Senin, 15 Juni 2026, pukul : 18:03 WIB
Surabaya
--°C

Gubernur Khofifah: Perbaikan Akses Pasca Longsor Jalur Pacet-Cangar Segera Tuntas

JAKARTA-KEMPALAN:  Perbaikan Jalan Sumber Brantas Jalur Pacet-Cangar yang sempat terdampak longsor pada 3 April lalu dikebur. Bahkan, kini hampir selesai 100 persen.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Pemprov Jatim telah melakukan pemerataan tanah di lokasi longsor melalui Dinas PU Bina Marga UPT PJJ Mojokerto. Selain itu penggantian baterai Early Warning System (EWS) di atas titik longsor juga telah dilakukan oleh tim BPBD Jatim dan BPBD Kabupaten Mojokerto.

“Terkait perkembangan di jalur Pacet-Cangar yang mengalami longsor, sudah kita benahi dengan cepat dan tepat. Hari ini dilanjutkan pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). Mohon doa semoga semua lancar,” kata Khofifah di sela sela kordinasi dengan Menteru Kesehatan, Rektor UNAIR serta RSUD dr. Soetomo dan RS. Saiful Anwar Malang terkait persiapan Rumah Sakit Pendidikan – Penyelenggara Utama (RSP-PU) di Jakarta, Minggu (13/4).

“Total progres pembuatan plengsengan mencapai 75 persen dan untuk pemasangan bambu mencapai 15 persen,” ujarnya, melanjutkan.

Khofifah menambahkan, untuk mempercepat pengerjaan tersebut, pihaknya akan mendatangkan tambahan alat berat jenis eskavator PC-200. Rencanya akan diterjunkan pada 15-16 April mendatang.

Selain menambah alat berat, kerja sama lintas sektoral juga dilakukan. Sementara Dinas PU Bina Marga Mojokerto telah memberi dukungan satu unit eskavator untuk melakukan pemerataan tanah.

“Perbaikan ini bisa cepat karena kita bekerja bersama baik dari provinsi maupun daerah. Bahkan Polhut (Polisi Hutan) selalu standby, ada personel jaga di sisi Sendi dan Cangar selama perbaikan hingga kegiatan selesai,” ungkapnya.

Khofifah juga menyebut bahwa laporan Safety Officer menunjukkan perkembangan terbaru bahwa tidak ada gerakan tanah di titik longsoran. Hal tersebut terpantau dari tidak adanya pergeseran tanda bendera.

Meski begitu, pembukaan kembali jalur yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto –  Kabupaten Malang dan Kota Batu ini masih menunggu hasil evaluasi.

Oleh karena itu, Khofifah menjelaskan, kondisi jalur saat ini yang dapat dilalui oleh masyarakat, yaitu dari arah Kota Batu ke Mojokerto, yaitu sampai loket Pemandian Air Panas Cangar (Jalan Cangar – Kecamatan Pacet).

Untuk arah sebaliknya, dari Mojokerto ke Kota Batu, yang dapat dilalui sampai Rest Area Sendi (Jalan Cangar-Pacet Nomor 26).

“Untuk rencana pembukaan jalur lokasi longsor akan segera dilakukan evaluasi pada hari Selasa 15 April atau Rabu 16 April mendatang,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Dikira Bukan Orang Jawa

KEMPALAN : Suatu hari sekitar 8 tahun lalu kami menerima undangan teman yang mantu. Maka pada pagi hari kami datangi undangan tersebut.

Jadwal undangan 09.00 – 11.00. Undangan dikirim ke WAG yang diikuti istri saya yang sebagian besar anggotanya saya kenal juga.

Lokasinya kawasan padat penduduk, di sekitar Kapas Baru, kurang lebih 2 kilometer dari ujung selatan Jembatan Suramadu, Surabaya.

Dari Google Map terlihat jarak dari rumah ke lokasi acara 15 kilometer, ujung selatan ke ujung utara kota. Mirip “belah semangka”.

Setelah mobil memasuki jalan sempit yang cukup untuk satu mobil dari arah timur terusan Jalan Kapas Baru, saya memarkir di atas jembatan got kecil yang sebelumnya bodi bawah mobil sisi kiri menabrak baduk (pagar dari semenan) jembatan itu.

Padahal kemarin sore – ya kemarin sorenya – barusan saya catkan di Jalan Nias, Surabaya, lantaran sebelum puasa disrempet lari pick up di bunderan Bulog, Surabaya.

Berhubung siang kemarinnya terima sebagian honor proyek penulisan dari Mas Darmantoko, maka sekitar pukul 15.00 saya bawa ke Jalan Nias itu. Lha kok paginya nabrak baduk. He-he-he … kurang amal barangkali.

Kami yang berjalan cukup jauh untuk mencari lokasi hajatan yang dihadang oleh dua hajatan lainnya (bukan kolega kami) dan disarankan seorang warga untuk berjalan memutar, mulai berpikir praktis.

Masalahnya, yang pertama, kaki kiri istri saya barusan sembuh dari keseleo, sementara batuk pileknya juga belum sembuh betul. Yang kedua, saya lupa membawa obat jantung dan hipertensi. Meski tadi pagi sudah minum yang obat hipertensi, tapi tetap kurang pede. Apalagi sudah ditandai dengan nafas ngos-ngosan.

Dalam perjalanan menyaksikan “profil kampung kumuh” tetapi warganya sopan ini – terbukti saat kami membungkuk dan permisi sambil berjalan di gang selebar 1,5 meter yang puanjaang itu, mereka menyambut dengan ramah – di situ saya menemukan banyak renungan.

Di antara warga ada yang bertanya, “Bade tindak pundi?”. Maksudnya, mau kemana ?

Lantas dua orang ibu ikut memandu kami sampai di tikungan salah satu gang, yang lantas tangannya mengarah ke selatan, “Nanti bapak muter aja…”

Saya mengiyakan dengan sopan meski membatin, “muter ke mana…”

Entah karena ibu tadi kurang bisa menjelaskan atau mungkin karena saya yang linglung lantaran disorientasi ruang dan waktu, maka membatin itu pun muncul.

Setelah kedua ibu tadi pamit pergi, istri saya bertanya, “Piye, Pak, diteruske?” (bagaimana, Pak, diteruskan?). Ngomong-ngomong, bahasa Jawa istri saya halus ya. Terang aja dia orang Magelang. Saya lahir dan besar di Surabaya.

Saya jawab, “Muleh ae, Buk (pulang saja, Bu…)”

“Aku sek (masih) kuat jalan lho, Pak…”

“Gak, muleh ae (gak, pulang saja) …!”

Maka kami pun “balik kucing” menuju mobil diparkir, melewati gang yang di depan rumah-rumah petak itu ada terlihat deretan gerobak sate, kereta dorong es puter, sepeda penjual siomay, ibu menggoreng pisang, ibu memasak, bapak-bapak mencuci motor, pokoknya – maaf – menambah padatnya gang tersebut. Dan kumuh.

Saya selintas mikir : Lha iya … Surabaya ternyata masih menyimpan kampung miskin begini…

Setelah mesin mobil saya hidupkan, dan mobil saya lajukan, mulailah “akrobat” lagi. Lha kok ada mobil dari arah berlawanan muncul. Buset, deh. Mestinya jalan kecil begini di ujung sana ditulisi ‘Jalan Searah Mobil Dilarang Masuk’.

Saya mencoba tenang. Mobil saya pinggirkan.

Sementara suara klakson beberapa sepeda motor di belakang kami ‘tat tit tut’… ‘tat tit tut’ …

Mobil Innova gres yang ada di depan saya ngalah. Lantas mundur. Untung tidak jauh. Kurang lebih 15 meter lagi sudah tikungan.

Kami pun sampai di tikungan itu yang ternyata belum jalan besar, meski tidak sekecil jalan tempat mobil saya diparkir tadi.

Setelah melaju ke arah utara sampailah di jalan besar tetapi bukan jalan kembar yang salah satunya menuju jembatan Suramadu.

Di depan mini market mobil saya hentikan.

“Nyapo (ngapain), Pak…?” tanya istri saya.

” Tuku pulsa…. (beli pulsa)”

“Karo tuku permen yo (sekalian beli permen ya …)” instruksi Bu Bojo.

Padahal tujuan utama bukan untuk itu.

Setelah pulsa dan permen saya bayar, saya izin ke toilet.

(Stres bikin mules, rek. Apalagi pagi tadi absen dari kebiasaan itu).

Setelah memasuki jalan menuju jembatan Suramadu, mobil saya putar balik. Macet. Lantas padat merayap.

Sampailah di Jl. Kenjeran dan MERR (middle east ring road) yang lalu lalang kendaraan agak longgar.

Kami pun mulai santai, antara lain saya cerita kekonyolan teman-teman sekolah saya dulu. Saya memang termasuk aktivis alumni.

Istri saya yang cenderung pendiam tertawa terpingkal mendengar saya cerita kelucuan dan konyolnya dua pasang teman yang CLBK (cinta lama bersemi kembali) – dua lelaki dan dua wanita.

Akhirnya saya sudahi ‘rasan-rasan’ itu.

“Wis… Wis… Tak sudahi saja. Biasanya kalau saya ngomongin ‘kejelekan’ orang lain seringkali tidak lama kena musibah…” Mungkin semacam kuwalat.

Baru saja habis ngomong itu selewat jembatan dekat perumahan Pondok Nirwana, mobil saya oleng. Seperti baru bersenggolan.

Mobil jenis SUV keluaran 2016 warna silver yang ada di sisi kiri depan saya menepi. (‘Oo…rupanya senggolan dengan mobil ini…’, monolog saya).

Mobil tua saya keluaran 2004 saya tepikan juga. Lantas saya hampiri mobil itu.

Dari mobil tadi muncul lelaki tinggi besar bertopi kain rajutan warna hitam yang ngepas di kepala, berbaju koko putih lengan pendek dan bercelana hitam.

Saya salami, lantas saya putar telapak tangan berubah menjadi salam komando.

Lelaki tadi berkata dengan tegas setengah membentak, “Sampeyan ndak liat spion ya…!”

Saya diam saja.

Lantas dia menunjuk bodi kanan bawah mobilnya. “Ini beret lho!”

“Maaf, Pak. Mari… sekarang kita bawa ke bengkel pengecatan langganan saya…”

Sebetulnya saya tidak punya langganan bengkel pengecatan mobil. Kalau langganan bengkel mesin mobil ada. Lagian hari Minggu, apa ada bengkel yang buka.

“Saya kesusu (tergesa), Pak. Ini saya mau keluar kota. Sudah sampeyan kasih berapa laa … “

“Maaf, saya ga bawa uang. Alamat bapak saya catet ya…”

Padahal saya tidak punya uang, bukan tidak bawa uang.

Lantas saya menuju istri saya yang duduk di kabin depan untuk pinjam bolpoin guna mencatat alamat orang tadi.

Orang bertopi rajut itu mengikuti langkah saya.

Sebelum saya sampai di sebelah pintu mobil, istri saya yang berhijab keluar dari mobil seraya mengatakan, “Maaf yaa Pakk… “

Lelaki tadi kaget.
“Saya pikir sampeyan (menyebut etnis tertentu)… ” ujarnya sambil menatap wajah saya.

“Aku wong Jowo, Pak…!”

“Wis, Pak. Lanjutkan perjalanannya. Maaf lahir batin yaa …” ujarnya. Saat itu masih dalam suasana lebaran.

Setelah itu, kurang lebih 15 meter, mobil saya belokkan ke toko pakaian dan asesori mendaki gunung Eiger.

“Lho, Pak, sampeyan iki piye to … Katanya ga punya duit tapi kok mampir nang (di) toko iki (ini) … ”

“Lihat-lihat topi, buukk…”

“Lha nanti dilihat bapak tadi, gimana….?”

“Wonge wis adoh…(orangnya sudah jauh)”.

Ada topi yang cocok modelnya, tapi warnanya gak cocok. Saya pingin yang coklat muda. Gak jadi, deh… Wkwkwk…

Setelah nunut pipis di toko itu yang toiletnya bersih sekali, kami pun pulang.

Dalam otw istri bilang: ” Kalau dipikir yang salah bapak tadi, Pak. Dia nyalip dari kiri…”

“O ya…”

Sepuluh menit kemudian sampailah kami di rumah. (Amang Mawardi).

Jualan di Atas Saluran Air, 30 Lapak PKL Dibongkar Satpol PP Surabaya

SURABAYA-KEMPALAN: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya menertibkan sekitar 30 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kedapatan berjualan di atas saluran air di kawasan Klenteng Mbah Ratu, Jumat (11/4). Penertiban ini dilakukan karena para PKL melanggar peraturan dengan mendirikan lapak di sepanjang saluran air, mulai dari traffic light Mbah Ratu hingga pertigaan Jalan Demak.

Sebanyak 50 personel Satpol PP Kota Surabaya diterjunkan dalam operasi ini. Mereka dibantu oleh personel dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), serta anggota Satpol PP tingkat kecamatan. Selain itu, penertiban ini juga didampingi oleh TNI-Polri dan perangkat wilayah setempat.

Ketua Tim Kerja Operasional Satpol PP Surabaya Mudita Dhira menjelaskan, penertiban ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi optimal saluran air.

“Penertiban ini kami lakukan selain untuk mengembalikan fungsi saluran air, juga sebagai upaya menjaga keindahan Kota Surabaya serta ketertiban umum,” jelas Mudita.

Lebih lanjut, Mudita mengungkapkan bahwa sebelum tindakan penertiban, Satpol PP Kota Surabaya telah melakukan sosialisasi kepada para PKL agar tidak berjualan di atas saluran air. Namun, imbauan tersebut tidak dihiraukan.

“Kami dari Satpol PP sudah sering melakukan sosialisasi, tetapi mereka tetap tidak mengindahkan teguran yang telah kami sampaikan. Oleh karena itu, hari ini kami mengambil tindakan lebih tegas dengan membongkar seluruh lapak,” ungkap dia.

Dalam penertiban tersebut, petugas berhasil membongkar 30 lapak PKL, termasuk lapak semi permanen berbahan kayu, terpal, besi penyangga, bangku kayu, hingga lapak yang ditinggalkan pemiliknya.

“Berbagai jenis usaha berjualan di sini, mulai dari warung nasi, tambal ban, hingga bengkel las. Semuanya kami tertibkan, termasuk penutup saluran air kami bongkar,” imbuhnya.

Untuk mencegah PKL kembali berjualan di lokasi tersebut, Mudita menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan patroli rutin.

“Potensi mereka untuk kembali berjualan pasti ada, oleh karena itu kami akan melakukan patroli secara rutin,” katanya.

Penertiban ini merupakan penegakan Peraturan Daerah Kota Nomor 2 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat.

“Kami berharap para pedagang dapat lebih menaati peraturan dan tidak lagi berjualan di area terlarang demi menjaga kebersihan lingkungan Kota Surabaya,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

TNBTS Terindah Ketiga Sedunia,  Gubernur Khofifah Ajak Jaga Kelestariannya

Gubernur Jarim Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA-KEMPALAN: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Pasalnya, TNBTS masuk  sebagai Taman Nasional Terindah ketiga sedunia berdasarkan keterlibatan (engagement) di media sosial menurut Goodstats.

Engagement taman nasional di media sosial tersebut tak hanya di Instagram tapi juga TikTok, kemudian berdasar dari volume pencarian, serta ulasan Google yang mencatatkan skor impresif sebesar 7,89.

Angka ini menempatkannya tepat di bawah Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan dan Taman Nasional Lencois Maranhenses di Brazil yang masing-masing meraih peringkat pertama dan kedua.

Untuk itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa bangga atas capaian ini. Mengingat, dibutuhkan usaha maksimal setiap pihak terkait upaya pelestarian alam TNBTS.

“Alhamdulillah, TNBTS dinobatkan sebagai taman nasional tercantik ketiga dunia. Ini tidak mudah dicapai karena butuh sinergitas dari pemerintah, masyarakat lokal, penegak hukum, dan wisatawan untuk tetap menjaga kelestarian dan  keindahan alam di sana,” katanya di Surabaya, Jumat (11/4).

“Dan ini luar biasa. Bayangkan, kita peringkat ketiga di dunia. Bahkan unggul dari taman nasional ikonik lainnya seperti Taman Nasional Serengeti di Tanzania dan Taman Nasional Plitvice Lakes di Kroasia. Keduanya ada di peringkat keempat dan kelima,” lanjut Khofifah.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, selama tahun 2024, untuk pergerakan wisatawan nusantara ke Jatim mencapai 218.711.818, dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara sebanyak 268.190

Sementara pada tahun 2024, untuk pergerakan wisatawan nusantara ke TNBTS mencapai 465.751, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 19.926.

Disebut Khofifah, daya tarik TNBTS memang bukan lagi rahasia. Mengingat, sepanjang 2024 lalu, cerita tentang taman nasional ini telah diliput dua stasiun televisi asal Tiongkok yang menjadikannya lokasi syuting program reality show, Divas Hit The Road dan The Blooming Journey.

“Jadi hal-hal tak terduga seperti ini mendongrak popularitas TNBTS khususnya di Asia Timur. Jadi sekarang mungkin tidak bisa lagi disebut hidden gem, karena insya Allah eksistensi TNBTS sudah baik sekali di mata dunia,” jelasnya.

Dirinya berharap agar TNBTS tidak hanya dinikmati oleh wisatawan dari Asia. Namun juga dari belahan dunia lain seperti Eropa dan Afrika.

“Ini sebenarnya masih banyak ruang untuk membuat TNBTS semakin populer. Karena apa yang ada di sini unik sekali. Tidak hanya perkara keindahan alamnya, tetapi juga karena aura spiritual dan keunikan budaya yang menyertainya,” ungkapnya.

“Keindahan TNBTS berhasil memukau setiap wisatawan dari berbagai negara dunia. Ini adalah sesuatu yang patut kita syukuri,” ujarnya.

Selain itu, TNBTS juga merupakan rumah bagi acara-acara bergengsi seperti Jazz Gunung Bromo, Ultra Trail Bromo Tengger Semeru, Bromo Marathon, Event Sepeda Bromo KOM, Festival Kasada, Festival adat Karo, dan Festival Ogoh – ogoh.

“Mudah-mudahan tidak berhenti sampai sini. Saya minta ke depannya ini tetap dijaga dan bahkan ditingkatkan. Semoga juga menjadi motivator untuk taman nasional lain di Indonesia. Karena ini bukan hanya kebanggaan bagi Jawa Timur, namun juga kebanggaan untuk seluruh masyarakat di tanah air,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Aplikasi SITALAS Surabaya Jadi Model Rujukan Nasional

Sosialisasi aplikasi SITALAS yang dikembangkan Pemkot Surabaya.

SURABAYA-KEMPALAN: Sistem Informasi Kota Layak Anak Surabaya (SITALAS) yang telah dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sejak dua tahun terakhir menjadi model rujukan tingkat nasional.

Hal ini diungkapkan  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad dalam sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan SITALAS di Ruang Sawunggaling Lantai 6, Kantor Pemkot Surabaya, Jumat (11/4). Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Forum Anak Surabaya (FAS), perwakilan Perangkat Daerah (PD), kecamatan, dan kelurahan.

Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya Irvan Wahyudrajat mengatakan, United Nations Children’s Fund (UNICEF), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sangat mengapresiasi keberadaan SITALAS.

“Mereka menilai SITALAS sebagai platform inovatif yang mampu menampung suara dan usulan anak-anak Kota Pahlawan secara nyata,” ujar Irvan.

Irvan menjelaskan bahwa SITALAS kini diadaptasi menjadi Sistem Usulan Anak Nasional (Suara Makna) dan diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Meski demikian, Irvan menyebut SITALAS memiliki keunggulan signifikan dibandingkan versi nasionalnya, yaitu anak-anak dapat mengakses dan memasukkan usulan selama 24 jam dalam sehari.

“Tidak hanya itu, mereka (anak-anak) yang melapor bisa melihat secara langsung bukti dukung realisasi usulan mereka, apakah sudah ditindaklanjuti dan sudah sejauhmana. Ini merupakan bentuk akuntabilitas dan transparansi yang nyata, serta menjadi praktik baik partisipasi anak dalam pembangunan di Kota Surabaya,” jelas Irvan.

Ia merinci bahwa pengguna SITALAS bukan hanya Forum Anak Surabaya, tetapi juga Forum Anak Kecamatan dan Forum Anak Kelurahan. Sehingga setiap wilayah administratif memiliki kanal untuk menyuarakan aspirasi dan harapan anak-anak di lingkungannya masing-masing.

Lebih lanjut, Irvan menyampaikan bahwa SITALAS berkontribusi dalam penyediaan data layanan anak yang komprehensif. “Data ini akan menjadi sumber penting dalam perencanaan anggaran di setiap kelurahan dan kecamatan untuk menyelesaikan permasalahan anak yang dialami di setiap wilayah,” paparnya.

Dalam kegiatan tersebut, tak ketinggalan Irvan juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Forum Anak Surabaya yang terus aktif menjadi pelopor, pelapor, dan penggerak utama dalam memastikan anak-anak didengar dan dihargai dalam pengambilan keputusan publik.

“Dari pelatihan hari ini, kami berharap seluruh OPD, kecamatan, dan kelurahan dapat memahami cara kerja dan peran strategis SITALAS, memanfaatkan fitur-fitur di dalamnya secara maksimal, dan menyadari bahwa membangun kota yang ramah anak adalah tanggung jawab kolektif kita semua,” tuturnya.

Irvan menambahkan, monitoring Aplikasi SITALAS dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk (DP3A-PPKB), tujuannya agar setiap kasus dapat direspon dengan baik.

“Kalaupun ada kasus yang sulit ditangani oleh pihak kelurahan dan kecamatan, DP3A-PPKB akan berkoordinasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tindakan lebih lanjut,” pungkas Irvan. (Dwi Arifin)

Empat Cabor Jalani Pra Porprov IX Jatim 2025: Sepak Bola hingga Bola Basket Siap Bertanding

SURABAYA-KEMPALAN : Menjelang gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni hingga 5 Juli 2025, sebanyak empat cabang olahraga (cabor) akan menjalani babak kualifikasi atau pra Porprov. Keempat cabor tersebut adalah sepak bola, futsal, catur, dan bola basket.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jawa Timur, Dudi Harjantoro, mengungkapkan bahwa awalnya terdapat enam cabor yang diwajibkan mengikuti tahapan kualifikasi. Namun, dua cabor yaitu bola voli dan pencak silat memilih untuk tidak menggelar babak pra Porprov.

“KONI menetapkan enam cabor yang wajib mengikuti pra Porprov karena biasanya membutuhkan waktu pertandingan yang panjang. Namun, dua cabor memutuskan sanggup tanpa kualifikasi, dengan konsekuensi pengaturan jadwal pertandingan dan penggunaan venues yang tidak mengganggu cabor lainnya saat  hari pelaksanaan di Porprov nanti,” jelas Dudi pada Jumat, 11 April 2025.

Lebih lanjut, Dudi memastikan bahwa seluruh venue yang disiapkan dalam kondisi siap untuk mendukung jalannya pertandingan, baik untuk babak kualifikasi maupun Porprov IX 1025.

“Pra Porprov ini digelar karena antusiasme peserta yang sangat tinggi. Dengan adanya babak kualifikasi, diharapkan durasi pertandingan utama bisa lebih singkat. Yang jelas, tuan rumah sudah siap menyambut seluruh kontingen,” tambahnya.

Terkait jadwal, setiap cabor memiliki waktu pelaksanaan berbeda. Namun, hampir seluruh pertandingan pra Porprov akan dimulai pada April 2025 dan ditargetkan rampung pada Mei 2025. Nantinya, peserta yang lolos ke Porprov akan dipilih sesuai dengan kebijakan masing-masing induk organisasi cabor.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Gubernur Khofifah Ziarah ke Makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Ulama Besar Inspirator Lahirnya NU

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak saat ziarah ke makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Kamis (10/4) malam.

BANGKALAN-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak ziarah ke makam ulama besar Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Kamis (10/4) malam.

Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok ulama kharismatik yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Nusantara, sekaligus dalam rangka menyambut peringatan Haul Satu Abad wafatnya Syaikhona Kholil yang akan dilaksanakan pada Jumat (11/4).

Dalam suasana yang penuh khidmat, Gubernur Khofifah dan Wagub Emil tampak khusyuk bertahlil dan memanjatkan doa di kompleks pemakaman. Keduanya turut didampingi oleh Bupati dan Wakil Bupati Bangkalan, para sesepuh, kiai setempat, serta sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Khofifah menyampaikan bahwa Syaikhona Kholil merupakan tokoh ulama besar yang memiliki kontribusi luar biasa dalam sejarah Islam Indonesia. Beliau  dikenal sebagai inspirator lahirnya organisasi keagamaan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU).

“Beliau adalah ulama besar yang menginspirasi lahirnya jam’iyah terbesar di dunia, dan pusat persemaian perjuangannya ada di Bangkalan. Ini merupakan kebanggaan dan sumber inspirasi besar bagi masyarakat Bangkalan dan Madura,” ujar Khofifah.

Khofifah juga mengungkapkan, dalam proses pendirian NU, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari meminta restu kepada Syaikhona Kholil hingga tiga kali. Setelah itu, barulah beliau menerima isyarat berupa surat yang dimasukkan dalam tongkat yang dikirimkan melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. Surat dalam tongkat tersebut menjadi simbol restu dan isyarat dimulainya pendirian Nahdlatul Ulama.

“Seringkali yang dikenal hanya pendirinya, padahal semangat dan inspirasi besar di balik berdirinya NU berasal dari Syaikhona Kholil,” imbuhnya.

Di lain sisi, Khofifah menekankan bahwa peringatan haul ini merupakan momen penting untuk meneladani perjuangan Syaikhona Kholil dalam menyiarkan Islam yang damai, inklusif, dan menyejukkan. Ia berharap masyarakat dapat merefleksikan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang diajarkan beliau sepanjang hidupnya.

“Di tengah tantangan zaman, kita sangat membutuhkan keteladanan seperti beliau. Mulai keikhlasan, kebijaksanaan, dan keberanian dalam menyampaikan kebenaran,” tutur Khofifah.

Sebagai gubernur perempuan pertama di Jawa Timur, Khofifah juga mengajak masyarakat menyambut peringatan ini dengan ketulusan dan semangat persaudaraan. Menurutnya, kegiatan spiritual seperti ziarah dan haul tidak hanya mempererat hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi juga memperkuat ukhuwah dan sinergi antarwarga.

Usai berziarah, Khofifah turut bersilaturahmi dengan keluarga ndalem Syaikhona Kholil untuk membahas kesiapan teknis dan koordinasi lintas sektor guna menyukseskan penyelenggaraan haul.

“Haul ini adalah warisan spiritual dan sosial yang harus kita jaga dan teruskan bersama. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para ulama,” tegas Khofifah.

Menutup kunjungannya, Khofifah berharap kegiatan ini membawa berkah dan kedamaian, khususnya bagi masyarakat Pulau Madura dan Jawa Timur secara keseluruhan.

“Ini adalah bagian dari ikhtiar lahir dan batin. Semoga kita semua diberikan petunjuk dan kekuatan dalam menjalankan amanah,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Geliat Umat Islam Indonesia di Amsterdam


KEMPALAN: Komunitas muslim Indonesia di Amsterdam memiliki masjid dan fasilitas madrasah, sejak 2005. Selama Ramadhan tahun ini Masjid Euro Muslim ini menyelenggarakan banyak kegiatan yang diikuti oleh warga muslim, termasuk anak-anak milenial.

Gedung itu dibeli dengan uang sumbangan dari anggota dan donatur. Selain menyediakan tempat shalat, gedung juga menjadi tempat kegiatan pendidikan keagamaan anak dan remaja setiap Minggu, istigotsah setiap Sabtu pertama setiap bulan, serta acara diskusi dan temu budaya.

Sudah banyak tokoh Indonesia yang berkunjung ke gedung ini dan berdialog dengan masyarakat Indonesia di Belanda.
Berikut ini wawancara bagian kedua Abdul Aziz Bayaqub jurnalis Kempalan.com di Amsterdam dengan salah satu penanggung jawab masjid Indonesia di Amsterdam, Meneer Sofyan Saleh Al alamudi warga negara Belanda.

Sofyan adalah anak dari Saleh Al amudi, warga keturunan Arab Jl. KHM. Mansyur Surabaya yang lahir, tumbuh besar dan lulus kuliah di Belanda. Dia telah menikah dengan warga negara Indonesia yang juga telah menetap lama di Belanda.

Saat wawancara ini Sofyan didampingi pengurus takmir harian masjid Euro Muslim di Amsterdam, Belanda, Meneer Faisal Rizky, orang Belanda muallaf.

Kempalan: Masjid ini kira – kira bisa menampung berapa orang secara penuh?
Faisal Rizky : Menurut pngalaman kami, masjid ini dapat menampung kurang lebih 600 orang setiap sholat taraweh di bulan Romadhon maupun pada waktu sholat Iedul Fitri.
Menurut pengamatan kami di masjid ini mempunyai panjang dan lebar kurang lebih 35 x 45 meter persegi. Namun hanya sekitar 15 Meter yang bisa kita sebut sebagai ruang sholat tanpa ada sekat tembok untuk ruang- ruang serba guna seperti, ruang photo copy, ruang belajar, dapur, toilet pria/ wanita, ruang istirahat imam, ruang sholat wanita dan gudang mini.
Setiap tahun masjid Euro Muslim menyewa gedung olah raga untuk melakukan sholat Iedul Fitri. Dana menyewa gedung itu kita dapat dari hasil sumbangan para jamaah di setiap waktu sholat Jumat maupun sholat taraweh yang lalu. Kemudian untuk acara halal bihalal warga Indonsia di Amsterdam, diadakan di dalam masjid yang cukup luas tersebut. Dan untuk makanan minuman pun kita dapatkan banyak dari sumbangan amal perorangan, sumbangan dari restoran – restoran Indonesia di Amsterdam dan sekitarnya, serba partisipasi ibu – ibu dan masyarakat secara sukarela dalam rangka mensukseskan hari Iedul Fitri tersebut, yaitu hari kemenangan besar ummat Islam sedunia.
Kempalan : Masyarakat Indonesia di negara Belanda ini, menurut data Panitia Pemilu Luar Negeri yang baru lalu di KBRI Den Haag, berjumlah kurang lebih sebanyak 12.000 orang . Tidak termasuk yang mungkin golpüt ( golongan putih ; tidak mencoblos ). Luas negara Belanda juga kurang lebih seluas propinsi Jawa Tengah.
Namun nampaknya Belanda menjadi salah satu destinasi favorit untuk mencari pekerjaan non formal (blue collar), tanpa disertai ke ahlian yang dibutuhkan di negeri ini. Mudahkah mencari pekerjaan non formal di Belanda ? Bagaimana menurut Anda atas hal tersebut ?
Faisal Rizky : Mungkin sepuluh tahun yang lalu bekerja seperti itu masih mudah didapat. Namun sekarang ini untuk mengadu nasib di Belanda tanpa skill formal, tanpa dokumen resmi, saya kira sudah cukup sulit.
Kempalan Apa kira – kira penyebabnya?
Faisal Rizky : Sekarang sudah cukup susah (mencari kerja non skills, red ).
Kempalan : Apa saran anda bagi calon pencari kerja non formal tadi ?
Faisal Rizky : Sebaiknya bila akan ke Belanda idealnya harus dengan planning / rencana. Misalnya, mencari istri, bekerja di rumah sakit sebagai dokter, perawat, ahli komputer, itu akan mudah dapat pekerjaan. Bila tanpa skill, akan susah hidup di Belanda.
Kempalan: Buku Undang – Undang Hukum di Indonesia adalah peninggalan Belanda. Dapatkah, misalnya orang lulusan fakultas hukum dari salah satu universitas di Indonesia datang ke Belanda lalu ingin bekerja di kantor hukum di Belanda?
Faisal Rizky: Dia kayaknya harus belajar ulang lagi beberapa semester, dan belajar bahasa Belanda juga hingga tingkat mahir. Dan nampaknya itu tidak mudah, kecuali dia melanjutkan kuliah di tingkat S2 atau master hukum, baru bisa bekerja di Belanda. Dan belajar bahasa Belanda adalah wajib untuk orang yang bergerak di bidang hukum.
Kempalan: Apa pesan anda untuk masyarakat Indonesia yang ada di Belanda maupun yang di Indonesia?
Faisal Rizky : Saya merasa senang sekali berada di komunitas orang Indonesia yang cukup ramah, sopan. Sebagai orang Belanda yang telah masuk Islam, ada rasa betah berada ditengah masyarakat Indonesia disini. Semoga ke depannya, kita bisa membeli gedung masjid yang lebih besar lagi. (Abdul Bayaqub/selesai)

Menghadapi Islamophobia: Pendekatan Islam Moderat sebagai Solusi untuk Ketidakadilan terhadap Muslim di Barat


KEMPALAN: Islamophobia, atau ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan umat Muslim, telah menjadi isu global yang semakin mencuat, terutama di negara-negara Barat. Fenomena ini muncul dan berkembang pesat setelah peristiwa terorisme besar seperti serangan 11 September 2001, yang memicu pandangan negatif terhadap umat Muslim. Islamophobia dapat didefinisikan sebagai ketidakadilan sosial yang didasarkan pada prasangka dan stereotip terhadap Islam dan pengikutnya.

Edward Said, dalam bukunya Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World (1981), mengemukakan bahwa media memainkan peran penting dalam memperburuk persepsi negatif terhadap Islam, dengan cenderung menyajikan Islam melalui kacamata yang ekstrim dan tidak adil. Said berpendapat bahwa representasi Islam yang buruk oleh media menciptakan ketakutan dan kebencian yang meluas terhadap umat Muslim, yang berakibat pada diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, John L. Esposito, dalam bukunya Islamophobia: The Challenge of Pluralism in the 21st Century (2011), menyoroti bahwa Islamophobia bukan hanya masalah sosial, tetapi juga politik, yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah masyarakat dengan menciptakan ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas. Esposito menekankan bahwa diskriminasi yang dialami oleh umat Muslim di Barat, termasuk di bidang pekerjaan, pendidikan, dan media, dapat memperburuk ketegangan sosial dan menghambat integrasi mereka dalam masyarakat.

Pendekatan Islam moderat sangat penting dalam menghadapi Islamophobia, karena Islam moderat menekankan prinsip-prinsip toleransi, dialog antar-agama, dan hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat non-Muslim. Dr. Tariq Ramadan, dalam karyanya Western Muslims and the Future of Islam (2004), menyatakan bahwa Islam moderat bukan berarti mengabaikan prinsip-prinsip agama, melainkan menekankan kemampuan untuk beradaptasi dengan konteks sosial dan budaya di negara-negara Barat tanpa mengorbankan keyakinan agama. Islam moderat, menurut Ramadan, mengajak umat Muslim untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan politik di negara tempat mereka tinggal, serta menunjukkan bahwa mereka bisa menjalani hidup sesuai dengan ajaran Islam tanpa harus menentang nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.

Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), seorang tokoh Islam moderat Indonesia, selalu menekankan pentingnya sikap moderat dalam beragama. Gus Dur mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan toleransi. Dalam konteks ini, Islam moderat dapat dilihat sebagai jalan keluar untuk meredakan ketegangan yang timbul akibat ketidakpahaman dan prasangka terhadap umat Muslim. Gus Dur menekankan pentingnya mempromosikan dialog antar-agama sebagai cara untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan saling pengertian.

Dr. Amina Wadud, seorang sarjana Islam yang juga mengadvokasi kesetaraan gender dalam Islam, berpendapat bahwa pendekatan moderat ini juga mencakup penghargaan terhadap keberagaman dan pluralisme dalam masyarakat. Menurutnya, Islam yang moderat mendukung kehidupan harmonis yang tidak terkotak-kotak oleh perbedaan agama atau budaya, melainkan mengutamakan prinsip-prinsip keadilan sosial dan kemanusiaan.
Peran Pendidikan dalam Mengurangi Islamophobia

Pendidikan adalah alat yang sangat efektif untuk mengatasi Islamophobia dan meningkatkan pemahaman tentang Islam yang sesungguhnya. Karen Armstrong, dalam bukunya Fields of Blood: Religion and the History of Violence (2014), menekankan bahwa salah satu cara terbaik untuk meredakan ketegangan agama adalah melalui pendidikan yang berbasis pada pemahaman yang lebih dalam mengenai ajaran-ajaran agama, termasuk Islam. Pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai toleransi, kebebasan beragama, dan saling menghormati dapat membantu masyarakat untuk mengurangi ketakutan dan kebencian yang muncul akibat ketidaktahuan.
Mona Siddiqui, seorang profesor di University of Edinburgh, juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam membangun jembatan pengertian antara umat Muslim dan masyarakat non-Muslim. Dalam bukunya Being Muslim: A Handbook for Believers and Non-Believers (2011), Siddiqui berpendapat bahwa pendekatan pendidikan yang inklusif dan berbasis pada dialog antar-agama adalah kunci untuk mengatasi stereotip dan prasangka terhadap Islam.

Dr. Andrew B. Whitford, dalam artikelnya The Role of Education in Promoting Tolerance and Reducing Islamophobia (2016), menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Barat dapat memainkan peran kunci dalam mengurangi Islamophobia dengan menyertakan materi yang membahas keberagaman agama dan budaya. Kurikulum yang mencakup diskusi tentang pluralisme, hak asasi manusia, dan pengakuan terhadap hak-hak agama lainnya dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada generasi muda dan mengurangi ketegangan antar kelompok.

Peran Media dalam Meredakan Islamophobia
Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap Islam dan umat Muslim. Sayangnya, banyak media yang sering kali memperburuk persepsi publik dengan menyoroti kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok ekstrem, yang sering kali dikaitkan dengan Islam secara keseluruhan. Edward Said, dalam karya Covering Islam (1981), menjelaskan bagaimana media Barat sering mengaburkan pemahaman masyarakat tentang Islam, dengan fokus pada aspek negatif dan ekstrem dari agama ini. Media memiliki tanggung jawab untuk memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang Islam dan umat Muslim.

Namun, media juga dapat berfungsi sebagai agen perubahan yang penting jika mereka melaporkan isu-isu yang lebih beragam dan memberikan platform bagi suara-suara moderat dari komunitas Muslim. Dr. Amina Wadud, dalam bukunya Inside the Gender Jihad (2006), berpendapat bahwa media harus lebih banyak menampilkan cerita-cerita tentang kontribusi positif umat Muslim dalam masyarakat, baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, maupun perdamaian. Menyoroti peran perempuan Muslim dalam membangun masyarakat juga merupakan langkah penting untuk meredakan citra negatif yang sering dibentuk oleh media.

Kesimpulan

Islamophobia adalah tantangan besar bagi umat Muslim di Barat, namun pendekatan Islam moderat dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi ketidakadilan yang dihadapi mereka. Dengan menekankan prinsip-prinsip toleransi, pluralisme, dan dialog antar-agama, Islam moderat tidak hanya memberikan jalan keluar bagi ketegangan sosial tetapi juga membantu mengurangi prasangka yang ada. Pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman yang lebih baik tentang Islam dan mengurangi dampak dari Islamophobia. ()

R. Arif MulyohadiDosen Ilmu Hukum, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan dan Wakil Ketua Orda ICMI Bangkalan

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.