KEMPALAN: Penggemar bola voli Indonesia pasti mengenal Aprilia Manganang. Selama hampir sepuluh tahun terakhir ia menjadi salah satu atlet bola voli terbaik di Indonesia. Perawakannya yang jangkung, dada lebar, dan lengan yang kekar menjadi ciri khasnya.
Rambutnya pendek dan suka dikucir ke atas atau ke belakang. Ada bayangan kumis tipis di bawah hidungnya. Sebagai spiker ia selalu ditakuti lawan. Loncatannya tinggi dan pukulannya keras menghunjam. Di tengah-tengah kepungan pemain-pemain perempuan yang tinggi, langsing, dan gemulai sosok Aprilia terlihat berbeda dari lainnya.

Olahraga bola voli putri terkenal dengan banyaknya atlet-atlet yang cantik dan berpenampilan menarik yang lebih mirip peragawati daripada atlet. Salah satu atlet voli wanita paling populer di dunia adalah Sabina Altunbekova asal Kazakstan yang tidak beda jauh dengan tampilan supermodel dunia.
Tapi produk-produk lokal juga tidak kalah moncer. Silakan cek di Instagram dan saksikan keelokan mereka. Nama-nama seperti Tri Retno Mutiara, Nandita Ayu Salsabila, Yola Yuliana, Wahida Muntaza Arifin, Yolana Beta Pangestika, Henny Budiarti, Berllian Marsheilla, atau Megawati Hangestri yang berhijab.

Selain itu banyak bidadari bola voli produk asing yang bermain di Indonesia. Odina Aliyeva dari Kazakhstan, Anna Spaniuk dari Ukraina, Nikoleta Perovic dari Montenegro, dan Dayse Cristian de Olive Figueiredo dari Brazil. Masih banyak bintang-bintang lain dari Eropa dan Amerika. Alhasil panggung kompetisi Proliga laksana panggung pameran para atlet bidadari yang membuat para suporter laki-laki berlama-lama menonton mereka.
Di tengah deretan para dewi itu kehadiran Aprilia Manganang terlihat aneh. Di tengah para atlet lembut gemulai Aprilia terlihat sangat maskulin. Ia sangat ditakuti bukan hanya di Indonesia tapi juga di level Asia Tenggara. Dalam beberapa perhelatan SEA Games Aprilia mampu memawa timnas memenangkan medali emas.

Para penggemar dan pemerhati bola voli nasional pasti sudah lama mencurigai penampilan Aprilia, demikian juga otoritas di federasi PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia) yang menaungi semua kompetisi bola voli nasional. Pembuktian hormon sederhana pasti bisa mengungkap jenis kelamin seorang atlet yang dicurigai.
Dalam beberapa perhelatan olahraga multiajang di level yang lebih rendah di provinsi kasus seperti ini bisa diselesaikan dalam tempo singkat dengan melalui tes hormon. Tapi, itulah realitas olahraga Indonesia. Sportivitas dan kejujuran harusnya menjadi nilai utama. Tapi, dalam praktiknya banyak kecurangan yang dibiarkan merajalela merusak spirit olahraga. Pencurian umur untuk atlet-atlet muda adalah hal yang sudah dianggap biasa dan mungkin malah dianggap hal kecil yang lumrah. Praktik suap dan korupsi pun mungkin dianggap sebagai hal yang lumrah.

Aprilia Manganang menjadi salah satu korban dari sebuah sistem olahraga yang tidak jujur. Selama bertahun-tahun ia bermain dramaturgi dan harus menjalani hidup dengan personalitas yang terbelah, split personality. Ia tidak menjadi dirinya sendiri. Ia menjalani peran sesuai arahan sang sutradara.
Drama itu akhirnya usai sudah. Setelah mundur dari dunia kompetisi resmi Aprilia bergabung dengan Angkatan Darat melalui jalur prestasi. Ia menjadi sersan dan bergabung dalam kesatuan Kowad, Korps Wanita Angkatan Darat. Sampai akhirnya kasusnya mencuat dan dibuka kepada umum oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa. Sang jenderal mengumumkan bahwa Aprilia Manganang mengalami hipospadia, sebuah gejala klinis yang menyebabkan kelamin kelelakiannya lengket sewaktu lahir sehingga terlihat sebagai perempuan.
Aprilia butuh waktu 28 tahun sebelum akhirnya mendapatkan pengakuan publik atas identitasnya yang asli. Ini tentu bukan proses yang sederhana. Ia pasti melewati pergulatan psikologis yang amat dahsyat. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri akan keputusan besarnya itu. Ia harus meyakinkan keluarga dan lingkungannya akan transformasi besar itu. Bukan pekerjaan mudah, hanya orang-orang yang bermental kuat yang bisa melakukannya.
Di kalangan aktivis gay dan lesbian ada istilah “coming out” untuk menyebut mereka yang akhirnya berani membuat pengakuan kepada keluarga maupun publik mengenai orientasi seksual mereka. Sudah sangat banyak cerita bagaimana para orangtua harus menghadapi peristiwa semacam ini. Mantan Wapres Amerika Serikat Dick Cheney menjadi berita heboh ketika anak perempuannya Mary Cheney menyatakan coming out dan mengakui bahwa dirinya lesbian pada 2006. Bukan hanya itu, Mary Cheney juga mengumunkan rencana perkawinannya dengan pacar perempuannya Heather Poe. Perkawinan sesama jenis ini akhirnya terlaksana, malah Mary Cheney mengandung dan akhirnya melahirkan seorang anak pada 2007. Tidak diungkapkan bagaimana proses kehamilan Cheney, tetapi yang jelas Cheney mengandung dan menjalani proses persalinan sebagaimana ibu normal lainnya.
Bagi Dick Cheney yang menjadi wakil presiden di bawah Presiden George W Bush peristiwa ini benar-benar aib yang menampar muka. Sebagai tokoh Partai Republik yang konservatif ia selalu mengampanyekan pentingnya nilai-nilai keluarga normal seperti yang dituntunkan oleh agama. Lesbianisme sebagai bagian dari LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) menjadi musuh nomor wahid bagi Partai Republik. Tapi ternyata Dick Cheney tidak bisa mendidik anaknya senrdiri untuk menjadi penganut republikanisme yang baik. Dalam standar fanatisme Republikan yang fanatik kasus ini mungkin sama saja dengan anak yang murtad. Tapi itulah politik, penuh dengan ironi. Apa yang diucapkan tidak sama dengan kenyataan, dan hal itu dianggap lumrah dalam politik.
Hal itu tidak hanya terjadi di Amerika, di seluruh dunia kasus-kasus semacam itu terjadi. Di Indonesia seorang wartawan senior yang menasbihkan dirinya sebagai nabinya para liberal Indonesia mengalami nasib yang sama ketika anak perempuannya membawa pacar perempuan ke rumah dan memperkenalkannya kepada keluarga. Sebagai orang liberal wartawan tua itu harus menerima anak perempuannya coming out menjadi lesbian terbuka dan hidup bersama dengan sesama jenis sebagai aktivis LGBT.
Seorang intelektual liberal Indonesia yang getol mengampanyekan pluralisme agama, kesamaan agama-agama samawi, harus menerima kenyataan ketika anak perempuanya menikah dengan laki-laki Yahudi. Apa yang dikhotbahkan harus dijalani. Sepahit apa pun itulah “pray what you preach” jalani apa yang kamu khotbahkan.
Aprilia Manganang bukan LGBT, bukan transgender seperti Dorce Gamalama. Aprilia menderita kelainan hipospadia yang membuatnya menjadi perempuan palsu. Para politisi yang palsu itu sama saja menderita hipospadia politik. Ia menyembunyikan identitas yang sesungguhnya untuk kepentingan politik praktis.
Bagi politisi pragmatis yang machevialis semua jalan menjadi halal untuk mencapai tujuan. Itulah prinsip yang diajarkan oleh Machiavelli, tujuan menghalalkan cara. Kalau seorang politisi berpura-pura baik dan dermawan padahal aslinya jahat dan pelit, dia menderita hipospadia politik. Seorang pemuka agama yang punya pengikut jutaan dan selalu mengkhotbahkan nilai-nilai luhur tapi dia tidak mempraktikkannya, maka si pemuka agama mengalami kelainan hipospadia iman. Seorang jenderal harusnya bersikap perwira, jujur, dan berani. Tapi jenderal itu culas dan merampas hak orang lain, maka si jenderal mengalami hipospadia akut.
Publik Indonesia berterima kasih kepada Aprilia Manganang dan Jenderal Andika Perkasa yang memperkenalkan fenomena hipaspodia. Tentu Jenderal Andika Perkasa bukan tipe jenderal hipospadia yang culas dan suka mencuri hak orang lain secara tidak sah. Jenderal Andika Perkasa sesuai dengan namanya adalah manudia andika, terhormat, dan perkasa, gagah berotot dan berperut six pack. Jenderal Andika adalah menantu Hendropriyono, salah saru jenderal triumvirat penasihat Presiden Jokowi. Dalam waktu tidak lama lagi Jenderal Andika akan menjadi pemimpin TNI setelah Marsekal Hadi Tjahjanto lengser.
Kasus hipospadia yang dialami Aprilia Manganang menjadi viral setelah diumumkan kepada publik. Aprilia menjadi ngetop dan Jenderal Andika juga makin ngetop. Dan yang lebih penting lagi publik mendapat pengayaan wacana mengenai fenomena hipospadia. Publik akhirnya tahu bahwa banyak politisi plin-plan yang menderita hipospadia etika, banyak pemuka agama hipokrit yang menderita hipospadia akhlak, dan yang paling baru, ada jenderal yang menderita hipospadia moral karena merebut hak sah orang lain tanpa malu. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi