Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 22:54 WIB
Surabaya
--°C

Pemprov Jatim Perbaiki Taman Apsari, Kini Makin Cantik

Kepala DLH Jatim Nurkholis dan Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto memantau langsung perbaikan Taman Apsari, Rabu (20/8).

SURABAYA-KEMPALAN: Sesuai komimen Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pemprov Jatim melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat memperbaiki Taman Apsari Surabaya yang rusak usai Pesta Rakyat peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Pengerjaan dipantau langsung Kepala DLH Jatim Nurkholis bersama Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto, Rabu (20/8) sore. Sejumlah tanaman hias didatangkan menggunakan mobil pikap, antara lain pinang merah, pucuk merah, hingga randu varigata. Bahkan, untuk lebih mempercantik taman, bonsai yang sebelumnya tidak ada juga ditambahkan.

“Sebagaimana komitmen Gubernur, semua yang rusak akan diganti. Kami mulai menanam sejak tadi malam, sebagian besar tanaman berasal dari Batu sehingga masih dalam proses,” kata Kepala DLH Jatim Nurkholis.

Menurutnya, perbaikan kali ini dilakukan lebih dari sekadar mengembalikan kondisi taman seperti semula. “Semula tidak ada bonsai, kini ada bonsai. Jadi ke depannya akan lebih cantik,” ujarnya.

Nurkholis menyebut pengerjaan dilakukan siang hingga malam hari agar cepat rampung. Kalau bisa Rabu malam ini selesai. “Tapi jika melihat progresnya, baru Kamis (21/8) besok taman baru siap,” jelasnya.

Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto pun mengapresiasi langkah cepat Pemprov Jatim. Ia menilai Taman Apsari kini bukan hanya diperbaiki, tapi juga dipercantik.

Padahal, kata Dedik, semula ia berharap taman yang rusak dikembalikan seperti semula. Tapi ternyata pemprov justru menambahkan tanaman lebih bagus untuk memperindah.

“Anggaran dan pengerjaan semua dari pemprov, kami hanya mengawasi agar konsep awal tidak berubah,” ungkapnya. (Dwi Arifin)

Dari Konsultasi di Media Sosial, Firma Hukum HSSP Buka Konsultasi Hukum Gratis Ala Kopi Johny

SURABAYA-KEMPALAN: Masyarakat Surabaya kini tidak perlu bingung-bingung ketika tersandung masalah hukum dan memerlukan konsultasi terkait hukum. Sebab, saat ini, masyarakat Surabaya bisa mendapatkannya dengan gratis.

Bukan hanya tidak dipungut biaya konsultasi. Ketika berkonsultasi, mereka bisa dengan suasana yang lebih rileks, santai dan bisa sambil ngafe. Firma hukum Habibullah Sahura Sudana & Partners-lah yang memfasilitasi masyarakat yang ingin konsultasi hukum free alias gratis.

Konsultasi hukum gratis tersebut sudah dilakukan mulai dari Jumat pekan lalu (15/8). Tempatnya tidak terlalu formal. Melainkan di sebuah kafe yang ada di kawasan Dukuh Kupang, Surabaya. Namanya Grandia Eatery Surabaya. Konsepnya mirip konsultasi hukum Kopi Johny milik pengacara kondang, Hotman Paris.

Rencananya, program konsultasi hukum gratis yang digelar HSSP tersebut berlangsung setiap pekan pada hari Jumat. Waktunya pun antara dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB setiap harinya.  

Uniknya, sebelum turun lapangan memberikan konsultasi hukum gratis, HSSP awalnya memberikan konsultasi hukum kepada masyarakat melalui konten-konten di Instagram bernama @hssplaw.

Konten tersebut sudah mulai berjalan sejak dari tiga bulan yang lalu dan sudah banyak mendapatkan atensi masyarakat. Tidak hanya platform Instagram, juga memanfaatkan platorm TikTok.

Sampai saat ini, sudah 33 unggahan konten tentang konsultasi hukum yang diunggah di akun Instagram tersebut. Dengan konten-konten, mereka berharap masyarakat lebih bisa menjangkau informasi terkait hukum.

Selain itu, konten mereka juga kerap membahas isu-isu terkini. ’’Sekarang, kami jemput bola dengan turun langsung ke lapangan,’’ sebut Managing Partner HSSP, Abdul Wachid Habibullah.

Nantinya, bakal ada lima advokat dan satu notaris bergantian stand by di tempat. Selain Wachid, ada juga Sahura, Ardhita Sudana Putera, Anita Cornelia, dan Ami Raditya (notaris).

Meski baru kali pertama digelar, program ini pun sudah mampu menyedot animo masyarakat berkonsultasi tentang hukum.  Dari puluhan orang yang berkonsultasi, ada yang terkait urusan tanah, warisan, sengketa, dan sebagainya.

’’Apabila kebanyakan yang lainnya memberikan konsultasi ke masyarakat di kantornya dan berbayar, di sini masyarakat dapat berkonsultasi gratis,’’ sebut Managing Partner HSSP, Abdul Wachid Habibullah.

Notaris dan founder HSSP Law Firm Ami Raditya. (Foto: Istimewa)
Notaris dan founder HSSP Law Firm Ami Raditya. (Foto: Istimewa)

Sebagai founder HSSP, Ami menyebut awalnya dia punya visi untuk memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa berkonsultasi hukum itu bukanlah barang mahal. Seperti dia biasanya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang notaris.

’’Juga untuk menjalankan salah satu amanat dari undang-undang jabatan notaris tentang penyuluhan hukum bagi masyarakat, siapapun yang butuh bantuan hukum. Inti dari ini semua, kami berharap dapat jadi teman bagi masyarakat,’’ pungkas Ami, notaris dari Gresik itu. (YMP)

Gubernur Khofifah Peringkat Pertama Nasional dalam Implementasi Ekonomi Hijau

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan peringkat pertama Implementasi Industri Hijau Terbaik dalam ajang bergengsi The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025.

JAKARTA-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan peringkat pertama Implementasi Industri Hijau Terbaik dalam ajang bergengsi The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 yang diselenggarakan oleh  Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Penghargaan berupa piala dan piagam diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita kepada Gubernur Khofifah di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (20/8).

“Alhamdulillah, kerja keras dan komitmen kita berhasil meraih peringkat pertama dalam penghargaan Industri Hijau kategori Pemda yang juga pertama kalinya ini,” kata Khofifah.

Khofifah menegaskan, keberhasilan diraihnya penghargaan ini adalah buah komitmen kuat Pemerintah Provinsi Jawa Timur kolaborasi dengan berbagai sektor  dalam mendukung implementasi industri hijau di semua lini. Bahkan tak hanya industri besar tapi juga industri kecil.

Penghargaan ini sendiri diberikan atas dasar kriteria penilaian meliputi Rencana Kerja dan alokasi anggaran daerah dalam mendukung Industri Hijau, Sosialisasi dan atau pendampingan yang mendukung Industri Hijau, Penghargaan Industri Hijau tingkat daerah.

Selain juga Fasilitasi Industri Hijau kepada industri kecil dan industri menengah, Pengadaan barang/jasa berkelanjutan hingga Kolaborasi dan kemitraan Industri Hijau dengan periode penilaian selama satu tahun terakhir.

Khofifah melanjutkan, Pemprov Jatim sebagai provinsi dengan perekonomian tertinggi kedua di Indonesia juga menduduki peringat ke-3 daerah penghasil Migas terbesar secara nasional setelah Riau dan Kalimantan Timur.

Potensi Migas yang besar di Jawa Timur ini disebutnya merupakan sumber pasokan energi yang mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, baik untuk kegiatan industri, pembangkitan, rumah tangga dan lain-lain.

Kaitannya dengan perkembangan Industri Hijau di Jatim, Khofifah menuturkan bahwa pada tahun 2023 telah dibentuk Forum Industri Hijau yang anggotanya terdiri dari elemen Lembaga Pemerintah, akademisi, pelaku industri, Lembaga keuangan serta Lembaga sertifikasi.

“Industri Hijau pada dasarnya bukan hal baru di Jawa Timur sejak tahun 2023, kita sudah fokus lewat Forum Industri Hijau yang secara signifikan meningkatkan jumlah perusahaan industri tersertifikasi industri hijau.

“Lewat forum itu, harapannya akan meningkatkan kesadaran pelaku industri dalam penerapan prinsip industri hijau di Jawa Timur,” imbuh Khofifah.

Di sisi lain Jawa Timur juga berperan aktif tidak hanya dalam produksi migas, tetapi dalam pengolahan, distribusi, dan pemanfaatannya bagi kepentingan masyarakat.

Hal ini terlihat di sektor hulu, Jawa Timur mendukung eksplorasi dan produksi migas yang dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), untuk mencapai target nasional satu juta barel per hari pada tahun 2030.

Tercatat, berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh Pemprov Jatim, diantaranya Sosialisasi program dan kebijakan industri hijau di pemerintah kabupaten/kota, industri maupun Kawasan industri, Bimbingan teknis pemenuhan standar industri hijau dalam penyiapan sertifikasi industri hijau serta Festival industri hijau sebagai media kampanye industri hijau di Provinsi Jawa Timur.

Semua capaian ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional, baik melalui eksplorasi, produksi, maupun pengembangan lapangan baru.

“Penghargaan ini jadi apresiasi nasional atas dedikasi dan kontribusi luar biasa dari berbagai pihak yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan tetapi juga menumbuhkan kemajuan industri di Indonesia,” pesannya. (Dwi Arifin)

Gubernur Khofifah Ajak Semua Pihak Jaga Ekosistem Mangrove

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menanam mangrove.

PROBOLINGGO-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak semua pihak menjaga ekosistem mangrove. Hal ini merupakan sebuah strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurutnya, Mangrove adalah salah satu bagian penting dari kekayaan alam, yang tidak hanya menjadi penyangga ekosistem pesisir, tetapi juga sumber kehidupan masyarakat.

“Saya sangat menyadari bahwa potensi ekonomi biru Jawa Timur sangat bergantung pada keberadaan ekosistem mangrove yang sehat,” kata Khofifah saat menghadiri Festival Mangrove Jawa Timur VII di Pantai Bahak, Desa Curah Dringu, Kec. Tongas, Kabupaten Probolinggo, Selasa (19/8).

Menurut  Khofifah, momentum Festival Mangrove bukan semata urusan kehutanan atau pesisir, tetapi adalah bagian dari investasi masa depan bangsa dalam bentuk perlindungan ekosistem, pengendalian perubahan iklim, sekaligus penguatan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

“Jadi kita ingin memberikan referensi kehidupan bahwa urip iku urup, bagaimana kita hidup dan memberikan kehidupan yang lain  termasuk adalah kehidupan ekosistem di laut,” ujarnya.

Secara administratif, Jawa Timur memiliki 22 kabupaten/kota dengan 151 kecamatan pesisir atau berpantai, 504 pulau-pulau kecil, termasuk 3 pulau kecil terluar (PPKT). Luas wilayah laut kita mencapai 5.202 km², dan total luas perairan 5.240.812,36 hektare.
Data ini menegaskan bahwa ekosistem pesisir, termasuk mangrove, memiliki peran strategis dalam pembangunan Jawa Timur.

“Jawa Timur ini dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, termasuk potensi kelautan yang luar biasa,” sebutnya.

Sejak periode awal kepemimpinannya di 2014-2019, perhatian terhadap kelestarian ekosistem mangrove menjadi salah satu prioritas. Hal ini sejalan dengan isu lingkungan global terhadap potensi besar mangrove dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya dalam penyerapan karbon dan perlindungan garis pantai.

“Tahun 2022 kita memulai kegiatan Festival Mangrove Jawa Timur sebagai bentuk pengelolaan ekosistem mangrove secara lebih holistik dan terintegrasi, di tahun-tahun sebelumnya kita sudah melakukan nandur mangrove keliling Jawa Timur” katanya.

“Bukan hanya aspek rehabilitasi lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, edukasi, dan pelayanan sosial,” sambungnya.

Dari konsistensi rehabilitasi mangrove yang dilakukan Gubernur Khofifah, luasan mangrove Jawa Timur saat ini meningkat. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024, luasan mangrove Jawa Timur meningkat signifikan sebesar 3.618 hektare atau 13,29% dibanding tahun 2021, sehingga totalnya kini
mencapai 30.839,3 hektare.

“Angka ini menjadikan Jawa Timur tetap sebagai provinsi dengan mangrove terluas di Pulau Jawa, yakni 48,38% dari total mangrove di pulau ini,” katanya.

Keberhasilan pengelolaan ekosistem mangrove hanya dapat terwujud melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dunia usaha, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat.

Untuk itu sekali lagi kami mengajak seluruh kepala daerah di Jawa Timur, pimpinan BUMN, BUMD, BUMS, serta para mitra strategis untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung program rehabilitasi ekosistem mangrove.

“Ini adalah proses yang kita lakukan dengan sinergi sangat banyak elemen, insya Allah ekosistemnya sudah terbangun bahwa kampus-kampus terlibat secara aktif, kemudian elemen-elemen pecinta dan penggiat mangrove juga sudah menyatu, perangkat daerah lalu pemerintah daerah kabupaten kota juga instansi-instansi vertikal,” sebutnya.

Sementara itu Deputi Tata Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro menyampaikan adanya PP no 27 tahun 2025 mengamanahkan penyusunan rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di level nasional, provinsi, DNA kabupaten kota. Jawa Timur terutama Gubernur Khofifah dinilai memiliki kemampuan untuk menjadi pelopor penyusunan rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di level provinsi.

“Ilmu yang ibu miliki bisa ditularkan ke provinsi-provinsi lain secepatnya ilmu tentang bagaimana bisa menggerakkan kelompok masyarakat, akademisi, mekanisme pembiayaan yang inovatif, dan lain sebagainya bisa dimasukkan dalam RPPM dan kemudian direplikasi di seluruh Indonesia,” kata Sigit Reliantoro.

Di kesempatan ini dilakukan penyerahan penghargaan kepada sejumlah insan peduli perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove serta keanekaragaman hayati hutan pantai oleh Gubernur Jawa Timur.

Selain menanam mangrove, Khofifah juga melakukan pelepasliaran benih kepiting sebanyak 300 ekor. Juga melepasliarkan 2 pasang Burung Ibis Putih Kepala Hitam dan 2 pasang Burung Pecuk Padi Hitam 2 pasang.

“Kita melepasliarkan burung tertentu sesuai dengan rekomendasi BKSDA, kemudian kita melepasliarkan bibit kepiting, kadang juga jenis ikan tertentu, itu tapi bukan karena kita, tapi karena rekomendasi BKSDA setempat,” katanya.

Tak hanya itu, Gubernur Jatim juga melakukan  peninjauan 14 stand pameran hilirisasi pengelolaan ekosistem mangrove, dan aktivitas pembinaan masyarakat. (Dwi Arifin)

Pameran Tunggal ke-10 Pelukis Asri Nugroho NP

KEMPALAN : Asri Nugroho Nus Pakurimba yang selama ini dikenal sebagai pelukis “realisme abstrak” yang memasukkan ilustrasi unsur logam, gelembung-gelembung, dan pecahan-pecahan kaca, akan menghadirkan 18 karyanya dalam pameran tunggal di Ball Room ‘Eighty 9’ lantai 4 Ciputra World Jl. Mayjen. Sungkono, Surabaya.

Ini adalah pameran tunggal ke-10 bagi pelukis yang lahir pada 4 Juli 1952 di RS Mardi Santoso, Surabaya. Dan diberinya judul : “Gathering”– berlangsung selama sehari : 23 Agustus 2025.

Namun pada katalog pameran yang dikirim ke saya dalam format pdf, tercatat 2 hari : 22-23 Agustus 2025.

Mas Nug –demikian saya biasa memanggil– saat saya hubungi via telepon, menjelaskan bahwa sebetulnya pameran ini berlangsung sehari. “Ya, gathering, kumpul-kumpul dengan teman-teman pada 23 Agustus nanti itu,” jelasnya. “Kalau untuk sehari sebelumnya, khusus dengan para kolega, diawali jamuan makan malam,” tambah salah satu peraih Phillips Morris Group of Companies – Indonesia Art Awards, tahun 1994 ini.

Kenapa cuma sehari, diawali dengan jamuan makan siang pukul 13.00 pada 23 Agustus, hingga pameran berakhir pada 21.00 ? Kan biasanya seminggu atau setidaknya 5 hari ?

“Gimana ya? Umumnya event pameran lukisan di Surabaya ramainya kan pada opening saja. Setelah itu, hari-hari selanjutnya, sepi pengunjung. Kenapa tidak saya bikin saja sehari, lebih praktis…he-he-he …
Maaf… “

Delapan belas lukisan yang dipamerkannya secara tunggal itu, sebagian besar temanya tentang implementasi pengabdian kepada Tuhan, sebagaimana yang diyakini oleh putra pensiunan tentara ini sebagai seorang nasrani.

Dan ini adalah pameran tunggalnya ke-10, termasuk yang sebelumnya pernah ditindakinya di Laurent and Christie Gallery, Singapura, sekaligus dipertontonkan dengan demo melukis.

Seperti pameran-pameran tunggal sebelumnya, kali ini Asri Nugroho masih tampil dalam format lukisan berukuran besar-besar.

Tentang style lukisannya kenapa menggunakan idiom logam, gelembung, dan pecahan kaca, Asri Nugroho Nus Pakurimba menjelaskan :

Saya melukis dengan banyak menggunakan simbol-simbol sebagai salah satu bentuk kreativitas.

Patahan-patahan metal, logam-logam, sebagai simbol belenggu yang sudah dipecahkan; kaca sebagai simbol kejujuran; dan gelembung-gelembung saya simbolkan roh kudus (air).

Sementara itu, untuk pameran bersama yang diikuti Asri Nugroho NP sudah lebih dari 60 event, termasuk yang berlangsung di luar negeri, semuanya berlangsung di museum : Korea Selatan, Jepang, Philipina, Singapura, dan di China.

Pernah juga pameran keliling ke sejumlah negara ASEAN.(AM).

Setan Merah Berburu Kiper Utama

MANCHESTER-KEMPALAN: Kekalahan 0-1 Manchester United atas Arsenal dalam laga pertama Liga Primer Inggris pekan lalu (17/8) membuka sorotan tajam ke posisi kiper. Sebab, blunder kiper Altay Bayindir-lah yang jadi penyebab kekalahan tersebut.

Padahal, selama ini, Andre Onana-lah kiper United yang kerap melakukan blunder. Dari stok kiper United, masih ada Tom Heaton yang belum dijajal Ruben Amorim, tactician United.

BACA JUGA: Ketularan Onana, Bayindir Ikut-Ikutan Bikin Blunder

Meski begitu, klub yang berjuluk Setan Merah tersebut sudah dikaitkan dengan penjaga gawang terbaik di Eropa. Mulai dari kiper yang membawa Paris Saint-Germain (PSG) di musim lalu memenangi Liga Champions, Gianluigi Donnarumma.

Selain itu juga, Amorim juga punya pemain andalan di bawah mistar gawang selama dia membesut Sporting CP. Dia adalah kiper FC Porto, Diogo Costa. Seperti Donnarumma, di Portugal, Costa juga dianggap spesialis tendangan penalti.

Laman Goal menyebut, Donnarumma dan Costa termasuk dari enam kiper yang musim panas ini berpotensi diboyong ke Carrington (kamp latihan United). Termasuk penjaga gawang Real Madrid, Andriy Lunin.

Dari sesama klub Liga Primer Inggris, Nick Pope pernah jadi salah satu favorit klub-klub di Inggris. Begitu pula dengan kiper Aston Villa Emiliano Martinez yang pernah merebut gelar juara Piala Dunia bersama Argentina itu.

Mantan bek kanan United Gary Neville sudah mendesak kepada Amorim dan petinggi di United supaya segera mendatangkan kiper baru musim panas ini. ’’Kekalahan itu (lawan Arsenal) sudah tidak bisa berbohong,’’ sebut Neville dalam podcast Gary Neville Podcast miliknya.

Menurutnya, United pada masa lalu memiliki dua sosok penjaga gawang yang hebat. Itu antara lain Peter Schmeichel dan Edwin van der Sar. Dia berharap, dalam periode ini, di United bisa muncul kembali sosok hebat di bawah mistar gawang. (YMP)

Komunikasi, Newton, dan Biokimia: Jejak Sains dalam Sejarah Umat Manusia

Catatan:
Masayu Indriaty Susanto

MANUSIA pada dasarnya adalah zoon politikon, makhluk sosial, sebagaimana ditegaskan Aristoteles lebih dari dua ribu tahun lalu. Pernyataan klasik ini sekaligus menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan fondasi keberadaan manusia dalam membangun relasi, kebudayaan, hingga peradaban.

Ilmu komunikasi sendiri lahir sebagai disiplin yang terbuka yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman, merefleksikan bagaimana manusia menafsirkan, menyampaikan, dan merespons pesan dalam berbagai bentuk.

Dalam konteks itulah buku “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” karya Morissan, Ph.D hadir. Buku ini bukan hanya memaparkan kronologi perkembangan komunikasi sejak masa prasejarah hingga era digital, tetapi juga menyajikan sebuah narasi besar mengenai bagaimana komunikasi membentuk arah peradaban umat manusia.

Lebih dari sekadar catatan historis, buku ini menjadi bekal penting bagi kita untuk memahami bagaimana evolusi komunikasi seharusnya disikapi. Bahwa setiap inovasi teknologi, dari goresan simbol di dinding gua hingga media sosial global, bukanlah sekadar perubahan alat, melainkan transformasi cara manusia membangun makna bersama.

Dengan demikian, membaca buku ini sama halnya dengan membaca cermin sejarah: bagaimana kita berkomunikasi di masa lalu menentukan bagaimana kita menyikapi tantangan komunikasi di masa depan.

Salah satu daya tarik utama buku “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” adalah keberanian Morissan, PhD untuk menempatkan komunikasi sebagai inti dari evolusi peradaban.

Dalam hal ini, Morissan, PhD tampak terinspirasi dari buku “Sapiens: A Brief History of Humankind” karya Yuval Noah Harari, seorang filsuf, sejarawan, dan professor di The Hebrew University of Jerusalem yang menjadi buku ilmiah best seller internasional.

Yang menegaskan bahwa manusia menjadi “penguasa dunia” bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kemampuan membangun imajinasi kolektif melalui bahasa dan komunikasi.

Jika Harari menyoroti peran narasi dalam menciptakan berbagai hukum, aturan, dan negara, Morissan, PhD menambahkan dimensi yang lebih spesifik: komunikasi sebagai fondasi yang memungkinkan lahirnya struktur sosial, pertukaran pengetahuan, hingga penciptaan teknologi.

Kelebihan buku ini terletak pada gaya penulisannya yang sistematis sekaligus mudah dipahami. Morissan, PhD mampu membawa pembaca melintasi ribuan tahun sejarah, mulai dari era resolusi kognitif sekitar 70.000 tahun lalu di mana manusia homo sapiens mulai membentuk kebudayaan melalui simbol-simbol awal komunikasi. Kemudian penemuan aksara, revolusi percetakan, hingga hadirnya media massa modern dan era digital.

Hingga masa kini dan masa mendatang yang masih menanti jawaban dari pertanyaan: apakah kecerdasan buatan akan mengambil alih banyak kekuatan manusia? Dan apakah sapiens akan tergantikan oleh superhuman?

Setiap fase dalam buku ini digambarkan bukan hanya sebagai catatan peristiwa, melainkan sebagai lompatan epistemologis yang mengubah cara manusia berpikir dan berinteraksi.

Di sinilah relevansi buku ini menjadi kuat: komunikasi tidak pernah statis, tetapi selalu bergerak mengikuti perubahan sosial, politik, dan teknologi. Begitupun dengan ilmu komunikasi, akan selalu menjadi ilmu yang seyogyanya interdispliner dan relasional.

Maka tidak heran jika ada banyak sekali analisa komunikasi yang disampaikan dari lensa ilmu lain, termasuk sains, yang dijabarkan dalam buku ini. Morissan, PhD mengulas bagaimana hukum gerak Isaac Newton, teori Biologi Charles Darwin, bahkan sederet homon-hormon manusia yang biasanya dipelajari dalam Biokimia adalah bagian dari perkembangan sejarah ilmu pengetahun yang dibangun melalui komunikasi.

Namun, justru di titik ini, buku karya Morissan, PhD yang merupakan akademisi Universitas Sahid Jakarta ini membuka ruang diskusi lebih luas: ia memberi fondasi historis yang kokoh agar kita mampu berpikir lebih kritis dalam menyikapi tantangan komunikasi kontemporer.

Komunikasi adalah “Jantung” Peradaban

Komunikasi adalah sebuah ilmu yang selalu dibangun dengan disiplin ilmu lainnya yang muncul lebih dulu. Komunikasi politik, psikologi komunikasi, komunikasi pembangunan, komunikasi kesehatan, dan lainnya.

Tapi mungkin buku ini adalah buku pertama yang membahas komunikasi dari perspektif sejarah. Namun justru menjadi fundamental karena justru sejarah dan peradaban manusia jelas dibangun melalui komunikasi.

Secara keseluruhan, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” bukan hanya buku sejarah, melainkan peta intelektual. Yang mengingatkan kita bahwa komunikasi adalah jantung dari peradaban, dan memahami sejarahnya berarti mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Sebagaimana Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial, buku ini menegaskan bahwa kualitas peradaban selalu sejalan dengan kualitas komunikasi yang dibangunnya.

Pada akhirnya, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” karya Morissan, Ph.D. dapat dibaca bukan sekadar sebagai rekam jejak historis, melainkan sebagai fondasi konseptual bagi siapa saja yang ingin memahami ilmu komunikasi. Buku ini memberi kesadaran bahwa komunikasi bukan hanya keterampilan teknis dalam menyampaikan pesan, tetapi juga akar dari seluruh struktur sosial, politik, ekonomi, hingga budaya yang menopang kehidupan manusia.

Jika Harari dalam “Sapiens” menunjukkan bahwa narasi kolektif melahirkan peradaban, Morissan, PhD melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa komunikasi adalah medium yang memungkinkan narasi itu hidup dan diwariskan lintas generasi.

Tanpa komunikasi, tidak ada pengetahuan yang ditransmisikan, tidak ada simbol yang disepakati, dan tidak ada peradaban yang bisa berdiri.

Karena itu, membaca buku ini sama dengan kembali ke titik mula: memahami bagaimana manusia membangun jati dirinya sebagai makhluk sosial melalui komunikasi. Buku ini layak ditempatkan sebagai dasar dari ilmu komunikasi, pondasi yang memungkinkan kita menafsirkan dinamika masa kini dan merancang arah masa depan.

Sebagaimana evolusi komunikasi selalu menentukan arah sejarah manusia, buku ini mengingatkan bahwa kualitas peradaban kita di masa depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita berkomunikasi hari ini.

Dengan demikian, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” tidak hanya memberi wawasan, tetapi juga meninggalkan renungan filosofis: selama manusia masih ada, sejarah komunikasi belum pernah benar-benar selesai ditulis. (*)

Matinya Penulis

KEMPALAN: Apa jadinya sebuah bangsa tanpa penulis? Jawabannya gampang: tetap ada presiden, tetap ada DPR yang sibuk rapat dengar pendapat sambil ngopi, tetap ada jalan tol, tetap ada pabrik sawit. Bedanya, bangsa itu kehilangan cermin. Karena penulis adalah cermin. Hari ini, cermin itu sudah dipukul sampai ambyar lalu dibuang ke tong sampah.

‎Tahun 1980-an, jadi wartawan itu cita-cita mulia. Setelah kenyang makan nasi kotak liputan dan rokok yang dihisap setengah pakai, banyak yang bermimpi suatu saat naik pangkat jadi penulis esai atau kolumnis. Statusnya naik, dompet juga ikut gemuk.

‎Tiga dekade berselang, dompet itu makin kisut, tipis sekali. Pena bukan lagi senjata tapi sekadar pulpen promosi gratis dari partai politik atau perusahaan rokok.

KEBEBASAN DAGELAN

‎Reformasi 1998 membebaskan media. SIUPP dicabut, ribuan orang mendadak jadi pemilik media dengan modal Rp 5 juta. Cukup bikin PT, beli domain, rekrut wartawan asal bisa ngetik. Bayarannya? “Cari sendirilah …”

‎Akibatnya, media membiak seperti jamur di musim hujan. Sekarang ada sekitar 60.000 media di Indonesia. Yang diakui Dewan Pers? Tidak sampai 2000. Sisanya? Entah media atau sekadar blog pribadi dengan nama mentereng.

‎Tak heran kalau Dewan Pers kebanjiran pengaduan. Tercatat 600 kasus pada 2024, 200 kasus pada kuartal awal pada tahun 2025. Pers bukan lagi “pilar keempat demokrasi”, tapi pasar malam: ramai, bising, penuh lampu warna-warni, tapi isinya kebanyakan tipu-tipu. Inilah potret kebebasan dagelan hasil reformasi.

‎Kalau dulu jadi kolumnis itu puncak karier, sekarang lebih mirip nasib PNS golongan paling buncit – kerja keras, punya kehormatan tapi duit nihil. Kecuali Kompas dan Tempo, hampir tak ada media yang bayar honor.

‎Pensiunan wartawan hari ini hanya punya dua pilihan: jadi “kismin terhormat” atau buka warung. Ironinya, iklan media justru lari ke influencer dan buzzer. Rupanya, wajah cantik dengan filter Instagram lebih dipercaya pengiklan ketimbang analisis kritis 2000 kata.

‎Tragedi media massa tidak hanya melanda Indonesia, lihat saja Amerika Serikat. Raksasa media cetak gulung tikar. Ribuan jurnalis terpaksa pindah kerja jadi dosen atau barista. New York Times hanya selamat karena jualan langganan digital, itupun dengan paywall yang bikin pembaca ngelu. Yaitu sistem yang membatasi akses ke konten dengan mewajibkan pengguna untuk membayar biaya berlangganan 

‎Di Inggris. Kolumnis senior kalah pamor dari Youtuber politik. Kata-kata kalah dari mikrofon. Sementara di Filipina dan India m edia online jadi ajang “siapa cepat publish, dia dapat klik”. Penulis opini? Gratisan. Kalau mau bayar, cukup kasih “exposure”.

‎Ternyata, kematian penulis memang sedang global. Dunia sedang mengadakan upacara penguburan mereka.

TAWARAN SOLUSI

‎Apakah berarti kita harus menyerah? Tidak. Karena tanpa penulis, bangsa ini hanya akan punya buzzer dan press release birokrasi atau korporasi.

‎Beberapa skema yang bisa dilakukan seperti berikut: Subsidi Intelektual. Kalau negara bisa subsidi pupuk, mengapa tidak subsidi penulis? Bayar mereka menulis esai bermutu, bukan lomba slogan murahan.

‎Model bisnis baru. Penulis harus belajar seperti musisi indie, langsung ke pembaca. Lewat Patreon, Substack atau iuran gotong royong. Kampanye Literasi, jadikan tulisan esai bagian dari kurikulum kritis. Kalau anak-anak SMA terbiasa membaca esai, bangsa ini tak akan mudah dikerjai hoaks.

‎Kurasi media serius. Dewan Pers jangan cuma jadi polisi etik. Buat daftar media berkualitas yang benar-benar bayar tulisan, agar penulis tau akan menitipkan karyanya ke mana.

‎Ya, kaum penulis memang sedang sekarat. Tapi kematian ini tidak harus final. Pena bisa hidup lagi, kalau bangsa sadar bahwa tulisan kritis adalah vitamin demokrasi.

‎Negara tanpa penulis ibarat tubuh tanpa imun. Bisa gagah sesaat, tapi kemudian roboh. Perlu diingat, sejarah bangsa ini tak pernah ditulis oleh buzzer bayaran. Ia selalu ditulis oleh orang-orang keras kepala yang rela lapar demi sebuah kalimat

Rokimdakas
‎Penulis Kecil
‎19 Agustus 2025

Pembusukan Politik

KEMPALAN: Dalam literatur ilmu politik modern, nama Samuel P. Huntington selalu muncul sebagai salah satu pemikir yang tajam dalam membaca dinamika negara-negara berkembang.

Salah satu gagasannya yang paling relevan dengan situasi kekinian adalah konsep political decay, atau pembusukan politik, yang ia jelaskan dalam bukunya Political Order in Changing Societies (1968).

Huntington menyatakan bahwa tantangan terbesar bagi negara-negara berkembang bukanlah ancaman dari luar negeri, melainkan kerusakan internal yang muncul ketika institusi politik gagal menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial, ekonomi, dan politik yang terus berubah.

Dengan kata lain, sebuah negara bisa runtuh bukan karena perang dengan negara tetangga, melainkan karena rapuhnya institusi, korupsi elite, lemahnya hukum, dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap sistem politik yang seharusnya melindungi mereka.

Konsep political decay terasa sangat nyata ketika kita melihat bagaimana banyak negara, termasuk Indonesia, menghadapi masalah kelemahan institusi yang berulang.

Ketika hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka legitimasi negara di mata rakyat menjadi terkikis.

Rakyat merasa tidak lagi berhadapan dengan sebuah negara yang melindungi, melainkan sebuah rezim yang justru menindas.

Di sinilah gejala pembusukan politik mulai terlihat ketika ada kesenjangan besar antara norma ideal dengan praktik nyata, ketika keadilan menjadi barang langka, dan ketika kepercayaan publik terhadap institusi negara semakin menipis.

Dalam konteks ini, political decay bukan sekadar istilah akademis, melainkan fenomena sehari-hari yang dirasakan masyarakat dalam bentuk ketidakadilan, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan.

Huntington menekankan bahwa institusi adalah kunci dalam menjaga stabilitas politik.

Negara dengan institusi yang lemah akan sulit mengelola konflik sosial, sulit mengendalikan ambisi elite, dan sulit membangun legitimasi yang berkelanjutan.

Ketika institusi gagal, yang muncul bukanlah tatanan, melainkan kekacauan. Kita bisa melihat bagaimana lembaga peradilan sering dianggap tidak adil, bagaimana birokrasi publik cenderung koruptif, serta bagaimana partai politik lebih sering sibuk memperebutkan kekuasaan daripada memperjuangkan kepentingan rakyat.

Semua ini adalah tanda-tanda pembusukan politik yang nyata, yang bisa perlahan melumpuhkan kehidupan bernegara.

Masalah semakin pelik ketika pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru memberi contoh buruk.

Ketika elite politik memamerkan gaya hidup mewah, memperkaya diri, atau menyalahgunakan kekuasaan, rakyat merasa teralienasi dari negara.

Dalam bahasa Huntington, inilah bentuk lain dari political decay, di mana perilaku elite mencerminkan degradasi moral institusi yang mereka wakili.

Politik menjadi arena transaksi, bukan arena pengabdian. Hukum menjadi alat kekuasaan, bukan instrumen keadilan. Demokrasi berubah menjadi sekadar prosedur formal pemilu, tanpa substansi kesejahteraan dan keadilan sosial yang menyertainya.

Apa yang paling berbahaya dari political decay bukanlah sekadar rusaknya institusi negara, melainkan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap negara itu sendiri.

Ketika rakyat tidak lagi percaya bahwa hukum bisa melindungi, mereka akan mencari jalan lain di luar hukum.

Ketika rakyat tidak lagi yakin bahwa pemimpin berpihak kepada mereka, mereka akan merasa berhadapan dengan bangsanya sendiri.

Dari titik inilah lahir ketidakstabilan sosial, gejolak politik, hingga potensi disintegrasi bangsa.

Huntington seakan memberi peringatan keras bahwa sebuah negara bisa tampak kuat di permukaan, namun di dalamnya rapuh oleh pembusukan politik yang terus menggerogoti.

Indonesia, dengan segala dinamikanya, menghadapi risiko yang tidak kecil dalam konteks ini.

Demokrasi yang telah berjalan lebih dari dua dekade masih menghadapi masalah akut berupa korupsi, politik uang, lemahnya supremasi hukum, serta rendahnya kualitas kepemimpinan.

Rakyat berkali-kali menyaksikan bagaimana skandal korupsi melibatkan pejabat tinggi, bagaimana hukum bisa dibeli, dan bagaimana janji-janji politik sering hanya berhenti di masa kampanye.

Dalam situasi seperti ini, political decay bukan lagi ancaman yang samar, melainkan realitas yang sudah terjadi di depan mata.

Namun, pemikiran Huntington juga memberi kita refleksi penting: pembusukan politik bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia muncul karena institusi gagal beradaptasi dengan tuntutan zaman, dan karenanya bisa dilawan dengan memperkuat institusi.

Reformasi hukum, penguatan lembaga peradilan, transparansi birokrasi, serta peningkatan integritas elite politik adalah jalan untuk memperlambat atau bahkan menghentikan proses political decay.

Yang dibutuhkan adalah kemauan politik yang kuat dan partisipasi rakyat yang sadar bahwa negara ini hanya bisa bertahan bila institusinya sehat.

Tanpa itu, demokrasi hanya akan menjadi ritual kosong, sementara substansi keadilan dan kesejahteraan terus terkikis.

Huntington benar ketika menyebut bahwa ancaman terbesar bagi negara berkembang bukanlah serangan dari luar, melainkan kerusakan dari dalam.

Sejarah membuktikan bahwa banyak negara runtuh bukan karena kalah perang, melainkan karena institusi mereka lapuk oleh korupsi, keserakahan elite, dan hilangnya legitimasi.

Pelajaran ini seharusnya menjadi alarm bagi bangsa Indonesia: jangan sampai kita terlena dengan simbol-simbol demokrasi, sementara substansinya digerogoti oleh pembusukan politik.

Sebab, sekali legitimasi negara hancur, membangunnya kembali akan jauh lebih sulit daripada sekadar memenangkan sebuah pemilu.

Dalam dunia yang penuh tantangan global, dari perubahan iklim hingga persaingan geopolitik, sebuah negara hanya bisa bertahan jika ia memiliki fondasi politik yang sehat.

Fondasi itu adalah institusi yang adil, pemimpin yang berintegritas, hukum yang tegak, dan rakyat yang percaya pada negaranya.

Tanpa itu semua, political decay akan menjadi penyakit kronis yang pada akhirnya bisa meruntuhkan rumah besar bernama Indonesia.

Maka, mengingatkan kembali pandangan Huntington bukan sekadar wacana akademis, melainkan kebutuhan mendesak agar kita tidak abai terhadap bahaya laten yang tengah menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni pembusukan politik

                *

Oleh Bambang Eko Mei

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.