Dikira Bukan Orang Jawa
KEMPALAN : Suatu hari sekitar 8 tahun lalu kami menerima undangan teman yang mantu. Maka pada pagi hari kami datangi undangan tersebut.
Jadwal undangan 09.00 – 11.00. Undangan dikirim ke WAG yang diikuti istri saya yang sebagian besar anggotanya saya kenal juga.
Lokasinya kawasan padat penduduk, di sekitar Kapas Baru, kurang lebih 2 kilometer dari ujung selatan Jembatan Suramadu, Surabaya.
Dari Google Map terlihat jarak dari rumah ke lokasi acara 15 kilometer, ujung selatan ke ujung utara kota. Mirip “belah semangka”.
Setelah mobil memasuki jalan sempit yang cukup untuk satu mobil dari arah timur terusan Jalan Kapas Baru, saya memarkir di atas jembatan got kecil yang sebelumnya bodi bawah mobil sisi kiri menabrak baduk (pagar dari semenan) jembatan itu.
Padahal kemarin sore – ya kemarin sorenya – barusan saya catkan di Jalan Nias, Surabaya, lantaran sebelum puasa disrempet lari pick up di bunderan Bulog, Surabaya.
Berhubung siang kemarinnya terima sebagian honor proyek penulisan dari Mas Darmantoko, maka sekitar pukul 15.00 saya bawa ke Jalan Nias itu. Lha kok paginya nabrak baduk. He-he-he … kurang amal barangkali.
Kami yang berjalan cukup jauh untuk mencari lokasi hajatan yang dihadang oleh dua hajatan lainnya (bukan kolega kami) dan disarankan seorang warga untuk berjalan memutar, mulai berpikir praktis.
Masalahnya, yang pertama, kaki kiri istri saya barusan sembuh dari keseleo, sementara batuk pileknya juga belum sembuh betul. Yang kedua, saya lupa membawa obat jantung dan hipertensi. Meski tadi pagi sudah minum yang obat hipertensi, tapi tetap kurang pede. Apalagi sudah ditandai dengan nafas ngos-ngosan.
Dalam perjalanan menyaksikan “profil kampung kumuh” tetapi warganya sopan ini – terbukti saat kami membungkuk dan permisi sambil berjalan di gang selebar 1,5 meter yang puanjaang itu, mereka menyambut dengan ramah – di situ saya menemukan banyak renungan.
Di antara warga ada yang bertanya, “Bade tindak pundi?”. Maksudnya, mau kemana ?
Lantas dua orang ibu ikut memandu kami sampai di tikungan salah satu gang, yang lantas tangannya mengarah ke selatan, “Nanti bapak muter aja…”
Saya mengiyakan dengan sopan meski membatin, “muter ke mana…”
Entah karena ibu tadi kurang bisa menjelaskan atau mungkin karena saya yang linglung lantaran disorientasi ruang dan waktu, maka membatin itu pun muncul.
Setelah kedua ibu tadi pamit pergi, istri saya bertanya, “Piye, Pak, diteruske?” (bagaimana, Pak, diteruskan?). Ngomong-ngomong, bahasa Jawa istri saya halus ya. Terang aja dia orang Magelang. Saya lahir dan besar di Surabaya.
Saya jawab, “Muleh ae, Buk (pulang saja, Bu…)”
“Aku sek (masih) kuat jalan lho, Pak…”
“Gak, muleh ae (gak, pulang saja) …!”
Maka kami pun “balik kucing” menuju mobil diparkir, melewati gang yang di depan rumah-rumah petak itu ada terlihat deretan gerobak sate, kereta dorong es puter, sepeda penjual siomay, ibu menggoreng pisang, ibu memasak, bapak-bapak mencuci motor, pokoknya – maaf – menambah padatnya gang tersebut. Dan kumuh.
Saya selintas mikir : Lha iya … Surabaya ternyata masih menyimpan kampung miskin begini…
Setelah mesin mobil saya hidupkan, dan mobil saya lajukan, mulailah “akrobat” lagi. Lha kok ada mobil dari arah berlawanan muncul. Buset, deh. Mestinya jalan kecil begini di ujung sana ditulisi ‘Jalan Searah Mobil Dilarang Masuk’.
Saya mencoba tenang. Mobil saya pinggirkan.
Sementara suara klakson beberapa sepeda motor di belakang kami ‘tat tit tut’… ‘tat tit tut’ …
Mobil Innova gres yang ada di depan saya ngalah. Lantas mundur. Untung tidak jauh. Kurang lebih 15 meter lagi sudah tikungan.
Kami pun sampai di tikungan itu yang ternyata belum jalan besar, meski tidak sekecil jalan tempat mobil saya diparkir tadi.
Setelah melaju ke arah utara sampailah di jalan besar tetapi bukan jalan kembar yang salah satunya menuju jembatan Suramadu.
Di depan mini market mobil saya hentikan.
“Nyapo (ngapain), Pak…?” tanya istri saya.
” Tuku pulsa…. (beli pulsa)”
“Karo tuku permen yo (sekalian beli permen ya …)” instruksi Bu Bojo.
Padahal tujuan utama bukan untuk itu.
Setelah pulsa dan permen saya bayar, saya izin ke toilet.
(Stres bikin mules, rek. Apalagi pagi tadi absen dari kebiasaan itu).
Setelah memasuki jalan menuju jembatan Suramadu, mobil saya putar balik. Macet. Lantas padat merayap.
Sampailah di Jl. Kenjeran dan MERR (middle east ring road) yang lalu lalang kendaraan agak longgar.
Kami pun mulai santai, antara lain saya cerita kekonyolan teman-teman sekolah saya dulu. Saya memang termasuk aktivis alumni.
Istri saya yang cenderung pendiam tertawa terpingkal mendengar saya cerita kelucuan dan konyolnya dua pasang teman yang CLBK (cinta lama bersemi kembali) – dua lelaki dan dua wanita.
Akhirnya saya sudahi ‘rasan-rasan’ itu.
“Wis… Wis… Tak sudahi saja. Biasanya kalau saya ngomongin ‘kejelekan’ orang lain seringkali tidak lama kena musibah…” Mungkin semacam kuwalat.
Baru saja habis ngomong itu selewat jembatan dekat perumahan Pondok Nirwana, mobil saya oleng. Seperti baru bersenggolan.
Mobil jenis SUV keluaran 2016 warna silver yang ada di sisi kiri depan saya menepi. (‘Oo…rupanya senggolan dengan mobil ini…’, monolog saya).
Mobil tua saya keluaran 2004 saya tepikan juga. Lantas saya hampiri mobil itu.
Dari mobil tadi muncul lelaki tinggi besar bertopi kain rajutan warna hitam yang ngepas di kepala, berbaju koko putih lengan pendek dan bercelana hitam.
Saya salami, lantas saya putar telapak tangan berubah menjadi salam komando.
Lelaki tadi berkata dengan tegas setengah membentak, “Sampeyan ndak liat spion ya…!”
Saya diam saja.
Lantas dia menunjuk bodi kanan bawah mobilnya. “Ini beret lho!”
“Maaf, Pak. Mari… sekarang kita bawa ke bengkel pengecatan langganan saya…”
Sebetulnya saya tidak punya langganan bengkel pengecatan mobil. Kalau langganan bengkel mesin mobil ada. Lagian hari Minggu, apa ada bengkel yang buka.
“Saya kesusu (tergesa), Pak. Ini saya mau keluar kota. Sudah sampeyan kasih berapa laa … “
“Maaf, saya ga bawa uang. Alamat bapak saya catet ya…”
Padahal saya tidak punya uang, bukan tidak bawa uang.
Lantas saya menuju istri saya yang duduk di kabin depan untuk pinjam bolpoin guna mencatat alamat orang tadi.
Orang bertopi rajut itu mengikuti langkah saya.
Sebelum saya sampai di sebelah pintu mobil, istri saya yang berhijab keluar dari mobil seraya mengatakan, “Maaf yaa Pakk… “
Lelaki tadi kaget.
“Saya pikir sampeyan (menyebut etnis tertentu)… ” ujarnya sambil menatap wajah saya.
“Aku wong Jowo, Pak…!”
“Wis, Pak. Lanjutkan perjalanannya. Maaf lahir batin yaa …” ujarnya. Saat itu masih dalam suasana lebaran.
Setelah itu, kurang lebih 15 meter, mobil saya belokkan ke toko pakaian dan asesori mendaki gunung Eiger.
“Lho, Pak, sampeyan iki piye to … Katanya ga punya duit tapi kok mampir nang (di) toko iki (ini) … ”
“Lihat-lihat topi, buukk…”
“Lha nanti dilihat bapak tadi, gimana….?”
“Wonge wis adoh…(orangnya sudah jauh)”.
Ada topi yang cocok modelnya, tapi warnanya gak cocok. Saya pingin yang coklat muda. Gak jadi, deh… Wkwkwk…
Setelah nunut pipis di toko itu yang toiletnya bersih sekali, kami pun pulang.
Dalam otw istri bilang: ” Kalau dipikir yang salah bapak tadi, Pak. Dia nyalip dari kiri…”
“O ya…”
Sepuluh menit kemudian sampailah kami di rumah. (Amang Mawardi).









