Dhimam Abror Djuraid
Mengapa ada negara yang maju dan mengapa ada negara yang miskin. Pertanyaan itu sudah lama menjadi kajian para ahli dan memunculkan puluhan atau mungkin ratusan buku ilmiah.
Pertanyaan itu juga melahirkan jawaban-jawaban lain, misalnya ada yang menjawab semua itu sudah menjadi takdir. Kalau sudah berhubungan dengan iman dan takdir perdebatan akan berhenti. Tetapi, jawaban itu tentu tidak memuaskan semua orang.
Indonesia dikarunia segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi negara maju. Lokasi geografis yang sangat strategis pada garis Katulistiwa membuat iklim Indonesia nyaman sepanjang tahun. Ketika musim panas tidak sepanas wilayah Selatan Katulistiwa seperti Afrika, dan ketika musim dingin tidak sampai menggigil kedinginan puluhan derajat di bawah nol seperti wilayah-wilayah di utara Katulistiwa.
Bumi dan alam Indonesia menyediakan apa saja bagi manusia untuk bisa hidup tanpa harus terlalu bersusah payah. Tanah di Indonesia bisa menghasilkan tumbuhan, buah-buahan, dan biji-bijian yang bisa menjadi makanan sepanjang tahun.
Tidak pernah ada musim panas yang sampai berkepanjangan sehingga menyebabkan kelaparan. Tidak pernah ada musim hujan yang berkepanjangan yang membuat bencana yang mengerikan. Semua jenis sumber daya alam ada di perut bumi Indonesia. Semua persyaratan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara makmur dan sejahtera sudah tersedia.
Para kakek moyang kota sudah memimpikan sebuah negara “gemah ripah loh jinawi, tata-tenterem kertaraharja”. Semua yang ada di atas tanah Indonesia menjadikan rakyatnya “gemah ripah” tercukupi semua kebutuhan hidupnya, dan loh jinawi, karena semua kebutuhan itu sudah disediakan oleh alam Indonesia.
Tetapi, syarat untuk bisa gemah ripah adalah adanya manajemen pemerintahan yang bisa membuat tatanan negara yang tertata dan membuat aman masyarakat, “tata tenterem”. Kemudian dari pemerintahan yang kompeten yang bisa membawa ketertataan dan ketenteraman itu akan melahirkan masyarakat yang makmur dan bahagia, kerta raharja.
Filosofi bernegara itu sudah diperkenalkan di Indonesia oleh para pujangga besar Indonesia berabad-abad yang lalu, jauh sebelum para peneliti Eropa modern melahirkan teori-teori sosial, ekonomi, dan politik yang kemudian mendominasi dunia.
Keberlimpahan sumber daya manusia Indonesia alih-alih menjadi berkah malah menjadi bencana. Manusia Indonesia menjadi komplasen, merasa tercukupi, dan akhirnya kurang bersemangat dalam menghadapi alam, dan ujung-ujungnya dianggap sebagai pemalas.
Maka tidak heran kemudian muncul anggapan pribumi Indonesia malas karena terlalu dimanjakan alam. Ibarat kata pelawak Dono dan Kasino cs, manusia Indonesia cukup dikasih sambal lalu dilepas di kebun sudah bisa hidup.
Satu pohon sagu sudah cukup untuk hidup sebulan bersama keluarga. Satu kali pergi ke laut kebutuhan ikan bisa dipenuhi untuk beberapa hari sampai seminggu. Alam menyediakan apa saja untuk hidup. Tidak ada tantangan yang harus dihadapi untuk survive. Itulah yang membuat pribumi malas dan kalah bersaing.
Kalau kondisi ini dibiarkan pastilah bangsa ini tergilas oleh persaingan dengan bangsa-bangsa lain yang mempunyai daya saing tinggi karena ditempa oleh alam. Karena itu harus ada rekayasa sosial untuk mengubah kondisi ini secara revolusioner.
Mahathir Mohamad, pemimpin Malaysia menyadari hal ini. Dia tahu bangsa Melayu bumiputra menghadapi dilema itu, punya keberlimpahan sumber daya alam tetapi tidak punya semangat untuk mengelolanya. Karena itu harus ada terobosan besar untuk mengatasinya.
Mahathir menuangkan gagasannya yang tajam dan kontroversial dalam buku “The Malay Dilemma” (1970). Buku itu sudah berusia setengah abad lebih dan sekarang penulisnya sudah berumur 95 tahun, tapi relevansinya masih tetap terasa dan malah makin kuat memperoleh momentum di era global ini.
Akan halnya soal pribumi malas, sosiolog dan politikus Malaysia Syed Hussein Alatas sudah membantah dengan telak dalam buku “Mitos Pribumi Malas” (1977).
Tokoh Malaysia kelahiran Bogor, Jawa Barat, itu berargumen, apa yang dianggap penguasa kolonial sebagai tabiat pemalas dari masyarakat pribumi justru merupakan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
Syed Hussein menemukan, dokumen Belanda sejak abad ke-17 hingga ke-18 amat sedikit menyinggung kemalasan pribumi. Baru setelah diterapkannya sistem Tanam Paksa, mulai muncul tuduhan dari kolonial betapa pemalasnya masyarakat pribumi, utamanya Jawa.
Sistem tersebut memungkinkan Belanda mengatur langsung tenaga kerja Jawa. Mereka dipaksa menanam berbagai jenis tanaman yang bernilai ekspor tinggi dengan target-target yang sangat membebani.
Perlawanan dalam bentuk mengangkat senjata dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825 sampai 1830. Meski relatif singkat tapi perang itu bisa membangkrutkan Belanda dan nyaris mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia. Hanya dengan tipu muslihat yang licik dan tidak berkeadaban saja Belanda kemudian bisa menangkap Sang Pangeran dan memenjarakannya sampai meningal.
Sebelum ada perlawanan bersenjata rakyat sudah melakukan perlawanan sipil dengan melakukan pembangkangan, civil disobedience, dengan cara bekerja santai sehingga target tidak tercapai. Dari situ kemudian penjajah kolonial menyimpulkan pribumi malas.
Mahathir berusaha membuktikan kebenaran tesis Sjed Hussein bahwa pribumi malas adalah mitos. Ketika berkuasa menjadi perdana menteri Malaysia pada 1981 Mahathir langsung gaspol membenahi mental dan moral kalangan bumiputera. Ia memperkenalkan banyak kebijakan “affirmative action” untuk mendongkrak daya saing pribumi bumiputera.
Mahathir memberi akses kredit murah kepada bumiputera, memberi dana bantuan pendidikan, tunjangan sosial, dan banyak kebijakan populis untuk meningkatkan daya saing bumiputera vis a vis warga keturunan China, India, dan Eropa.
Kebijakan Mahathir dianggap terlalu memanjakan bumiputera Melayu dan karenanya dianggap diskriminatif. Mahathir bergeming dan keukeuh dengan kebijakannya. Ia menyerang balik para pengritiknya dengan menyebut mereka sebagai antek-antek Barat.
Dokter M, begitu sebutan Mahathir, memang dikenal punya lidah yang tajam dan berani berdebat dengan siapa pun. Selama dua dasawarsa memimpin Malaysia ia dituduh otoriter dan malah sering disebut sebagai despot. Terhadap Inggris yang nota bene adalah tuan Malaysia dalam persekutuan negara-negara persemakmuran, Mahathir tak pernah segan menyerang. Bahkan terhadap lembaga moneter internasional, IMF, Mahathir berani berkata “Go to Hell With Your Aids”, pergilah ke neraka dengan bantuanmu.
Sound familiar? Kayak pernah dengar? Betul. Bung Karno presiden pertama Republik Indonesia sudah terlebih dahulu melakukannya. Bung Karno pada masa-masa awal kemerdekaan sudah mencanangkan politik Berdikari, berdiri di kaki sendiri, tanpa harus bergantung pada bantuan asing yang mencekik.
Mahathir-lah yang mewarisi dan menghayati spirit Soekarno sampai sekarang. Karena itu Dr M memperoleh “nickname” julukan sebagai “The Little Soekarno” Soekarno Kecil. Karena kebijakannya yang nasionalistis dan mengutamakan kepentingan bumiputera Malaysia sekarang menjadi negara yang punya marwah vis a vis kekuatan komprador global.
Di Indonesia kita punya keturunan biologis Bung Karno. Tak terhitung pula berapa banyak yang mengaku sebagai pewaris ideologi Soekarno. Tapi alih-alih Indonesia Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, yang terjadi sekarang adalah Berdikari, “berdiri di atas kaki kiri” tidak mampu jejak dan selalu sempoyongan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi