KEMPALAN: Di Bandung Sindhu sibuk dengan kegiatan kuliah maupun kegiatan lain di luar kuliah. Sindhu mulai mendapatkan banyak teman. Sehabis menjadi panitia ospek untuk adik kelasnya ada adik kelasnya yang mulai akrab. Ada yang memperhatikan Sindhu dan tahu hubungan Sindhu dengan Sumi. Soal hubungannya dengan Sumi, dia malah mendapat ejekan. Adik kelasnya mencibir Sindhu yang abai terhadap simpatinya.
“Mas, mas nggak salah?” kata Silvy di depan ruang himpunan Arsitektur.
“Salah apa Sil?”
“Mahasiswa ITB kok seleranya begitu?” ucap Silvy makin berani.
“Apa yang salah dengan seleraku..?”
“Ya ampun mas. Apa ya pantas Mas kau anak gajah, otak lumayan, ekonomi nggak miskin-miskin amat, tampang ya di atas rata-rata mendekati pelayan toko katamu? Seperti dunia hanya sebatas kampungmu saja. Apa nggak lebih baik yang selevel mas?”
“Ini soal hati Sil…”
“Iya hati bisa dibentuk kok, bisa dikelola mas.”
“Jadi maksudmu aku bisa suka kamu jika sering dekat..?”
“Nah itu kamu kan cerdas mas…”
“Aku tidak yakin. Tak kenal maka tak sayang, memang betul. Semakin mengenal Sumi aku semakin tertarik. Bisa juga sebaliknya, makin mengenal kamu, bisa-bisa semakin aku mundur.”
“Hai jangan secepat itu menyimpulkan mas. Kenal aku dulu. Aku tidak buruk-buruk amat. Setidaknya aku bisa masuk kampus ini dengan lewat tes. Camkan mas.”
“Hmmm….iya aku tahu itu.”
“Jangan-jangan kamu hanya ingin membuktikan bahwa kamu bisa membentuk Sumi seperti keinginanmu? Kamu ingin jadi pahlawan kan?”
Sindhu merenung. Ucapan Silvy seperti menghujam jantung hati. Jangan-jangan ucapan Silvy benar.
Silvy jelas menarik. Dia mahasiswi arsitektur yang modis penampilannya. Gaya bicaranya juga cerminan otak berisi. Lebih pantas dia jalan sama Silvy daripada sama Sumi. Belum gunjingan tetangga. Dalam hal ini Sindhu mendapatkan ujian yang berat, haruskah tetap menjatuhkan pilihan ke Sumi. Tapi Sindhu malah berpikir apa sejatinya yang membuat Silvy berminat mendekatinya. Butuh berhari-hari Sindhu menemukan waktu yang tepat untuk bertanya ke Silvy.
“Silvy ngapain juga kamu ingin tahu hubunganku sama Sumi?”
“Aduh Mas kamu tidak tahu bahasa perempuan..”
“Memang aku tidak tahu.”
“Apa aku harus merendahkan diri lagi mas?”
“Bukan Silvy. Aku kan hanya mahasiswa biasa. Kenapa kamu…”
“Aku tidak mau mengatakannya. Ini soal hati mas. Suatu saat aku akan mengatakannya mas.”
“Tapi kenapa kamu begitu angkuh mengatakan Sumi hanya pelayan toko?”
“Iya faktanya begitu. Aku menyayangkan saja mas. Kamu hanya berpetualang.”
“Waktu yang akan menguji Sil.”
“Jangan habiskan waktumu untuk hal yang tidak bermanfaat.” Sahut Silvy sambil meninggalkan Sindhu di pinggir lapangan basket.
Sumi merasa lebih aman semenjak mendapat teman tidur di Toko ijo. Dia mengajak Sisri tetangga dekat rumahnya untuk menemaninya tidur. Sumi kalau malam selepas maghrib harus ke toko. Dia menghabiskan waktunya di sana hingga pagi. Radio adalah temannya di saat malam hari. Mendengarkan radio dari stasiun Klaten atau Solo adalah hiburannya di malam hari. Lagu-lagu Ebiet, Hety Koes Endang, Iis Sugianto , Nia Daniati banyak yang dia hafal. Sisri pun ikut-ikutan. Apalagi acara Pilihan Pendengar dari RRI Surakarta setelah berita RRI jam 19.00 adalah acara yang ditunggu-tunggu.
“Mbak lagu itu saja bagus..” kata Sisri meminta Sumi tetap memutar lagu Gelas-gelas Kaca dari Nia Daniati. Lalu mereka pun menirukan lagu yang mendayu itu.
“Aku suka lagu Ebiet.”kata Sumi.
“Berita kepada Kawan?”
“Iya salah satunya. Kan ada lagu Ayah yang syairnya bagus.”
“Aku sih nggak tahu syair, pokoknya enak aku suka.” Sahut Sisri.
Sambil ngobrol lama-lama mereka tertidur dan radio masih berbunyi hingga malam.
*
Sudah beberapa minggu Sumi ditemani Sisri. Malam hujan gerimis lalu msemakin deras. Sisri sedang tidak bisa menemani Sumi karena sakit. Sumi sudah hampir tidur ketika pintu tokonya di ketok. Sumi ragu-ragu, membuka atau tidak.
“Sum ini aku. Ada yang mau kuambil.”
Suara yang Sumi akrab. Sumi perlu waktu sejenak untuk mengingat suara itu. Tapi jelas bukan suara Sarmo atau Sindhu.
Dibukakannya pintu.
“oh Mas Dipo.”
“Ya mau ambil obat flu.”
Sumi hanya pakai daster menjelang tidur.
Dipo tergoda, dia bertindak cepat. Sumi didekap dari belakang ketika sedang mencarikan obat. Sumi meronta-ronta dan menjerit. Tapi suara jeritanya tertimpa suara air hujan yang menderas. Sumi tidak bisa melawan. Dia sempat berteriak minta tolong. Dekapan Dipo makin kuat.
“Jangan…jangan mas..”
Tapi tangan Dipo terlalu kuat. Mulutnya ditutup dengan satu tangan Dipo. Dia dibanting ke kasur tipis di pojok kamar belakang toko.
” Diam!! sebelum orang lain merasakan tubuhmu…aku harus merasakan duluan…”
“Dasar bejat…!”
Bajunya disibakan dan dilucuti pakaian dalamnya.
Lalu terjadilah Dipo menikmati tubuhnya. Dia dipaksa melayani nafsu bejat anak juragannya itu. Malam jahanam itu terjadi begitu cepat. Keperawanan Sumi direnggut paksa oleh Dipo. Sosok yang menakutkan bagi Sumi. Setelah kejadian itu Dipo pergi tanpa berkata apa-apa selain mengancam
“Jaga mulutmu atau kubunuh.”
“Aku tidak akan diam”.
Sumi makin ketakutan meski melawan. Apa yang dikhawatirkannya selama ini benar-benar terjadi. Bukan Pak Jarwo, tapi anaknya. Sumi meratapinya. Menangis sepanjang malam dia sendiri di pojok kamar itu. Berjuta impian musnah. Menyesal kenapa tadi dia membuka pintu. Anak ndoronya memang bejat, begitu pikirnya.
Sejak awal dia sudah melihat gelagat tidak baik soal anak ndoronya ini. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi