Terawan ke Madrid, Zuhairi ke Riyadh
KEMPALAN: Terawan ke Madrid. Itu bukan rumor transfer pemain sepakbola dari Indonesia ke Real Madrid, tapi “transfer” duta besar dari Indonesia ke Madrid, Spanyol.
Bagi penggemar sepakbola Eropa berita perpindahan pemain dari satu klub ke klub lain selalu menjadi berita yang diikuti dengan penuh antusias meskipun baru bersifar rumor. Transfer pemain di klub top Eropa melibatkan uang triliunan rupiah satu pemain.
Yang paling ramai sekarang adalah rumor transfer pemain gaek tapi galak Sergio Ramos dari Madrid ke Manchester United Inggris yang melibatkan dana triliunan dan gaji miliaran perminggu. Ya, gaji pemain sepakbola profesional top di Eropa miliaran rupiah seminggu.
Bagi para pemerhati politik berita mengenai transfer politik juga menjadi bahan perbincangan yang asyik di berbagai platform media sosial. Siapa mendapatkan apa, siapa diangkat menjadi apa, selalu menjadi gosip politik yang diikuti dengan penuh antusias.

Apalagi kali ini aktornya melibatkan dua nama yang kontroversial di palagan politik
Terawan Agus Putratnto, dokter dan jenderal angkatan darat bintang tiga, baru saja dipecat dari jabatannya sebagai menteri kesehatan. Sepakbola Eropa yang bisa melakukan resafel setiap saat dengan memecat pelatih di tengah jalan. Beberapa minggu yang lalu klub Chelsea di Inggris milik triliuner Rusia Roman Abramovich melakukan resafel dengan memecat pelatih Frank Lampard. Pada saat hampir bersamaan klub top Prancis, Paris Saint Germain (PSG) milik pengusaha crazy super rich Qatar Nasser Al-Khelaifi memecat pelatih Thomas Tuchel. Yang terjadi kemudian seperti tukar tambah, Tuchel menggantikan Lampard melatih Chelsea dan Lampard terpaksa menganggur. Sedangkan PSG merekurt pelatih Mauricio Pochettino yang dipecat dari klub Inggris Tottenham Hotspurs. Begitulah berita resafel dan rumor transfer di liga sepakbola Eropa, mbulet berkisar dari satu klub ke klub lain dan melibatkan aktor-aktor yang itu-itu juga.
Terawan memang tidak ada matinya. Ia menjadi tanda tanya besar ketika diangkat jadi menteri kesehatan oleh Jokowi pada 2019. Dia kepala rumah sakit angkatan darat RSPAD Gatot Subroto dan dikenal punya terobosan terapi pengobatan semacam penggelontoran saraf yang kontroversial tapi sangat terkenal. Metode itu mengombinasikan Digital Substraction Angiography (DSA) dan injeksi heparin yang oleh Terawan dipromosikan sebagai ‘cuci otak’, yang juga dikenal sebagai pembilasan otak intra-arterial.
Metode ini kontroversial dan ditolak oleh persatuan dokter IDI. Terawan disidang dan dipecat. Tidak lama setelah Terawan jadi menteri ia langsung memecat ketua IDI dr Ilham Marsis. Tapi metode Terawan sudah menjadi langganan banyak pejabat tinggi karena itu banyak yang membelanya. Terawan juga merawat dan mengobati ibunda Jokowi selama sakit. Dari situ Terawan mulai main mata dengan Jokowi dan akhirnya jadi menteri.
Tidak lama jadi menteri Terawan diuji oleh pandemi Covid dan inkompetensinya menjadi kontroversi di seluruh negeri. Terawan dianggap paling bertanggung jawab atas kelambatan penanganan Covid 19 yang dampaknya terasa sampai sekarang. Ia menyangkal virus itu sudah masuk ke Indonesia. Ia mengatakan orang Indonesia punya penangkal doa sehingga tidak mempan virus. Terawan juga bilang tidak perlu pakai masker bagi yang sehat, masker hanya dipakai oleh yang sakit.
Respons Terawan ini membawa dampak bencana berkepanjangan. Cukup satu musim menjadi menteri Terawan pun dipecat. Tentu saja Terawan bukan satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas buruknya penanganan pandemi di Indonesia. Ibarat klub sepakbola Terawan hanyalah pelatih yang, bagaimanapun, kewenangannya terbatas dan sangat bergantung kepada Jokowi sebagai pemilik klub. Tapi, sebagaimana pemilik klub Eropa yang punya kekuasaan penuh, Jokowi bisa memecat pelatih kapan saja, meskipun seharusnya dia sendiri yang harus lebih bertanggung jawab. Tapi siapa yang bisa memecat pemilik klub? Tidak ada. Kecuali kalau seluruh suporter mengamuk dan menurunkan paksa pemilik klub yang berarti revolusi.
Jokowi sebagai pemilik klub juga bisa mengangkat siapa saja sebagai pelatih sesuai keinginannya. Maka Budi Gunadi Sadikin, seorang bankir yang bukan dokter dan tidak punya pengalaman di industri kesehatan, diangkatlah menjadi menteri kesehatan. Mungkin ini sama dengan menjadikan direktur keuangan menjadi pelatih sepakbola.
Mengangkat dan memecat, hire and fire, adalah urusan biasa dalam manajemen. Bagi-bagi kekuasaan ala Jokowi juga hal yang lumrah dalam politik. Mekanisme reward and punishment berjalan setiap saat. Tim sukses dan para pendukung diberi reward mulai dari jabatan menteri, wakil menteri, komisaris BUMN, sampai duta besar. Zuhairi Misrawi, aktivis Islam liberal dan kader PDIP kali ini masuk bursa untuk menjadi duta besar di Riyadh, Arab Saudi.
Sama dengan Terawan, kabar soal Zuhairi juga belum terkonfirmasi tapi sudah menyebar menjadi isu politik. Sama dengan Terawan, Zuhairi juga kontroversial. Ia dikenal sebagai jago pukul untuk menghajar aktivis Islam politik yang sering diserang dengan isu radikal dan intoleransi. Zuhairi berada satu geng anak-anak muda aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang didirikan oleh Ulil Abshar Abdalla.
Zuhairi kelahiran Madura, alumnus Universitas Al Azhar Mesir, dianggap punya pengetahuan yang mumpuni mengenai politik Timur Tengah. Zuhairi baru saja dapat bagian jabatan sebagai komisaris perusahaan plat merah Yodya Karya dan sekarang sudah dirumorkan akan ditransfer sebagai dubes di Arab Saudi. Ibarat transfer sepakbola Zuhairi ditransfer dari Madura United di Pamekasan ke Al Ahly, klub sepakbola elite Arab Saudi.
Manuver-manuver politik Zuhairi akhirnya dapat reward juga.
Tidak jauh beda dengan Dokter Terawan. Meskipun dipecat Dokter Terawan tidak pernah mati angin. Ketika orang lagi ribut-ribut soal vaksin antara vaksin buatan China versus vaksin buatan Amerika, tiba-tiba Terawan mengumumkan vaksin temuannya sendiri yang dinamai Vaksin Nusantara. Tanpa ba bi bu vaksin temuan Terawan sudah melewati ujicoba klinis tahap tiga dan segera akan diujicobakan pada manusia pada uji klinis tahap tiga.
Darimana datangnya kok ujug-ujug Terawan menemukan vaksin merah putih? Kabarnya diam-diam dia sudah menelitinya sejak masih menjadi menteri. Vaksin ini katanya akan lebih baik dan lebih hebat dari vaksin China atau vaksin lainnya.
Vaksin Nusantara bersifat personalized sehingga aman bagi segala usia dan pasien dengan penyakit bawaan atau komorbid. Teknologi ini menggunakan darah pasien yang diinkubasi dan disuntik antigen, sebelum disuntikan kembali kepada pasien. Kalau sudah lolos ujiklinis dan mendapat izin BPOM Vaksin Nusantara akan diproduksi 10 juta unit perbulan.
Layak ditunggu terobosan baru Dokter Terawan ini. Reputasinya sebagai penemu metode terapi saraf sudah diakui banyak orang, kali ini vaksin Nusantara temuannya, siapa tahu, bisa menjadi alternatif di antara perang vaksin para pemain raksasa China, Eropa, dan Amerika.
Beberapa netizen bertanya, kalau sekarang Dokter Terawan ditransfer jadi dubes ke Madrid bagaimana nasib ujicoba vaksin Nusantara? Ada netizen usil yang jawab, akan diujicobakan kepada pemain Real Madrid. (*)









