Logika Lamis

waktu baca 3 menit

Oleh: Ady Amar

Logika itu berpikir secara lurus, bersumber pada akal. Logika cenderung pada kebaikan. Bahkan logika masuk dalam cabang filsafat.

Tentu tidak dimaksudkan menyentuh filsafat segala, tulisan ini dibuat. Terlalu berbelit, dan perlu suasana lebih “kondusif” serius bicara soal itu. Kita bicara yang ringan-ringan saja.

Logika itu berpikir lurus, lalu tersampaikan lewat lisan. Itulah pikiran ajeg, tidak melintat-melintut, tidak konsisten, dan mengikuti kondisi tertentu.

Logika tidak selaras dengan berbohong. Logika mestinya jauh dari itu. Tapi jika logika tampak berubah-ubah, dari yang lurus menjadi bengkok, bisa jadi itu karena sebab.

Bisa jadi, itu upaya yang memang diikhtiarkan. Upaya yang disengaja untuk pertahankan sebuah status apa pun, meski tidak abadi.

Jadi hal biasa jika tampak logika menjadi tidak lurus. Berubah-ubah seiring waktu, antara logika yang dibangunnya. Tidak ada rasa malu pada perubahan yang dibuat. Menganggap biasa saja.

Inkonsistensi lakunya itu dianggap sewajarnya, bahkan memaksa lainnya untuk menerima logika itu dengan sebenarnya.

Logika tidak lurus itu jadi kebiasaan yang distigma hal biasa. Bahkan coba ditularkan pada khalayak, atau setidaknya ingin diakui sebagai hal biasa.

Lamis

Lamis itu keluar dari mulut. Itu kata lain dari berbohong. Sebuah pernyataan yang dicipta untuk melawan logikanya sendiri.

Logika yang dicipta untuk berbohong. Itulah logika lamis. Logika lamis menemukan bentuknya, lalu disampaikan pada khalayak.

Logika lamis yang dicipta saban waktu itu, dianggapnya prestasi dari seni meyakinkan pihak lain yang lalu mempercayai apa yang dilogikakan itu.

Jika ia pejabat, maka logika yang digunakan dimaksudkan agar semua pihak bisa menerima logika yang dibangunnya.

Lalu semua logika yang bersumber pada akal, pada kebenaran, mesti tunduk pada logika lamis yang dibangunnya.

Tidak perduli jika logika yang dibangun itu, logika lamis, menyalahi tatanan. Hukum ditafsir semaunya.

Logika lamis ini menemukan bentuk, karena ditunjang perangkat lainnya. Tampak jumawa, sombong, mentang-mentang… semua mesti tunduk.

Akhir-akhir ini kita jumpai sosok-sosok itu, manusia dengan logika lamis. Berkuasa atas segalanya, bahkan membuat tafsir hukum baru.

Logika lamis itu, berciri mencolok saat membuat ketetapan berbeda atas sebuah kasus dengan kasus lainnya. Logika bisa berbolak-balik. Satu dijunjung, dan satunya diinjak dengan logika yang dibangunnya.

Ilustrasi sebuah dialog perlu diberikan di sini. Tentu dialog imajiner. Dialog antara penjual koran dan penjaja jajanan ringan di sebuah terminal angkutan umum.

Saat penjaja jajanan itu numpang membaca koran, lalu nyeletuk dengan logika yang dibangunnya, meski tampak bicara asal-asalan…

Katanya, “Iki piye Pak Mahfud MD. Jarene nek laskar FPI ora ngadang polisi, ora mungkin ditembak polisi.”

Penjual koran yang dapat aduan rasa kecewa itu, lalu nimpali, “Lho rak bener sing diomongke kuwi.”

“Yo bener nek nganggo logikane Pak Mahfud. Opo mungkin laskar iku nyegat nek ora dibuntuti polisi? Mergo dibuntuti iku, cegatan kuwi muncul,” sambil ia ngeloyor pergi meninggalkan kawan yang tergagap.

Dialog yang muncul dalam masyarakat itu dibangun sebagai protes atas logika yang diperolok. Memprotes logika yang “diselewengkan”. Melihat peristiwa dari sudut kepentingan tertentu, mengabaikan kepentingan lainnya.

Mengabaikan akan bangunan “sebab”, yang itu tidak berdiri sendiri, adalah upaya memenggal “sebab” dari “akibat”, itu ikhtiar mencipta opini.

Apakah Pak Mahfud MD, Menko Polhukam, itu memakai “logika lamis” dalam peristiwa tewasnya 6 laskar FPI? Tentu tidak semudah itu melihatnya. Mungkin semata hanya khilaf.

Sejarah pada saatnya akan memperlihatkan peristiwa itu semua secara gamblang. Seperti kita tengah melihat film true story dengan durasi panjang.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *