Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 16:52 WIB
Surabaya
--°C

Prof Morissan: AI Tidak Bisa Manggantikan Kecerdasan Emosi Manusia

Catatan:
Masayu Indriaty Susanto

HADIRNYA kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah menandai titik balik dalam sejarah komunikasi manusia. Jika dahulu revolusi percetakan oleh Gutenberg membuka jalan bagi penyebaran pengetahuan, dan internet menghadirkan ruang publik global yang tak berbatas, maka kehadiran AI hari ini ibarat disruptive paradigm.

Sebuah lompatan radikal yang tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga mendefinisikan ulang makna komunikasi itu sendiri.

AI memang telah membawa transformasi besar-besaran dalam industri media dan komunikasi.

Di ruang media, algoritma kini bekerja lebih cepat daripada editor, chatbot menggantikan fungsi pelayanan publik, dan machine learning mampu memproduksi narasi dengan kecepatan melampaui jurnalis manusia.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut para akademisi sebagai post-human communication, sebuah fase di mana manusia bukan lagi satu-satunya aktor dalam produksi dan distribusi pesan.

“Namun, tantangan terbesar kita bukanlah teknologi, melainkan bagaimana kita mengelola teknologi agar tetap memanusiakan manusia. AI tetap tidak bisa menggantikan kecerdasan emosi manusia, kreatifitas, empati, dan kemampuan bercerita manusia yang unik,” tegas Prof. Drs. Morissan, SH, MA, PhD di hadapan Sidang Senat terbuka Pengukuhan Guru Besar, di Auditorium Prof. Dr. Sukamdani Sahid Gitosardjono, Kampus 1 USAHID Jalan Mr Soepomo Jakarta, Kamis (11/9) pagi.

Prof Morissan memaparkan, perubahan besar yang terjadi saat ini juga membawa paradoks.

Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi, personalisasi pesan, dan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Di sisi lain, AI juga melahirkan tantangan serius: banjir disinformasi, hilangnya sentuhan humanis dalam interaksi, hingga krisis otoritas media tradisional.

Kemunculan deepfake atau konten AI palsu juga mengancam kredibilitas media. Bahkan bias algoritma AI juga bisa menimbulkan ketidakdilan, pembohongan publik, dan tentu saja akan berujung pada terkikisnya rasa keadilan masyarakat.

Dalam konteks inilah, komunikasi dan media tidak lagi sekadar saluran informasi, melainkan arena pertarungan etika, kuasa algoritma, dan nilai kemanusiaan.

BACA JUGA  Menelusuri Celah Hukum dan Pola Manipulasi Dana Operasional SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis (Bag-2)

Di era kecerdasan buatan, komunikasi bukan hanya alat, melainkan fondasi kemanusiaan yang akan terus diuji oleh teknologi.

“Tantangan, peluang, sekaligus hambatan perkembangan ilmu komunikasi dan media di era AI adalah medan baru yang harus ditaklukkan dengan visi, nalar kritis, dan keberanian. Pendidikan tinggi ilmu komunikasi dan media harus mampu menyesuaikan zaman dan serius dengan pengembangan soft skill ini ,” tambahnya.

Menurut Prof. Morissan, hambatan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan manusia mengelola perubahan. Ia menekankan pentingnya visi kritis, etika, dan kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi era baru saat ini.

Prof Morissan sendiri menyoroti hal krusial ini dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Perkembangan Studi Komunikasi dan Media di Indonesia: Hambatan, Peluang dan Tantangan di Era AI”.

Dalam orasinya, Prof. Morissan mengajak kita menengok kembali sejarah peradaban manusia yang tumbuh karena kemampuan berkomunikasi.

Dari bahasa lisan hingga media digital, komunikasi menjadi fondasi bagi manusia untuk membangun jejaring, pengetahuan, dan kebudayaan.

Ia menekankan bahwa sejak awal peradaban, manusia bertahan dan berkembang karena kemampuan berkomunikasi.

Prof Morissan (dua dari kanan) bersama Prof Dr Nugroho B. Sukamdani, Prof Dr Nafiah Ariyani, Prof Dr Giyatmi dan Prof Rahmawati

Merangkai Narasi ke Puncak Ilmu

Pagi itu, Universitas Sahid Jakarta mengukuhkan Prof Morrisan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi dan Media. Turut dikukuhkan Prof. Dr. Rahmawati, ST, MSi yang menjadi guru besar bidang Ilmu Teknologi Pangan.

Sidang Senat terbuka dipimpin Ketua Senat Universitas Sahid, Prof. Dr. Nafiah Ariyani, SE, M.Si. Dan dihadiri Ketua LLDIKTI III Jakarta, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, SE, MA,, Ketua Umum Yayasan Sahid Jaya, Prof. Dr. Nugroho B. Sukamdani, MBA, BET, Rektor USAHID, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si, dan segenap civitas akademika Usahid.

Di ruang akademik, pengukuhan seorang guru besar bukanlah sekadar seremoni, melainkan penanda lahirnya sebuah tonggak baru dalam perjalanan ilmu pengetahuan.

Prof. Morissan adalah sosok ahli komunikasi yang juga praktisi yang telah menapaki jalan panjang dunia jurnalistik selama lebih dari 15 tahun.

BACA JUGA  Regresi Kualitas Pemimpin

Memulai karir sebagai reporter LKBN Antara, news producer Metro TV, international reporter Reuters (British News Agency) dan Associated Press (American News Agency). Sebelum kemudian mengabdikan diri selama seperempat abad dalam ranah akademik.

Dua pendidikan S1 ditempuhnya di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang dan Fakultas Komunikasi Islam IAIN Raden Patah Palembang. Kemudian S2 Journalism di University of Strasbourg, Perancis dan S3 Media and Communications Universiti Sains, Malaysia.

Sebagai jurnalis, Prof. Morissan menapaki jalan yang penuh dinamika: mengumpulkan fakta, merangkai narasi, dan menyampaikan kebenaran kepada publik. Profesi itu menempanya menjadi sosok yang peka terhadap realitas sosial, sekaligus terlatih berpikir kritis dalam menimbang peristiwa.

Namun, panggilan jiwanya untuk mengabdi pada ilmu membuatnya beralih ke dunia akademik. Selama 25 tahun terakhir, ia mendidik mahasiswa, meneliti fenomena komunikasi, serta menulis karya-karya ilmiah yang kini banyak dijadikan rujukan.

Tak kurang dari 15 buku yang lahir dari tangannya menjadi rujukan penting bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi media. Mulai dari teori komunikasi, media massa, hingga dinamika politik dan demokrasi. Dan puluhan jurnal dan artikel yang terbit di dalam dan luar negeri.

Hal ini menjadikan Prof. Morrisan bukan hanya sebagai saksi, tetapi juga penulis sejarah komunikasi di Indonesia.

Di balik capaian akademik yang kokoh, Prof Morissan juga menyenangi free diving dan seorang pendaki gunung. Sebuah metafora yang selaras dengan jalan ilmu: penuh tantangan, memerlukan disiplin, tetapi menghadirkan puncak pemahaman yang memperluas pandangan tentang dunia.

Pengukuhan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ilmu komunikasi, dengan segala cabang dan dinamikanya, adalah disiplin yang terus bertransformasi. Dan Prof. Morissan, dengan pengalaman jurnalis dan akademisinya, menegaskan bahwa komunikasi akan selalu menjadi denyut nadi peradaban, bahkan di era kecerdasan buatan. Selamat …! (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.