Senin, 27 April 2026, pukul : 21:54 WIB
Surabaya
--°C

MENGENANG KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Oleh: Nasmay L. Anas

KEMPALAN: SIAPAKAH yang tidak kenal dengan Siti Khadijah binti Khuwailid? Dialah Ummul Mukminin. Isteri tercinta Rasulullah Muhammad Saw. Wanita bangsawan yang kaya raya. Saking kayanya Khadijah, bahkan 2/3 dari seluruh wilayah Mekah adalah harta miliknya.

Ketika itu, semua orang hormat kepadanya. Tidak seorang pun penduduk Mekah yang berani lancang di hadapannya. Meski demikian, dia adalah orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad.

Dialah orang pertama yang memeluk Islam. Lalu dia pulalah yang paling gigih mendukung dakwah Rasulullah. Sampai seluruh kekayaanya dia gunakan untuk mendukung dakwah Islam yang dijalankan suaminya.

Sehingga di akhir-akhir hayatnya tidak ada lagi hartanya yang tersisa. Bahkan pakaian yang dia gunakan sehari-hari telah lusuh dengan 83 tambalan. Dalam sebuah kisah yang mengharukan, Rasulullah baru saja pulang dari perjalanan dakwahnya. Tentu saja beliau lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Setelah menerima caci maki, hinaan dan sumpah serapah dari orang-orang yang didakwahinya. Bahkan setelah dikejar-kejar dan dilempari batu. Sehingga sewaktu pulang ke rumah tidak jarang beliau pulang dalam keadaan tubuh yang berdarah-darah.

Sebagai isteri, Khadijah begitu risau melihat penderitaan Rasulullah. Melihat suaminya pulang dalam keadaan kelelahan, Khadijah selalu bergegas untuk menyambutnya di depan pintu. Tapi kali itu, Rasulullah mencegahnya. “Wahai isteriku. Tetaplah engkau di tempatmu,” kata beliau yang menyadari bahwa Khadijah tidak kalah lelah dan menderita lahir batin dalam mendukung dakwahnya.

Khadijah tertegun. Diam terpaku di tempatnya. Sedangkan dia sedang menyusukan putri kesayangannya, Fatimah. Karena seringkali kekurangan makanan, air susunya pun sulit keluar. Waktu itu, bukan air susu yang disedot Fatimah. Tapi darah yang tanpa disadarinya terminum oleh putrinya itu.
Rasulullah bergegas menghampirinya. Mengambil Fatimah dari pangkuannya. Lalu meletakkannya di tempat tidur.
“Aku tahu engkau lelah ya Rasulallah. Biarkan aku memberimu minum,” ucap Khadijah.
“Aku juga tahu bahwa engkau juga lelah, sayangku,” jawab Baginda Rasul.
“Tapi aku hanya di rumah. Tidak ada yang mencaci maki dan menghinaku. Bahkan tidak ada yang menyakitiku.”
“Biarlah orang menghina dan menyakitiku. Selama Allah tetap meridlai jalanku.”

Rasulullah kemudian berbaring di pangkuan Khadijah. Karena begitu kelelahan, beliau pun tertidur di pangkuan isteri tersayangnya itu. Dan Khadijah membelai kepalanya dengan lembut. Semakin dipandangnya wajah Rasulullah, yang selalu kelelahan dan kesakitan sepulang dari berdakwah, semakin runtuhlah perasaan Khadijah. Sehingga tak terasa meneteslah airmata di pipinya. Kemudian juga menetes di wajah Rasulullah. Sehingga beliau terbangun dari tidurnya.
“Wahai isteriku! Mengapa engkau menangis, sayangku? Apakah engkau menyesal karena bersuamikan aku?” tanya Rasulullah yang tersentak melihat isteri kesayangannnya itu menangis.

Khadijah menyeka airmata dengan punggung tangannya. Berusaha tersenyum agar Rasulullah tidak mengkhawatirkan dirinya.
“Tapi aku tahu engkau menderita, Khadijah. Dahulu engkau adalah wanita terhormat. Wanita dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Tidak seorang pun berani lancang kepadamu. Tapi sekarang engkau telah terpenjara dalam kemiskinan kita. Bahkan orang-orang yang dulu menghormatimu sekarang sudah banyak yang menjauh. Engkau pun tak lepas dari hinaan,” ungkap Rasulullah lagi.

Khadijah menggelengkan kepalanya.
“Tapi sekarang engkau tidak hanya dihinakan orang. Bahkan seluruh hartamu telah habis untuk mendukung perjuangan dakwahku. Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihinakan orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu telah habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, wahai Khadijah?” “Wahai Nabi Allah! Bukan itu yang aku tangiskan. Bukan itu yang aku takutkan.

Dulu aku adalah wanita terhormat. Dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Dulu bahkan aku memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki kebanyakan wanita di seluruh Mekah. Tapi seluruh hartaku telah aku serahkan untuk Allah dan Rasulnya. Kemuliaan dan kebangsawananku pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Nabi masih tertegun mendengarkan ucapan Khadijah.

“Wahai suamiku. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tapi engkau masih terus memperjuangkan dakwah ini. Engkau masih tidak berhenti menegakkan agama Allah ini. Sekiranya aku mati, sedangkan perjuangan dakwahmu belum selesai. Aku menangis karena dengan begitu habislah dayaku, sedangkan tiang agama ini belum tegak. Karena itu, jika nanti engkau akan menyeberangi sungai, tapi engkau tidak mendapatkan rakit atau jembatan, maka galilah kuburku. Ambillah tulang belulangku untuk kau jadikan jembatan. Sehingga engkau masih tetap dapat menemui manusia. Untuk menyampaikan risalah sucimu.”

Ketika Khadijah jatuh sakit, Rasulullah masih tak henti melanjutkan perjuangan dakwahnya. Meskipun hatinya selalu terpaut di rumah karena mengingat Khadijah yang sakit parah, tapi misi perjuangannya tak boleh berhenti. Karena itu, Khadijah memanggil puteri kesayangannya, Fatimah. Ketika itu ajalnya sudah semakin dekat.

Lalu dengan suara lemah dia berbisik kepada puteri kesayangannya itu. “Fatimahku sayang, ajalku segera tiba,” katanya. “Bila aku mati, tolong mintakan kepada ayahmu agar dia memberikan sorban yang biasa dia pakai waktu menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu untuk memintanya sendiri.”

Ketika Fatimah menyampaikan hal itu kepada ayahnya, Rasulullah merasakan betapa remuk hatinya. Lalu beliau berkata kepada Khadijah. “Wahai isteriku! Allah menitipkan salam kepadamu. Dan telah dipersiapkan (Allah) tempatmu di surga.”
Ketika Khadijah menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya, Rasulullah benar-benar bersedih. Didekapnya tubuh yang tidak bernyawa lagi itu dengan kesedihan yang mendalam. Sehingga tanpa sadar menetes airmata beliau. Yang membuat semua orang yang ada di tempat itu ikut meneteskan airmata.

Dalam suasana yang penuh kesedihan itu, datanglah Jibril sambil mengucapkan salam. Bersamanya dia membawa lima lembar kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril sambil bertanya: “Untuk siapakan lima kain kafan itu wahai Jibril?”
“Untuk Khadijah, untuk engkau, Fatimah, Ali dan Hasan,”  jawab Jibril, yang tiba-tiba menangis.
“Ada apa ya, Jibril?” tanya Rasulullah.
“Cucumu yang satu lagi, yaitu Husein, tidak memiliki kafan,” jawab Jibril. “Dia akan dibantai. Tergeletak di tanah bermandikan darah. Tidak akan dikafani dan tidak dimandikan.”

Rasulullah begitu sedihnya ketika Khadijah wafat. “Di dekat pembaringannya, beliau berkata: Wahai isteriku! Aku tak akan pernah mendapatkan isteri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam tidak tertandingi oleh siapa pun. Dan Allah sudah mengetahui amalanmu. Aku dan semua kaum muslimin sudah menikmati kekayaanmu. Bahkan pakaian yang kami pakai ini adalah darimu. Sekarang engkau meninggalkanku sendirian. Aku tidak tahu siapa lagi yang akan dapat membantuku.”
Tiba-tiba Ali bin Abi Thalib, menantu beliau sudah berdiri di dekatnya. “Aku ya Rasulallah,” ujarnya menimpali ucapan nabiyullah itu.

Di samping jasad isterinya itu, Rasulullah berdoa: “Ya Allah ya Rabbi! Limpahkanlah rahmatmu kepada Khadijah, yang selalu mendukung perjuanganku walau betapa pun beratnya. Yang selalu menyenangkanku ketika orang lain menyusahkanku. Yang selalu mempercayaiku saat orang lain menentangku. Yang selalu menenteramkanku ketika orang lain membuat aku gelisah.”

Khadijah binti Khuwailid. Lambang kekuatan wanita di samping seorang pemimpin yang besar. Yang perjalanan hidupnya penuh onak dan duri. Tapi tidak pernah habis untuk diceritakan dan dikenang selamanya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.