Menanti Dampak Psikologi, Ekonomi, dan Kesehatan Vaksin (1)
Vaksin. Ada juga yang menyebutnya imunisasi. Soal istilah bebaslah. Tak perlu diperdebatkan. Vaksin menyelamatkan hidup jutaan orang setiap tahun. Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh (imun) manusia untuk melawan virus dan bakteri yang menjadi target-nya. Jika belakangan tubuh terpapar penyakit tertentu, ia akan mampu melawan penyakit yang sudah dilatih tersebut sebelumnya. Penderitanya pun menjadi kebal terhadap penyakit tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan saat ini lebih dari 50 vaksin Covid-19 sedang diujicobakan. Ketika vaksin yang efektif dan aman ditemukan, COVAX (dipimpin oleh WHO, GAVI dan CEPI) akan memfasilitasi akses dan distribusi vaksin ini ke seluruh dunia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah berupaya mendapatkan 108 juta dosis vaksin Covid-19 secara gratis melalui kerja sama multilateral dengan fasilitas COVAX. Hingga saat ini, jumlah vaksin Covid-19 gratis yang sudah pasti diperoleh melalui COVAX sebanyak 54 juta dosis.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terpilih menjadi salah satu co-chairs atau ketua bersama dari COVAX AMC Engagement Group. COVAX ini merupakan forum internasional yang menjamin akses vaksin covid-19 sebagai program WHO.
WHO menegaskan orang berisiko tinggi akan diprioritaskan. Hal itu diterjemahkan Pemerintah Indonesia dengan mem-vaksin terlebih dulu tenaga kesehatan di garda terdepan, seperti dokter, perawat, dan mereka yang berinteraksi langsung dengan kondisi berisiko tinggi corona.
Dosen mata kuliah Imunologi di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya yang mendalami vaksin dari perspektif psikologis, Ida Bagus Made Artadana S.Si., M.Sc., mengungkapkan vaksin penting bagi masyarakat Indonesia dan dunia. “Vaksin dalam kondisi saat ini penting dilakukan. Selain dibutuhkan untuk memberikan kekebalan bagi kita (dari corona), juga penting untuk memberikan ketenteraman psikologis bagi masyarakat. Masyarakat bisa terlepas dari horror psikologis. Ketakutan akan korona dan tentu untuk kesehatan kita sendiri,” ujar Arta kepada kempalan.com.
Pendapat Artadana benar. Bahkan sangat benar. Ketakutan akan korona memang tidak main-main: berdampak besar terhadap penyusutan drastis aktivitas perekonomian. Kalangan menengah atas yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi dari sektor konsumsi seperti mengkeret. Mereka enggan berbelanja. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 50 persen lebih di-drive konsumsi masyarakat, sebagian besarnya berasal dari belanja kelas menengah atas.
Di sekeliling penulis, kelas menengah atas ketakutan Covid-19 seperti ini ada banyak. Seorang kenalan bertempat tinggal di perumahan elite Citraland Surabaya Barat, sama sekali tak memperbolehkan keluarganya keluar dari pagar rumah. Bertemu tukang sayur jauh-jauhan dari pagar rumah. Bahkan bertemu orangtua dan mertua sekalipun sempat tak boleh.
Akibatnya, data Bank Indonesia menunjukkan simpanan di perbankan nasional melonjak. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan masyarakat di 110 bank umum per November 2020 mencapai Rp6.701 triliun atau naik 10,91 persen. Kita mafhum, secara struktur dana simpanan masyarakat di perbankan, kalangan kaya mendominasi simpanan walaupun jumlah rekeningnya sedikit.
Pemicu kelas menengah atas enggan berbelanja tentu jelas. Mereka punya literasi tinggi terhadap bahaya corona. Menyaksikan hari demi hari angka terjangkit/positif corona di Tanah Air selalu memecahkan rekor terjangkit baru hingga belasan ribu per hari, bahkan kini tertinggi di Asia Tenggara disertai kabar kematian di lingkungan terdekat maupun tokoh-tokoh prominen, tentu membuat mereka ketakutan, sehingga perlu meringkuk di rumah saja. Terkini, jumlah kasus terkonfirmasi positif virus Corona Covid-19 tercatat bertambah 12.818 kasus pada Jumat (15/1/2021). Total positif menjadi 882.418, sembuh 718.696, dan meninggal 25.484.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengungkapkan kepada kempalan.com, Surabaya mendapatkan 33.420 vaksin Sinovac. Dibandingkan daerah lain di Surabaya Raya: Sidoarjo dan Gresik, jumlah antivirus yang didapatkan Surabaya terbilang paling besar. Namun, angka ini masih jauh di bawah total penduduk Surabaya yang terdaftar secara KTP: lebih dari 3 juta penduduk.
Tetapi, bukan fakta soal kuantitas ketersediaan vaksin yang penting. Seperti ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menjalani vaksinasi Covid-19 perdana, Rabu (13/1/2021), dengan tulisan vaksin aman dan halal di latar belakang: dampak psikologis lah yang diharapkan ikut berperan.
Bahwa masyarakat jangan cemas karena ada vaksin. Karena ada vaksin, maka pandemi (berpotensi) segera berakhir, roda perekonomian mulai berputar, beban fiskal anggaran pemerintah berkurang dan seterusnya. (*/FREDDY MUTIARA/bersambung)









