Catatan:
Masayu Indriaty Susanto
MANUSIA pada dasarnya adalah zoon politikon, makhluk sosial, sebagaimana ditegaskan Aristoteles lebih dari dua ribu tahun lalu. Pernyataan klasik ini sekaligus menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan fondasi keberadaan manusia dalam membangun relasi, kebudayaan, hingga peradaban.
Ilmu komunikasi sendiri lahir sebagai disiplin yang terbuka yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman, merefleksikan bagaimana manusia menafsirkan, menyampaikan, dan merespons pesan dalam berbagai bentuk.
Dalam konteks itulah buku “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” karya Morissan, Ph.D hadir. Buku ini bukan hanya memaparkan kronologi perkembangan komunikasi sejak masa prasejarah hingga era digital, tetapi juga menyajikan sebuah narasi besar mengenai bagaimana komunikasi membentuk arah peradaban umat manusia.
Lebih dari sekadar catatan historis, buku ini menjadi bekal penting bagi kita untuk memahami bagaimana evolusi komunikasi seharusnya disikapi. Bahwa setiap inovasi teknologi, dari goresan simbol di dinding gua hingga media sosial global, bukanlah sekadar perubahan alat, melainkan transformasi cara manusia membangun makna bersama.
Dengan demikian, membaca buku ini sama halnya dengan membaca cermin sejarah: bagaimana kita berkomunikasi di masa lalu menentukan bagaimana kita menyikapi tantangan komunikasi di masa depan.
Salah satu daya tarik utama buku “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” adalah keberanian Morissan, PhD untuk menempatkan komunikasi sebagai inti dari evolusi peradaban.
Dalam hal ini, Morissan, PhD tampak terinspirasi dari buku “Sapiens: A Brief History of Humankind” karya Yuval Noah Harari, seorang filsuf, sejarawan, dan professor di The Hebrew University of Jerusalem yang menjadi buku ilmiah best seller internasional.
Yang menegaskan bahwa manusia menjadi “penguasa dunia” bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kemampuan membangun imajinasi kolektif melalui bahasa dan komunikasi.
Jika Harari menyoroti peran narasi dalam menciptakan berbagai hukum, aturan, dan negara, Morissan, PhD menambahkan dimensi yang lebih spesifik: komunikasi sebagai fondasi yang memungkinkan lahirnya struktur sosial, pertukaran pengetahuan, hingga penciptaan teknologi.
Kelebihan buku ini terletak pada gaya penulisannya yang sistematis sekaligus mudah dipahami. Morissan, PhD mampu membawa pembaca melintasi ribuan tahun sejarah, mulai dari era resolusi kognitif sekitar 70.000 tahun lalu di mana manusia homo sapiens mulai membentuk kebudayaan melalui simbol-simbol awal komunikasi. Kemudian penemuan aksara, revolusi percetakan, hingga hadirnya media massa modern dan era digital.
Hingga masa kini dan masa mendatang yang masih menanti jawaban dari pertanyaan: apakah kecerdasan buatan akan mengambil alih banyak kekuatan manusia? Dan apakah sapiens akan tergantikan oleh superhuman?
Setiap fase dalam buku ini digambarkan bukan hanya sebagai catatan peristiwa, melainkan sebagai lompatan epistemologis yang mengubah cara manusia berpikir dan berinteraksi.
Di sinilah relevansi buku ini menjadi kuat: komunikasi tidak pernah statis, tetapi selalu bergerak mengikuti perubahan sosial, politik, dan teknologi. Begitupun dengan ilmu komunikasi, akan selalu menjadi ilmu yang seyogyanya interdispliner dan relasional.
Maka tidak heran jika ada banyak sekali analisa komunikasi yang disampaikan dari lensa ilmu lain, termasuk sains, yang dijabarkan dalam buku ini. Morissan, PhD mengulas bagaimana hukum gerak Isaac Newton, teori Biologi Charles Darwin, bahkan sederet homon-hormon manusia yang biasanya dipelajari dalam Biokimia adalah bagian dari perkembangan sejarah ilmu pengetahun yang dibangun melalui komunikasi.
Namun, justru di titik ini, buku karya Morissan, PhD yang merupakan akademisi Universitas Sahid Jakarta ini membuka ruang diskusi lebih luas: ia memberi fondasi historis yang kokoh agar kita mampu berpikir lebih kritis dalam menyikapi tantangan komunikasi kontemporer.
Komunikasi adalah “Jantung” Peradaban
Komunikasi adalah sebuah ilmu yang selalu dibangun dengan disiplin ilmu lainnya yang muncul lebih dulu. Komunikasi politik, psikologi komunikasi, komunikasi pembangunan, komunikasi kesehatan, dan lainnya.
Tapi mungkin buku ini adalah buku pertama yang membahas komunikasi dari perspektif sejarah. Namun justru menjadi fundamental karena justru sejarah dan peradaban manusia jelas dibangun melalui komunikasi.
Secara keseluruhan, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” bukan hanya buku sejarah, melainkan peta intelektual. Yang mengingatkan kita bahwa komunikasi adalah jantung dari peradaban, dan memahami sejarahnya berarti mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Sebagaimana Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial, buku ini menegaskan bahwa kualitas peradaban selalu sejalan dengan kualitas komunikasi yang dibangunnya.
Pada akhirnya, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” karya Morissan, Ph.D. dapat dibaca bukan sekadar sebagai rekam jejak historis, melainkan sebagai fondasi konseptual bagi siapa saja yang ingin memahami ilmu komunikasi. Buku ini memberi kesadaran bahwa komunikasi bukan hanya keterampilan teknis dalam menyampaikan pesan, tetapi juga akar dari seluruh struktur sosial, politik, ekonomi, hingga budaya yang menopang kehidupan manusia.
Jika Harari dalam “Sapiens” menunjukkan bahwa narasi kolektif melahirkan peradaban, Morissan, PhD melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa komunikasi adalah medium yang memungkinkan narasi itu hidup dan diwariskan lintas generasi.
Tanpa komunikasi, tidak ada pengetahuan yang ditransmisikan, tidak ada simbol yang disepakati, dan tidak ada peradaban yang bisa berdiri.
Karena itu, membaca buku ini sama dengan kembali ke titik mula: memahami bagaimana manusia membangun jati dirinya sebagai makhluk sosial melalui komunikasi. Buku ini layak ditempatkan sebagai dasar dari ilmu komunikasi, pondasi yang memungkinkan kita menafsirkan dinamika masa kini dan merancang arah masa depan.
Sebagaimana evolusi komunikasi selalu menentukan arah sejarah manusia, buku ini mengingatkan bahwa kualitas peradaban kita di masa depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita berkomunikasi hari ini.
Dengan demikian, “Sejarah Komunikasi Umat Manusia” tidak hanya memberi wawasan, tetapi juga meninggalkan renungan filosofis: selama manusia masih ada, sejarah komunikasi belum pernah benar-benar selesai ditulis. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi