Rabu, 8 Juli 2026, pukul : 13:06 WIB
Surabaya
--°C

Dinasti Jokowi Mulai Kehilangan Tajinya?

Artinya perusahaan tersebut memang tidak layak atau saat itu ada yang sedang ‘mencuci’. Masih ingat ‘suntikan’ dana Rp 71 miliar ke perusahaan Kaesang untuk bisnis Es Doger? Bagaimana dengan ‘suntikan’ modal bisnis lainnya?

Oleh: Muhammad Said Didu

KEMPALAN: Bahwa “dinasti Jokowi” mulai kehilangan keistimewaannya. Terdapat tiga gejala yang menunjukkan bahwa dinasti politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo mulai kehilangan pengaruh.

Terdapat tiga gejala bahwa dinasti Jokowi mulai kehilangan keistimewaan. Gejala pertama adalah kembali normalnya proses penegakan hukum terkait perkara dugaan ijazah palsu.

Hal itu bisa dilihat dengan dua perkembangan, yakni tidak ditahannya Roy Suryo dan dr. Tifauzia Tyassuma, serta dikabulkannya gugatan praperadilan Roy Suryo.

Gejala kedua adalah mulai terbongkarnya persoalan yang saya sebut sebagai bobroknya bisnis anak-anak Presiden Joko Widodo.

BACA JUGA  Filosofi Konstitusi: Pasal 33 UUD 1945 – Indeks Kontribusi Hilirisasi – Kesehatan Fiskal Hilirisasi Minerba Dalam

Sementara gejala ketiga adalah munculnya penolakan pada agenda kunjungan atau safari politik Joko Widodo di sejumlah daerah.

Terkait bisnis putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat Wakil Presiden, sebelumnya terdapat delapan perusahaan yang dikaitkan dengan Gibran, antara lain Chilli Pari, Markobar, Mangkokku, dan lainnya yang berada di bawah perusahaan induk PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat).

Perusahaan-perusahaan tersebut kini sudah tidak lagi terdengar aktivitasnya.

Memang, sebelumnya terdapat delapan perusahaan milik Gibran, seperti Chilli Pari, Markobar, Mangkokku dan lain-lain di bawah perusahaan induk PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat) sudah tidak terdengar lagi – apa bangkrut?

Sedangkan mengenai bisnis Kaesang Pangarep, bahwa dari 12 perusahaan yang dikaitkan dengan Kaesang, seperti Sang Pisang, TernakKopi, Siap Mas, Es Doger, dan lainnya, sebagian besar sudah tidak lagi beroperasi.

BACA JUGA  Harakah Bakomubin Jawa Timur tentang Penolakan Normalisasi dan Legalisasi LGBTQ di Indonesia

Pertanyaannya, adakah kelayakan bisnis perusahaan-perusahaan tersebut dan kemungkinan adanya praktik lain di balik pendanaan perusahaan.

Artinya perusahaan tersebut memang tidak layak atau saat itu ada yang sedang ‘mencuci’. Masih ingat ‘suntikan’ dana Rp 71 miliar ke perusahaan Kaesang untuk bisnis Es Doger? Bagaimana dengan ‘suntikan’ modal bisnis lainnya?

Saya berharap kondisi kehidupan berbangsa dapat kembali berjalan normal.

Semoga kehidupan Bangsa Indonesia bisa kembali normal setelah cawe-cawe Dinasti Jokowi menghilang.

*) Muhammad Said Didu, Mantan Sekretaris Kementerian BUMN

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.