Jumat, 17 April 2026, pukul : 12:41 WIB
Surabaya
--°C

Politik Malin Kundang dan Salim ala Moeldoko

KEMPALAN: Moeldoko ‘’salim’’, cium tangan SBY. Foto-foto yang viral di medsos menunjukkan betapa hormat dan takzim Moeldoko kepada SBY. Jika ‘’a picture speaks a thousand words’’, sebuah gambar berbicara seribu kata, maka foto-foto itu berbicara dan mengungkap, bukan hanya ribuan, tapi jutaan kata.

Para komentator dan pundit politik bisa berbicara sejuta kata menceritakan hubungan spesial Moeldoko dengan SBY, yang semasa menjadi presiden keenam RI menjadikan Moeldoko sebagi salah satu protégé, anak buah kesayangan. SBY mendongkrak karir Moeldoko sampai mentok jadi jenderal, lalu menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAD), dan lanjut menjadi panglima, orang nomor satu, di TNI.

Para ahli ilmu sosial bisa ‘’ngeramesi’’ adegan salim itu dari sudut semiotika, antara penanda (signifier) dan petanda (signified), dan mengungkap berbagai dimensi hubungan spesial dua tokoh itu, sebagai anak buah kepada bapak buah, sebagai anak kepada orang tua. Para ahli budaya bisa mengungkap betapa luhur budaya bangsa Indonesia yang penuh unggah-ungguh, tatakrama, dan hormat dari yang muda kepada yang tua.

Bahkan, para ustad dalam ceramah-ceramahnya boleh bangga bahwa Pak Moeldoko sudah menunjukkan bahwa salim adalah budaya lokal yang mendapat inspirasi dari Islam, yang mengajarkan ‘’birr al walidain’’ bakti kepad aorang tua, salah satunya dengan melakukan salim bersalaman dan mencium tangan setiap kali bersua dan berpisah.

Para ustad boleh bangga dan menunjukkan bukti bahwa tuduhan Abu Janda keliru ketika menyebut Islam arogan dan gampang mengharamkan budaya lokal, seperti larung laut, sedekah bumi, nyadran, dan dandanan tradisional seperti konde dan kebaya. Para ustad punya bukti kongkret bahwa Islam kompatibel dengan budaya lokal. Salim cium tangan ala Moeldoko itu contohnya.

Islam datang dari negara Arab yang punya tradisi beda dengan Indonesia. Di Arab sendiri banyak tradisi yang bersesuaian dengan Islam dan banyak yang tidak sesuai. Membunuh anak perempuan yang baru lahir manjadi tradisi Arab pra-Islam. Setelah Islam datang tradisi itu dihapus karena bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam yang menghargai kehidupan dan kesejajaran antara laki-laki dan perempuan.

Indonesia menjadi salah satu pusat peradaban dunia sejak ribuan tahun. Berbagai macam budaya tumbuh subur karena interaksi dengan berbagai kebudayaan besar dunia, termasuk budaya Hindu dan Budha. Terjadi benturan budaya, terjadi juga akulturasi budaya yang menyerap pengaruh-pengaruh dari luar dan memunculkan budaya baru yang khas. Belakangan ketika Islam masuk, dialog budaya itu pun terjadi. Apa yang sesuai dengan tauhid, nilai pokok Islam, dipertahankan, dan yang tidak bersesuaian dengan tauhid kemudian dihilangkan.

Dialog budaya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di seluruh penjuru dunia yang dimasuki Islam. Dialog budaya itu menghasilkan kompromi dengan lahirnya budaya baru. Tapi sering juga terjadi konflik dengan budaya lokal yang melahirkan perselisihan yang berkepanjangan dan bahkan memunculkan peperangan yang saling menghancurkan.

Mistisisme yang menjadi budaya lama di Indonesia jauh sebelum Islam masuk, juga menjadi praktik yang luas di berbagai negara di dunia. Ketika Islam masuk terjadilah dialog budaya. Ada yang akomodatif, ada pula yang konfrontatif. Masing-masing punya alasannya sendiri-sendiri. Menyebut Islam sebagai agama arogan adalah tindakan sembrono yang mengabaikan sejarah.

Budaya nasional Indonesia adalah paduan antara budaya lokal dan Islam yang kemudian menjadi praktik sehari-hari. Salim ala Moeldoko adalah contoh kecil yang nyata pengaruh Islam terhadap budaya lokal yang kemudian menjadi praktik budaya nasional.

Praktik salim ala Moeldoko juga bisa dipakai oleh para guru di sekolah juga bisa mengingatkan anak didiknya mengenai legenda Malin Kundang yang menceritakan anak yang durhaka kepad orang tua, tidak mengakui dan malah berlagak tidak mengenalnya, melupakan jasa-jasa orangtuanya, dan akhirnya terkutuk menjadi batu yang teronggok di pantai.

Para guru bisa mengakhiri kisah dengan pesan moral bahwa Malin Kundang tidak boleh ditiru dan dipraktikkan, baik dalam pergaulan sosial maupun kehidupan politik. para guru bisa menyampaikan kepada murid-muridnya bahwa politik Malin Kundang mungkin bisa membuat seseorang menjadi hebat dan kaya raya, tapi pada akhirnya cuma menjadi seonggok batu.

Para pecinta musik senior tentu masih ingat bait lagu ‘’Dunia Panggung Sandiwara’’ yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Ahmad Albar dan menjadi hit besar pada 1980-an dan masih sering dinyanyikan sampai sekarang. Dunia, kata Albar, adalah panggung sandiwara yang ceritanya mudah berubah.

Ada yang memainkan peran wajar, ada yang berpura-pura. Masing-masing punya satu peran yang harus dimainkan pada episode itu. Pada satu episode berperan sebagai anak buah yang patuh pada pimpinan, pada lakon yang lain ia didapuk memainkan penguasa yang powerful, sok kuasa, dan suka mengobrak-abrik lawan dengan taktik curang dan manipulatif.

Ahmad Albar tidak mengutip teori dramaturgi Erving Goffman, mungkin dia tidak menyadari telah mengutip teori masyhur itu. Dunia, kata Goffman, adalah panggung sandiwara, persis seperti yang digambarkan Ahmad Albar. Semua orang memainkan perannya masing-masing. Ada panggung besar di depan (front stage) dan ada panggung kecil di belakang (back stage).

Di panggung depan yang luas dan gemerlap orang memainkan peran sebagaimana yang ditulis dalam skenario. Ia menjadi aktor panggung, ia bukan dirinya sendiri. Di panggung belakang yang kecil dan sempit itulah manusia memainkan peran diri sendiri yang sesungguhnya. Di situ akan terlihat apakah dia manusia jujur atau manusia culas. Apa yang ditampilkannya di panggung besar beda 180 derajat dengan di panggung belakang. Di depan seolah-olah takzim mencium tangan, di belakang menyimpan rencana yang beda.

Politik sering disebut sebagai kotor, dan karenanya kemudian berbagai cara dibolehkan untuk mencapai tujuan, the end justifies the means, tujuan menghalalkan cara. Ini politik pragmatis yang ditiru dari Sang Pangeran, Machiavelli. Ini politik gaya Barat yang tidak kompatibel dengan budaya lokal, dan seharusnya budaya itu ditolak. Budaya santun, saling menghormati, dan takzim kepada senior, adalah budaya politik lokal yang lebih pantas ketimbang machiavellisme yang abai terhadap etika dan moral.

Para bapak bangsa sudah memberi contoh betapa perbedaan politik yang tajam tidak harus membawa perpecahan pada pergaulan pribadi. Bung Karno beda pendapat dengan M. Natsir, membubarkan Partai Masyumi dan mengirim Natsir ke penjara. Tapi di level personal kedua tokoh itu saling menghormati dan tidak mendendam satu dengan lainnya.

Bung Karno dengan Bung Hatta disebut sebagai Dwi Tunggal yang kemudia menjadi ‘’Dwi Tanggal’’ karena beda pendapat politik. Dua proklamator itu berpisah jalan politik tapi tidak pisah sebagai pribadi. Ketika Bung Karno menghadapi saat-saat terakhir menjelang ajal, Bung Hatta menemui sahabatnya itu, memeluknya, dan bertangis-tangisan.

Fatsoen politik kita seperti lupa akan hal itu. Para elite yang bersaing malah menjadikan persaingan itu sebagai persaingan pribadi. Kekalahan politik dianggap sebagai kekalahan pribadi yang akhirnya menjadi seperti dendam pribadi. Politik Malin Kundang membuat seseorang lupa akan jasa orang lain. Politik Malin Kundang membuat orang menjadi buta karena mata tertutup ambisi. Tujuan menghalalkan cara, termasuk mengambil jalan menelikung dari belakang.

Megawati Soekarnoputri presiden kelima. Susilo Bambang Yudhoyono presiden keenam. Persaingan politik berubah menjadi persaingan personal. Kekalahan politik menjadi kekalahan prinbadi yang berkepanjangan sampai sekarang. Di lingkungan anak-anak di Jawa ada kebiasaan ‘’jotakan’’ saling tidak menyapa antar-teman karena perselisihan.

Dua anak itu kemudian sepakat untuk jotakan. Ritual jotakan dilakukan dengan saling menyentuhkan ujung jari kecil sebagai tanda formal jotakan dimulai. Jotakan bukan putus pertemanan. Jotakan adalah sejenis ‘’truce’’ dalam diplomasi internasional ketika dua pihak yang bersengketa berhenti sementara dari permusuhan.

Jotakan hanya berlangsung temporal, tidak dalam waktu yang lama. Paling hanya beberapa hari, malah ada yang cuma hitungan jam sudah berbaikan lagi. Bahkan anak-anak kecil yang bersaing pun punya fatsoen yang saling dipegang teguh. Jotakan anak-anak hanya berlangsung dalam hitungan jam dan hari, tapi ‘’jotakan politik’’ ala elite politik Indonesia bisa berlangsung sampai sepuluh tahun lebih, dan mungkin seumur hidup.

Jotakan politik Mega-SBY seperti tidak pernah bisa ada rekonsiliasi. Mega, mungkin, menganggap SBY seperti Malin Kundang yang tidak bisa dimaafkan. Dan sekarang ada Moeldoko yang kurang lebih sama dengan SBY yang dianggap pernah melakukan politik Malin Kundang. Drama di panggung sandiwara masih cukup panjang untuk sampai pada endingnya, apakah SBY akan memaafkan Moeldoko atau mengutuknya menjadi batu. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.