Selasa, 28 April 2026, pukul : 23:05 WIB
Surabaya
--°C

Itu Hak Pak Jokowi, Kenapa Mesti Diributkan?

Oleh : Ady Amar

Itu hak Pak Jokowi untuk tidak mengucapkan kalimat ta’ziah, rasa duka atas meninggalnya Syekh Ali Jaber. Kenapa mesti diributkan?

Biar saja jika beliau memilih tidak mengucap kalimat ta’ziah pada ulama, yang pada usia 10 tahun sudah hafal al-Qur’an. Dan pada usia 13 tahun sudah jadi imam sholat pada salah satu masjid di Madinah.

Lalu kenapa mesti Pak Jokowi diseret-seret, lalu diperbandingkan sikapnya yang beda kala penyanyi Glenn Fredly meninggal, dan ia mengucap perasaan dukanya. Itu hak Pak Jokowi, siapa boleh ngelarang?

Tidak boleh ada orang yang memaksa seseorang berbuat untuk mengatakan sesuatu, atau tidak mengatakan sesuatu, yang itu bukan sesuatu yang diinginkannya.

Apalagi ia seorang Presiden, seseorang yang punya marwah yang tidak seorang pun boleh mengusik meminta melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.

Biarkan Pak Jokowi dengan hak yang dimilikinya, baik personal maupun selaku presiden tidak mengucapkan kalimat ta’ziah. Sekali lagi, jangan pernah ada yang mengharap dengan cara memaksa.

Pak Jokowi tidak mengucapkan kalimat ta’ziah, itu pastilah ada sesuatu hal yang mengganjal. Soal pastinya kenapa, tentu cuma beliau yang tahu. Kita cuma bisa menduga-duga, dan itu bukan hal terlarang.

Mengapa Pak Jokowi enggan memberi ucapan kalimat ta’ziah, itu bisa jadi karena ia tengah risau dan teramat sedih dengan meninggalnya ulama asal Madinah itu. Kok bisa begitu?

Risau dan sedihnya itu yang menyebabkan lidah kelu dan tenggorokan tercekat tak mampu mengucap kalimat ta’ziah. Dugaan bisa jadi karena itu.

Puncak kesedihan seseorang biasanya menyebabkan yang bersangkutan “lunglai” perasaan, tidak mampu berbuat apa-apa. Rasanya perasaan itu yang tengah dirundungnya.

Suasana itu bisa terlihat dan terbawa, saat Pak Jokowi mengucapkan rasa duka atas musibah bencana alam di beberapa tempat, tapi lupa menyebut bencana banjir di hampir seluruh kawasan Kalimantan Selatan (Kalsel). Bisa jadi itu efek perasaan atas wafatnya Syekh Ali Jaber.

Adalah salah dan ngawur jika ada yang lalu mengatakan, Pak Jokowi tidak menyebut Kalimantan karena kecewa. Pulau yang diharapkan tidak banjir kok malah banjir.

Padahal pulau itu yang rencana akan dijadikan ibu kota, meninggalkan DKI Jakarta, yang kerap banjir. Karena itu ia menghindar mengucap duka untuk Kalimantan Selatan.

Bisa jadi juga Pak Jokowi tidak menyebut duka banjir Kalsel, itu tentu tersebab lupa selupa-lupanya, itu hal manusiawi. Bukan lupa yang disengaja, seperti koruptor saat di pengadilan, yang seolah jadi orang pelupa, pura-pura bego.

Jadi, sekali lagi ya, mbok kita sabar dan mau mengerti melihat sikap Pak Jokowi yang tidak/belum mengucapkan kalimat ta’ziah pada ulama dengan perangai lembut itu.

Jangan prejudice yang macam-macamlah. Apalagi sampai mengatakan tentangnya hal tidak sepatutnya. Itu tidak baik. Jadi bersikaplah selayaknya. Jangan berlebihan.

Sekarang coba kita balik pertanyaannya jadi begini, Terus kalau Pak Jokowi mengucapkan kalimat ta’ziah, itu untungnya buat umat Islam apa sih? Kan biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang wah… Justru Pak Jokowi yang diuntungkan, ia akan tampak berempati pada ulama.

Jadi, hentikan “rengekan” meminta untuk mengucapkan kalimat ta’ziah segala. Itu cengeng, tidak guna. Buang-buang waktu, mubazir. Bagus kalau kita minta yang lain saja pada Pak Jokowi, minta hal-hal yang sekiranya bisa dipenuhinya.

Misal, meminta untuk stabilkan harga kedelai, karena tempe dan tahu, makanan sehari-hari naik harganya, bisa-bisa tak terbeli oleh kalangan rentan.

Atau boleh juga minta keadilan atas terbunuhnya 6 laskar eF Pe I. Karena nyawa satu orang yang terbunuh dengan semena-mena, itu sama nilainya dengan terbunuhnya seluruh umat manusia.

Ini permintaan yang seharusnya bisa dipenuhi oleh presiden. Tidak sulit untuk diungkap. Apalagi jika mau membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), karena hasil temuan Komnas HAM dianggap kurang memuaskan.

Permintaan wajar, itu jika mengacu pada peristiwa yang sama, yaitu terbunuhnya Pendeta Yeremia Zanambani, di Papua. Lalu presiden dengan sigap membentuk TGPF.

Sebaiknya kita sudahi dulu saja ya opini ringan kali ini, takut kalau kepanjangan malah nanti ngelantur gak keruan.*

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.