Selamat Ulang Tahun, Covid-19

waktu baca 7 menit

KEMPALAN: Covid 19 berulang tahun yang pertama Maret ini, tapi jangan diberi ucapan selamat dan jangan didoakan panjang umur. Begitu pesan yang beredar beberapa hari ini di medsos maupun grup-grup Whatsaap.

Tepat 2 Maret 2020 setahun yang lalu pandemi ini secara resmi diakui mulai berjangkit di Indonesia. Saat itu Presiden Jokowi mengumumkan konfirmasi dua orang ibu dan anak yang terjangkit virus setelah berpesta dansa dengan turis Jepang. Dua pasien itu disebut sebagai Pasien 01 dan Pasien 02.

Dalam hal ulang tahun banyak orang yang tidak mempunyai akta lahir yang akurat. Ada yang benar-benar karena alpa dan ada–atau malah banyak–yang merahasiakan tanggal lahirnya dan sengaja mengubahnya, dengan mengundurkannya, supaya kelihatan lebih muda.

Begitu pula dengan ultah Covid 19 ini. Pemerintahan Jokowi mengklaim kelahiran kasus pertama pada 2 Maret, meskipun bukti-bukti banyak yang menunjukkan bahwa korban sudah muncul beberapa bulan sebelum itu. Banyak bukti ditemukan bahwa Pasien 01 yang diumumkan Jokowi itu bukan pasien pertama yang ditulari si turis Jepang. Beberapa kasus sudah muncul tapi tidak terdeteksi. Jokowi setengah hati–dan malah berat hati–mengumumkan kasus itu dan terkesan menutup-nutupi dan menyangkal. Gubernur DKI Anies Baswedan sudah terlebih dahulu mengingatkan kemunculan pandemi itu. Alih-alih diperhatikan Anies malah dibuli.

Kasus pandemi pertama ditemukan di Wuhan, China 17 November 2019. Sejak itu setiap hari ditemukan sedikitnya lima orang yang ketularan. Informasi yang beredar simpang siur dan mengerikan. Ada mayat bergelimpangan di pinggir dan orang-orang yang tiba-tiba kolaps dan meninggal seketika. Korban pertama dalam perang adalah kebenaran. Begitu kata para jurnalis. Itu juga yang terjadi dalam perang pandemi ini. Kebenaran menjadi korban pertama dan hoaks merajalela bersama dengan aneka berita palsu. Mayat bergelimpangan dan orang-orang yang kolaps dan mati mendadak semuanya hoaks.

Setahun sudah berlalu pandemi belum ada tanda-tanda selesai, malah sebaliknya, tanda-tanda ekskalasi masih sangat nyata. Dalam tempo kurang dari setahun vaksin sudah bisa ditemukan dan diedarkan. Meski demikian tidak ada yang berani menjadi peramal untuk memastikan kapan pandemi berakhir karena virus pintar itu terus bermutasi dan efektifitas vaksin belum terjamin 100 persen.

Covid 19 tentu bukan pagebluk pertama yang menyerang dunia. Eropa sudah pernah terserang wabah Black Death, Maut Hitam, pada abad ke-14 yang menelan korban 200 juta orang meninggal. Hampir dua pertiga penduduk Eropa habis oleh pagebluk mengerikan itu. Pandemi lain yang tidak kalah ngeri adalah Flu Spanyol (Spanish Flu) yang terjadi pada 1918 sampai 1920 yang membunuh 20 juta sampai 100 juta orang. Seperti halnya Black Death korban Flu Spanyol menghabiskan dua pertiga penduduk Eropa.

Jenis virus yang menyebabkan Black Death tidak diketahui secara pasti dan upaya untuk mencari obat atau vaksin pun sia-sia. Ilmu kedokteran belum dikenal di Eropa pada pada waktu itu karena Eropa masih berada pada zaman jahiliyah sehingga lebih banyak ilmu dukun yang dipakai untuk mengobati pagebluk.

Ketika itu para ilmuwan Islam di Timur Tengah sudah terlebih dahulu menguasai ilmu kedokteran melalui penemuan yang dikembangkan Ibnu Sina pada abad ke-11. Tetapi pergerakan manusia yang masih terbatas ketika itu dan berbagai kendala politik antara Islam versus Kristen Barat membuat penyebaran ilmu kedokteran terbatas di wilayah Islam saja.

Spanish Flu sebenarnya penyakit virus yang sederhana yang menyerang fungsi permafasan, hampir mirip dengan flu yang kita kenal sekarang. Tapi ilmu kedokteran saat itu tidak bisa mendeteksi penyakit itu dengan akurat dan gagal menemukan vaksin maupun obatnya maka korban yang berjatuhan sungguh mengerikan. Pagi sakit sore meninggal. Rumah sakit penuh dan dokter menyerah angkat tangan. Pagebluk itu berhenti karena penduduk Eropa hampir habis dan sisanya sudah mendapatkan kekebalan.

Penyakit-penyakit yang sekarang dianggap sederhana dan jinak seperti flu, cacar, dan campak, dulu menjadi penyakit mematikan yang bisa membunuh ribuan orang dalam waktu singkat. Kuman-kuman itu menjadi senjata biologis yang mematikan yang dibawa orang Eropa ketika menjajah wilayah Amerika Selatan dan Utara. Jumlah penduduk pribumi yang mati akibat kuman bawaan orang Eropa ratusan kali lipat lebih banyak dari korban mati akibat peluru tentara Eropa.

Sampai sekarang bangsa Eropa mengaku tidak sengaja melakukan genosida, pembantaian biologis itu. Kuman-kuman itu secara tidak sengaja menempel di tubuh mereka yang sudah imun dan secara tak sengaja juga menulari dan membunuh jutaan penduduk pribumi.

Sampai sekarang para sejarawan Barat meyakini ketidaksengajaan pembantaian biadab itu, seperti yang diungkap Jared Diamond dalam bukunya “Guns, Germs, and Steel: The Fate of Human Societies” (1997). Kolonialisme dan imperialisme Barat ke seluruh dunia terjadi karena kebetulan orang Eropa menemukan besi dan bedil untuk menjadi senjata militer dan kuman untuk menjadi senjata pembunuh biologis yang lebih ampuh.

Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Mongol yang melakukan penaklukan di Asia, Afrika, dan sebagian Eropa. Dalam berbagai pengepungan militer pasukan Mongol sengaja melemparkan mayat-mayat yang sudah busuk ke arah benteng lawan. Bangsa Mongol yakin mayat busuk itu bisa menyebarkan penyakit mematikan meskipun mereka tidak tahu penyakit apa itu. Bangsa Mongol sendiri sudah memperoleh kekebalan alami dari penyakit itu. Taktik ini jitu dan terbukti penyakit bisa menyebar ke seluruh kota dan menyebabkan kematian masal yang membuat kerja pasukan Mongol lebih ringan dalam melakukan serangan penghabisan.

Melihat perkembangan sejarah itu wajar saja jika sekarang muncul berbagai teori konspirasi yang menuduh bahwa virus Covid 19 adalah senjata biologis yang dikembangkan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan lawan. Tuduhan itu dilayangkan Amrika terhadap China, dan sebaliknya China menuduh Amerika yang justru mengembangkan senjata biologis itu. Berkaca pada sejarah bisa disimpulkan bahwa dua bangsa itulah yang di masa lalu menggunakan taktik licik memakai senjata kuman untuk menghancurkan lawan.

Beda dengan pandemi Black Death dan Spanish Flu yang tidak terkendali, kali ini pandemi Covid 19 bisa dikendalikan dengan sangat cepat. Rezim komunis China dalam waktu singkat sudah bisa mengidentifikasi virus maut itu dan langsung melakukan lock down total sehingga menjadikan wilayah Wuhan sebagai kamp konsentrasi terbesar di zaman moder ini. Hanya rezim komunis macam China yang bisa melakukannya, karena rezim ini sudah biasa melakukannya sebagaimana lock down politik yang selama ini mereka lakukan terhadap etnis muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang.

Pandemi Cobid 19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia jauh lebih cepat dan luas dari Black Death dan Spanish Flu yang menyebar di Eropa saja. Kali ini pandemi menyebar dari China ke Eropa, lalu menyeberang ke Mediterania dan melewati Atlantis menuju ke Amerika. Wilayah Asia yang berbatasan darat dengan China dengan mudah ditembus Covid 19, demikian pula wilayah Timur Tengah dan Afrika. Di masa lalu China menyebarkan perdagangannya melalui Jalur Sutera. Sekarang penyakit dari China menyebar ke seluruh dunia melalui Jalur Sutera yang baru. Barang-barang Made in China menyerbu seluruh dunia, dan sekarang virus “Made in China” juga menyerbu seluruh dunia.

Beda dengan Black Death dan Spanish Flu yang tidak bisa ditemukan penangkalnya, Covid 19 bisa ditemukan vaksinnya relatif dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa bulan saja vaksin sudah ditemukan dan melalui uji klinis singkat tapi hati-hati vaksin sudah bisa dipakai di seluruh dunia. Di masa lalu penemuan dan uji coba vaksin bisa memakan waktu bertahun-tahun tapi sekarang hanya dalam hitungan bulan vaksin sudah bisa ketemu.

Pandemi kali ini menyatukan para ilmuwan kedokteran dan farmasi di seluruh dunia. Ada persaingan untuk menemukan vaksin tapi relatif tidak ada permusuhan. Badan Kesehatan Internasional WHO patut diacungi jempol karena sukses mengkoordinasikan para dokter dan ahli farmasi seluruh dunia sehingga tidak terjadi permusuhan di antara mereka. Berbagai negara bersaing menemukan vaksin masing-masing. China menemukan vaksin Sinovac. Rusia memproduksi vaksin Sputnik. Amerika punya vaksin Pfizer-Moderna. Inggris menghasilkan vaksin Astra-Zenica, dan Indonesia melahirkan vaksin Nusantara.

Semua bebas bersaing tapi tetap patuh pada kendali WHO. Lalu mengapa pandemi masih belum bisa dijinakkan setelah setahun? Problemnya bukan pada kedokteran tetapi pada politik. Ilmuwan Israel, Yuval Noah Harari penulis buku best seller “Sapiens: A Brief History of Human Kind” (2011) menulis artikel khusus di Financial Times menyambut ulang tahun pertama Covid 19. Harari menyebut bahwa kemajuan ilmu pengetahuan umat manusia sekarang dengan mudah bisa mengalahkan pandemi Covid 19 melalui penemuan vaksin yang cepat. Sayang, kata Harari, vaksin yang seharusnya ampuh untuk mengalahkan Covid 19 menjadi tidak efektif karena persoalan politik.

Permusuhan Amerika dan Eropa melawan China adalah persoalan politik yang membuat kerjasama kedokteran terhambat. Di Indonesia penanganan Covid 19 terhambat karena faktor politik. Vaksin sudah tersedia secara gratis tapi banyak yang menolak, bukan karena alasan medis tapi politis. Harari menyimpulkan bahwa pandemi akan berlarut-larut kalau persoalan politik tidak terselesaikan.

Bola sekarang ada di kaki para pemain politik, terserah kepada para pemain itu mau menendang bola menjadi gol, atau membuang bola itu keluar lapangan. Selamat Ulang Tahun, Covid 19. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *