Selasa, 9 Juni 2026, pukul : 21:02 WIB
Surabaya
--°C

Ramadhan Bulan Pelatihan Komunikasi

Dr. Ade Tuti Turistiati, MIRHRM
Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Purwokerto

KEMPALAN: Ramadhan sudah diambang pintu. Bulan suci yang dinantikan kaum muslimin tersebut merupakan bulan pelatihan. Di bulan Ramadhan, umat Islam tidak hanya sekadar puasa menahan makan minum pada waktu-waktu yang ditentukan tetapi juga berlatih menjaga komunikasi lisan dan tulisan.

Menjelang Ramadhan ada sebagian orang yang memposting di laman media sosialnya selain ucapan selamat menunaikan ibadah suci di bulan Ramadhan sekaligus “berpamitan”. Pamit bahwa selama Ramadhan ia tidak akan aktif di media sosial alias puasa medsos. Alasannya pun beragam. Biasanya, orang melakukan puasa medsos ketika dirinya menyadari bahwa dampak negatif dari media sosial lebih besar dari dampak positifnya. Alasan lain, karena orang tidak mau apa yang ia posting, komentari, atau sekadar melihat/membaca postingan di media sosialnya akan mengurangi nilai ibadah Ramadhan. Alih-alih menambah pahala Ramadhan dengan banyak membaca tautan atau postingan, media sosial dikhawatirkan menyita waktu bahkan menuai dosa. Selain puasa media sosial, sebagian berhenti berguyon, membatasi dan menghindari sedemikian rupa berbicara yang tidak perlu, bahkan ada yang tetiba menjadi pendiam. Bahkan, ada juga yang memanfaatkan Ramadhan dengan mengambil cuti dan menjalankan ibadah umroh untuk lebih khusyu beribadah.

Berbagai macam cara dilakukan oleh individu agar mata, telinga, mulut dan jari tangannya tidak terpeleset menjadi dosa apalagi sampai membatalkan puasa. Para ustadz dan ustadzah bahkan sering mengingatkan bahwa “bisa jadi ini bulan Ramadhan terakhir kita”. Maka, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan, bulan “pelatihan”.

Manusia pada dasarnya homo narrans, makhluk pencerita atau suka bercerita. Manusia mudah tergoda untuk menceritakan apa saja pada orang lain, curhat, atau berkomentar. Kalaupun tidak bercerita atau berbicara secara lisan atau tulisan, minimal membatin dalam bentuk komunikasi intrapersonal. Sementara itu, komunikasi sifatnya omnipresent (hadir dimana-mana), artinya komunikasi berlaku di segala tempat, kondisi dan dengan beragam orang. Sehingga, dalam segala aspek kehidupan, manusia tidak lepas dari kegiatan komunikasi itu sendiri.

Jadi sesungguhnya, kunci utama menjaga komunikasi lisan dan tulisan terletak pada pengendalian diri. Pengendalian diri secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya secara sadar agar perilakunya tersebut sesuai dengan norma yang dapat diterima oleh orang lain atau lingkungannya sehingga tidak merugikan orang lain. Bentuk implementasinya, di antaranya sebagai berikut:
1) Berpikir sebelum berbicara secara tatap muka, menulis atau posting di media sosial. Apakah yang akan dikomunikasikan itu bermanfaat, penting, berpengaruh positif atau negatif pada diri dan orang lain? Hal ini penting dilakukan karena sifat komunikasi yang irreversible, jika sudah disampaikan baik secara lisan maupun tulisan susah ditarik kembali. Kalaupun apa yang telah disampaikan dapat diralat, kesan yang ditimbulkan bisa jadi berbeda dengan yang diharapkan,
2) Kritik, komentar, keluhan, teguran, saran, sebaiknya di ruang privat (secara pribadi) dan disampaikan dengan cara santun. Sementara itu, pujian atau apresiasi terhadap seseorang dapat dilakukan di depan umum,
3) Jika kita tidak ingin orang lain berkomunikasi, menyampaikan pesan dengan cara yang tidak kita sukai, maka jangan lakukan hal tersebut pada orang lain,
4) Jika kita sedang emosi atau marah, menjauhlah dari orang yang kepadanya kita merasa kesal. Hal tersebut dapat menghindarkan kita berbicara yang tidak perlu atau menyakitkan. Jangan menggunakan media sosial sebagai tempat untuk menumpahkan kemarahan kita. Orang lain yang melihat kita marah baik langsung maupun marah dalam bentuk kata-kata di media sosial seringkali tidak fokus pada isi pesannya melainkan pada cara menyampaikannya,
5) Berkomunikasilah tentang hal yang baik dengan cara yang baik.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai bulan pelatihan komunikasi, mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri kita sendiri. Selanjutnya istiqomah memperbaiki komunikasi. Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT melimpahkan segala kebaikan. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.