KEMPALAN: Jokowi. Siapa yang tidak kenal? Tapi, Gus Ali? Tidak banyak yang tahu, terutama mereka yang tinggal di luar Jawa Timur. Bagi masyarakat Jatim, wabil khusus para nahdiyyin, nama Gus Ali sangat populer dan sama dikenalnya dengan nama Jokowi.
Gus Ali, KH Agoes Ali Masyhuri, jabatan resminya Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, pemangku Pesantren Bumi Shalawat dan pendiri Sekolah Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo. Gus Ali dikenal sebagai Gus Ali Tulangan karena pondoknya dulu berada di Tulangan Sidoarjo dekat dengan pusat kerajinan kulit Tanggulangin yang dulu mendunia.
Sekarang pesantren Gus Ali sudah pindah area yang lebih luas dengan bangunan kompleks yang modern di daerah Lebo sekitar lima kilometer dari pintu tol Sidoarjo. Meskipun begitu Gus Ali masih tetap dikenal sebagai Gus Ali Tulangan.
Apa hubungannya dengan Jokowi? Selain Gus Ali pendukung Jokowi pada pilpres 2019, diam-diam Gus Ali menyamai, atau malah melampaui rekor Jokowi dalam kontestasi pilkada serentak 2020. Pada perhelatan itu Jokowi bisa menempatkan Gibran dan Bobby Nasution, anak dan mantunya, sebagai walikota Solo dan Medan. Gus Ali juga berhasil menempatkan anaknya, Muhdlor Ali dan menantunya Fandi Ahmad Yani, sebagai bupati Sidoarjo dan Gresik. Gus Ali melampaui Jokowi dalam soal klan politik karena anak tertua Gus Ali, Syaikhul Islam, menjadi anggota DPR RI 2019-2024.
Gus Ali menjadi tokoh paling disegani di lingkungan politik Jawa Timur dan nasional. Keterampilan dan kecerdikan politiknya terbukti ampuh dan bisa melahirkan klan politik baru di Jawa Timur. Gus Ali menjadi sosok yang sangat dihormati di PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan elite-elite PKB termasuk Ketua Umum Muhaimin Iskandar selalu sowan dan cium tangan Gus Ali.
Pesantren Bumi Sholawat menjadi episentrum baru politik lokal Jawa Timur dan menggeser pendulum politik yang selama 20 tahun terakhir ada di pendopo Sidoarjo bergerak ke Bumi Sholawat.
Saiful Illah, dua puluh tahun menjadi wakil bupati dan dilanjut menjadi bupati masing-masing dua periode, dikenal sebagai the godfather politik Sidoarjo sekaligus penguasa tunggal PKB Sidoarjo. Saiful ditangkap KPK menjelang pemilu serentak 2019.
Skenarionya untuk membangun klan politik lokal, dengan mengajukan anaknya Amir Aslichin sebagai calon bupati, gagal dan dikudeta dengan halus oleh Gus Ali. Persaingan dingin dan diam-diam antara Pendopo vs Bumi Sholawat, Saiful Ilah vs Gus Ali selesai dan Gus Ali bisa dinobatkan sebagai “the new undisputable god father”, pemimpin informal politik yang tidak terbantahkan. Gus Ali menjadi semacam Imam Besar politik santri Jawa Timur.
Jokowi menghasilkan Gibran-Bobby dan menjadi sasaran kritik secara nasional. Itulah susahnya menjadi orang nomor satu di panggung nasional. Kelurga dan sanak family, the first family, selalu menjadi skrutini nasional. Ia bukan satu-satunya yang membangun klan dinasti politik. Tapi ia paling gencar menjadi sasaran.
Cerita mengenai the first family, keluarga presiden, memang selalu menarik sebagai gosip dan rumor politik yang seolah tidak pernah ada habisnya. Disana maupun disini, dikaitkan dengan nepotisme dan dinasti politik.
Ini cerita soal aji mumpung dan nepotisme ala Amerika.
Sewaktu pelantikan presiden dan wapres Joe Biden-Kamala Harris, 20 januari yang lalu, perhatian orang tidak melulu tertuju pada proses pengambilan sumpah yang sakral. Tiba-tiba banyak yang salfok alias salah fokus dan mengalihkan perhatian kepada Ella Emhoff yang berpakaian modis dengan mengenakan blazer long coat musim dingin warna coklat muda bermotif kotak-kotak kecil dan hiasan ornamen bunga kecil di bagian pundak. Ella menenteng clutch, tas kecil, hitam sepadan dengan masker, sarung tangan, dan sepatu boot selutut yang dipakainya.
Ella kontan menjadi hit besar dan viral dimana-mana. Gadis berusia 21 tahun mahasiswi jurusan mode di New York ini langsung kejatuhan rezeki nomplok. Langsung GPL (gak pakai lama) ia dihubungi agen model terkemuka internasional dan memberinya kontrak mahal untuk menjadi foto model. Ella langsung tampil di New York Fashion Festival, salah satu even pameran mode paling begengsi di Amerika. Ella langsung menyodok menjadi peragawati elite bukan hanya di Amerika tapi juga di Eropa yang menjadi kiblat mode dunia.
Kontrak-kontrak mahal sudah menunggunya dan berbagai produk sudah antre menunggu endorsement Ella. Pengikutnya di Instagram menggelembung 2,6 juta orang dan pada saat pelantikan nambah lagi sekitar dua juta pengikut.
Ella dan Cole adalah anak tiri Wapres Kamala Harris dari perkawinan dengan Douglas Emhoff seorang praktisi hukum keturunan Yahudi yang mempunyai firma hukum terkenal. Emhoff memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya dan menjadi The Second Gentleman purna waktu mendampingi istrinya.
Di Indonesia mungkin apa yang dilakukan Ella dianggap sebagai aji mumpung dan nepotisme. Tapi media Amerika tidak menyorotinya, mungkin karena masih pada euforia dan berbulan madu dengan presiden dan wapres baru. Padahal, bisa saja kontrak mahal Ella itu dikaitkan dengan popularitas ibu tirinya yang menjadi wapres perempuan pertama dan kulit berwarna sepankang sejarah 200 tahun Amerika. Karir Ella Emhoff di dunia modelling jelas sangat terdongkrak gengsinya karena ibu tirinya menjadi wapres. Popularitas Ella naik drastis karena ibunya.
Soal aji mumpung dan nepotisme sekarang lagi ramai di Indonesia, plus isu dinasti politik yang dikaitkan dengan The First Family Presiden Joko Widodo. Acara pelantikan kepala daerah hasil pilkada serentak 2020, Jumat (19/2) memunculkan kembali isu-isu itu, karena anak dan mantu Jokowi termasuk yang dilantik. Gibran Rakabuming, anak mbarep, resmi menjadi walikota Solo, dan Bobby Nasution menjadi walikota Medan.
Sorotan lama muncul lagi bahwa Jokowi membangun dinasti politik dan sengaja menyiapkan Gibran untuk menjadi pewaris politiknya. Rumor dan gosip politik sudah menyebar bahwa Gibran akan dipersiapkan untuk menjadi gubernur DKI pada pilgub 2024. Malah lebih liar lagi, ada yang mengatakan Gibran akan nyapres pada 2024 untuk menggantikan bapaknya.
Terlepas dari masuk akal atau tidak, realistis atau tidak, tapi itulah rumor dan gosip politik, apa saja bisa terjadi, tidak ada yang mustahil dalam politik, karena politik adalah “the art of possible”, tidak ada yang mustahil dalam politik, semua serba-mungkin dalam politik.
Kata para pundit politik itu lokal. Politik nasional diwarnai dan malah dipengaruhi oleh poltik lokal. Jokowi adalah produk politik lokal. Nama-nama capres yang bermunculan dalam bursa sekarang ini adalah hasil politik lokal, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Khofifah, dan Risma.
Fenomena politik lokal menjadi cermin politik nasional dan, sebaliknya, politik nasional menjadi cermin politik lokal. Fenomena dinasti politik muncul secara nasional, tapi juga banyak tumbuh subur di level lokal. Semua sudah pada tahu bagaimana dinasti politik menguasai Banten mulai dari level provinsi sampai ke kabupaten kecil. Anak, bapak, ibu, keponakan, adik ipar, istri, klan Chasan Sochib menjadi penguasa wilayah Banten. Chasan Sochib adalah godfather yang melahirkan Ratut Atut Chosiyah yang kemudian menyebar ke semua lini turun temurun. Setelah Atut ditangkap KPK pada 2017 jalur dinastinya tidak putus dan sekarang dilanjut oleh anak lak-lakinya Andika Hazrumy yang sekarang menjadi wakil gubernur.
Basis dinasti politik ala Banten adalah kekuatan para jawara lokal yang menjadi tokoh yang disegani masyarakat dan menjadi pemimpin informal dengan pengaruh yang luas. Chasan Sochib ayah Ratu Atut adalah pejuang, pengusaha, dan jawara yang disegani. Setelah reformasi 1998, para pemimpin informal ini memanfaatkan pengaruh dan jaringannya menjadi pemimpin formal mulai dari gubernur sampai walikota-bupati.
Klan politik berbasis kekuatan tokoh lokal dan kekuatan ekononi lokal semacam ini juga banyak terjadi di luar Jawa seperti klan Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur klan politik dibangun dari basis para kiai di pesantren. Di Jawa Tengah KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen menjadi sumber legitimasi politik, lokal, regional, dan nasional. Klan Mbah Moen juga menguasai politik lokal dengan munculnya Taj Yasin Maimoen sebagai wakil gubernur 2019-2024 mendampingi Ganjar Pranowo.
Mungkin tidak sehebat Mbah Moen dan belum sekaliber Mbah Moen di panggung nasional, tapi di Jawa Timur klan Gus Ali sudah lahir dan lebih besar dari klan Mbah Moen. Gus Ali punya basis PKB dan Mbah Moen di PPP.
Dengan meninggalnya Mbah Maimoen makin sedikit kiai politisi yang dimiliki NU. Gus Ali punya semua potensi untuk mengisi vakum itu. Kecanggihan politik Gus Ali sudah terbukti. Gus Ali layak jadi Imam Besar politik NU. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi