Senin, 27 April 2026, pukul : 20:21 WIB
Surabaya
--°C

Menolak Komunisme dan Kapitalisme (Bagian 1 dari 2)

KEMPALAN: Isu komunis biasanya merebak setiap akhir bulan September. Namun, kini di bulan Ramadan di bulan April yang masih jauh dari September, isu komunisme kembali menyeruak. Isu komunisme kali ini seolah lahir prematur, tidak biasanya, apalagi di bulan suci umat Islam ini.

DI bulan Ramadan ini beredar Kamus Sejarah Indonesia dalam dua versi: jilid I ‘Nation Formation’ periode 1900-1950 dan jilid II ‘Nation Building’ 1951-1998. Pemrakarsanya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sangat menarik membincang Kamus Sejarah Indonesia tersebut, sangat berwarna. Namun ketika menyentuh satu sisi wana sejarah mengenai komunisme, memicu snesitivitas dari kaum Muslim. Kamus ini tidak berimbang dalam menyuguhkan kosa kata kamus. Pada urutan secara abjad A, B, C, …. Z, ada sub kosakata yang hilang, sehingga terasa timpang. Dan ketimpangan ini, telak, pada titik sensitif sejarah Indonesia: komunisme vs Islam.

Kamus tersebut mengulik luka lama kaum muslim. Kamus tersebut  menngurangi porsi sejarah pendiri bangsa dari sisi kaum Muslim, dan terkesan memmberikan glorifikasi pada para Partai Komunis Indonesia (PKI).

Komunisme ditolak di Indonseia. Ini berdasarkan berbagai kejadian berdarah yang diinisasi oleh partai berlambang palu arit itu.

Mengapa Indonesia menolak komunisme. Ini sepatutnya yang menjadi pemahaman bersama.

Secara konseptual, dalam kamus Oxford, komunisme didefinisikan sebagai “a political theory derived from Karl Marx, advocating class war and leading to a society in which all property is publicly owned and each person works and is paid according to their abilities and needs.”

Pendiri Komunisme Karl Marx (foto: ist)

Pada awal kelahiran konseptualisasi Komunisme oleh Karl Marx, diorientasikan pada perlawanan terhadap kapitalisme. Secara ekonomi, Kapitalisme menciptakan kelas ekonomi: kelas borjuis (kapitalis) dan kelas proletar (buruh).

Kapitalisme menciptakan surplus value, dimana kerja keras buruh yang merupakan ujung tombak industri dihisap habis oleh kapitalis yang bersimbiosis dengan agamawan. Agamawan beperan memberikan “candu” bagi buruh. Buruh diiming-imingi kenikmatan surgawi bagi para pekerja keras, sehingga selelah apapun, imajinasi surga menjadi doping yang melenakan buruh sehingga suka rela untuk dieksploitasi.

Karl Marx melihat eksploitasi itu dan menyimpulkan bahwa kaum buruh harus bangkit melawan. Melawannya dengan kebersamaan, community, kesatuan. Buruh kemudian melakukan revolusi kelas dengan menghabisi kaum kapitalis dan menguasai alat produksi. Revolusi Ini untuk menghilangkan kelas. Semua properti milik bersama. Dalam Komunisme ini setiap orang kemudian bekerja dan dibayar berdasarkan kemampuan dan kebutuhannya.

Antara direktur perusahaan dengan buruh harus bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka dibayar sesuai dengan kebutuhan. Dirketur dan buruh bekerja seusai kapasitasnya, dan dibayar sesuai kebutuhannya. Kebutuhan sebulan seorang buruh bisa jadi lebih besar dari seorng direktur. Buruh dengan anak banyak gajinya lebih besar dari direktur yang hidup membujang.

Dalam konteks ini beberapa poin dalam komunisme ditolak oleh orang Indonesia yang mayoritas adalah beragama Islam yang telah meletakkan pinsip keagamaannya dalam Pancasila.

Pertama, bahwa konsep komunisme tidak mendasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dalam agama, bahkan agama dinilai sebagai candu. Ini pemahaman yang tidak dibenarkan dengan Islam yang memandang Tuhan adalah pusat orientasi kegiatannya  yang memberikan gambaran mencerahkan bagi manusia dan memberikan pembebasan dari kungkungan duniawi yang semu.

Kedua, konsep revolusi untuk mewujudkan cita-cita ideology komunisme yang menganut paham materialisme dialektika ini menghalalkan segala cara bahkan secara berdarah. Ini berbeda dengan cara perubahan dalam Islam. Bahwa pertumpahan darah bukanlah alternatif aktif untuk mewujudkan perubahan. Rasulullah melakukan perubahan secara gradual dan perlahan untuk menanamkan pemahaman yang mendalam tentang kebenaran.

Ketiga, terkait konsep pekerjaan bahwa orang bekerja sesuai kemampuan dan dibayar sesuai kebutuhan menunjukkan adanya ketidakadilan. Islam mengajarkan bahwa seseorang itu dibayar sesuai dengan kapasitas pekerjaannya. AQuran surat An Najm ayat 39 menyebutkan bahwa seseorang itu menerima sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Kemudian diturunkan dalam prinsip fiqih “Al Ghunmu bil ghurmi” dan “alkharaj bi dhaman” bahwa keuntungan itu berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi. Bahwa, semakin tinggi risiko pekerjaan maka semakin tinggi pula tingkat gajinya.

Isu upah buruh selalu menjadi isu yang seksi di industri (foto:ist)

Keempat, konsep tentang semua asset atau properti milik bersama juga bertentangan dalam Islam. Islam mengajarkan bahwa seluruh alam semesta adalah milik Allah. Manusia hanya diberikan hak guna pakai selama hiddup di dunia karena statusnya sebagai khalifah (QS Al Baqarah:30). Apa yang dilakukannya terhadap properti Allah itu adalah untuk meraih pahala sebaik mungkin yang menjadi kebaikan di akhirat kelak. Aturannya adalah nbahwa Allah menggariskan harta yang “dimiliki” oleh manusia itu sebagian ada hak orang lain yang harus diberikan dalam bentuk zakat infaq dan shadaqah. Dalam konsep kepemilikan ini komunisme berbeda dengan Islam.

Kelima, dalam hal intervensi pemerintah pada pasar, komunisme memberikan intervensi sepenuhnya serratus persen dalam pengelolaan pasar sehingga terkesan tidak ada hak individual dalam pengelolaan pasar. Islam berbeda, bahwa pasar itu diberikan sepenuhnya pengelolaan pada mekanisme pasar melalui supply and demand. Karena Allah adalah musa’ir, penentu harga, dan harga itu ditentukan melalui mekanisme yang telah ditetapkanNya. Pemerintah mengintervensi ketika terjadi distorisi atau ketidakalamiahan fenomena misalnya terjadi ikhtikar (penimbunan barang) yang merusak harga pasar, terjadi bay najasy yang memanipulasi persepsi permintaan, talaqi rukban atau pasar gelap, dan sebagainya.

Keenam, mengenai masyarakat tanpa kelas, Islam menilai ini berbeda. Kelas dalam konteks ini adalah strata sosial. Strata sosial terlihat dalam status ekonomi kaya, miskin, dan menengah. Perbedaan ini menjadi sebuah keniscayaan yang mana antara satu strata dengan strata lainnya bisa menjalin kerjasama dalam pekerjaan. Islam mengajarkan bahwa antara kaya dan miskin terjadi relasi yang mutual. Demikain juga dalam hal kekayaan, Allah mewajibkan yang kaya membayar zakat kepada yang miskin untuk mewujudkan tercipta keadilan dan kesimbangan sosial.

Di atas semua, memang telah tegas bahwa komunisme bertentangan dengan niliai Islam, yang dalam konteks ini tentu terepresentasi dalam Pancasila. Karenanya ideologi apapun jika tidak compatible dengan Pancasila, dalam konteks yang lebih spesifik masyarakat Muslim Indonesia, tentu akan mendapat penolakan.

Namun memang dalam penulisan sejarah, mengutip Winston Churchill yang katanya dari Napoleon, “History has been written by the victors” (“Sejarah ditulis oleh para pemenang”]). Dan tentunya kita bisa menilai sendiri siapa yang menulis sejarah saat ini adalah si pemenang. Bisa jadi pemenang pemilu.

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Penanggung Jawab LKBH Umsida)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.