Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 00:15 WIB
Surabaya
--°C

Ipuk Fiestiandani: Tantangan Pendatang Baru

KEMPALAN: AMAR putusan Mahkamah Konstitusi No. 87/PHP.BUP-XIX/2021 menyatakan bahwa gugatan yang dilayangkan sebagian orang untuk Pilbup Banyuwangi tak dapat diterima. Dengan ini, sudah tak ada lagi aral hukum bagi Ipuk Fiestiandani untuk resmi dilantik sebagai Bupati Banyuwangi yang baru.

Ipuk dinyatakan KPU Banyuwangi menjadi pemenang mengalahkan rival politiknya: pasangan Yusuf-Riza dengan selisih sekitar lima persen.

Tak banyak yang tahu, bahwa kisah terpilihnya Ipuk menunjukkan bahwa Jawa Timur tak kekurangan stok politisi perempuan yang jempolan. Setelah Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, dan sejumlah bupati perempuan, kini muncul nama Ipuk sebagai salah satu politisi yang mempunyai prospek cemerlang. Bahkan, bisa lebih cemerlang ketimbang suaminya.

***

Perjalanan yang dilalui Ipuk sendiri tidak mudah. Menjadi istri dari bupati yang sedang berkuasa (apalagi dianggap berprestasi) memang bisa menjadi keunggulan. Namun, justru bisa menjadi kelemahan terbesar. Apalagi, ketika suaminya yang bupati bukan model yang mencengkeram pengaruh masyarakat seperti mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin.

Anas bukan tipikal Bupati yang seperti itu. Bukan seperti baron politik tradisional, Anas sepenuhnya mengandalkan kinerjanya untuk meraih reputasinya. Maka, ketika PDIP (dan partai koalisinya) menyorongkan nama istrinya, maka hal-hal yang bisa menjadi keunggulan bisa berbalik menjadi kelemahan.

Popularitas Ipuk memang cepat melesat. Namun, tak lantas semuanya menjadi mudah. Rival politiknya dalam Pilgub Banyuwangi cukup berat. Yakni, Wabup Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, yang berpasangan dengan Gus Riza. Nama terakhir ini adalah salah satu trah dari Ponpes Blokagung, ponpes terbesar dan paling berpengaruh di Banyuwangi. Kombinasi maut. Cabup yang juga boleh dibilang petahana bergabung dengan kekuatan kultural besar di masyarakat Banyuwangi.

Apalagi, Ketua PCNU Banyuwangi KH Ali Makki Zaini dalam sejumlah kesempatan terang-terangan menyatakan dukungannya ke pasangan Yusuf-Riza. Maka, setelah penetapan, Ipuk boleh dibilang tak bisa disebut frontrunner. Malah, dalam perspektif politik, Ipuk menjadi kuda hitam. Sejumlah hasil survey juga menyebutkan bahkan dukungan ASN lebih condong ke pasangan Yusuf-Riza.

Apalagi, sejumlah kampanye hitam dari beberapa pihak mulai muncul. Dari politik dinasti hingga ke kampanye sangat hitam dan tak patut sebagaimana yang pernah menimpa Anas menjelang Pilgub 2018 kembali muncul. Maka, dengan cepat, Ipuk benar-benar menjadi underdog dalam Pilbup Banyuwangi yang lalu. Bahkan, dia diremehkan dan dianggap tak mampu apa-apa. Hanya sekedar bayang-bayang Anas saja. Kiprahnya sebelum mencalonkan diri memang tak banyak terdengar. Hanya sebagai ketua penggerak PKK saja, dan tak ada jabatan politis atau birokratis yang pernah disandangnya. Pendek kata, hanya dianggap sebagai sekedar perempuan cantik yang kebetulan istri dari seorang bupati berprestasi.

***

Perjalanan selanjutnya inilah yang kemudian menunjukkan kapasitas seorang Ipuk Fiestiandani. Dia menjawab satu per satu tantangan yang muncul. Pertanyaan pertama yang harus dijawabnya: soal kompetensi, dijawabnya dengan sangat baik. Yakni, pada debat perdana Pilbup Banyuwangi yang disiarkan JTV pada 31 Oktober 2020 lalu.

Penampilannya mengejutkan banyak orang. Diperkirakan tampil kedodoran dan plonga-plongo, Ipuk justru tampil begitu nyaman, percaya diri, dan yang paling utama: terlihat sangat kompeten. Dia mampu menjawab semua pertanyaan dan retorika yang dilontarkan dengan cara yang membuat orang paham betul kalau dirinya benar-benar menguasai masalah.

Sebaliknya, Yusuf Widyatmoko tampil di bawah form. Entah karena terlalu percaya diri bisa mengalahkan dan kemudian terkejut melihat penampilan Ipuk, penampilan Yusuf tidak maksimal. Jawaban yang menggantung, dan kerap tidak sesuai dengan waktu.

Penampilan Ipuk dalam debat itulah yang kemudian menjadi titik balik perspektif banyak masyarakat Banyuwangi terhadapnya. Terutama kaum perempuan. Mereka tak lagi memandang Ipuk sebagai “bayangan” Anas saja, tetapi juga seorang perempuan kompeten yang sanggup mengatur sebuah kabupaten.

Perspektif soal kompetensi ini memang penting. Sebab, selama sepuluh tahun terakhir, Banyuwangi memang dibawa Anas cukup melesat maju. Kabupaten terluas di Jawa Timur itu sebelumnya memang dianggap kumuh, kawasan santet (ditambah lagi dengan peristiwa pembunuhan banyak dukun santet pada 1998-1999 lalu), dan terbelakang.

Kini, kawasan dengan populasi sebanyak 1,7 juta jiwa tersebut menjadi salah satu kawasan termaju di Jawa Timur. Mengandalkan 30 persen hingga 40 persen sektor ekonomi dari pertanian, Anas juga berhasil membawa ekonomi kreatif berupa ekonomi pariwisata menjadi salah satu denyut nadi di kota tersebut. Bahkan, perekonomian Banyuwangi sepanjang 2020 lalu tetap menunjukkan pertumbuhan yang masih positif, meski tentu saja tetap terkontraksi.

Tak hanya masyarakat Banyuwangi, orang luar pun juga pasti akan bertanya-tanya siapa yang sanggup menggantikan Anas untuk mempertahankan Banyuwangi yang sparkling ini. Inilah kenapa faktor kompetensi menjadi yang penting. Dan dalam debat perdana itu, Ipuk tampil lebih meyakinkan ketimbang rivalnya.

Tak banyak yang tahu, Ipuk ternyata adalah fast learner. Pembelajar yang cepat. Konon, bahkan timnya sendiri sempat tak percaya dengan penampilan Ipuk di acara debat pada malam itu. Salah satunya, bahkan tak berani menatap TV karena saking takutnya. Namun, penampilan pada malam itu mengubah semua persepsi orang kepada Ipuk.

Selain itu, kualitas-kualitas dalam diri Ipuk juga mendukungnya untuk cepat maju. Ipuk adalah pendengar yang baik. Pun termasuk ke anak buahnya. Bahkan, ketika dalam perjalanan, tanpa ada yang meminta, Ipuk menelepon ke sebanyak mungkin relawan. Bertanya mengenai situasi, perkembangan, atau hanya sekedar menanyakan kabar.

Ipuk juga tampaknya mempunyai karakter bawaan memperhatikan. Karakter yang sangat berguna dalam kampanye. Dalam banyak kampanyenya, dia kerap tiba-tiba berjalan ke samping titik kampanye, dan menyapa warga yang ada di sana. Kemudian terjadi interaksi yang genuine. Hal-hal kecil inilah yang membuat Ipuk makin banyak mendapat dukungan.

Selain itu, Ipuk juga taktis dan tak mudah baperan. Ketika kampanye sangat hitam terhadap suaminya mulai dilontarkan, Ipuk adalah orang yang paling siap untuk menjawabnya. Dia dengan cepat mengkonsolidasikan kesolidan semua pihak, termasuk keluarga untuk bersiap menjawab kampanye tersebut.

Selain itu, Ipuk juga berhasil membalik salah satu materi kampanye hitam yang dilontarkan menjadi simpati kepadanya. Terutama ketika muncul spanduk-spanduk yang mempertanyakan kompetensi dirinya, dan keperempuanannya. Alih-alih panik dan membalas, Ipuk justru bisa membaliknya menjadi makin solidnya dukungan perempuan Banyuwangi terhadapnya.

Tentu saja, bukan Ipuk seorang yang berhasil memenangkan Pilbup Banyuwangi 2020 lalu. Ada banyak relawan dan elemen yang menentukan kemenangannya. Namun, semua itu tak akan bisa terjadi, jika Ipuk sendiri memang tak mempunyai kompetensi diri. Ipuk tak akan menang jika kualitas dirinya tidak cukup baik.

***

Kendati demikian, Ipuk tak bisa lantas menepuk dada terlebih dahulu. Ada banyak tantangan yang berada di depannya. Yang pertama, tentu saja kepemimpinannya. Akan jadi seperti apa Banyuwangi di bawah administrasi perempuan berwajah sayu tersebut? Menurun, tetap pada treknya, atau jauh lebih baik? Hanya waktu yang akan bisa menjawabnya.

Ada banyak tantangan. Sebagai pendatang baru, tentu dia baru mengenal dunia politik dan lika-likunya. Hal baik dari baru mengenal ini biasanya masih sangat bersih, dan karenanya lebih mudah mewujudkan clean government. Namun, tantangannya adalah karena kebijakan pemerintah itu ditetapkan melalui ranah politik (bersama dewan), maka Ipuk harus pandai pula bernegosiasi dengan para politisi.

Ada yang namanya seni politik. Sederhana saja seninya, yakni bagaimana menjaga semua orang tetap senang. Namun, sangat sulit pada prakteknya, karena nyaris tidak semua pihak bisa disenangkan secara bersamaan. Belum lagi, kalau bicara demi kepentingan masyarakat dan visi pribadi memajukan Banyuwangi. Ada seni rumit untuk menjaga keseimbangan antara kemaslahatan masyarakat, menjaga semua pihak senang, dan idealisme diri.

Namun, setidaknya Ipuk telah mempunyai modal yang cukup untuk itu. Mau belajar, pembelajar yang cepat, mau mendengar, relatif masih belum ada kepentingan, punya paras yang cukup marketable dalam dunia politik (karena bagaimanapun paras juga menjadi salah satu faktor determinan dalam politik).

Lima tahun ke depan ini akan membuktikannya. Jika Ipuk setidaknya bisa mempertahankan Banyuwangi pada treknya, dan mampu membimbing Banyuwangi lepas dari pandemi dengan cukup baik, maka kita semua akan menyaksikan lahirnya seorang politisi perempuan muda dengan prospek cemerlang dari ujung Timur Pulau Jawa. (*)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.