Joe Biden dan Kamala Harris dilantik menjadi presiden dan wakil presiden Amerika Serikat ke-46. Ini momen bersejarah bagi bangsa Amerika Serikat, karena seumur-umur baru sekarang mereka punya wapres perempuan.
Amerika sudah merdeka 245 tahun sejak 1776. Tapi, meskipun sudah merdeka hampir dua setengah abad Amerika belum pernah sekalipun punya presiden perempuan, dan baru sekarang keturutan punya wapres perempuan.
Sebelum ini partisipasi perempuan dalam kontestasi presiden Amerika sangat minim. Cawapres perempuan pertama Amerika baru muncul pada 1984, Geraldine Ferraro dari Partai Demokrat berpasangan dengan Capres Wolter Mondale tapi kalah.
Setelah itu lama tidak muncul capres-cawapres perempuan. Baru pada 2008 muncul cawapres Sarah Palin berpasangan dengan capres John McCain dari Partai Republik. Entah bagaimana ceritanya Palin, gubernur negara bagian Alaska yang terpencil, bisa menjadi cawapres. Pasangan itu pun kalah dari Barrack Obama yang berpasangan dengan Joe Biden yang sekarang menjadi presiden.
Entah dapat wangsit dari mana ketika itu. Penunjukan Palin yang tidak punya pengalaman nasional dianggap sebagai blunder politik dan menjadi bahan tertawaan nasional dan internasional karena kualitas Palin yang kelas kawe dua.
Kalau partisipasi perempuan dalam demokrasi menjadi salah satu ukuran kemajuan demokrasi maka Indonesia boleh menepuk dada, karena Indonesia yang baru berumur 75 tahun sudah pernah punya presiden perempuan, Megawati Soekarnoputri, pada 2001 sampai 2004.
Megawati memang tidak dipilih langsung melainkan dapat berkah dari kejatuhan Presiden Gus Dur karena impeachment. Ketika Megawati maju lagi pada kontestasi pilpres 2004 dia kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ketika itu menjadi menteri di kabinet Megawati.
Kekalahan dari SBY membuat Megawati jengkel setengah mati dan tidak pernah mau menghadiri dua pelantikan SBY. Sampai sekarang pun tak saling bertegur sapa. Mungkin seperti Trump yang tidak rela kalah dari Biden dan tidak mau hadir di inagurasi hari ini di Gedung Putih. Soal kualitas Megawati mungkin juga ada mirip-miripnya dengan Sarah Palin.
Dibanding dengan Indonesia sejarah Amerika masih seumur jagung. Amerika baru ditemukan oleh Columbus secara tidak sengaja pada 1492 dan masih berwujud tanah gersang yang dihuni penduduk asli Indian dengan peradaban yang masih rendah.
Pada waktu itu Majapahit sudah mulai mengalami kemunduran setelah sebelumnya menjadi penguasa regional dengan menguasai wilayah Asia Tenggara termasuk Tumasik, Singapura, sekarang dan wilayah Thailand modern.
Abad ke-16 dan 17 menandai kemerosotan politik wilayah Nusantara dan sebaliknya zaman keemasan Eropa mulai muncul melalui Rennaisance yang melahirkan Revolusi Industri. Dari Revolusi industri itu Eropa menjajah dan menguasai dunia. Inggris merajalela menguasai Asia dan Afrika dan menjadi imperium raksasa dan dengan bangga menyebut “the sun never set in in the British Empire” karena wilayah jajahannya membentang dari timur ke barat.
Negara Belanda yang besarnya hanya seukuran upil dibanding Indonesia menguasai keterampilan navigasi dan mempunyai teknologi senjata api yang maju sehingga bisa menguasai Indonesia sampai 350 tahun.
Kemajuan Eropa yang fenomenal hanya dalam waktu satu abad itu membuat tercengang para ahli sejarah. Sampai sekarang banyak muncul berbagai teori yang menjelaskannya, tapi semua bersifat spekulatif dan belum ada satu teori tunggal yang meyakinkan.
Demikian halnya dengan kemerosotan peradaban Islam yang sebelumnya selama tujuh abad menjadi peradaban dominan dunia. Sejak abad ke-7 sampai abad ke-14 peradaban Islam sudah membentang dari
Timur Tengah, Asia, sampai ke jantung Eropa di Cordoba, Spanyol. Pengaruh peradaban Islam yang dibawa oleh Kekhalifahan Turki Usmani terasa sampai ke Asia Tenggara termasuk di wilayah Indonesia.
Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa pada 1825 sampai 1830 nyaris bisa menghancurkan kekuasaan Belanda sampai kemudian Diponegoro ditangkap dan diasingkan dengan cara licik dan penuh tipu muslihat. Struktur dan strategi militer Diponegoro disebut-sebut dipengaruhi oleh struktur militer Turki Usmani. Bahkan ada sumber yang menyebut Diponegoro mendapat bantuan penasihat militer dari Turki Usmani.
Sejarah Indonesia pra-modern membentang ribuan atau malah ratusan ribu tahun. Jawa menjadi punjer atau episentrum peradaban ketika itu. Jawa menjadi pusat peradaban dunia dan menjadi titik awal berkembangnya manusia modern homo sapiens yang sekarang menjadi penguasa tunggal dunia.
Jejak manusia pertama Homo Neandertal yang menjadi cikal bakal manusia purba ditemukan di wilayah Jerman dan diperkirakan hidup 500 tahun yang lalu. Homo Neandertal kemudian diyakini musnah dan digantikan oleh spesies Homo Sapiens yang lebih modern dan berperadaban. Jejak Homo Sapiens ditemukan di Afrika dan juga di Solo, dan diduga hidup kira-kira 200 ribu tahun yang lampau.
Karena itu tidak berlebihan kalau ada klaim bahwa Jawa adalah punjer dunia, episentrum peradaban dunia, dan Center of the Universe. Dari Jawa-lah peradaban dunia lahir dan berkembang. Dari Jawa peradaban manusia berkembang ke seluruh penjuru dunia, dari peradaban nomaden “hunter and gatherer” pemburu dan pengumpul sampai menjadi peradaban yang menetap dan mulai mengenal pertanian.
Para ahli evolusi menemukan bukti-bukti perkembangan ras manusia yang disebut mempunyai kesamaan nenek-moyang dengan simpanse. Charles Darwin menemukan bukti-bukti itu di Pulau Galapagos, dalam ekspedisi ke Amerika Selatan pada 1831.
Di Pulau Galapagos Darwin menemukan bahwa beberapa jenis burung gelatik mempunyai bentuk paruh yang berbeda-beda sesuai dengan jenis makanan yang tersedia. Gelatik yang memakan biji-bijian yang keras mempunyai paruh yang tebal dan kokoh, gelatik yang makan hewan-hewan kecil punya paruh yang tajam. Dari situ Darwin menyimpulkan dalam buku masyhur “The Origin of Species” (1859) bahwa spesies itu muncul karena seleksi alam dan hanya spesies yang paling cocok dengan alam yang bisa bertahan dan berkembang.
Dari situ lahirlah teori “survival of the fittest” yang kontroversial, karena Darwin menyimpulkan bahwa semua spesies di muka bumi ini tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan lahir dari proses evolusi. Bukan hanya penghuni bumi yang lahir dari proses evolusi, bahkan bumi dan jagat raya ini pun diyakini lahir dari proses evolusi bukan dari penciptaan enam hari sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci. Perdebatan antara penganut teori penciptaan (creationist) melawan penganut teori evolusi berlangsung sengit sampai sekarang. Iman dan ilmu pengetahuan masih saling bertolak belakang.
Temuan Darwin dianggap sebagai temuan yang paling penting dan revolusioner di seluruh dunia dan tidak ada bandingnya sampai sekarang. Tapi, nun jauh dari Inggris, diam-diam seorang peneliti bernama Alfred Rusel Wallace menembus hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera untuk melihat ribuan jenis kupu, burung, mamalia, dan bunga-bungaan. Temuan Wallace yang dituangkan dalam buku “The Malay Archipelago” pada 1839 mencengangkan masyarakat ilmiah seluruh dunia. Meskipun terbitnya lebih belakangan dibanding buku Darwin tapi Wallace sudah terlebih dahulu terjun ke lapangan dibanding Darwin.
Wallace juga sempat bersurat kepada Darwin menceritakan hasil penemuannya di Nusantara. Darwin kaget dan tercengang membaca laporan Wallace.
Seharusnya penemu teori evolusi pertama adalah Alfred Russel Wallace bukan Charles Darwin. Dan pusat dunia, punjer dunia, center of the universe, adalah Indonesia, bukan Amerika Selatan, apalagi Amerika Serikat yang baru seumur jagung. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi