia dan menentukan nasib umat manusia di seluruh dunia.

Di antara tiga senjata itu ternyata bukan bedil yang paling banyak memakan korban, tapi kumanlah yang menjadi senjata pembunuh paling mangkus. Kuman yang dibawa penjajah Eropa itu juga bukan kuman yang aneh dan menyeramkan. Kuman itu bisa sangat sederhana bentuknya misalnya kuman campak dan cacar atau flu biasa, tapi kuman itu bisa membunuh jutaan penduduk pribumi, puluhan kali lipat lebih mematikan dari bedil dan kanon bangsa Eropa.
Bangsa Eropa sudah punya imunitas terhadap penyakit itu sehingga kebal. Sementara penduduk pribumi yang belum punya imunitas akan mati masal dalam beberapa hari atau jam.
Jika hal itu bisa terjadi pada abad ke-18 atau awal abad ke-19, tentu saja sekarang akan lebih mudah terjadi. Peringatan Bill Gates akan bahaya bioterorisme masa depan harus dilihat dalam konteks seperti itu. Akan muncul kuman jenis baru yang kebal bagi bangsa Eropa tapi mematikan bagi bangsa-bangsa lain.

Sejarah peradaban dunia juga sudah mencatat kehancuran bangsa-bangsa besar dunia karena bencana lingkungan. Bangsa Aztec, Maya, peradaban di Pulau Pictairn, adalah peradaban besar yang punah karena bencana lingkungan.

Saat ini persoalan lingkungan menjadi problem akut yang terjadi setiap saat di depan mata kita. Penggundulan hutan yang tak terkendali menjadi salah satu sumber kehancuran lingkungan yang bakal menghancurkan kehidupan umat manusia. Kita melakukan ekosida, bunuh diri masal, dengan menghancurkan lingkungan kita sendiri.
Tak perlu cari-cari teori konspirasi. Tak perlu menuduh Bill Gates dengan tuduhan macam-macam, karena kitalah yang menggali lubang kubur sendiri. (*)

BACA LAINNYA

Wayang

News Kempalan
0

Haji Metaverse

News Kempalan
0

Margiono (1959-2022)

News Kempalan
0

Sultan Ghozali

News Kempalan
0

Arteria

News Kempalan
0
0

Bill Gates dan Sukmawati

News Kempalan
0

Lapor, Pak

Dhimam Abror Djuraid
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *