Jumat, 17 April 2026, pukul : 13:36 WIB
Surabaya
--°C

Selamat Datang, Omicron

KEMPALAN: Virus mutasi baru Omicron akhirnya masuk juga ke Indonesia. Setelah sebulan terakhir menjadi spekulasi, akhirnya pemerintah mengakui bahwa varian virus terbaru itu masuk ke Indonesia. Welcome, selamat datang ke Indonesia.

Semua sudah mafhum bahwa Omicron ini enam kali atau sepuluh kali lebih ganas dari varian Covid-19 yang selama ini ada. Di Eropa dan Amerika penularan varian ini menjadi ‘’outbreak’’ yang merantak dengan sangat cepat. Kondisinya seperti balik lagi ke periode Juni-Juli 2021 ketika varian Delta menyebar cepat tak terkendali.

Serangan Omicron membuyarkan harapan yang sebelumnya muncul bahwa akhir tahun ini akan menjadi akhir pagebluk yang sudah membelenggu dunia sejak dua tahun terakhir. Manusia yang sudah terpenjara di rumahnya sendiri selama dua tahun akhirnya kehilangan kesabaran, ingin segera bebas. Tapi, tidak dinyana, ternyata Omicron muncul membuyarkan semua harapan.

Akhir tahun adalah ‘’festive session’’ untuk bergembira di Eropa. Kemunculan Omicron membuat pesta-pesta ditunda dan dibatalkan. Liga sepak bola Eropa yang menjadi tontonan paling digemari publik dihentikan dan ditunda. Di Inggris, sedikitnya lima pertandingan ditunda karena para pemain tertular Omicron.

Klub-klub besar seperti Manchester United, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Chelsea, memutuskan menghentikan latihan karena virus menular dengan sangat cepat di tempat latihan. Di Jerman hal yang sama terjadi. Klub besar seperti Bayern Muenchen pusing kepala karena pemain-pemain utamanya terjangkit Omicron.

Publik sepakbola Eropa berpesta pora selama perhelatan Piala Eropa Juli 2021. Perhelatan yang diselenggarakan di 11 stadion di seluruh Eropa itu berlangsung nyaris tanpa protokol kesehatan. Kalau ada protokol, itu pun terlihat sebagai formalitas saja. puluhan ribu orang berdesakan tanpa jaga jarak dan tanpa masker di dalam stadion.

Pada saat itu di Indonesia sedang mengalami puncak masa penularan varian Delta yang menewaskan ratusan orang. Penularan varian baru itu sangat cepat dan ganas seolah tidak terbendung. Indonesia mengalami krisis kesehatan yang mengerikan. Semua rumah sakit penuh. Puluhan pasien bergeletakan di serambi dan halaman rumah sakit.

Tenda-tenda darurat didirikan untuk menampung pasien. Tabung oksigen menjadi barang mewah yang sangat sulit didapat. Setiap hari kita mendengar empat atau lima orang kerabat yang meninggal terserang varian Delta.

Pada kondisi puncak penularan Delta ini Eropa justru tengah berpesta penuh euforia. Kita yang berada di Indonesia gemas dan iri dengan keadaan di Eropa. Banyak yang menyangka bahwa herd immunity, kekebalan kelompok, telah tercapai di Eropa. Benua Biru itu telah bebas dari serangan pagebluk.

Ternyata tidak. Varian Omicron muncul dari tempat yang tidak diperkirakan sebelumnya. Selama krisis pandemi, benua Afrika menjadi seolah menjadi ‘’save zone’’, daerah aman, yang relatif tidak tersentuh. Banyak yang mengira bahwa orang-orang Afrika sudah mempunyai kekebalan alami yang membuat mereka kebal dari virus Covid-19 dengan berbagai variannya.

Selama dua dasawarsa terakhir Afrika menjadi pusat kemunculan dan penularan berbagai jenis penyakit paling ganas yang pernah dikenal di dunia. HIV-AIDS kali pertama dideteksi kemunculannya di Afrika dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Jutaan orang menjadi korban AIDS di seluruh dunia, dan Afrika menjadi wilayah dengan korban paling banyak.

Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan AIDS. Hal ini membuat heran banyak orang. Bagaimana mungkin negara-negara maju di Eropa dan Amerika tidak bisa menemukan obat untuk penyakit ini.

Sampai sekarang diyakini bahwa AIDS hanya bisa dicegah tetapi tidak bisa diobati. Orang yang punya penyakit ini harus berdamai seumur hidupnya sebelum akhirnya harus menyerah. Bintang basket NBA, Magic Johnson, menjadi legenda hidup yang harus membawa AIDS selama sisa hidupnya.

Ahli ekonomi dari Amerika Serikat, Prof Joseph E. Stiglitz, tidak percaya bahwa perusahaan farmasi Amerika dan Eropa yang canggih tidak bisa menemukan obat AIDS. Dia curiga ada konspirasi di balik penyakit ini. Stiglitz menduga bahwa obat sudah ditemukan, tetapi patennya tetap dikuasai oleh perusahaan farmasi besar. Selama paten itu tidak dilepas ke publik maka produk obatnya akan berharga sangat mahal dan tidak terjangkau oleh publik.

Itulah yang terjadi…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.