Senin, 9 Februari 2026, pukul : 09:34 WIB
Surabaya
--°C

Masalah Bisnis Islam yang Bergerak di Indonesia

KEMPALAN: Saat ini kita mendengar bahwa potensi wakaf uang sebenarnya mencapai Rp188 trilyun, tiga bank Syariah yang dimerger menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI), serta potensi financial technology (fintech) yang semakin menggurita. Saya mengkaitkannya dengan pasar bisnis secara syariah (Islam). Menurut saya, bisnis yang baik dan benar memang secara Islam.

Tetapi marilah kita kaji secara rinci kemungkinannya. Harus diingat bahwa Islam telah mengajarkan cara bisnis yang baik dan benar. Tetapi karena lingkungan kita masih berpikir cara lain, terutama mengikuti cara berpikir bahwa mencari profit itu nomor satu, maka cara bisnis seperti itu yang sekarang ini yang banyak dilakukan.

Bisnis Islam yang Seharusnya

Dalam melaksanakan bisnis Islam, sebenarnya yang harus diperhatikan itu banyak, antara lain, tujuannya untuk ikut mamberantas kemiskinan, memperhatikan lingkungan kerja/alam sekelilingnya, meningkatkan sedekah, infaq, dan atau zakat, masalah kepemilikan bisnis (bukan terpusat pada yang punya duit), memperhatikan kebutuhan sosial para tenaga kerjanya, dan banyak hal yang bersifat sosial lainnya.

Semuanya itu yang harus dipikirkan, bukan hanya mencari besaran laba. Dengan lain perkataan, selain mengatur tata cara menyembah Allah (hablum minallah), Islam juga mengajari manusia bila berurusan dengan manusia lainnya, alam sekitarnya, (urusan muamalah, hablum minannas). Jadi bukan hanya untuk urusan bisnis, tetapi juga untuk urusan organisasi sosial, (bersedekahlan kalian pada waktu sempit atau senggang, berbelanjalah di jalan Allah (infak, sedekah, dan zakat)).

Dalam konteks bisnis, maka seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa Islam mengajari kita agar tujuan bisnis tidak mencari untung, tetapi membuat kemaslahatan bagi orang lain. Termasuk di antaranya yaitu, mengedepankan keadilan, memperhatikan hak dan kewajiban, baik dirinya (penjual) maupun untuk pembeli/pelanggan/karyawan/komunitas maupun lingkungannya. Suatu hal yang tidak kalah penting yaitu pertanggung jawaban (accountabitlty). Pertanggungjawaban ini bukan hanya untuk penjual saja, tetapi untuk seluruh stake holder.

Bahkan yang agak sulit diyakinkan itu bahwa tujuan perusahaan adalah salah satunya untuk mengentas kemiskinan masyarakat. Apabila tujuan bisnis seperti itu, maka keuntungan itu akan datang dengan sendirinya. Bukan berarti tidak dihitung. Ya tetap dihitung (penggunaan akal pikiran tetap diperlukan), tetap menggunakan sarana iklan dan segala keperluan bisnisnya, tetapi yang menentukan keuntungan itu adalah Allah Swt.

Pada saat ini, sebagaian besar umat Islam masih mengikuti cara berpikir gaya Barat. Ingatlah saya tidak mengatakan bahwa ilmu Barat itu keliru, tetapi kita harus ingat bahwa di atas ilmu itu ada wakyu yang juga harus dipahami. Sebagai contoh, kita lihat bahwa umat sejak sekolah SD sampai pendidikan doktor (termasuk pengajarnya, baik guru-gurunya atau dosen-dosennya) masih mengikuti cara tersebut serta menganggap hanya penggunaan akal/pikiranlah yang paling benar, paling bagus, atau paling hebat.

Padahal, ada sesuatu kebenaran yang terhalang dari indra dan akal kita yang terbatas, dan itu termasuk di dalamnya yaitu pemahaman ilmu pengetahuan yang kelihatannya menyimpang dari nalar atau kebiasaan orang sehat, tetapi sesungguhnya adalah benar. Dampak pemikiran Barat ini yaitu setiap keputusan bisnis hanya menitik beratkan penggunaan akal/pikiran atau kebenaran yang hanya melihat empirisnya saja. Kalau belum ada empirisnya, maka hal itu dikatakan tidak mungkin terjadi. Maka dari itu, yang muncul hanya mencari laba sebesar-besarnya. Hal demikian tidak salah. Tetapi kita harus diingat bahwa selain akal dan pikiran, kita harus percaya adanya wahyu (kebenaran Allah yang tidak bisa dilihat, dirasa, atau ditebak). Itulah sebabnya, saya mengemukakan cara berbisnis lain yang seperti di atas.

Lalu apa dan bagaimana yang harus dilakukan umat di Indonesia?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah membuka pemikiran semua umat bahwa apa yang diajarkan Islam melalui al Quran itu adalah benar. Ilmu pengetahuan yang ada, sumber utamanya adalah al Quran. (Bukan pengetahuan terkait isi al Quran yang telah banyak dijelaskan oleh para da’i, pengetahuan yang ini telah diketahui, tetapi ilmu prakktis terkait dengan berekonomi yang perlu akan saya bahas).

Sebagai contoh, misalnya kita mengembangkan artificial intelligent (AI). Penerapannya salah satunya adalah membuat robot yang bisa berdiri sendiri setelah jatuh, bahkan di daerah menurun yang bersalju. Kalau kita lihat dan pelajari, ternyata betapa sulitnya pembuatan itu. Padahal hal yang demikian ini, yaitu ilmu pada tubuh manusia, mudah saja bagi Allah Swt. Lalu kita bayangkan siapa yang membuat tubuh manusia itu? Jawabannya adalah Allah Swt.

Contoh lain, yaitu tanaman. Bila kita menanam tanaman tertentu pada daerah subur dengan mengikuti petunjuk ahlinya, insya Allah tanaman itu akan tumbuh. Tetapi siapakah atau apakah yang menyebabkan tumbuh, manusia ataukah Allah swt yang memantau seluruh apa yang ada di dunia ini?

Demikian pula penyebaran/pandemi Covid-19. Penyakit ini pada tataran tertentu telah menghilangkan keberadaan/pekerjaan, tetapi bersamaan dengan itu juga menumbuhkan berbagai kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Pada sisi negatifnya, penyakit ini menyebabkan pengangguran, terutama manufaktur yang banyak menggunakan tenaga kerja, transportasi yang kira-kira maksimum tinggal 50%, serta sektor pariwisata yang benar-benar kasihan.

Tetapi kegiatan lain malah tumbuh. Penggunaan komunikasi daring yang meluas, hal ini menimbulkan aktivitas bisnis tertentu. Demikian pula kegiatan makanan orderan, pengantaran order (kurir), bisnis teknologi, bahkan pertanian perorangan meningkat, baik yang untuk dijual atau dinikmati sendiri. Namun, tidak seorangpun mengetahui kapan Covid-19 ini akan berakhir–meski semua orang menginginkan segera berakhir.

Bahkan beriklan serta menggunakan berrbagai media juga menggambarkan keberadaan Allah Swt. Agar produk perusahaan diketahui orang lain, maka beriklan adalah penting. Tetapi siapakah yang membuat orang lain itu terbawa dengan iklan yang kita buat, sehingga orang ramai membeli? Menurutku adalah Allah Swt. Maka, selain penggunaan akal, kita harus percaya bahwa semua itu Allah yang mengatur, yang menetapkan keuntungan dan sebagainya.

Pada tahun 2016, sewaktu orang banyak yang melakukan rush money, mengambil uang tunai dari perbankan (yang kovensional), maka saya dan teman-teman UISI–waktu itu saya sebagai Wakil Rektor I Univesitas Internasional Semen Indonesia (UISI)–malah menyarankan untuk melakukan rush transfer, dari bank konvensional ke bank Syariah.

Oleh karenanya, marilah kita semua melaksanakan bisnis secara Islam. Melakukan bisnis ini tidak harus memeluk agama Islam kok. Agama lain pun tidak dilarang. Saya mencoba mengikuti Rosul yang diutus Allah untuk tetap berlaku sabar dan tidak memaksakan kehendaknya, karena percaya atau tidak terhadap Islam itu urusan Allah (baca surat Qaf ayat 45 dan tafsirnya).

Selanjutnya, bagi mereka yang telah menyebutkan bahwa al Quran itu adalah bagian dari imannya, maka marilah beriman secara kaffah. Mengapa setiap Jumat khotib selalu membaca Ali Imron 102? Dulu sewaktu saya belum berpikir seperti di atas, saya berpikir ini adalah sebagai persyaratan sholat Jumat. Tetapi setelah saya pikirkan secara masak-masak, mungkin karena banyak umat Islam yang mengatakan telah beriman, tetapi bila berbisnis lalu yang dipikirkan mencari laba, lupa bahwa kita diharapkan untuk melakukan infak, sedekah, zakat dan amal lain yang seperti yang saya maksudkan di atas.

Seperti yang saya sebutkan pada pembukaan tulisan ini, bahwa potensi wakaf tunai itu mencapai Rp188 trilyun, tetapi baru terealisir tidak lebih dari Rp50 milyar. Mengapa demikian, karena banyak orang Islam yang belum melakukan amal pada saat sempit maupun senggang (baca al Hadid ayat 11). Dengan kata lain, mungkin itu yang dimaksud mengapa tiap sholat Jumat khotib disyaratkan membacanya Ali Imron 102.

Terkait mergernya tiga bank Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Memang aset meningkat, tetapi apabila semua orang muslim yang punya duit mau menggunakan bank Syariah, mungkin tanpa merger pun asetnya akan jauh lebih besar dari sekarang. Dalam konteks ini, setiap muslim yang akan menggunakan bank, diharapkan buka account di bank Syariah. Apabila hal ini dilakukan oleh semua orang, rasanya tanpa merger pun bank syariah akan lebih besar dari bank konvensional. Lalu apakah bank konvensioanl akan mati, rasanya tidak, hanya besarannya tidak seperti saat ini.

Lalu siapa yang harus melakukan, yaitu semua da’i, pembicara ahli dalam syariah di masjid-masjid atau di webinar, para kyai di pesantren-pesantren, termasuk guru-guru dan dosen di tempat pendidikan. Jadi semua orang ahli syariah harus mengajak ke sana. Kalau begitu apa yang akan dibahas? Maka yang dibahas adalah cara bisnis Islam yang saya sebutkan tadi.

Apabila terkait pemahaman al Quran, saya yakin beliau-beliau pasti akan sangat menguasai. Tetapi bagaimana implementasinya dalam dunia bisnis, maka ide seperti yang saya sebutkan tadi yang harus dilakukan. Jadi di mana-mana salah satu yang dibahas adalah mengingatkan umat agar menggunakan bank syariah. Demikian pula bila menyangkut wakaf dan yang sejenis.

Selanjutnya mengenai fintech. Sebenarnya fintech memang pasarnya berbeda dari bank syariah. Saat ini banyak perusahaan fintech, baik yang kelompok (perorangan) maupun bisnis yang merupakan korporasi, yang beroperasi Terlepas dari bentuknya, kunci keberhasilah adalah kejujuran informasi dan tujuan bisnisnya.

Sementara ini, banyak kita baca di medsos atau berita lainnya tentang adanya dikeluhkan tentang barang yang diterima berbeda dari yang ditawarkan atau yang dilihat di fotonya (pedagang yang memanfaatkan teknologi). Intinya adalah kebohongan, karena satu yang dipikirkan, yaitu laba maksimal. Padahal Islam mengajari kita untuk menjadi dermawan yang jurjur (akuntabilitas). Maka ikutilah cara bisnis yang saya kemukakan di atas.

Suatu hal yang menarik adalah bahwa para pengusaha itu melihat kesempatan dan cara bisnis yang berkembang, yaitu memanfaatkan kemajuan teknologi. Tetapi kuncinya yaitu kejujuran, menyajikan informasi yang benar, baik bagi calon peminjam maupun pengusaha fintech.

Dengan mengajari dan bertindak seperti yang saya sampaikan di atas, insya Allah ajaran bisnis yang sesuai dengan Islam akan berkembang. Selain kepentingan bisnis masalah kesenjangan sosial juga diperhatikan. Dengan berjalannya cara ini, niscaya kemiskinan bisa ditekan. (Prof. Drs. Tjiptohadi Sawarjuwono, M.Ec, Ph.D, CPA, CA adalah Guru Besar/Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair)

 

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.