Pandemi Komunis

waktu baca 6 menit
Presiden RI Joko Widodo (YouTube Sekretariat Presiden)

KEMPALAN: Persis di hari terakhir 2021 Presiden Jokowi meneken keputusan presiden untuk memperpanjang masa darurat pandemi Covid-19. Harapan untuk kembali ke normal pada tahun baru 2022 harus disimpan dulu. Indonesia dan negara-negara seluruh dunia masih belum tahu kapan pagebluk ini akan berakhir.

Amerika dan Eropa bahkan menghadapi krisis pandemi gelombang ketiga dengan munculnya varian Omicron yang dengan cepat menular kemana-mana. Indonesia juga sudah dibobol oleh Omicron dengan ratusan orang di berbagai daerah positif tertular. Harapan akan kembali ke normal baru tetap menjadi harapan. Normal baru masih jauh dari angan.

Lima juta orang di seluruh dunia meninggal dunia menjadi korban. Virus ini menjadi pandemi global yang paling mengguncangkan dunia. tidak ada satu pun negara yang lolos dari serbuan virus ini. Afrika yang semula dianggap aman, sekarang justru menjadi sarang kemunculan Omicron yang ganas.

China yang sudah terlebih dulu lolos dari pandemi sekarang kembali harus mengisolasi sebagian daerah karena kemunculan varian Omicron. Negara-negara Eropa kembali memberlakukan lockdown terbatas, tetapi kali ini mendapat perlawanan keras dari sebagian masyarakat yang melakukan demonstrasi yang berujung rusuh dan bentrok.

Dua tahun terpenjara di rumah dan terisolasi dari lingkungan sosial terbukti menjadi penderitaan yang tidak tertanggungkan. Manusia sudah bosan dikerangkeng terus-menerus dan aktivitasnya dibatasi hanya di sekitar rumah saja. Rumah menjadi penjara, dan normal baru menjadi penjara baru.

Pandemi menunjukkan kegagalan politik pemerintahan di seluruh dunia. Rezim politik kalah oleh rezim kesehatan. Kepala-kepala negara populis yang anti-pendekatan kesehatan dan lebih mengedepankan pendekatan politik akhirnya harus menyerah.

Donald Trump yang anti-pandemi akhirnya terguling dalam pilpres Amerika Serikat. Boris Johnson di Inggris yang menjadi sekutu terkuatnya juga menyerah kepada rezim kesehatan. Jair Bolsonaro, presiden Brazil yang terkenal paling angkuh menentang Covid-19, menjadi kepala negara yang terisolasi dari rakyat dan lingkungannya.

Para pemimpin populis itu percaya kepada teori-teori konspirasi seputar pandemi. Mereka menuduh bahwa pandemi ini sengaja dibuat oleh China untuk menjadi senjata perang global. Sampai sekarang, dua tahun berlalu, tuduhan itu belum bisa dibuktikan. Sampai sekarang masih banyak orang yang percaya kepada teori konspirasi meskipun teori-teori itu belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Rezim politik telah gagal menunjukkan kesaktiannya dalam menghadapi pandemi. Para pemimpin politik harus mengakui bahwa pendekatan politik gagal menghadapi pandemi dan harus menyerah kepada pendekatan kesehatan. Badan Kesehatan Dunia, WHO, menjadi badan global yang paling berkuasa dua tahun terakhir. Nama Sekjen WHO Tedros Aghanom Ghebreyesus jauh lebih dikenal ketimbang Sekjen PBB Antonio Guterres.

Kapitalisme global bahkan disebut sudah tamat karena gagal mengatasi pandemi, dan sistem komunisme baru ala China disebut sebagai pemenang dalam perang pandemi dan perang ideologi global ini.

Cara pendekatan komunistis ala China sukses menahan penyebaran pandemi ke seluruh negeri. Penutupan total wilayah Hubei sebagai sentra penularan terbukti efektif menahan penyebaran. Selama berbulan-bulan Hubei menjadi kamp konsentrasi terbesar dunia dengan diterapkannya lockdown total. Kebijakan ini terbukti efektif.

Sebaliknya, negara-negara kapitalis menerapkan kebijakan setengah hati dan tanggung dalam melakukan lockdown. Karena kebijakan yang serba tanggung itu pandemi menyebar dengan cepat ke berbagai negara dan menimbulkan bencana global. Negara-negara kapitalis tidak bisa melakukan lockdown total karena bertentangan dengan kebebasan individual, sementara China bisa menerapkannya dengan bebas atas nama komunalisme.

Pagebluk global ini kemudian disebut sebagai bukti kemenangan sistem komunisme atas kapitalisme. Pada 1990 Francis Fukuyama memproklamasikan kemenangan kapitalisme atas komunisme setelah ambruknya sistem politik Uni Soviet. Sekarang, 30 tahun kemudian, Slavoj Zizek, filosof asal Slovenia, berbalik memproklamasikan kemenangan komunisme atas kapitalisme dengan ambruknya sistem kesehatan Amerika Serikat dalam menghadapi pandemi.

Menurut Zizek, pandemi ini menjadi tonggak kemenangan komunisme baru dan mau tidak mau para pemimpin dunia harus mengadopsi sistem komunisme baru itu. Tata dunia baru atau ‘’the new world order’’ versi kapitalisme lahir setelah ambruknya komunisme. Sekarang telah lahir ‘’the new new world order’’ tata dunia baru yang baru pasca pandemi.

Pandemi membawa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *