Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 13:57 WIB
Surabaya
--°C

Di Negeri Tengah Sakit Soal Seupil Jadi Segajah

KEMPALAN: Membaca judul tulisan ini, pasti muncul kesan tidak menentu yang ditimbulkan. Seakan tulisan ini dibuat untuk membahas hal-hal besar, dan itu menyangkut politik. Sama sekali tidak dimaksudan demikian.

Sebenarnya cuma masalah sederhana saja, yang lalu dihebohkan seolah bumi hendak runtuh. Persoalan sederhana yang lalu dipolemikkan agar jadi berita, meski berita yang diada-adakan. Seperti orang kurang kerjaan saja.

Ini berita tentang nama seseorang, yang tadinya tidak dikenal, lalu kemudian nama itu dikenal dengan Ganjar. Nama itu dipakai sebagai contoh untuk penyebutan perbuatan tidak baik.

Saat nama itu dipakai, nama itu bukan nama umum yang populer. Meski dalam perjalanan waktu, nama itu menjadi populer dan dikenal luas. Semuanya serba kebetulan.

Adalah penerbit PT Tiga Serangkai, Solo, yang ketiban sampur, yang lalu diseret seolah punya motif tertentu, saat memakai nama itu dalam buku yang diterbitkannya.

Pada buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, untuk Kelas 3 SD, yang terbit tahun 2009, menyebut nama Ganjar. Namanya tertera pada soal pilihan ganda di buku itu. Ditulis sebagai contoh dari perbuatan tidak terpuji: “Pak Ganjar tak pernah salat dan bersyukur.”

Buku yang diterbitkan itu jauh sebelum Pak Ganjar Pranowo jadi Gubernur Jawa Tengah. Saat buku itu diterbitkan, Ganjar Pranowo masih sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan. Mestinya kesamaan nama yang pastinya bukan unsur kesengajaan, itu tidak lalu mesti dipersoalkan.

Tapi di negeri ini, soal-soal demikian bisa diperkarakan, dan jadi persoalan hukum. Berita itu dikerek tinggi-tinggi dan pastilah punya motif. Dijadikan seolah kasus besar yang mengalahkan kasus Dana Bansos yang ditilep Menteri Sosial Juliari Batubara.

BACA JUGA  Hantu Kurs Dolar Rp 18.000

Adalah Forum Wali Murid Jawa Tengah, dari 18 Kabupaten/Kota, yang melaporkan pada Polda Jawa Tengah, penerbit bersangkutan atas dugaan ujaran kebencian. Haa…??

Bayangkan 18 orang mewakili Wali Murid dari 18 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah berkumpul lalu membuat Forum Wali Murid. Mereka gelisah dengan adanya buku ajaran yang katanya, bisa meracuni pikiran anak-anak. He-he-hee…

Mereka itu tentu tidak saling kenal, tapi bisa berkumpul dan membuat forum, aneh?
Tidak ada yang aneh di negeri ini. Semua bisa terjadi. Bahkan yang aneh-aneh itu pun bisa jadi sesuatu, dan jadi berita. Negeri ini ibarat orang sakit yang tidak tahu cara mengobatinya.

Akal pun dibuat seperti lumpuh, tidak mampu untuk berpikir. Tidak mampu berpikir sendiri, meski itu hal sederhana. Akal selalu digerakkan kekuatan lain di luar dirinya.

Lalu, logika kita pun ingin diseretnya menjadi sebangun dengan logikanya. Tidak sedikit pun diberi celah berargumen. Harus menerima saja, bahwa ada forum semacam itu.

Tidak perlu bertanya macam-macam, misal siapa penggagasnya, siapa yang ngongkosi dan apakah 18 orang dari berbagai Kabupaten/Kota itu dari unsur berbeda, atau dari satu partai politik tertentu.

Maka janganlah banyak bertanya, karena makin bertanya akan makin tidak terjawab, bahkan mustahil bisa terjawab. Malah akan buat kepala puyeng.

Persoalan Seupil yang Dibesar-besarkan

Tentu bisa dipastikan, penerbit milik pribumi asli Solo ini, yang cukup sepuh, bahkan bisa jadi paling tua yang masih tersisa di Jawa Tengah. 1959 tahun pendiriannya, tidaklah punya motif politik. Pemiliknya bergenerasi dikenal apolitis, jauh dari politik. Pyur bisnis.

BACA JUGA  Dadan Diganti Nanik, Reaksi Netizen "Sami Mawon"

Penerbit yang sepanjang hidupnya tidak bermasalah ini, sedang “digoda” dengan permasalahan yang tidak semestinya dimunculkan. Ditarik-tarik pada hal yang tidak substansial.

Munculnya Forum Wali Murid Jawa Tengah, yang mempersoalkan Ganjar yang sekadar nama, itu justru yang patut dipersoalkan. Tidak mustahil ada agenda politik dibalik laporannya itu.

Di tengah ekonomi yang menghimpit karena pandemi, dan dunia penerbitan yang megap-megap bertahan hidup, masih saja ada kelompok yang mempolitisir keadaan.

Ganjar itu nama biasa, seperti juga Panjul, Broden, Pating dan seterusnya. Karena nasib ia bisa jadi Gubernur, dan itu karena ia rajin salat dan bersyukur.

Pihak penetbit sudah menjelaskan, bahwa buku itu dicetak jauh sebelum Pak Ganjar Pranowo jadi gubernur. Mestinya penjelasan itu sudah cukup bisa dimengerti.

Tampaknya Pak Ganjar Pranowo menikmati suasana ini, beda jika ia beraksi dengan mengatakan, “Hentikan polemik berkenaan dengan nama Ganjar itu. Ganjar yang sekarang sudah rajin salat dan pandai bersyukur.” Keren, kan?

Tapi sulit berharap pada Pak Ganjar Pranowo sudi melakukan hal demikian. Itu agar permasalahan naif dan tidak penting ini bisa disudahi. Sebagai politisi, justru ia berharap persoalan ini terus menggelinding, agar sedikit banyak bisa menutupi persoalan banjir Jawa Tengah yang menampar wajahnya penuh malu.

Ini memang persoalan seupil yang dibesar-besarkan seolah segajah. Persoalan kecil yang membuat pengusaha lunglai, dan dibuat makin susah oleh kondisi yang ada. Sayang hal ini tidak disadari para pihak yang menjadikan “upil” itu jadi sesuatu. Menjijikkan! (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.