Imlek Gak Nggoreng Kopi
KEMPALAN: Orang Surabaya punya ungkapan “Riyaya gak nggoreng kopi, ngadep meja gak ono jajane”, Hari raya tidak menggoreng kopi, menghadap meja tidak ada hidangan”. Ungkapan itu dipopulerkan oleh Cak Kartolo dalam parikan ludrukan dan menjadi ungkapan khas yang cukup dikenal masyarakat Surabaya.
Ungkapan itu untuk mengekspresikan suasana prihatin pada saat “riyaya” hari raya yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi umat muslim. Hari raya di tengah keprihatinan karena berbagai kesulitan misalnya kesulitan ekonomi atau karena kondisi bencana alam dan sejenisnya, atau juga karena kesulitan pribadi. Karena itu kemudian pada momen lebaran tidak bisa menikmati kopi dan tidak ada kudapan kue yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi lebaran.
Tahun ini masyarakat komunitas China merayakan Hari Raya Imlek yang menandai pergantian tahun baru dalam suana “gak nggoreng kopi” dan mungkin juga “ngadep meja gak ono jajane” tidak ada kue di atas meja, tidak ada kue keranjang dan kue-kue khas yang biasanya disajikan saat Imlek. Malah biasanya Imlek selalu diidentikkan dengan hujan lebat yang menurut kepercayaan Feng Shui diyakini membawa rezeki, karena Dewi Kwan Im dipercaya turun membawa kembang Meihua yang menjadi perlambang rezeki dan kemakmuran. Tahun ini hujan Imlek tidak turun, tapi malah banjir bandang di mana-mana disertai longsoran lava akibat letusan beberapa gunung.
Alih-alih hujan angpao yang terjadi adalah hujan bencana dan hujan Corona yang jumlah kasus di Indonesia diperkirakan akan tembus dua juta dan Indonesia akan masuk dalam empat besar terparah di dunia bersama Amerika, Brazil, dan China.
Di negeri China pandemi Covid 19 yang muncul setahun yang lalu sudah bisa dikendalikan. Meski begitu pemerintah China sekarang tetap cemas karena perayaan Imlek dikhawatirkan akan menjadi klaster penularan baru, karena pergerakan manusia selama libur panjang seminggu penuh bisa ratusan juta orang. Imlek kali ini diawasi ketat, tidak ada pesta-pesta, tidak ngopi-ngopi, tidak ada piknik, dan tidak ada bagi-bagi angpao, suasana benar-benar imlek “gak nggoreng kopi”.
Aturan dan sanksi ketat dan keras khas otoritarianisme China ini terbukti menjadi jurus yang manjur untuk menyelesaikan pagebluk Covid 19 ini. Seperti bunyi syair lagu dangdut, “kau yang memulai, kau yang mengakhiri”, China yang memulai pandemi dan China yang bisa mengakhiri. Ketika kasus pertama bermunculan di Wuhan dan korban mulai berjatuhan, pemerintah China langsung menerapkan lockdown super keras.
Wilayah Wuhan dengan penduduk 11 juta manusia ditutup total menjadi penjara atau kamp tahanan terbesar di era milineal. Semua orang tidak boleh keluar rumah dan menjadi tahanan di rumah sendiri. Semua kebutuhan hidup makan dan minum disuplai oleh negara. Siapa berani melanggar peraturan langsung ditangkap dan dipenjara, dan malah langsung didor.
Kamp konsentrasi besar di Wuhan lebih mengerikan dibanding kamp konsentrasi yang pernah terjadi selama era modern termasuk kamp konsentrasi ala Nazi. Kematian yang terjadi di kamp Nazi disebabkan oleh ulah kekejaman manusia yang dikontrol sendiri oleh manusia penguasa rezim. Korban kematian di kamp konsentrasi Wuhan tidak bisa dikendalikan oleh manusia karena disebabkan oleh virus dan potensi korbannya bisa menghilangkan nyawa ratusan juta orang.
Penanganan dengan gaya kamp konsentrasi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh rezim China. Di masa Hitler manusia penghuni kamp konsentrasi menjadi korban eksperimen mengerikan berbagai obat kimia yang mematikan. Di kamp konsentrasi Wuhan jutaan manusia menjadi objek eksperimen paksa vaksinasi dengan vaksin berbahaya yang tidak dikelola sesuai standar vaksinasi dunia. Jika gagal risikonya bisa sangat mengerikan karena bisa menyenbabkan kematian jutaan orang.
Eksperimen dan perjudian besar China berhasil dan wabah pandemi bisa diselesikan dengan mangkus. Ketika seluruh dunia sampai sekarang masih dicekam kengerian, China sudah bisa tertawa-tawa meskipun tetap waspada.
Ekspor China menyerbu seluruh dunia, termasuk ekspor Corona. Sama dengan produk lain dari China yang dicurigai dan dibenci di banyak belahan dunia ekspor Corona ini juga dianggap sebagai ekspor made in China yang sengaja diciptakan di laboratorium rahasia di Wuhan untuk menjadi senjata kimia rahasia.
Tuduhan ini santer dilontarkan oleh musuh-musuh China terutama Amerika, Eropa, dan Australia. Selama ini mereka sudah megap-megap kena serbuan produk-produk China. Sekarang mereka malah jadi makin sulit bernapas karena serbuan Corona dari China.
Tuduhan itu tidak bisa dibuktikan secara objektif ilmiah dan hanya sekadar menjadi tuduhan berdasarkan teori konspirasi. Tetapi toh tudingan ke arah China tidak pernah kendor.
Bukan orang China kalau tidak bisa dapat untung dari kondisi kesulitan dan kesusahan. Di tengah penjarahan dan kerusuhan rasial di Amerika, orang-orang China menunggu di pojok jalan untuk menadahi barang jarahan. Di tengah darurat pandemi China menangguk untung dengan mengekspor vaksin dan memakai ilmu tukang tadah dengan membeli produk-produk impor dengan harga murah. Hasilnya, China sudah mulai bisa membenahi ekonominya yang pelan-pelan sudah memulai recovery, dan Amerika-Eropa ekonominya masih megap-megap.
Ancaman pandemi di Amerika, Eropa, dan banyak negara di dunia masih membuat ngeri. Diakui atau tidak, cara China merupakan cara paling jos untuk menyelesaikan krisis pandemi. Lockdown total ala kamp konsentrasi raksasa lalu kemudian vaksinasi masal dan paksa. Tidak sampai setahun semua beres.
Penanganan pandemi di negara-negara “so called” demokrasi maju ala Amerika-Eropa dan negara-negara ”so called” demokrasi tanggung ala Indonesia terbukti tidak mangkus dan sangkil. Kebijakan megalomania ala Trump di Amerika dan gaya Boris Johnson di Inggris terbukti gatot alias gagal total. Apalagi gaya kebijakan Indonesia yang ala poco-poco, maju-mundur geser kiri kanan, dan masih bingung antara pilih pendekatan ekonomi atau pendekatan kesehatan. Karena kebijakan undur-undur yang maju mundur akhirnya dua-duanya tidak didapat, ekonomi kena resesi dan angka penularan naik terus menembus dua juta.
Otoritarianisme dan komunisme China bukan pilihan bagi para pejuang demokrasi. Tapi dalam hal penanganan pandemi mau tidak mau siapapun harus mengakui kehebatan China. Karena itu semua harus siap menerima kepemimpinan Global China sebagai super power tunggal atau super power pasangan ganda bersama Amerika-Eropa.
Pengaruh politik, ekonomi, daj budaya China tak terbendung ke seluruh dunia, termasuk budaya Imlek.
Si Mukidi pun ikut-ikutan Imlek. Dia kirim wa ke Ibro mengundang imlekan di rumahnya. Ibro jadi heran, “Kok lu imlekan, memang siapa yang China, bokap atau nyokap lu,” tanya Ibro.
Mukidi menjawab santuy, “Hape gue yang China..”
Gong Xi Fatchoi!









