Itulah yang terjadi dengan obat AIDS. Obat sudah ditemukan tetapi dijual dengan harga sangat mahal yang mustahil dijangkau oleh rakyat Afrika yang mayoritas miskin. Karena itu Afrika akan tetap menjadi pusat penularan AIDS sampai kapanpun.
Selalu ada yang menangguk untung besar di tengah penderitaan manusia. Dalam kasus pandemi Covid-19 ini pun hal yang sama terjadi. Perusahaan-perusahaan farmasi besar dunia menangguk untung karena bisa menciptakan vaksin yang kemudian menjadi komoditas dagang paling laris didunia. Kecuali Astra-Zeneca vaksin produk Inggris, vaksin-vaksin yang ada sekarang dijual mahal karena ada biaya hak paten yang harus dibayar kepada pemiliknya.
Amerika Serikat sebagai biang sistem kapitalisme global sangat bangga dengan sistem paten itu. Penemuan inovasi sekecil apapun akan dipatenkan di Amerika dan akan mendapatkan perlindungan penuh dari pembajakan dan peniruan.
Amerika menjadi negara dengan jumlah paten paling besar di seluruh dunia. Dengan perlindungan hak paten yang ketat Amerika menjadi surga bagi para inovator. Inilah salah satu faktor yang membuat kapitalisme Amerika menjadi kuat dan maju. Para inovator dan inventor kerasan tinggal di Amerika karena jaminan perlindungan paten. Orang-orang seperti Bill Gates dan Elon Musk menjadi manusia terkaya di dunia karena paten mereka dilindungi.
Kapitalisme tidak mengenal solidaritas. Kalau toh ada solidaritas maka semuanya dilakukan atas nama keuntungan pasar. Obat AIDS tetap menjadi barang langka dan mahal. Hanya orang-orang elite seperti Magic Johnson yang bisa membelinya untuk memperpanjang umur.
Gaya hidup para bintang olahraga ini menjadi idola dan impian miliaran anak muda di seluruh dunia. Sayangnya, gaya hidup mereka tidak semuanya positif untuk ditiru. Banyak bintang olahraga yang tidak memberi teladan positif kepada penggemarnya.
Sampai sekarang sangat banyak bintang sepakbola Eropa yang menolak vaksinasi Covid-19. Di Inggris tingkat vaksinasi pemain liga profesional sepakbola baru di kisaran 65 persen. Di Jerman, pemain Bayern Muenchen, Serge Gnarby, menjadi aktivis anti-vaksin yang secara terbuka menolak vaksinasi.
Para pelatih di Eropa dibuat pusing oleh ulah para pemain ini. Akhirnya klub memutuskan untuk mendenda mereka dengan pemotongan gaji sampai 10 persen. Itu pun belum tentu efektif untuk memaksa mereka melakukan vaksinasi.
Badai Omicron mengobrak-abrik sepakbola Eropa. Publik tersadar bahwa ternyata krisis belum berakhir. Bahkan, banyak yang memperkirakan krisis akan makin berkepanjangan kalau para pemain masih tetap bertahan menolak vaksin. Pesta sepakbola Piala Dunia 2022, yang bakal digelar di Qatar, bisa berantakan gegara serbuan Omicron.
Indonesia akhirnya harus mengakui bahwa Omicron sudah masuk. Seorang petugas kebersihan di pusat isolasi Kemayoran dipastikan sudah terjangkit varian itu. Sebagaimana pada awal kemunculan Covid-19, pemerintah terkesan menutup-nutupi kasus dan terlambat mengantisipasi.
Kalau seorang petugas kebersihan bisa tertular Omicron, maka pertanyaannya, dari mana dia tertular. Bisa dipastikan bahwa dia tidak pernah bepergian ke luar negeri. Berarti bisa dipastikan bahwa dia tertular dari seseorang yang pernah bepergian ke luar negeri.
Sistem karantina Indonesia masih sering kebobolan oleh korupsi dan penyuapan. Seorang selebritas Instagram menyuap Rp 40 juta untuk bisa menghindari karantina. Seorang anggota DPR RI dan keluarganya dicurigai lolos dari karantina dengan alasan akan melakukannya secara mandiri.
Rencana untuk menerapkan PPKM selama liburan Natal dan tahun baru sudah terlanjur dicabut oleh Luhut Panjaitan. Sekarang kita harus bersiap-siap menerima kedatangan Omicron di tengah-tengah kita, dengan segala risiko terburuknya. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi