Jokowi dan ASEAN

waktu baca 7 menit
Foto: pelitakarawang

KEMPALAN: INDONESIA resmi menjabat sebagai ketua ASEAN (Associations of South East Asian Nations) untuk tahun 2023. Peresmian ini ditandai dengan acara kick off serta pemukulan alat musik rebana oleh Presiden Indonesia Joko Widodo di Bundaran Hotel Indonesia Minggu (29/1).

Seperti biasanya, Presiden Joko Widodo memakai kesempatan ini untuk mementaskan ‘’street performance’’, dengan menggowes sepeda bambu dari Istana Merdeka melintasi Jl Sudirman yang sedang ramai pejalan kaki yang menikmati car free day.

Jokowi yang menggunakan jaket “bomber” hijau, kaos lengan panjang putih, topi dan celana panjang, didampingi sejumlah jajaran menteri. Jokowi lalu turun dan berjalan kaki ke lokasi acara bersama sejumlah duta besar dan perwakilan tetap negara sahabat.

Setelah bersepeda, Jokowi turun di Jalan MH Thamrin, kemudian melepas jaketnya dan berjalan kaki menuju Bundaran HI. Tidak lupa Jokowi menyapa warga, bersalaman, dan seperti biasanya berselfie ria.

Jokowi ingin membuat para duta besar terkesan dengan kedekatannya pada rakyat. Jokowi juga ingin membuat negara-negara tetangga terkesan dengan menampilkan aneka pertunjukan. Di depan iring-iringan Jokowi ada parade marching band dan pawai kostum adat. Setiba di lokasi acara, Jokowi dan perwakilan negara disambut abang-none di DKI Jakarta.

Ketika mememegang keketuaan G-20 tahun lalu Indonesia juga menampilkan berbagai show. Penutupan di Bali dilakukan dengan pesta pertunjukan extravaganza. Negara-negara anggota G-20 senang dengan pertunjukan itu, tapi mungkin tidak ada yang meniru model seremonial ala Indonesia itu. Tahun ini keketuaan G-20 dipegang India. Publik akan melihat apakah nanti pada pembukaan dan penutupan konferensi India akan menampilkan atraksi tari-tarian India dan atau menampilkan artis-artis Bollywood, atau India lebih bersikap efisien karena kondisi ekonomi yang tidak menentu.

BACA JUGA: Samanhudi Anwar dan Ken Arok

Kali ini, level ASEAN Indonesia juga memakai pola yang sama. Saat kick off di Bunderan HI itu sudah terlihat kentalnya acara seremonial. Nanti pada saat konferensi puncak ASEAN hampir pasti akan ada pesta extravaganza seperti G-20 di Bali tahun lalu.

Di tengah kondisi global yang sedang berubah dengan cepat apa ASEAN masih relevan? Indonesia mencoba menjadikan ASEAN masih tetap relevan. Hal itu terlihat dari tema yang dibuat oleh Indonesia ‘’ASEAN Matters: Epicentrum of Growth.”

Presiden Jokowi menyampaikan optimisme bahwa ASEAN akan tetap relevan serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang penting di kawasan. Indonesia bertekad mengarahkan kerja sama ASEAN tahun 2023 untuk melanjutkan dan memperkuat relevansi ASEAN dalam merespon tantangan kawasan dan global, serta memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, untuk kemakmuran rakyat di Asia Tenggara.

Elemen pertama adalah ASEAN Matters. Bagaimana Indonesia dengan keketuaannya tetap menjadikan ASEAN itu relevan dan penting tidak saja bagi rakyat Indonesia, tetapi juga bagi rakyat ASEAN.

ASEAN sebagai pusat pertumbuhan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN selalu bertumbuh lebih tinggi dibandingkan negara lain di luar ASEAN. Sejarah ASEAN itu selalu terkait dengan masalah ekonomi dan hampir semua waktu itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN selalu lebih tinggi dari dunia.

BACA JUGA: Kaesang, dari Bisnis Pisang ke Politik

ASEAN berdiri pada 1967 di Bangkok. Presiden Soeharto menjadi penggagas berdirinya ASEAN sekaligus menjadi politisi paling senior dan paling dihormati oleh negara-negara anggota. Ketika itu para pemimpin negara-negara Asia Tenggara adalah para pemimpin heavy weight, kelas berat, yang sangat berpengaruh di kawasannya maupun di dunia.

Selain Pak Harto ada Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, dan Perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad. Di antara para pemimpin itu Pak Harto paling didengar pendapat dan pandangan-pandangannya.

Ketika itu Pak Harto baru saja dilantik sebagai presiden Republik Indonesia setelah menghancurkan gerakan PKI yang mencoba merebut kekuasaan melalui kudeta. Singapura baru saja merdeka dan Lee Kuan Yew juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat anti-komunis. Sepanjang perjuangannya membentuk Singapura Lee Kuan Yew bertarung keras dengan orang-orang komunis Singapura yang didukung oleh Tiongkok.

Malaysia di bawah Teuku Abdurrahman juga sangat khawatir akan serangan kelompok komunis yang sangat agresif. Pemberontakan komunis dari wilayah-wilayah pinggiran Malaysia menjadi ancaman yang konstan bagi Malaysia yang baru menerima kemerdekaan dari penjajah Inggris.

Dalam semangat anti-China dan anti-komunis itulah ASEAN didirikan. Deklarasi Bangkok 5 Agustus 1967 menjadi landasan berdirinya ASEAN dan tujuan utama adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan, meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.

BACA JUGA: Fajar Sadboy dan Pengemis Digital

Tak sebatas menjadi pelopor, Pak Harto juga menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk organisasi ini menjalankan roda organisasi. Pada KTT ASEAN ke-1 yang berlangsung di Bali tahun 1976 disepakati untuk menjadikan Jakarta sebagai kedudukan sekretariat ASEAN. Maka dibangunlah gedung sekretariat ASEAN di Jalan Sisingamangaraja Jakarta yang diresmikan oleh Pak Harto pada 9 Mei 1981.

Dalam berbagai kesempatan Pak Harto memperlihatkan kesungguhannya dalam mendorong solidaritas ASEAN. Salah satunya adalah ketika KTT ASEAN ke-3 hendak digelar di Manila, sementara situasi keamanan Filipina yang kala itu dipimpin oleh Ny. Corazon Aquino kurang kondusif sehingga menimbulkan keraguan di antara para pimpinan ASEAN. Pak Harto memutuskan untuk tetap hadir ke Manila dan meyakinkan semua kepala negara ASEAN untuk hadir. Mereka pun kompak hadir bersama Pak Harto.

Mahathir Mohamad, dalam buku ‘’Pak Harto The Untold Stories’’ (2012) mengatakan, ‘’Di ASEAN, Pak Harto memainkan peranan yang sangat penting. Para pemimpin negara ASEAN mendudukkan Pak Harto sebagai orang tua yang dihormati dan didengarkan pendapatnya.

Di buku yang sama, Lee Kuan Yew menyebut komitmen Pak Harto yang kuat terhadap isu bilateral. Ketika Phnom Penh dan Saigon jatuh pada 1975, kelihatannya gelombang komunis akan menyapu dan menelan seluruh Asia Tenggara. Pak Harto berada di garis terdepan memimpin negara-negara anggota ASEAN untuk menahan laju komunisme di Asia Tenggara.

BACA JUGA: Mahfud MD Malu Jadi Orang Indonesia

Lee Kuan Yew mengakui Pak Harto menciptakan stabilitas dan kemajuan di Indonesia. Hal ini membangkitkan kembali keyakinan internasional di ASEAN dan membuatnyan menjadi atraktif untuk investasi asing serta mendorong kegiatan ekonomi. Pada saat itu, perkembangan ekonomi penting untuk menjaga wilayah ini dari ketidakpuasan dalam negeri yang dapat mendorong terciptanya gerakan pro-komunis.

Menurut Lee Kuan Yew, sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia secara alamiah mempunyai makna strategis. Pak Harto tidak bersikap seperti sebuah negara hegemoni, tetapi selalu mempertimbangkan kepentingan-kepentingan negara anggota ASEAN.

Sikap ini membuat Indonesia diterima oleh anggota ASEAN lain sebagai ‘’the first among equals’’, atau yang terutama di antara yang sederajat, dan memungkinkan ASEAN berkonsolidasi di tengah saat-saat yang tidak menentu dan bergejolak.

Sekarang situasi berubah. Tidak ada lagi orang kuat yang dituakan seperti Pak Harto. Indonesia tetap menjadi anggota penting, tetapi tidak lagi bisa mengambil peran menentukan seperti zaman Pak Harto.
Saat ini, ASEAN memiliki 10 anggota, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, yang bergabung pada 8 Agustus 1967. Diikuti Brunei Darussalam pada 8 Januari 1984, Vietnam pada 28 Juli 1995, Laos dan Myanmar pada 1997, dan Kamboja pada 1999.

Kasus Myanmar menjadi kerikil dalam sepatu di ASEAN yang belum bisa diselesaikan secara tuntas. Kasus pembunuhan terhadap etnis Rohingya pada 2017 yang menewaskan sekitar 7.000 etnis muslim Rohingya adalah tindakan ‘’ethnic cleansing’’ pembersihan etnis oleh rezim militer Myanmar.

Pemberangusan gerakan demokrasi di bawah Aung San Suu Kyi masih tetap terjadi sampai sekarang. Junta militer Myanmar memenjarakan Suu Kyi dan ribuan aktivis demokrasi dan mengejar ribuan lainnya yang bersembunyi.

BACA JUGA: Rasmus Paludan

Isu hubungan dengan China juga sudah berubah. Dulu Pak Harto menjaga jarak dari China untuk mengantisipasi pengaruh komunisme ke Indonesia. Sekarang, Indonesi mempunyai hubungan yang mesra dengan China dan menjadikannya sebagai patron utama perkembangan ekonomi.

Tidak adanya orang kuat sekelas Pak Harto membuat masalah Myanmar ini berkepanjangan tanpa solusi. Hubungan dengan China juga akan menjadi isu sensitif.

Indonesia tidak bisa menutup mata atas masalah Myanmar. Tanpa stabilitas politik di kawasan ASEAN, roh ASEAN yang dibangun Pak Harto dan kawan-kawan akan hilang. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *