Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 10:33 WIB
Surabaya
--°C

Polisi Gelar Curhat Kamtibmas di Desa Bohar

SIDOARJO-KEMPALAN: Sebagai upaya mewujudkan situasi kamtibmas aman dan kondusif, Sat Binmas Polresta Sidoarjo dan Polsek Taman menggelar Curhat Kamtibmas bertempat di Balai Desa Bohar, Selasa (4/2/2025).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Bohar, perangkat desa, pengurus PKK, tokoh masyarakat dan karang taruna Desa Bohar.

Kasat Binmas Polresta Sidoarjo Kompol Madya Wiraaji Kusuma pada curhat kamtibmas ini, menyampaikan sejumlah pesan kamtibmas. Terutama berkaitan dengan pencegahan kenakalan remaja dan bahaya kriminalitas.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat termasuk para orang tua untuk mengawasi anaknya agar jangan sampai terlibat dalam kenakalan remaja. Selain itu, mari bersama-sama saling mengawasi wilayah kita dari bahaya kriminalitas,” pesannya.

Masyarakat dihimbau agar tidak segan berkordinasi dengan bhabinkamtibmas atau perangkat desa, RT/RW apabila ada indikasi kenakalan remaja di wilayahnya.

Arifin, warga setempat mengapresiasi adanya forum curhat kamtibmas yang diadakan Polresta Sidoarjo beserta jajarannya. Hal ini sebagai upaya membuka kesempatan masyarakat untuk mencari solusi dari adanya gangguan kamtibmas. (Muhammad Tanreha)

Bahlil Atas Perintah Siapa Membuat Kebijakan Mengenai LPG 3 Kg?

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bikin kontroversi lagi. Kebijakan distribusi gas melon 3 Kg membuat gaduh rakyat, kegaduhan yang membuat rakyat susah. Antrian panjang memilukan bahkan telah menelan korban. Saat bertemu DPR Bahlil yang juga Ketum Partai Golkar itu beralasan bahwa hal ini sebagai konsekuensi dari sebuah penataan. Penataan jangka panjang yang berisiko jangka pendek.

Bahlil lupa bahwa sejak masa pemerintahan Jokowi rakyat dicekoki dengan pola fikir pendek. Berbagai kartu, bansos, hingga lempar lempar kaos. Semua menciptakan perasaan miskin pada rakyat. Kini Bahlil sok hebat mengajarkan rakyat agar berpandangan jauh ke depan untuk memahami kebijakan penataan.

Rakyat mengeluh akibat berjalan jauh dan  harus antri untuk mendapatkan gas 3 Kg, padahal sebelumnya baru saja terkejut karena dipaksa harus mengganti minyak tanah dengan gas untuk masak di dapur. Akibat ulah Bahlil maka pemerintahan Prabowo dinilai telah menyusahkan rakyat.

Manuver Bahlil yang dinilai bahlul itu dilakukan atas perintah siapa ? Hal ini perlu dipertanyakan mengingat Bahlil Lahadalia faktanya berperan sebagai “double agent” dengan kemampuan mengabdi sana-sini. Sebagai Menteri dalam Kabinet Prabowo atasan Bahlil adalah Prabowo, sehingga kebijakan gas 3 Kg tentu atas perintah atau sepengetahuan Prabowo.

Di sisi lain sukses Bahlil menjadi Ketum Partai Golkar juga atas tekanan Jokowi pada Airlangga. Demikian juga ia menjadi Menteri ESDM pada Kabinet Prabowo sebagai barang titipan Jokowi. Bagi Bahlil Jokowi adalah segalanya. Ia mewanti-wanti siapapun agar tidak mencoba main-main dengan “Raja Jawa” itu.

Bermain pada dua kaki seperti ini Bahlil mampu memainkan ritme dan berpengaruh. Terakhir dengan kesiapan untuk menarik kebijakan penataan distribusi gas 3 Kg asal DPR setuju, maka ia mencoba berrmain pada tiga kaki.

Prabowo dibuat sulit oleh Bahlil. Ada kesan Jokowi sedang bermain melalui politisi Bahlil. Prabowo memukul Jokowi untuk kasus PIK 2 dengan pembongkaran pagar laut dan evaluasi PSN, kini ia mendapat pukulan balik Jokowi melalui serangan tiba-tiba gas 3 Kg. Pembongkaran 30 Km melawan penataan 3 Kg.

Agenda koalisi Prabowo dengan Megawati PDIP rupanya diganjal oleh penguatan posisi Jokowi-Bahlil Golkar.

Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Rakyat kecil dipaksa untuk  menjerit karena terinjak-injak.
Prabowo semestinya cepat ambil tindakan dengan perintah batalkan kebijakan Bahlil yang melarang pengecer menjual gas melon 3 Kg. Buat rakyat senang dengan membuktikan bahwa Presiden Indonesia tidak gentar pada Raja Jawa.

Pertanyaan Bahlil menjadi bahlul itu atas perintah siapa menjadi relevan karena selama 100 hari pemerintahan Prabowo, salah satu isu yang mengemuka adalah adanya matahari kembar. Siapa penguasa negeri ini Prabowo atau Jokowi ? Adakah pelumpuhan Prabowo dipercepat untuk kudeta Gibran ? Lalu 2029 Jokowi Presiden lagi ?

Semua bisa saja terjadi, hanya kasihan jika rakyat yang harus terinjak-injak. Saatnya semut menggigit gajah, agar gajah-gajah itu yang menggelepar kesakitan.
Semut harus mulai bangkit bersama dan berteriak : “kill or to be killed !”. Melawan dengan gagah arogansi gajah yang hanya memikirkan dan bertindak demi kepentingan diri dan kelompoknya sendiri saja. (MRF)

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 4 Februari 2025

Editor: Nur Izzati Anwar

Hari Persaudaraan Manusia Internasional, Khofifah Ajak Masyarakat Menjaga Toleransi dan Saling Menghormati

SURABAYA– Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk terus menjaga sikap toleransi dan saling menghormati untuk menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Pesan tersebut disampaikan Khofifah bertepatan dengan Hari Persaudaraan Manusia Internasional yang diperingati setiap tanggal 4 Februari. Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Sikap toleransi dan gotong royong adalah kunci dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan politik. Untuk itu nilai-nilai persaudaraan sangat relevan dalam menjaga stabilitas sosial dan membangun kehidupan yang damai,” kata Khofifah di Surabaya, Selasa (4/2).

Khofifah mengatakan, Hari Persaudaraan Manusia Internasional yang diperingati setiap 4 Februari menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, moderasi serta saling menghormati, dan persaudaraan antarumat manusia.

“Di Indonesia, peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional menjadi sangat relevan mengingat keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di negara ini,” kata Khofifah.

“Hal ini mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang menjadi pilar utama dalam menjaga persatuan bangsa,” imbuh dia.

Menurutnya, dalam menghadapi dinamika sosial dan politik yang berkembang, sikap persaudaraan dan saling menghormati antaragama sangat penting untuk mencegah konflik serta memperkuat rasa persatuan dan kesatuan.

“Di tengah perbedaan pandangan, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun politik, nilai-nilai toleransi, moderasi dan gotong royong harus tetap menjadi fondasi utama dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa,” kata dia.

“Dengan menerapkan sikap persaudaraan dan saling menghormati, Indonesia dapat terus menjadi negara yang aman, damai dan harmonis , di mana setiap warganya dapat hidup berdampingan secara damai,” pungkas Khofifah.

Perkedelnya Kok Gak Dimasukkan ke Nota?

KEMPALAN : Tadinya rencana yang ada di benak adalah mendatangi “base camp” Abah Mushadi (Bahmus) di Jl. Pacarkeling 11, Surabaya, untuk kemudian minta diantar ke fotokopi Super Star di Jl. Ondomohen 25-27. Keperluannya, guna melaminasi press card kempalan.com. saya — mengingat di dekat sekitar rumah di kawasan Rungkut, tak ada alat laminasi seperti yang di Jl. Walikota Moestadjab itu, yang dulu disebut Jl. Ondomohen.

Setiba di “base camp” Bahmus yang dikenal sebagai ‘Depot Prasmanan Bu Mus’ pukul 09.00 dengan go car, saya ditawari untuk sarapan. Karena masih kenyang, saya menolak.

Lantas, “Minum jus, teh, atau kopi, Pakde?” Saya jawab, “Air putih saja.”

Semenit kemudian salah satu pramusaji di situ mengantar air mineral botolan ukuran 600 ml.

Selepas itu sedan mini Suzuki Ignis dilajukan Bahmus ke arah barat di Jl. Ambengan. Tapi saya agak kaget, kok mobil kecil ini tidak terus ke barat melewati lampu stopan Jl. Kusuma Bangsa – Jl. Ambengan, tapi belok kiri ke Jl. Kusuma Bangsa?

“Lho, kok belok kesini. Arah fotokopi Super Star mestinya terus ke barat, nanti belok kiri ke Jl. Ngemplak …”

Bahmus menjawab kalem: “Kita ke Bank Jatim dulu, ada yang perlu kita tanyakan…”

Selepas dari bank milik Pemprov Jatim itu, baru kami ke Ondomohen.

Setelah selesai urusan di fotokopi yang pemiliknya meninggal dunia 4 tahun lalu karena Covid setiba dari Semarang untuk urusan famili punya hajat, saya pun beranjak ke parkiran yang ditunggu Bahmus di mobil.

Tiba-tiba perut saya terasa lapar. Belakangan perut saya sering dihinggapi keroncongan, saya curiga jangan-jangan gejala diabetes.

Cekak aos, biasanya kalau dari Bank Jatim, saya sering diajak Bahmus kulineran. Entah di sate klopo, pecel madiun, nasi kebuli lauk kambing open atau di lokasi lain yang dianggap paling unggul se-Surabaya “species” masakannya.

Kali ini saya yang mau nraktir. Dan boleh jadi, ini pertama kali saya yang nawari nraktir. Kalau Bahmus berkali-kali nraktir saya.

Dulu saya pernah ditawari Soto Cak To di Jl. Undaan Wetan. Ini salah satu soto ayam yang katanya maknyus tenan. Tapi dua kali saya tolak, karena saat Bahmus menjapri saya, posisi saya sedang di rumah. Bukan di tengah kota seperti pagi itu. Sedangkan rumah saya dengan “base camp” Bahmus berjarak 14 kilometer.

“Ayo dik, kita ke Soto Cak To. Pingin nyoba, nih. Saya yang nraktir?”

Bahmus tak menjawab, masih konsentrasi nyetir menuju “base camp”.

Tak lama kemudian, pertanyaan di atas saya ulangi lagi. Lantas Bahmus noleh ke kiri ke arah saya dibarengi tersenyum kecil.

Kemudian menjawab kalem, “Ke sini aja, Pakdhe. Lebih dekat.”

Ternyata Ignis yang sudah mengarah ke timur ke arah “base camp”, saat jelang Grand City Mall, dibelokkan ke kiri ke Jl. Slamet.

Sekira 150 meter dari ujung selatan Jl. Slamet, Suzuki mungil itu dipelankan, kemudian masuk ke lahan parkir, dipandu petugas parkir di situ. Banyak motor diparkir. Juga mobil-mobil yang diparkir di pinggir Jl. Slamet.

Depan kabin Ignis tersebut, terpampang tulisan besar memanjang pada plank: Spesial Soto Boyolali. Dominasi tulisan di plank ini merah magenta dan kuning. Di sini, selain menyediakan soto daging dan soto ayam, juga tengkleng.

‘Oh, ini to restoran soto yang sering masuk medsos itu,’ saya membatin. Saya singgung kata ‘restoran’ karena terletak di bangunan besar bekas kawasan elite zaman Hindia Belanda. Dulu, bangunan-bangunan macam begini disebut ‘omah loji’ (lodge).

Rupanya Bahmus sudah hafal dengan restoran ini. Terbukti njujug meja panjang tempat kondimen (lauk pauk dan jajanan pelengkap) yang ditutupi oleh perangkat buka-tutup terbuat dari mika.

Bahmus mengambil sate cingur, sate paru, tahu bakso — dalam wadah “anyaman plastik” duplikasi piring anyaman lidi.

Lantas di piring itu saya menambahkan pekedel dan tahu isi.

Kata Bahmus, sisa kondimen tak bisa dikembalikan. Oleh sebab itu kami ngambil secukupnya.

Di depan desk front restaurant, saya disodori leaflet menu. Saya pilih : soto ayam.
Bahmus : soto daging.
Minumnya: saya, air putih; Bahmus, teh hangat.

Saya mencoba mengira-ira, soto boyolali ini apa seperti soto bangkong di Semarang.

Ketika pesanan disajikan dalam mangkuk kecil ditataki lepek, saya amati isinya. Kemudian saya aduk-aduk dengan sendok. Isinya selain potongan-potongan kecil daging ayam, ada taoge, (mungkin) irisan-irisan singkong goreng, dan ini dia: kuahnya bening. Tak ada warna kuning kunyit sebagaimana kuah soto madura atau soto lamongan. Dan, jangan harap nyari poya. Gak ada!

Di lepek lain, disajikan potongan-potongan jeruk nipis.

Setelah saya aduk-aduk, lantas saya nikmati sruput demi sruput. Ya, karena masih panas. Tak lupa saya cemplungkan sepotong perkedel. Baru kemudian saya memakannya. Ludes. Licin tandas bagai dijilat anjing kering he-he-he. Rasanya? Seger, sedaapp.

Akan tetapi …
yah ada pengecualian.Saat tadi saya ambil sate paru, dan mulai menggigitnya, ternyata tak mempan. Alot. Atau kata yang tepat : lentur seperti karet. Jelasnya empuknya empuk membal.

Akhirnya dua potong bekas gigitan, saya letakkan di lepek dasaran mangkuk itu.

Seorang mbak pramusaji yang kebetulan ngringkesi sisa-sisa di meja sebelah, saya panggil. Mbaknya yang mirip Jihan Fahira ini menoleh, lantas mendekat.

“Maaf, mbak. Sate paru ini titipan dari orang lain atau hasil masak sendiri?”

“Masak sendiri, Pak… “

“Tolong bilangin yang masak ya, nggodoknya atau manggangnya kurang lama. Alot, Mbak. Kayak karet. Maaf ya…” kata saya.

Dan, tahu isinya dalemannya enak. Luarannya saya yang kurang sreg. Lapisan tepungnya keras sekali. Tak mempan saya gigit. ‘Mungkin supaya tidak keras, tepungnya diberi campuran kocokan telur’, saya membatin begitu.

Alhasil berapa yang harus saya bayar dari kami andok di situ : soto ayam besar Rp 13.000; soto sapi besar 13.000; teh manis 4.000; air mineral 5.000; 3 tahu isi 7.500; 1 tahu bakso 5.000; 1 sate cingur 8.000; 1 sate paru 8.000; kerupuk kaleng (dalam kemasan plastik isi 2) 2.000.

Total Rp 65.500, ditambah pajak mamin 10%. Jadi Rp 72.000. Jangan lupa, parkirnya Rp. 5.000.

Eits, tapi nanti dulu. Kok sepotong perkedel tidak dimasukkan print out nota hitung-hitungan. Waduh, yaopo iki. Padahal notanya saya baca saat sudah tiba di rumah. ‘Ya, sudah. Nanti kalau andok lagi disitu, akan saya bayar,’ pikir saya. (Amang Mawardi).

Ratusan Turis  Kunjungi Kawasan Heritage, Tahun Ini 18 Kapal Pesiar Sandar di Surabaya

Turis mancanehara saat singgah di Balai Kota Surabaya.

SURABAYA-KEMPALAN: Kota Surabaya menjadi salah satu primadona tujuan kapal pesiar internasional untuk bersandar. Hal ini lantaran Kota Pahlawan memiliki beragam tujuan wisata mulai dari edukasi hingga sejarah yang bisa dinikmati oleh semua wisatawan, terlebih turis mancanegara.

Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Farah Andita Ramdhani mengatakan, sebanyak 18 kapal pesiar atau cruise dijadwalkan akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sepanjang 2025. 

Selama bulan Januari hingga awal Februari 2025, Disbudporapar sudah menerima tiga kali kunjungan kapal pesiar. Terbaru kunjungan turis mancanegara dari kapal pesiar AIDAstella dilakukan di Balai Kota Surabaya, pada Senin (3/2).

“Ini adalah kunjungan kapal pesiar ke tiga yang datang masuk ke Surabaya di awal tahun 2025. Total dalam satu tahun ini, dijadwalkan 18 kapal pesiar akan datang,” ujar Farah.

Dengan jadwal sandarnya kapal pesiar di Kota Surabaya, Farah menargetkan jumlah kunjungan turis mancanegara akan mencapai ribuan orang. Pasalnya, dalam satu kali kunjungan jumlah turis mencapai ratusan orang.

“Kalau total turisnya bisa mencapai ribuan, karena jumlah yang mengikuti tour (paket wisata) berbeda-beda setiap cruise. Ada pula dari mereka (turis) yang memilih jalan-jalan sendiri, semuanya kami fasilitasi,” kata Farah.

Farah menyampaikan, pihaknya telah mempersiapkan segala fasilitas pendukung untuk menyambut kedatangan turis mancanegara dari kapal pesiar tersebut di tahun ini. Mulai dari persembahan atraksi budaya lokal hingga kegiatan yang menarik telah disiapkan.

“Seperti di Balai Kota ini, kami menyambut para turis dengan tarian Goyang Jeder asli Kota Surabaya. Tujuannya, tentu mengenalkan budaya lokal yang atraktif dan menarik,” terangnya.

Selain itu, Farah melanjutkan, ada banyak destinasi wisata sejarah yang bisa dijelajahi oleh para turis. Oleh karena itu, destinasi atau paket wisata yang ditawarkan banyak berkunjung ke bangunan cagar budaya dan bersejarah.

Adapun tempat-tempat yang dikunjungi para turis, antara lain Balai Kota, Pasar Genteng, Hotel Mojopahit, Tugu Pahlawan, Arca Joko Dolog, Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dan Kota Lama.

“Melihat Kota Surabaya itu, kuat di wisata sejarah dan belanjannya. Untuk itu, bersama pihak tour travel kami banyak mengajak turis mancanegara ke bangunan yang mengandung banyak nilai sejarah. Selain itu, kebanyakan turis juga tertarik dengan sejarah kota atau negara yang sedang dikunjungi,” jelasnya.

Farah berharap, kunjungan turis dari kapal pesiar selama tahun 2025 akan memberikan kontribusi yang besar terhadap sektor ekonomi. Mengingat penumpang yang turun selalu berjumlah besar.

“Pasti dengan meningkatnya kunjungan wisatawan terutama mancenegara akan berdampak pada perputaran ekonomi. Karena, mereka melalukan pembelian pada UMKM, tour guide yang mendampingi hingga kendaraan yang disewa berasal dari Kota Surabaya. Jadi setiap kunjungan akan berdampak pada peningkatan ekonomi secara linier,” harapnya.

Di samping itu, tambah Farah, Disbudporapar terus melakukan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan setiap tahunnya. Di antaranya bekerjasama dengan tour operator, merawat destinasi wisata yang berkaitan dengan sejarah dan sebagainya.

“Karena sejauh ini, wisata sejarah menjadi daya tarik utama saat wisatawan berkunjung ke Kota Surabaya. Kami terus mereservasi dan memfasilitasi itu dengan baik,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Oligarki

KEMPALAN: Dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia menghadapi tantangan serius yang tak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, salah satunya adalah dominasi oligarki.

Oligarki, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai kekuasaan yang terkonsentrasi di tangan segelintir orang, kini menjadi fenomena yang semakin kasat mata dalam berbagai aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia.

Kehadiran oligarki ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan demokrasi yang sehat dan berkeadilan.

Secara historis, oligarki bukanlah hal baru dalam politik Indonesia. Masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan ekonomi terpusat di tangan keluarga presiden, kroni-kroni politik, dan pengusaha besar yang memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan.

Reformasi 1998 seharusnya menjadi titik balik untuk memutus mata rantai oligarki tersebut, tetapi kenyataannya, fenomena ini justru mengalami transformasi, bukan eliminasi.

Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie pakar hukum tata negara, oligarki di Indonesia berkembang karena lemahnya institusi demokrasi yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan. “Demokrasi kita masih prosedural, bukan substantif.

Selama demokrasi hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan tanpa memperhatikan nilai-nilai keadilan sosial, oligarki akan terus bercokol,” ujar Jimly.

Ia menekankan bahwa oligarki tak hanya hadir dalam bentuk penguasaan ekonomi oleh elite tertentu, tetapi juga dalam politik melalui dinasti politik dan konglomerasi partai.

Dominasi oligarki memiliki dampak serius terhadap kehidupan berbangsa. Di ranah politik, oligarki menghambat regenerasi kepemimpinan yang sehat.

Pemimpin yang muncul bukanlah hasil dari proses meritokrasi atau kemampuan individu, melainkan karena kedekatan dengan elite kekuasaan.

Fenomena ini bisa dilihat dari maraknya dinasti politik di berbagai daerah, di mana jabatan publik diwariskan secara turun-temurun.

Di bidang ekonomi, oligarki memperparah ketimpangan. Sebagian besar kekayaan nasional terkonsentrasi di tangan segelintir individu atau keluarga, sementara mayoritas rakyat masih berjuang dalam kemiskinan.

Thomas Piketty ekonom dunia, dalam teorinya tentang ketimpangan global, menyebutkan bahwa jika kekayaan terus bertumpuk pada elite tertentu tanpa distribusi yang adil, maka akan menciptakan ketegangan sosial yang berpotensi merusak tatanan negara.

Indonesia bukan pengecualian. Menurut laporan Oxfam tahun 2023, empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan setara dengan 100 juta penduduk termiskin. Ini menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman oligarki dalam struktur ekonomi bangsa.

Dalam konteks politik, oligarki berpotensi merusak fondasi demokrasi. Demokrasi seharusnya menjamin adanya partisipasi rakyat secara luas dalam proses pengambilan keputusan.

Namun, ketika kekuasaan dan sumber daya terkonsentrasi di tangan segelintir orang, suara rakyat sering kali hanya menjadi formalitas dalam pemilu.

Proses legislasi pun tidak lagi mencerminkan aspirasi masyarakat, melainkan kepentingan para pemilik modal yang membiayai kampanye politik.

Dr. Refly Harun pakar hukum tata negara dan pengamat politik, menegaskan bahwa oligarki adalah ancaman nyata bagi demokrasi Indonesia. “Ketika pemodal besar mendanai politikus, maka kebijakan yang dihasilkan akan lebih berpihak pada kepentingan mereka, bukan rakyat. Inilah yang menyebabkan banyak kebijakan publik yang kontraproduktif dengan kepentingan masyarakat luas,” jelas Refly.

Ia menambahkan bahwa fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai kebijakan kontroversial, seperti UU Cipta Kerja yang dianggap lebih menguntungkan pengusaha besar dibandingkan pekerja.

Menghadapi oligarki bukanlah perkara mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Kuncinya terletak pada penguatan institusi demokrasi dan partisipasi masyarakat yang aktif.

Keterbukaan informasi, transparansi dalam pengelolaan anggaran, serta independensi lembaga-lembaga pengawas seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah langkah penting untuk membendung dominasi oligarki.

Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga demokrasi dari cengkeraman oligarki.

Prof. Bivitri Susanti ahli hukum tata negara dari STH Indonesia Jentera, menekankan pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat.

“Rakyat harus diberdayakan untuk memahami bahwa suara mereka memiliki kekuatan. Selama rakyat masih terjebak dalam politik uang atau sekadar memilih karena popularitas, oligarki akan terus bertahan,” kata Bivitri.

Selain itu, reformasi partai politik juga menjadi kunci. Partai politik harus kembali pada fungsinya sebagai alat perjuangan rakyat, bukan sekadar kendaraan untuk meraih kekuasaan.

Transparansi dalam pendanaan partai dan mekanisme pencalonan yang lebih terbuka dapat meminimalisir dominasi elite.

Indonesia masih memiliki peluang besar untuk keluar dari cengkeraman oligarki. Reformasi hukum dan tata negara harus terus didorong agar mampu menciptakan sistem politik yang lebih adil dan inklusif.

Salah satu langkah konkret adalah memperkuat aturan tentang pembatasan masa jabatan dan pengawasan ketat terhadap potensi konflik kepentingan antara pejabat publik dan pengusaha.

Namun, yang lebih penting adalah membangun budaya politik yang sehat. Demokrasi bukan sekadar soal pemilu, tetapi bagaimana rakyat terlibat aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Partisipasi ini harus diiringi dengan kesadaran kritis dan kemampuan untuk menilai kebijakan berdasarkan kepentingan umum, bukan sekadar kepentingan sesaat.

Di tengah tantangan ini, harapan tetap ada. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali datang dari dorongan rakyat yang sadar akan hak dan kewajibannya.

Oligarki mungkin kuat, tetapi suara rakyat yang bersatu jauh lebih kuat. Masa depan Indonesia bergantung pada bagaimana kita bersama-sama menjaga demokrasi dari dominasi segelintir elite yang ingin menguasai negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Dengan semangat reformasi yang terus menyala, Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara lain bahwa demokrasi sejati mampu mengalahkan kekuatan oligarki, asalkan ada kemauan politik yang kuat dan partisipasi masyarakat yang aktif.
*

Oleh Bambang Eko Mei

Pj. Gubernur Adhy Optimistis Perubahan Nomenklatur 2 BUMD Jatim Naikkan PAD

Pj. Gubernur Jatim Adhy Karyono.

SURABAYA-KEMPALAN: Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menyampaikan dua nota penjelasan terkait perubahan nomenklatur dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jatim menjadi Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda) pada sidang Paripurna bersama DPRD Jatim di Gedung DPRD Jatim Jl. Indrapura Surabaya, Senin (3/2).

Kedua BUMD tersebut adalah Perseroan Terbatas (PT) Petrogas Jatim Utama yang berubah menjadi Perusahaan Perseroan Daerah Petrogas Jatim Utama atau disingkat menjadi PT Petrogas Jatim Utama (Perseroda). Dan Perseroan Terbatas (PT) Panca Wira Usaha Jawa Timur yang berubah menjadi Perusahaan Perseroan Daerah Panca Wira Usaha Jawa Timur atau PT PWU Jawa Timur (Perseroda).

Perubahan ini sendiri, disebut Adhy Karyono berdasarkan amanat dari ketentuan ayat (2) dan ayat (3) Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang  BUMD. Yang mana kedua ayat tersebut secara rinci mengatur susunan penulisan Perseroda pada nama BUMD.

“Ini hanya perubahan status sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 54 bahwa BUMD harus diubah nama, yang belakangnya harus menggunakan Perseroda,” tuturnya.

Adhy melanjutkan, dengan perubahan nomenklatur tersebut, terdapat beberapa hal yang harus mengalami penyesuaian. Untuk PT Petrogas Jatim Utama (Perseroda) yang kegiatan usahanya melakukan pengelolaan sumber daya alam (SDA) minyak bumi dan gas bumi dari hulu ke hilir, diharapkan bisa meningkatkan peran serta Daerah melalui kepemilikan Participating Interest 10%.

“Ini sesuai ketentuan Pasal 7 ayat (6) Peraturan Menteri ESDM Nomor 37 Tahun 2016 tentang Ketentuan Penawaran Participating Interest 10%. BUMD wajib memenuhi ketentuan tidak terdapat unsur swasta dalam kepemilikan sahamnya,” tuturnya.

Sedangkan untuk PT. PWU Jawa Timur (Perseroda), perubahan terjadi pada besaran modal awal dari Rp 250 M menjadi Rp 500 M. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD. Bahkan, disampaikan pula bahwa sejak Perseroan Terbatas (PT) Panca Wira Usaha Jawa Timur dibentuk hingga saat ini belum mengalami perubahan modal dasarnya.

Melalui perubahan nomenklatur kedua BUMD tersebut, Pj. Gubernur Adhy berharap agar bisa berjalan dengan baik, serta dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Bahkan bisa berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang efeknya bisa dirasakan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait untuk kelancaran pembahasan kedua Raperda ini. Harapannya, kedua Raperda bisa menjadi Perda yang berkualiltas dan dapat diimplementasikan serta bermanfaat bagi kemajuan Jawa Timur,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Tak Bisa Bayar Biaya Persalinan,  Ibu dan Bayinya “Ditahan” Klinik Bersalin di Surabaya

Siti Ayu bersama bayinya.

SURABAYA-KEMPALAN: Lantaran tidak mampu melunasi biaya persalinan, seorang ibu dan bayinya “ditahan” klinik bersalin di kawasan Asemrowo, Surabaya.

Komunitas Tolong Menolong (KTM)  yang mendengar informasi itu lantas menebus biaya persalinan yang awalnya Rp 2.161.000 menjadi Rp. 1.100.000, setelah dapat potongan biaya, Senin (3/2).

Selain menebus biaya persalinan sang ibu bernama Siti Ayu (23), KTM juga melakukan pendampingan agar surat-surat kependudukan si bayi yang baru dilahirkannya dapat terbit, mengingat status pernikahannya adalah tidak resmi atau nikah siri.

“Puji Tuhan, tadi dibantu oleh Pak Camat dan staf dari Kecamatan Pabean Cantian, dimana sesuai dengan Kartu Tanpa Penduduk (KTP) si ibu. Akan dibantu untuk pengurusan hingga penerbitan akte lahirnya si bayi,” kata Daniel Lukas Rorong, Founder dan Ketua Komunitas Tolong Menolong (KTM), relawan pendamping yang menangani permasalahan ini.

Tak hanya itu, Camat dan Staf Kecamatan Pabean Cantian juga membantu mengaktifkan kepesertaan BPJS yang dimiliki oleh Siti Ayu yang sempat tidak aktif karena tidak pernah dipantau statusnya oleh yang bersangkutan.

“Dari sinilah, permasalahan ini muncul, karena BPJS-nya sudah tidak aktif, sehingga status Ibu Siti Ayu masuk sebagai pasien umum ketika akan melakukan persalinan di klinik tersebut,” jelas Daniel.

Siti Ayu sendiri melahirkan secara normal pada Sabtu (1/2) pukul 11.04 WIB.

Anak pertama dengan suaminya bernama Febri (36) ini berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Bima Febrianu dengan berat 3 kg dan panjang 50 cm.

Setelah KTM membayar tagihan biaya persalinannya sebesar Rp. 1.100.000, akhirnya Siti Ayu pun bisa membawa pulang bayinya ke rumah kos-kosannya di kawasan Tambak Asri, Kecamatan Krembangan, Surabaya, diantar sendiri oleh Daniel Lukas Rorong, Ketua KTM memakai mobil pribadinya.

Bidan AF selaku pemilik klinik bersalin, saat bertemu dengan pasangan suami istri (pasutri) ini meminta maaf jika ada miscommunication antara pihaknya dengan orangtua bayi.

“Kami tidak menahan. Kalau memang ada kesulitan pembiayaan, pasti pihak kami akan membantu seperti yang sudah seringkali kami lakukan pada pasien-pasien tidak mampu sebelum-sebelumnya,” tegas Bidan AF.

“Kami juga meminta maaf jika ada pelayanan kami yang kurang berkenan. Kami juga akan evaluasi internal,” akunya.

Untuk diketahui, permasalahan ini pun terdengar sampai di telinga Armuji, Wakil Wali Kota Surabaya, yang langsung terjun ke lokasi untuk membantu menyelesaikan di antara kedua belah pihak, baik dari sisi klinik bersalin maupun orangtua si bayi.

Armuji juga sempat memberikan donasi yang dimasukkan dalam amplop dan diserahkan pada ibu si bayi sesaat sebelum meninggalkan lokasi.

Armuji juga akan berusaha membantu memberikan pekerjaan pada ayah dari bayi ini, mengingat saat ini tidak memiliki pekerjaan setelah dikeluarkan dari tempatnya bekerja pada Desember 2024 lalu sebagai cleaning service.

Sehingga untuk bertahan hidup, ayah dari bayi ini menjadi pengamen di traffict light Veteran, Gresik.

Saking tidak adanya biaya sama sekali untuk membayar persalinan, pasutri ini juga memiliki tunggakan bayar kos-kosan sebesar Rp. 600.000 selama dua bulan. (Dwi Arifin)

Sat Binmas Polresta Sidoarjo Gelar Curhat Kamtibmas di Desa Pesawahan Porong

SIDOARJO-KEMPALAN: Sebagai upaya mewujudkan situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif, Sat Binmas Polresta Sidoarjo menggelar forum silaturahmi dengan masyarakat melalui Curhat Kamtibmas.

Kali ini dilaksanakan Sat Binmas Polresta Sidoarjo, Polsek Porong bersama perangkat desa di Balai Desa Pesawahan, Kecamatan Porong, Senin (3/2/2025).

Hadir dalam kegiatan Curhat Kamtibmas tersebut Kasat Binmas Polresta Sidoarjo Kompol Madya Wiraaji Kusuma, Kanit Binpolmas AKP Eko Yulianto, Kanit Binkamsa AKP Kusbandini, Kanit Binmas Polsel Porong Iptu Nur Samsi, Bhabinkamtibmas, perangkat desa dan perwakilan warga.

Curhat Kamtibmas Polresta Sidoarjo sebagai upaya diskusi Polri bersama perangkat desa dan masyarakat, guna mewujudkan situasi kamtibmas di wilayah Kabupaten Sidoarjo tetap aman dan kondusif.

Kasat Binmas Polresta Sidoarjo Kompol Madya Wiraaji Kusuma menyampaikan kepada warga, bahwa keamanan dan kondusifitas wilayah di sekitar kita harus terus dijaga bersama-sama.

“Baik polisi dan warga senantiasa berkolaborasi untuk saling menjaga kamtibmas di wilayah sekitar kita. Apabila ada potensi gangguan kamtibmas warga jangan takut melapor ke Polisi, TNI, perangkat desa, RT/RW untuk dapat segera teratasi problemnya,” pesannya. (Muhammad Tanreha)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.