Pasar Muamalah versus Pasar Maling
KEMPALAN: Ada pasar jongkok, ada pasar tumpah, ada pasar krempyeng. Yang lagi viral sekarang Pasar Muamalah. Polisi langsung menggerebek dan menangkap pendirinya, Zaim Saidi, aktivis sosial dan intelektual muslim.
Di Surabaya ada pasar maling. Disebut begitu, konon kabarnya, disitu diperjualbelikan berbagai macam barang hasil colongan, mulai dari sepatu sampai ponsel. Sampai sekarang pasar maling tetap beroperasi, sudah bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun.
Pasar-pasar itu adalah pasar tradisional yang umumnya beroperasi tanpa izin resmi tapi biasanya membayar kutipan kepada petugas resmi berseragam yang rajin menyambangi secara berkala. Transaksi pasar jongkok dilakukan dengan cara berjongkok, pedagang membeber lapak di pinggir jalan dan konsumen melakukan transaksi dengan berjongkok.
Pasar tumpah biasanya tumpah di pinggir jalan. Seringkali tumpah ruah sampai membuat jalan macet. Pasar krempyeng juga sama, beroperasi tanpa izin resmi di pinggir jalan dan jam operasi dinihari sebelum subuh sampai matahari mulai tinggi.
Pasar-pasar ramai karena menjadi market place yang strategis, mudah dijangkau, dan conviniece, nyaman, bagi produsen dan konsumen untuk bertransaksi. Pasar-pasar formal yang disediakan pemerintah dan dibangun dengan biaya miliaran banyak yang sepi dan ditinggalkan pedagang, karena dibangun dengan pendekatan proyek ketimbang kebutuhan masyarakat.

Pasar-pasar tradisional dan informal itu bukan hanya sekadar market place tempat masyarakat melakukan transaksi, tapi juga menjadi simbol budaya masyarakat tradisional. Perdagangan bukan sekadar aktivitas mencari untung, profit above all, perdagangan bukan sekadar menjalankan mekanisme pasar, supply and demand, persaingan bebas oleh tangan gaib, the invisible hand, yang menentukan harga tanpa aturan karena ada mekanisme ekuilibrium.
Pasar tradisional informal itu, sebagaimana toko kelontong dan warung-warung peracangan di kampung, adalah bagian budaya gotong-royong, saling bantu antar tetangga. Ketika seseorang sedang mengalami kekurangan ia bisa mengutang dulu, tanpa jaminan tanpa agunan, dan dibayar belakangan tanpa bunga.
Di pasar tradisional dan warung-warung kecil itu masyarakat melakukan interaksi sosial dan menjaga kekerabatan dan kerekatan. Suasana hidup kolektif yang jauh dari individualisme terlihat jelas dalam interaksi sosial di pasar tradisional dan warung meracang di kampung-kampung.
Warung peracangan itu sekarang sudah makin langka, pada tutup, bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan jaringan Indomart, Alfamart, dan gerai-gerai modern yang lebih canggih dan efisien.
Indomart dan Alfamart, bersama supermarket-supermarket besar, adalah wajah globalisasi yang ada di sekitar kita. Dalam waktu yang relatif pendek warung-warung dan toko peracangan di sekitar kita lenyap diganti oleh gerai-gerai modern yang menjadi bagian dari franchise global.
Globalisasi, pada satu sisi, membawa manfaat kemajuan ekonomi karena modal dan teknologi bisa diakses oleh manusia di seluruh dunia. Teknologi informasi melahirkan internet yang menjadikan dunia terhubung menjadi satu pada genggaman ponsel dan bisa dioperasikan dengan ujung jari.
Setiap detik setiap saat manusia di seluruh dunia bisa berinteraksi dengan biaya murah dan bahkan gratis. Dunia seolah-olah berubah menjadi sebuah desa, Global Village, kata Marshall McLuhan. Setiap orang bisa bertemu dan berbicara setiap saat melalui gawai di tangannya. Globalisasi dan digitalisasi melahirkan revolusi ekonomi digital berbasis online yang mengubah total pola dan gaya hidup manusia, mulai dari cara membeli makan, pakaian, dan mencari hiburan.
Hidup menjadi lebih mudah dan nyaman karena semua ada di genggaman tangan.
Tapi, tentu saja, harga yang dibayar juga sangat mahal. Kita kehilangan kekerabatan dan kerekatan sosial. Di satu sisi internet telah mendekatkan kita dengan teman-teman dan kerabat yang sudah terpisah belasan atau puluhan tahun. Kita berkumpul, ngariung, berbagi kabar, berbagi canda-tawa melalui gawai digital. Tapi pada saat yang bersamaan kita menjadi terisolasi, menyendiri, dari lingkungan keluarga dan orang-orang sekitar.
Globalisasi dan digitalisasi merngubah tatanan budaya tradisional, mulai dari hubungan orang tua, pertemanan, dan kekerabatan. Globalisasi dan digitalisasi tidak hanya menghancurkan ekonomi rakyat kecil dengan bangkrutnya warung dan toko peracangan tetangga kita. Globalisasi juga telah menghancurkan budaya lokal tradisional. Globalisasi menyapu kearifan lokal yang menjadi kekuatan perekat masyarakat.
Itulah yang dikeluhkan Joseph Stiglitz, ekonom Amerika pemenang hadiah Nobel dalam “Globalization and Its Discontents” (2002). Stiglitz melihat bahwa globalisasi adalah permainan yang tidak seimbang antara pemain-pemain multinasional raksasa melawan warung-warung peracangan kecil di kampung.
Stiglitz menyebut warung-warung itu sebagai “Mom’s and Dad’s Shops” yang dibiarkan berhadap-hadapan dengan raksasa global tanpa perlindungan. Warung-warung itu bangkrut dalam waktu singkat. Bersamaan dengan itu interaksi budaya juga ikut mati. Dulu sesama tetangga bisa bertemu setiap saat di warung, saling mengobrol, dan saling membantu, mengutang dan memberi utang. Sekarang orang membeli melalui online dan belanja di gerai modern dan supermarket yang dilayani robot dan mesin.
Globalisasi memunculkan perlawanan di mana-mana. Gerakan antiglobalisasi dalam bentuk demo besar-besaran pecah di banyak tempat. Yang paling fenomenal adalah demo ribuan aktivis saat pertemuan WTO (World Trade Organization) di Seattle, Amerika Serikat, 1999. Ribuan demonstran mengepung hotel-hotel tempat konferensi berlangsung. Kerusuhan pecah dan rapat-rapat dibatalkan. Gerakan yang sama serentak terjadi di berbagai penjuru dunia sampai ke India. Globalisasi dilawan oleh gerakan anti-globalisasi yang bersifat global juga.
Globalisasi bukan sekadar gerakan ekonomi. Ia gerakan budaya dan peradaban yang menggilas identitas lokal tradisional dan memaksanya beralih menjadi identitas global, mulai dari cara berkonsumsi, berpakaian, dan bahkan cara beragama. Gerakan melawan globalisasi pun muncul dalam bentuk gerakan identitas budaya dan agama.
Berbagai gerakan budaya dan agama bermunculan untuk memperkuat identitas lokal. Perang melawan globalisasi adalah perang identitas, dan agama adalah sumber identitas yang paling kuat. Agama memberikan keyakinan berdasarkan iman dan memberikan identitas dan rasa kebersamaan global. Orang Kristen Papua merasa punya kesamaan dengan orang Kristen di Amerika. Orang Hindu di Ubud merasa bersaudara dengan orang Hindu di India. Muslim di Depok merasa satu saudara dengan muslim di Afrika Selatan.
Mereka tersebar di mana-mana tetapi tersatukan oleh identitas yang sama berdasarkan agama. Itulah kekuatan identitas, “The Power of Identity” seperti ditulis oleh Manuel Castells (2003). Penguatan identitas muncul dimana-mana untuk menghadapi globalisasi, dan Castells melihat bahwa Islam menjadi kekuatan identitas yang sangat potensial vis a vis globalisasi. Islam memberi kekuatan identitas politik, budaya, dan ekonomi yang tangguh untuk melawan globalisasi. Globalisasi adalah sebuah khilafah kekuasaan global karena pengaruh jangkauannya yang mendunia. Di sisi lain, Islam adalah khilafah global karena potensinya untuk menyatukan semua kekuatan di berbagai penjuru dunia melalui kesamaan identitas.
Pasar Muamalah Depok hanya dioperasikan oleh belasan pedagang saja, dan jam operasionalnya terkesan suka-suka hanya beberapa jam perhari. Omsetnya mungkin kalah dari pasar jongkok, pasar tumpah, atau pasar maling. Tapi, Pasar Muamalah bukan sekadar pasar. Ia adalah pasar identitas yang mempunyai “the power of identity” yang dahsyat di baliknya.
Kita jadi paham mengapa Pasar Muamalah diberangus dan pasar maling dibiarkan. (*)









